
Tidak sedikit penduduk kerajaan Aurora yang memilih untuk berlibur di pegunungan dan melakukan camping dengan keluarga atau kerabat mereka, tidak terkecuali keluarga kerajaan Levant. Selain menikmati semilir angin sejuk, pemandangan hijau yang menenangkan suasana hati dan menyegarkan mata, berlibur di sini juga membuat mereka tenang dengan hadirnya aliran sungai yang jernih. Mereka juga bisa memancing, bahkan sampai memakan ikan tangkapan itu, meski sedang berada di dalam dimensi lain. Ketika hari menjelang malam, keluarga Levant kedatangan tamu, yaitu Hazell. Ia datang dengan sihir teleportasinya, lalu lekas menyapa, "Selamat malam."
"Oh? Paman Hazell, selamat datang!" sambut Ella.
"Bagaimana kabar kak Zeeta?" tanya Edward.
Si Kembar itu sedang bersiap untuk memanggang berbagai macam bahan barbeque mereka, tentunya diawasi oleh orang tua dan kakek neneknya.
"Uhm. Dia sangat senang." Hazell membalasnya dengan senyuman.
"Aku juga... aku juga ingin bermain dengan cucuku Zeeta!" Karim seperti biasa tidak menunjukkan sifat diusianya.
"Jadi, ada apa kau ke sini?" tanya Agatha, "apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Ya. Seharusnya kau masih menghabiskan waktu dengan kak Alice dan Zeeta...." Claudia menimbrung.
"Pasti ada hubungannya dengan Zeeta," sambung Lòwen.
"Sebenarnya...."
Hazell lalu menceritakan apa yang terjadi antara Azure dengan Alicia, dirinya, dan Zeeta beberapa jam yang lalu.
Lantas....
.
.
.
.
"AKU KETAMBAHAN CUCU?!?!" adalah reaksi pertama yang diberikan Karim. "Apa kalian sudah memikirkannya dengan baik?"
"Tentu saja," jawab Hazell, "sejak Zeeta dan Azure keluar dari cengkeraman Rowing, Azure selalu mendukung Zeeta dari belakang. Sesuatu yang seharusnya kita lakukan."
Semua Levant tampak murung.
"Hei, Mama, siapa Azure itu...? Apa dia juga akan jadi kakak kita?" tanya Ella.
"Mama juga belum lihat orangnya seperti apa, tapi kalau Paman kalian bicara begitu, pasti dia orang yang baik," balas Claudia.
"Hmmmm...."
"Kenapa tidak?" celetuk Karim, "kalau kalian sudah memutuskan, lakukanlah tanggung jawab dan peran orang tua itu dengan benar!"
"Ayah...." Hazell tersenyum.
"Dengar, Hazell...," Agatha menimbrung, "kalian tidak bisa mengganti orang tua kandungnya, karena itu kalian harus mengerti siapa dia dan menerima apa adanya. Paham?"
"Tentu saja!" Hazell berdiri, "kalau begitu aku kembali dulu."
"Eh...? Paman tidak menginap di sini?" Ella dan Edward mengeluh.
"Hehe, lain kali, ya!" Hazell langsung pergi dengan teleportasinya.
Hening melanda keluarga Levant untuk sesaat....
"Hei." Lowèn memecah keheningannya. "Apa ini akan baik-baik saja? Maksudku, Azure memang malang, tetapi mengingat Wilayah Timur juga mengalami hal serupa...."
"Tenang saja," jawab Karim, "situasinya sudah mulai berputar."
......................
[Keesokan harinya, di penginapan keluarga Aurora....]
"Nah semuanya, hari ini izinkan aku memasak resep baru yang telah kuracik selama beberapa hari ini!" dengan celemek putih dan rambut diikat satu, Zeeta bersemangat untuk membuat sarapan.
"Yo! Semangat, Putriku!" Hazell melambaikan tangan di meja makan yang berada di seberang dapur bersama Alicia.
"Kauyakin Ibu tidak perlu membantu?" tanya Alicia.
"Uhm! Aku ingin menuntaskan janjiku dengan Kak Azure. Iya, 'kan, Kak?!" Zeeta menyodorkan senyum lima jarinya.
"I-iya...." Azure merona sampai ke telinganya.
Reaksi Azure membuat Zeeta berbesar kepala. "Ohya ohya...? Apa Kakak belum terbiasa dengan situasi ini, hmmm....?"
"Te-tentu saja, dasar bodoh!" rona merahnya semakin menjadi-jadi.
"Ahahahah. Kalau begitu, ayo lakukan ini bersama!"
Zeeta memimpin alur memasak—sama seperti ketika ia membuat kue renjie bersama Gerda, atau membuat daging sapi panggang di Neko's Inn.
