
Tidak lama setelah Belle membeberkan alasannya “mengundang” Zeeta ke Tanah Kematian, dari salah satu kolam, letupan gelembung-gelembung kecil memantik perhatian Belle. “Oh?” Belle terlihat senang, “cepat juga dia datangnya!” ia lalu berlari kecil menuju kolam yang berwarna biru langit itu.
“Jangan bilang ... Zeeta?” Azure mencoba menerka-nerka.
“Yap. Selagi kalian menjadi mainanku di sini, jadilah mainan yang baik dan penurut selagi majikanmu bertamu sebentar, oke?” Belle menyentuh pelan dua kali tongkatnya pada kolam berwarna biru langit itu, kemudian tubuhnya—dimulai dari kaki yang bercahaya sinar yang sama—kemudian hilang begitu saja.
“Sial!” Azure menghentakkan kakinya keras.
“Hei, Kak Azure?” panggil Mellynda. Ia tampak menyadari sesuatu saat melihat Azure menghentakkan kakinya.
“Apa?”
“Tidakkah kaupikir kondisi kita ini cukup aneh?”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Kita kan sudah mati, tubuh pun tembus pandang. Lalu kenapa kita tetap bisa menyentuh tanah?”
Azure tersentak. “Kenapa aku bisa tidak menyadarinya...?!”
“Apa kau punya petunjuk?”
Azure mencoba berpikir, tapi percuma. “Ah sial,” keluhnya, “andai ada seseorang yang bisa membantu kita menjelaskan situasi kita ini....”
“Aku bisa melakukannya.” Seakan menjawab keinginannya, sebuah suara lelaki tua terdengar di dekat mereka.
“Siapa di sana?!” Azure dan Mellynda lagi-lagi bersiaga meski mereka hanyalah jiwa tanpa tubuh.
“Tenang saja. Aku pun sama seperti kalian—hanyalah sebuah jiwa. Namaku Edouard de Aurora. Ayah Belle.”
“....” Azure dan Mellynda saling tatap dan terdiam. Mereka mendapati lelaki tua berambut uban dengan janggut dan kumis yang menutupi wajahnya, bermata biru tua, serta memakai tongkat serupa dengan tongkat yang dipakai Belle di hadapan mereka ini
Setelah mereka melihatnya secara saksama, kebenaran ucapannya bisa dipastikan. “HAAAHHHH?!” keduanya terkejut bersamaan.
“Ahahaha.... Aku tahu kalian masih terkejut, tapi selagi anak itu tidak berada di sini dan akan disibukkan sementara, tolong ikutlah denganku.” Raut wajah pria tua bernama Edouard ini sangat meyakinkan.
Mellynda melihat Azure, lalu mengangguk—mengisyaratkan bahwa pria itu ingin dipercayanya.
“Baiklah, kami akan ikut denganmu. Beritahu kami dulu apa yang ingin kaubicarakan dengan kami?” tanya Azure.
“Tentang kami dan situasi kalian, tentu saja.”
Azure mengerutkan dahi. “Apa alasanmu?”
“Anak itu tidak memperhatikan SATU sosok penting yang seharusnya tidak akan mengancam dunia.”
“Apa maksudmu?”
“Begini-begini, meskipun sudah menjadi jiwa, aku adalah seorang Aurora yang tugasnya mengawasi tiga dunia dan membawa jiwa-jiwa matinya ke Lembah Jiwa dari Tanah Kematian.
__ADS_1
“Sejak aku masih muda, aku sudah mengantisipasi kekacauan semacam ini akan terjadi, jadi aku telah mengumpulkan kekuatan untuk menggunakan Rune yang bisa mengizinkanku keluar masuk dan memperhatikan dunia dari Tanah Kematian.
“Dengan kata lain, aku bisa mengawasi, tetapi aku tak bisa ikut campur.”
“Lalu?”
“Seharusnya kalian ingat bukan, Aurora yang ada di luar—“
“Zeeta,” tukas Azure.
“Ah, maaf. Zeeta... mengatakan bahwa ia bisa merasakan keberadaan orang yang bisa mengubah Phantasmal dan makhluk sihir menjadi Hollow?”
“Tentu saja,” jawab Azure.
“Ya, aku ingat,” jawab Mellynda.
“Orang itu ... adalah orang yang berasal dari tiga ribu tahun yang lalu.”
Mata yang terbelalak, disusul oleh kerutan dahi, terlihat pada Azure dan Mellynda.
“Ikutlah denganku.”
Azure mengangguk. Edouard lalu memimpin jalan.
......................
“Keturunan Aurora—tidak—lebih tepatnya Manusia pertama yang menjaga Tanah Kematian ini, yaitu Galkrie Aurora, adalah cucu dari Aurora pertama—Gala.
“Selama ribuan tahun, keluarga ini telah mengawasi Galdurheim. Sejak kejadian Yggdrasil memecah diri menjadi Roh, hingga sekarang.
