
“Meskipun begitu, kedatangannya lebih awal dari perhitunganku setelah melihat waskita dari Rune Kaunaz. Kendati diriku hanya melihat sebagian kecil, luka yang kuterima darinya nanti bukanlah tidak fatal.” Zeeta mengingat waskita yang dilihatnya saat ia terkapar sebelumnya. “Oleh karena itu, ulurkanlah waktu untukku agar waskita itu bisa kuubah! Aku akan mendukungmu dengan Rune-ku juga!”
Ucapan Zeeta yang bicara tentang waskita mendapat perhatian lebih untuk Azure. Tetapi dia tidak punya waktu untuk menanggapinya. Kemudian, menjawab permintaan Zeeta, Azure mengatakan, “Aku hanya bisa mengulurnya beberapa menit saja. Asal kautahu, selama enam setengah tahun kuikut bersamanya, aku memang dilatih satu dua hal darinya, tetapi itu tidaklah sehebat yang kaumiliki atau dia yang sekarang.
“Sihir kegelapanku tidak akan mampu menang dari tangan monster itu. Kemampuan imajinasiku pun tak begitu hebat.”
Dengan tangan kanannya yang dirangkul, Zeeta mencubit pipi Azure. “Kau tidaklah sendirian, Kak Azure. Tangannya yang mengerikan itu memang mampu menyerap segala jenis sihir dan menjadikannya senjata atau power up, tetapi tidak berarti itu tidak bisa diatasi.
“Seandainya aku tidak ada di sini sekarang di situasi seperti ini, musuh sepertinya bisa diatasi dengan serangan beruntun dari berbagai elemen dasar sihir. Mungkin kautahu seperti apa Danny dan Gerda sekarang, jika dengan kekuatan kalian yang sekarang menyerangnya secara bergiliran, tangan itu pun bisa....
“Tetapi tujuanmu hanyalah untuk mengulur waktu. Tidak perlu lakukan apapun pada tangan itu karena tangan itu harus kuatasi sendiri.”
Azure pun menyipitkan mata—bermode serius. “Baiklah. Akan kulakukan!”
......................
[Sementara itu, di Grandtopia....]
Reina yang melihat apa yang sedang terjadi saat ini dari teras kediamannya, bertanya-tanya tentang waskita yang dilihatnya dari Pohon Chronos tidaklah sama dengan waskita yang telah disebut Zeeta dengan Rune Kaunaz-nya. Sementara itu, Lloyd dan Aria terlalu sibuk mengurus para rekan se-ras mereka yang pingsan massal untuk menyadari gelagat bingung Reina. Sama seperti Aria yang masih bisa merasakan lemahnya mana Zeeta yang hendak melawan Marianna yang berada jauh diatasnya saat ini, Lloyd segera meminta Aria untuk melakukan sesuatu.
“Aria,” panggil Lloyd, “pergilah ke Aurora dan peringatkan mereka. Aku tidak yakin Zeeta akan diam saja meskipun mana-nya menipis, tetapi tidak ada salahnya untuk waspada.”
Reina yang mendengar Lloyd segera menambahkan, “Tidak hanya untuk waspada saja. Aku tidak tahu kenapa dan apa alasannya, tetapi Pohon Chronos dan Rune Kaunaz Zeeta melihat waskita yang beda!”
“Apa?!” kedua Elf di seberang Reina langsung membalikkan wajah pada Reina.
“Menurut waskita Zeeta, dia menerima luka yang cukup fatal saat bertarung melawan Mariannna, tetapi pada waskita Chronos, Zeeta tidak terluka sedikit pun karena dirinya memiliki keunggulan Rune.
“Waskita tidaklah seharusnya berbeda—karena itu merupakan masa depan yang terlihat. Entah sebanyak atau sedikit apapun yang dilihat, waskita tidak berbeda.
“Sebelumnya, kita selalu menghalangi waskita yang dilihat baik oleh Chronos atau Zeeta terjadi karena itu akan memandu kita ke masa depan kehancuran. Namun, kalau waskita yang muncul ada dua....”
__ADS_1
“Jawabannya sederhana, Reina.” Hugo keluar begitu saja melalui Pohon Chronos.
“Te-Tetua Hugo!” sambut ketiganya.
“Tidak masalah beda atau tidak, tetapi yang harus kau perhatikan dalam melihat waskita adalah ‘kapan’ itu terjadi.
“Waskita yang kita lihat—terutama kau—berbeda dengan waskita yang dilihat Zeeta.
“Reina, waskita yang kaulihat dengan Pohon Chronos bukanlah kemampuan murni dari Elf—namun itu adalah kemampuan dari Dryad. Apa kau mengerti maksud ini?”
Reina bungkam pada pertanyaan Hugo.