[Beberapa menit kemudian....]
__ADS_1
"Tadaaa!"
Zeeta menyuguhkan empat piring penuh nasi goreng lengkap dengan suwiran daging dan ... taburan kacang polong. Tidak hanya itu, di meja juga tersedia tiga cangkir teh dan satu cangkir kopi, serta satu piring kecil kukis.
"Zeeta? Ini... kacang polong?" tanya Alicia. Ia mempertanyakan kewajaran masakan ini.
"Uhm. Sudahlah, dicoba dulu baru berkomentar!" balas Zeeta.
Lezat, adalah kata yang pasti keluar dari siapapun yang memakan masakannya.
"Fufufu~" Zeeta menyeringai, "inilah kekuatanku!" ia bertolak pinggang.
'prokprokprokprok'
Hazell memberi tepukan tangan meriah.
"A-anu... apa aku boleh bicara...?" tanya Azure. Ia merasa harus menyampaikan ganjalan di dalam hatinya.
"Tentu saja," jawab Alicia, "ada apa?"
"Aku ingin bicara tentang hal kemarin ... tentang dimensi buatan ini." Wajah Azure yang serius, juga membuat Zeeta yang sebelumnya riang ikut serius.
"Apa ada orang diantara kalian—maksudku, keluarga atau kenalan kalian yang bisa berteleportasi dari atau ke dimensi ini?"
"Tidak, kecuali jika itu Roh Yggdrasil seperti Luna. Ah, bicara tentang Luna, kemana dia?" tanya Zeeta.
"Aku di sini, mengawasi Siren dan Klutzie. Aku tidak pernah keluar dari penjara ini. Jujur saja, aku bahkan ingin ikut dengan kalian!" Luna menjawab dengan telepati.
"Ah."
"Ada apa?" tanya Alicia.
"Sial, kalau begitu ini mungkin saja masalah...." Azure terlihat cemas.
Alicia mengerutkan alis. "Jelaskan padaku, siapa yang kautemui!"
Azure menceritakan jika ia bertemu gadis berambut hitam panjang dengan tampilan baju yang nyentrik.
"Aku akan mencarinya. Mungkin dia masih berkeliaran di sekitar sini." Alicia memejamkan matanya untuk berfokus.
Setelah lima menit berlalu, Alicia membuka matanya.
"Bagaimana?" tanya Hazell.
Alicia menggeleng kepala.
"Uhm," jawab Zeeta, "kautahu, dimensi ini dilapisi oleh dua lapis pelindung yang sudah kubuat bersama guru Ashley, bahkan dimensi ini dibuat dengan kekuatan puncak seorang—tidak, dua Aurora. Jika bisa ditembus tanpa terdeteksi oleh Ibu, ini sangat gawat."
"Azure, aku akan memastikan ulang ceritamu. Kau bertemu gadis ini di Wilayah Selatan, ketika itu apa kau melihat sekitar?" tanya Alicia.
"Uhm. Kebetulan, karena aku dipanggil olehnya, jadi aku menengok," jawab Azure.
"Lalu? Apa yang kaulihat?"
"Hmmm.... cahaya kuning bersinar dan garis-garis putih...."
"Sialan. Dia benar-benar bisa mengelabui kita. Siapa namanya?"
"Kalau tidak salah ... Lucy...."
"Lu-Lucy, kaubilang?!" Alicia membanting meja.
"U-uhm!"
"Ada apa? Apa kau mengenalnya?" tanya Hazell.
"Tidak. Ini tidak mungkin terjadi.... Seharusnya dia... tapi, kalau Azure melihatnya ....
"Sial...!"
"I-Ibu...?" Zeeta merasa khawatir.
"Simak aku, kalian semua." Alicia berdiri untuk mengambil tudung saji transparan. "Aku akan membuat perumpamaan agar kalian dapat mudah mengerti."
Alicia membuat copy tudung saji itu, kemudian membuat bola berwarna putih.
"Saat ini, Aurora dilapisi dua tudung ini—yaitu medan pelindung sihir. Lalu bola ini, adalah dimensi dimana kita berada sekarang—yaitu kerajaan Aurora itu sendiri.
"Dari luar, hanya sedikit kemungkinan yang bisa masuk ke kerajaan ini, karena sistem keamanannya sudah ditingkatkan berkat Zeeta, guru Ashley, dan sekutu kita.
"Sedangkan dari dalam, tiada yang bisa meninggalkan atau masuk ke dimensi ini tanpa sepengetahuan dan seizinku. Apa yang kausaksikan saat menengok ke gadis itu adalah wujud dari dimensiku.
