
Hutan Sihir Agung, tepatnya di Grandtopia, kediaman sang Tetua Elf, Hugo. Ia sedang merenung di terasnya sambil menikmati malam, ditemani secangkir teh. Dia tersenyum memandangi langit, hingga mengingat suatu ucapan dari seseorang yang membuatnya mengambil langkah keras sebagai seorang Tetua, beberapa hari yang lalu.
“Apa kautahu apa arti dari seorang pemimpin?” seorang wanita bertanya sambil tersenyum.
“Apa kau mengejekku?! Aku sudah jadi pemimpin sejak ratusan tahun yang lalu!” balas Hugo.
“Jadi, tentu kautahu. Jawablah.”
“Seorang pemimpin harus melindungi rakyat yang dicintainya, membela mereka ketika sedang terpojok suatu masalah, lalu selalu berinteraksi dengan mereka agar selalu mendengar apa yang mereka inginkan. Tergantung dari permintaannya, seorang pemimpin akan berusaha untuk mewujudkannya.”
‘Wuuuushh’
Angin berhembus lembut, Hugo melihat mulut wanita itu tertawa kecil. “Kau pemimpin yang baik—untuk sebuah desa yang sangat damai, tanpa ada ancaman dari kerajaan lain yang akan menghunuskan sihir mereka kapanpun, atau bahkan makhluk sihir. Ya, kalian memang terancam oleh keberadaan kami, Manusia, tetapi kalian pun memiliki Hutan Sihir Agung sebagai kartu truf kalian.
“Kehidupan manusia memang terlihat lebih rendah dimata Elf, tetapi disaat yang sama, kehidupan kami lebih berdarah-darah dari kalian. Manusia adalah makhluk rendahan dari semua makhluk yang ada di dunia sihir ini. Untuk bertahan hidup, terkadang kami menggertakkan gigi untuk menjadi lebih kuat, hinga akhirnya menindas yang lemah.
“Namun, di segala hidup manusia, tidak semua manusia itu sama. Buktinya, kau seorang Dark Elf, bisa satu meja denganku saat ini, membahas kelahiran cucuku, dan rencana kita ke depannya. Menjadi seorang pemimpin yang memiliki kekuatan bulan, tidaklah mudah, oh Hugo.
“Ada benarnya jika keturunan kami bisa melakukan apapun dengan kekuatan ini, tetapi, ada sisi buruk yang menghantuinya. Kautahu apakah itu?”
Hugo mengernyitkan mata, lalu menggeleng kepala.
“Warisan berbentuk keinginan ini telah disampaikan ratusan tahun. Apa yang kaulihat di hari itu, sebagian juga kulihat. Ini disebabkan karena kemampuan sang bulan. Kau pun tahu itu. Aku tidak tahu bagaimana leluhurku yang lain berpikir ketika melihat ingatan seperti itu, tetapi dengan kekuatan sebesar ini yang telah kugenggam sebagai kekuatan garis keturunan, bahkan tak bisa mengubah dunia sihir ini menjadi dunia yang lebih damai ditinggali.
“’Kenapa kekuatan kami sebesar ini jika kami tak mampu mengubahnya? Apa gunanya kami melihat ingatan itu?’. Aku selalu merenungkan itu kapanpun malam tiba....”
Kala itu, Hugo menyadari kata-kata yang diucapkan Manusia yang benar-benar ia temui setelah ratusan tahun lamanya, mengucapkan hal sedalam itu dengan hatinya yang paling tulus. Setelah semua yang dilakukan Manusia, terutama kerajaan ini pada mereka, Hugo jadi berpikir, "Mengapa Manusia seperti wanita di hadapannya baru muncul sekarang? Jika saja ada dia di saat-saat sulit itu, semuanya mungkin akan berbeda."