“Dengan menggunakan Flakka, makhluk penjemput jiwa mati, kami memiliki tanggung jawab untuk terus menyeimbangi dunia. Ada masalah besar apabila jiwa yang sudah mati tidak memasuki Lembah Jiwa. Dimulai dari runtuhnya keseimbangan Galdurheim dengan dua dunia lainnya, hingga mematikan ketiga dunia ini.
“Sederhananya, jiwa yang sudah mati, tidak sesederhana sebutan hantu, apalagi jika di kehidupannya, jiwa itu memiliki mana yang besar.
“Sebagai contoh. Apa kalian tahu siapa legenda penyihir di kerajaan kalian, yang mengutuk dunia dengan membawa sihir kembali eksis?”
Azure melihat Mellynda. Mellynda-lah yang paham perihal seperti ini, karena ia seorang bangsawan dari lahir. “Aku tahu,” jawabnya, “tapi aku tidak pernah tahu namanya.”
“Penyihir itu adalah wanita bernama Tellaura, kakak dari Clarissa Aurora IX.”
“Ka-kakak?!” Mellynda kaget. “Tapi nama itu tidak ada di silsilah kerajaan!”
“Untuk apa kerajaan mengangkat nama penyihir yang telah mengutuk dunia?” tanya Azure, “lagi pula, Clarissa pun memiliki situasinya sendiri.
“Lalu?! Apa hubungan dua orang itu dengan Belle dan tempat ini?!”
“Jika kau menuju lembah itu.” Edouard menunjuk utara—dimana sebuah lembah yang awalnya tertutupi kabut tebal, perlahan tampak.
Terdapat medan pembatas yang memisahkan Lembah Jiwa dengan Tanah Kematian. Azure dan Mellynda juga melihat ada Cerberus yang menjaga Lembah Jiwanya. Di bawah lembah, ada sungai membentang luas, dimana tampak jiwa-jiwa yang berada di atas lembah—yang bentuknya hanyalah seperti api—secara bergiliran terjun menuju sungainya. Tatkala sudah mencebur ke dalam sungai, api-api itu berubah menjadi butiran-butiran mana.
__ADS_1
“Jika kau menuju lembah itu,” sambung Edouard, “kau akan menemui Tellaura.
“Harus kukatakan terlebih dahulu, bahwa aliran waktu di sini lebih lama daripada dunia luar. Semua yang kaulihat sepanjang matamu memandang, adalah jiwa-jiwa yang mati sejak tiga ribu tahun yang lalu, dan itu masih belum semuanya.
“Dengan kata lain, para Aurora sebelumnya, seperti Tellaura, Clarissa, dan lainnya, ada kemungkinan masih bisa dihidupkan lagi, dan dijadikan Hollow oleh orang yang disebut Zeeta sebelumnya.
“Maka dari itu, medan pembatas dan Cerberus ada untuk mengantisipasi hal itu bisa terjadi, tetapi bukan berarti masalah benar-benar selesai.
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, jiwa-jiwa mati yang tidak dibawa ke Lembah Jiwa, akan membuat dunia hancur. Dan seperti yang kalian lihat saat ini, jumlah jiwa matinya sangatlah banyak dan akan terus bertambah.
“Jika.
“Jika putri tunggalku, Belle, tidak terpaku pada Zeeta seorang, maka orang yang seharusnya tidak mengancam dunia ini, tidak akan menyerang kerajaan kalian disaat kita bicara sekarang.”
.
.
.
.
“Ulangi ucapanmu!” Azure berteriak dengan wajah marahnya.
“Selagi kita bicara, Aurora sedang diserang dengan pasukan Hollow yang terdiri dari Naga, Raksasa, dan bermacam makhluk sihir dan Phantasmal lainnya.”
“Siapa orang yang kaumaksud itu?! Apa dia Aurora juga?!”
“Tidak. Dia hanyalah manusia biasa.”
“Apa?!”
“Tidak ada waktu untuk menjelaskan dia. Yang lebih penting, kalian harus lakukan sesuatu pada Belle agar membuat dia bisa menjadi rekanmu dan membalikkan situasi.
“Sayangnya, bahkan jika Zeeta bisa keluar dari Tanah Kematian, dia tidak akan bisa menggunakan Catastrophe Seal untuk beberapa hari.
“Sama halnya dengan kalian, yang juga takkan bisa menggunakan senjata tempaan Naga Myra dan Dwarf Axel.”
“Kenapa?” tanya Mellynda.
“Sirkuit sihir kalian sudah mati. Apapun yang ada di sini, semuanya sudah mati.
“Jika Zeeta datang ke sini dan nantinya berseteru dengan Belle, kala ia keluar nanti, kondisi sirkuit sihirnya sama saja dengan tubuh orang mati, meskipun ia seorang Benih Yggdrasil sekalipun.
“Oleh karena itu, putriku, Penjaga Tanah Kematian yang sekarang, adalah satu-satunya orang yang bisa membalik keadaan ini.”
“Apa memangnya yang membuatmu yakin dia bisa membalik keadaan?” tanya Azure.
“Tentu saja kekuatan Bulan.”
__ADS_1