"Ya, tidak ada siapapun yang bisa melakukan dua hal itu. Kecuali...."
"Kecuali...?" ketiganya dibuat penasaran.
__ADS_1
"Kecuali ... keturunan Aurora itu sendiri."
"EEEHHH?!"
"Dimensi ini takkan bisa diwujudkan dengan sempurna tanpa kekuatan garis keturunanku. Itu artinya, kelak Zeeta bahkan bisa membuat dimensi seperti ini. Aku, sengaja memilih waktu bulan purnama karena kekuatanku dan Zeeta sedang dalam puncaknya dan itu akan memperkecil risiko kerajaan diserang karena ketebalan dinding dimensinya.
"Namun..., semua kemungkinan itu akan patah jika keturunan Aurora lain merusak dimensiku."
"Jadi... maksudmu, orang bernama Lucy ini adalah keturunan Aurora...?" tanya Hazell.
"Ya. Lebih tepatnya, dia adalah Putri dari Aurora Kesebelas."
"Kesebelas?!" Azure terkejut. "Itu berarti sudah ratusan tahun yang lalu!"
"Makanya aku terkejut!"
"Lucy, eh...?" Zeeta mendengar suara leluhurnya.
"Kak Velvet...?" Zeeta bertanya-tanya..
"Anak itu...."
.
.
.
.
"Zee...."
"Zeeta!!" pekik Azure.
"Ah, iya?!" Zeeta terbelalak.
"Kenapa kau melamun disaat seperti ini?"
"Ma-maaf, aku hanya tidak terlalu mengerti. Jadi ... ini berarti Lucy adalah musuh kita?"
Hazell menggeleng kepala. "Tidak," balasnya.
"Kenapa? Dia jelas mengatakan tentang balas dendam, dia pasti merencanakan sesuatu!" pekik Alicia.
Hazell menggenggam tangan istrinya dan mengelusnya. "Tenanglah dan pikirkan ini secara rasional. Atur napasmu, ini tidak seperti dirimu yang biasa."
Alicia tersadar dan melakukannya.
"Ada dua alasan sederhana," lanjut Hazell, "satu; dia tidak melukai Azure. Kalau tujuannya semata-mata balas dendam, dia tidak akan memandang siapa orangnya, sementara Aurora adalah mangsanya.
"Dua; dia tidak akan menyerang Aurora untuk waktu dekat. Purnama baru lewat kemarin, seminggu lagi bulan akan perbasi. Meski begitu, toh jika dia menyerang saat fase sabit, dia juga pasti akan terkena imbasnya."
Kemudian tiba-tiba....
"Jangan bicara seolah kautahu tentangnya, Nak!" suara Velvet terdengar melalui Zeeta.
Tampilan Zeeta juga berbeda. Mata biru langitnya berubah kuning.
"Zeeta...?" Alicia menyentuh bahu anaknya. "Tidak... siapa kau...?!"
Tidak menjawabnya, Zeeta kembali normal.
"Hueh...? Ibu... ada apa...?" Zeeta kebingungan dengan Ibunya yang menatapnya heran.
Alicia mengerutkan alis. "Apa yang kamu rahasiakan dari Ibu?"
"Ehh?! Rahasia apa?"
Alicia mengurungkan niatnya untuk emosi. "Tidak, lupakan saja. Mari selesaikan sarapannya dan lanjutkan liburannya."
"Anu...." Azure bicara. "Maafkan aku, gara-gara aku—"
"HA-BIS-KAN sarapannya!" tanpa melihat Azure, Alicia menunjukkan bahwa dia memang marah.
"Hehe, apa Ayah cinta dengan sisi Ibu yang begini?" tanya Zeeta.
"Ughk?!" Alicia tersedak dengan pertanyaan Zeeta yang terlalu random dan tiba-tiba.
Hazell tersenyum, lalu melirik ke mata istrinya. "Tentu saja. Aku saaangat mencintainya. Dia selalu tidak senang kalau dimiripkan dengan ibunya, tetapi mereka sangatlah mirip."
Alicia mendorong lengan kanan suaminya sambil mencoba menutup rona merah di pipinya dengan tangan yang masih memegang sendok. "Hentikan. Jangan di depan anak-anak!"
"Ahahahaha...." Hazell juga ikut memerah sedikit. "Dirimu yang malu dan merona juga kucintai!" Ucapannya membuat Alicia terpancing untuk mencubitnya.
"Orang tuamu berani sekali!" bisik Azure yang merona semerah tomat.
__ADS_1
"Hei, mereka juga sudah jadi orang tuamu!" balas Zeeta yang juga merona. "Seharusnya aku tak menggoda mereka, tapi tetap saja ini membuatku senang, hehehe...."