__ADS_1
“Apapun yang kami lakukan untuk warisan itu, khusus untukku, aku sadar jika kami tak bisa melakukan apapun untuk mengubahnya. Jika kau bertanya kenapa, jawabannya adalah ... keinginan itu ada di benaknya sendiri.”
Hugo tidak memahami apa maksudnya.
“Seperti ketika kalian mengalami kejadian di hari itu, ada kala dimana Zeeta akan mengalaminya juga, hingga keinginan menghancurkan dunia ini terlintas. Aku sudah melihat banyak kebusukan di sekitar kerajaan—hah! Bahkan di kerajaanku sendiri masih banyak orang-orang semacam itu!
“Menjadi pemimpin bukan hanya sebagai kepala dari sebuah kelompok, desa, atau bahkan kerajaan, yang tugasnya hanya melindungi rakyatnya saja! Menjadi pemimpin, ada kalanya ketika dia harus dipandang sangat jahat demi mengarahkan rakyatnya ke jalan yang seharusnya mereka ambil!
“Pada awalnya, rakyatku hanya takut tentang keberadaanku yang ada di dekat mereka karena sifatku yang keras ini, bahkan sejak aku masih jadi seorang tuan putri. Tapi, ketika kau menjalani peranmu sebagai pemimpin dengan benar, maka ada waktunya dimana mereka akan sadar bahwa kau adalah pemimpin yang pantas dihormati. Oleh rasa hormat itu, akan lahir sebuah kerajaan kuat yang hubungan antara rakyat dan pemimpinnya erat.
“Sudah waktunya bagi Elf untuk melihat dunia, Hugo. Aku tidak bisa menjaminnya, tetapi setelah anakku menjadi ratu, hubungan Elf dan Manusia pasti perlahan akan membaik. Mereka akan berkelana menguak misteri sihir yang masih tersimpan di dunia luas ini, tertawa bersama, dan menangis bersama!”
Sepoinya hembusan angin tak mengubah mood Hugo saat ini. Ia menyeruput tehnya lalu membatin, “Aku belajar banyak darimu, Scarlet. Jika aku tak bertemu denganmu, aku takkan berani mengambil langkah taruhan seperti ini....”
......................
Masa-masa itu terus berjalan hingga enam setengah tahun lamanya. Kini, Zeeta sudah berusia empat belas tahun. Lekuk tubuhnya telah menunjukkan tanda kedewasaannya. Rambut pendeknya ia biarkan memanjang sepunggung, menampilkan rambut perak cantik dengan bola mata biru langit bagai permata yang menghiasinya. Ini adalah waktunya untuk berpisah dan pulang ke kerajaannya setelah enam setengah tahun "merantau". Eratnya hubungan antara dirinya dan para Elf membuat warga di sana menangis seperti akan berpisah selamanya. Saat ini mereka sedang berkumpul di tempat biasa mereka berlatih (baca: mengadu) sihir, seperti yang biasa dilakukan Lloyd dan Zeeta, atau Volten Sisters dan Zeeta, guna saling belajar memakai sihir, dan tentunya melihat seberapa jauh perkembangan latihan Zeeta.
“Sialan! Aku tak bisa menyantap kelezatan masakan Putri Zeeta lagi kalau beginiii! Hu hu huuu!” keluh Elf A.
“Parasnya yang cantik diusianya saat ini, akan membuat siapapun terlena dan membuat mereka tidak tahu bagaimana keimutan dirinya sebelum ini! Oh, Zeeta, aku sayang padamuuu, jadilah adikku! Aku akan memanjakanmu, jadi janganlah pulaaang!” seru wanita Elf A.
“Zeeta jangan pergi!”
“Zeeta tinggallah di sini selamanya!”
Sorakan demi sorakan yang dilontarkan para Elf takkan diduga oleh Zeeta ataupun Aria. Zeeta tersenyum meresponnya, sementara Aria meledak-ledak dengan berteriak, “Hentikan sorakanmu yang menghembuskan nafsu muslihat itu! Aku tak ingin Zeeta ternodai oleh keinginan besar kalian yang seperti itu! Kalau kalian rindu, tinggal keluar dan ke kerajaannya saja, ‘kan!?”