“Yah, kesampingkan itu dulu. Mudahnya, waskita yang kaulihat adalah ‘akhir’, sementara Zeeta adalah waskita ‘proses’.
“Mengapa selama ini kau—dan tentu saja kita semua—selalu berusaha untuk menghindari waskita yang kaulihat dari Pohon Chronos?
“Itu karena yang kaulihat adalah ‘akhir’ yang akan terjadi.”
“....”
Reina terpikirkan sesuatu yang buruk.
“AH?!” Reina terengap, diikuti oleh pelototan mata. “Tuan Putri itu memang benar-benar....” Reina mencengkeram tangannya erat-erat.
“Kak Aria! Kita bertaruh dengan waktu! Lakukanlah apa yang Kak Lloyd minta, tetapi dengan satu informasi tambahan!
“Meskipun waskita yang telah kulihat adalah Zeeta berakhir baik-baik saja, tetap saja tidak ada yang tahu apakah akhir itu akan benar-benar terjadi.
“Satu kesimpulan yang kudapat; Zeeta benar-benar memaksakan dirinya—tak peduli apa yang akan terjadi padanya. Dan itu adalah satu-satunya hal yang TIDAK BOLEH terjadi!”
Aria menyeringai. “Memaksakan diri, katamu? Aku tahu siapa yang paling pantas mendengar ini dan siapa yang paling cepat bisa mengatasi ini.”
__ADS_1
Hugo menggertakkan giginya. “Jangan terlalu gegabah dan naif untuk membuat keputusan, dasar bocah!” tukasnya bernada tinggi. “Lihatlah secara utuh apa yang sedang dilakukannya dan mengapa ia melakukannya!
“Jika kalian menghentikannya secara paksa dalam kondisinya saat ini, memangnya siapa lagi yang bisa mengatasi ibuku selain dia, di dunia ini?!"
Aria dan Reina ter-skak oleh Tetua mereka. Mereka tak sanggup menjawabnya.
“Aria!" sambung Hugo, "sampaikan saja pada Aurora jika Zeeta sedang menghadapi ibuku. Jangan lengah. Pertarungan mereka mungkin saja akan mengubah pergerakan dunia!”
......................
Kini, Aria telah menyampaikan apa yang diperintah Hugo pada bangsawan-bangsawan di istana Aurora. Tanggapan pertama yang diberikan adalah dari Scarlet.
“MARIANNA AURORA DAN ZEETA AKAN MENGUBAH PERGERAKAN DUNIA, katamu?!” seru Scarlet dengan wajah yang sangat panik. “Ini tidak bisa dibiarkan! Hazell, Alicia, Putra Willmurd, kutak peduli berapa banyak bangsawan, apapun status mereka, yang penting bawa mereka yang bermana tinggi!
“Jika kita diam saja, nyawa kita adalah taruhannya!”
Alicia dan Hazell mengangguk menanggapi Scarlet—mereka masih bisa berpikir dengan kepala dingin, sementara Zacht sudah begitu cemas.
“Baiklah,” kata Alicia pada Hazell dan Zacht, “aku akan memberitahu kalian siapa saja dan letak mereka. Kalian jemputlah mereka!”
Hazell mengangguk, diikuti oleh Zacht. Mereka kemudian berlari keluar istana, diekori oleh penjaga-penjaga istana. Disaat yang sama, Alicia kembali duduk ke singgasana-nya untuk mendapatkan fokus. Scarlet kemudian disibukkan oleh pertanyaan Aria yang bertanya, “Mengapa pertarungan Zeeta dan Marianna bisa mengubah pergerakan dunia? Memangnya ini bukan hanya tentang mengalahkan Marianna saja?”
“Tidak ada waktu ‘tuk menjelaskan. Singkatnya, makhluk-makhluk sihir atau Manusia lain yang tidak pernah terlihat oleh kita di bagian lain dunia ini, mulai bergerak.
“Sebagian mungkin tergerak karena merasakan kebangkitan Yggdrasil sudah dekat, sementara yang
lain bisa saja bergerak karena tidak ingin perubahan pada dunia.”
“Ke-kebangkitan Yggdrasil…? Bukankah itu butuh tiga Benih Yggdrasil?”
“Ya, memang, tetapi ingatlah Zeeta adalah inti dari semua hal yang terjadi di dunia saat ini. Kejadianku yang pergi ke suatu dunia, pertemuanmu dengannya, hampir musnahnya Peri dari dunia, dan banyak hal lagi yang belum kuketahui—semua hal itu terjadi di sekitar Zeeta.
__ADS_1
“Kutakut jika kuharus bilang, tidak semua yang terjadi kedepannya akan membawa kebahagiaan untuknya. Walau dia kuat dalam sihir... tapi....”