__ADS_1
“Apa, sih!? Jangan hanya karena kaubisa selalu bersamanya, kau merendahkan keinginan kami! Padahal kau juga merasakan apa yang kami rasakan, dasar peliit!” sorak mereka.
Aria merona merah. “Te-tentu saja! Dia sudah kuanggap sebagai adikku, karena aku lebih tua darinya, dan aku juga yang paling pertama bertemu dengannya daripada kalian!”
“Hahahah....” Zeeta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Jangan lupakan Ozy, dia juga sangat berharga untukmu, ‘kan?” bisiknya, yang langsung membuat merah di pipi Aria segera merambat ke seluruh wajahnya.
“Bi-bicara apa kau ini? Dasar anak tak tahu diri! Huh!” Aria cemberut, mengalihkan pandangannya dari Zeeta.
“I-imutnya...,” batin para Elf yang tanpa disadari satu suara.
“Kalau begitu....” Zeeta memakai topi penyihir berwarna dominan hitam dan biru sebagai penghias. Topinya membuat rambut peraknya terlihat kontras. “Terima kasih atas hadiah menakjubkan ini! Aku akan memakainya dengan baik!” Zeeta melempar senyum manisnya.
Ia memakai gaun abu-abu sebawah lutut yang didesain terbuka di bagian kaki agar membuatnya mudah bergerak. Untuk menutupinya, ia memakai celana panjang berwarna dominan putih, garis-garis biru melintang, dan corak hitam. Ia juga memakai rompi hitam yang dikancing dengan semacam permata di bagian tengah-atas dadanya. Seperti katanya, ini adalah pemberian dari para Elf, menunjukkan betapa sudah “tergila-gila”-nya mereka pada Zeeta, sampai menghadiahkannya sebuah set pakaian.
“Aku pergi dulu. Ini bukan terakhir kalinya kita bertemu, tetapi aku pun sudah rindu dengan keluargaku. Aku bisa segera ke sini kapanpun dengan anting ini.” Zeeta menunjuk anting telinga kirinya yang berbentuk tear drop. “Paman Hugo sudah mengubah cara kerjanya," sambungnya, "aku akan berkunjung lagi, jika ada kesempatan. Aku juga berterima kasih selama enam setengah tahun aku berada di sini, kalian menyambut dan menerimaku dengan hangat.
“Kak Lloyd yang selalu tak terima kalah....
“Volten Sisters yang selalu melatihku sejak hari pertama aku di sini....
“Reina yang sudah berjasa pada teman-temanku....
“Aria yang telah menjembataniku dengan kalian para Elf.... tanpanya, mungkin saja hari ini takkan lahir.
“Tentu saja aku pun berterima kasih pada Paman Hugo tentang semuanya. Aku akan bicara lagi padamu jika aku menemukan jalan buntu, dan kuharap, kaubisa membantuku. Tiga tahun lagi, waktuku untuk menjadi ratu yang sah akan tiba. Aku tidak tahu ibuku akan melepas takhtanya atau tidak, tapi meskipun begitu....” Zeeta menitikkan air mata, membuat pemirsa Elf-nya ikut menangis.
“Jika aku nantinya menjadi ratu ... untuk mencegahku bertindak bodoh dan menghalangi datangnya masa depan kelam itu ... kuharap kalian akan terus seperti ini padaku ... layaknya teman atau keluarga. Sungguh ... aku juga ... sayang pada kalian ... aku juga ingin selalu bersama kalian ... karena itulah....
__ADS_1
“Datanglah kapanpun kalian mau!” senyuman yang terlukis bersama titik air mata membuat hati semuanya tergerak dan refleks bersorak untuk yang terakhir kalinya.