Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Waktunya untuk Serius!


__ADS_3

Senja hendak menyelesaikan tugasnya hari ini setelah seharian menyinari Bumi dan menggantikan diri dengan bulan.


“Terima kasih atas kerja kerasnya!” seru banyak orang bersamaan, yang saling mengangkat minumannya masing-masing. Ada yang beralkohol, ada juga yang tidak. Dari banyaknya orang tersebut, ada Gerda, Serina, Titania, dan para anak muda yang sebelumnya mengerjakan “proyek membangun ulang desa”.


Di tempat tersebut—rumah baru yang telah diciptakan dengan sihir—mereka sedang merayakan keberhasilan proyeknya. Rumah ini didesain oleh para pemuda desa sebagai sebuah kedai.


“Yahh, tidak kusangka semuanya akan berjalan secepat ini!” setelah Gerda mengucapkannya, dia meminum ale-nya. “Pwaaahh! Nikmat sekaliii!”


“Apa kau sudah tidak apa, Kak? Tubuhmu sebelumnya sangat pucat, lho...,” tanya Titania khawatir.


“Ah, uhm. Mana-ku sudah mulai terisi kembali. Maaf sudah membuatmu khawatir.” Gerda mengacak-acak rambut Titania.


“Baiklah, kalau begitu aku kembali bersama teman-temanku dulu. Dadah, Kak Gerda!” Titania melambaikan tangan.


“Dadaah~” Gerda juga membalas lambaian tangannya, beserta senyuman.


Beberapa saat kemudian, Reid menghampiri Gerda. “Sekali lagi kuucapkan terima kasih, Nona. Tidak hanya telah menyelamatkan desa ini, kau juga bahkan melakukan ini semua untuk kami.”


“Berterima kasihlah pada Serina. Manaku hampir tidak cukup, berbeda dengan dirinya. Kebanyakan pekerjaan yang membutuhkan mana yang besar, dilakukan olehnya.”


Reid tersenyum. “Akan kulakukan. Nikmatilah minumanmu.”


“Ouu!” Gerda tersenyum lebar. Reid juga mengangkat kaki dari hadapannya. Kala ia ingin meneguk lagi alkoholnya, Reina bertelepati dengannya.


Reid sudah berterima kasih dengan Serina. Sang Elf kedua dari tiga bersaudari Volten Sisters tersebut, membalas Reid dengan senyuman. Dia juga bilang, “Aku hanya membantu Gerda. Sejujurnya, aku masih skeptis dengan kalian, bahkan sampai saat ini.


“Tapi, melihat kalian semua saling bergotong royong dan tidak membiarkan Gerda melakukan semuanya, itu sudah cukup alasan bagiku untuk ikut membantu kalian.


“Mengubah aliran sungai hingga mengalir ke desa kalian, membuat saluran irigasi, menambah rumah, juga membuat perkebunan. Untuk seorang Gerda, hal itu bukanlah tugas yang mudah dilakukan selama satu hari saja, karena bersihir tidaklah semudah yang dibayangkan.


“Aku juga cukup terkejut dengan dua Peri yang sejak kemarin seakan-akan bisu itu, ikut membantu kami.”


Reid terdiam sesaat. “Bolehkah aku duduk di sebelahmu, Nona Elf?”


Serina tersenyum. “Tentu saja. Kuizinkan kau memanggil namaku, Reid.”


“Terima kasih banyak.” Reid kemudian duduk. “Kalau boleh jujur, Nona... hingga kalian datang menyelamatkan kami, kupikir kami sudah tamat. Aku tidak keberatan, tapi disaat yang sama aku tidak bisa menerimanya.


“Ada banyak hal yang menjadi misteri bagiku, tentang bibi Jeanne, dan hal-hal lainnya. Jika kami tamat di hari itu, entah jiwaku bisa tenang atau tidak.


“Tetapi, setelah mendengar semua informasi-informasi tadi pagi, kami juga tidak tahu bahwa sebenarnya dunia ini sedang terancam oleh perang sihir.


“Kami sangat berterima kasih kalian bersedia melakukan ini semua bagi kami, tetapi ... kami yang tidak bisa bersihir, dan apabila disaat-saat terdesak hanya bisa mengandalkan Tanny ... aku....” Reid mencengkeram tangannya.


Serina yang memandangi wajah lawan bicaranya, meneguk jus renjie-nya terlebih dahulu. “Jika perang sihir itu benar-benar terjadi, maka pergilah ke Hutan Elf. Itu berada di barat laut dari sini. Bawa ini bersamamu, bila para Elf di sana meragukan kalian.” Serina mengeluarkan sebuah batu mirip giok yang bagian tengahnya telah terkikis—mengubahnya menjadi seperti roda. Batu tersebut bertali hitam.


“Apa ini...?”


“Anggap saja ini bentuk kepercayaanku pada kalian. Kalau kau menunjukkan ini pada mereka, kuyakin mereka akan membiarkan kalian masuk. Tentu saja, jelaskanlah situasi kalian pada mereka.”


Tangis hendak menetes dari Reid.


“Hei, hei, ayolah, jangan menangis hanya karena ini!”


“So-soalnya... kalian benar-benar ... apa yang bisa kami lakukan untuk bisa membalas kalian...? Kami tidak memiliki apapun...!”


Serina tersenyum. “Hiduplah.”


“Eh?”


“Kalian bisa membalas kami dengan terus hidup dan tidak menyia-nyiakan usaha kami terbuang sia-sia karena kematian kalian. Kau mengerti?”


Senyum sumringah segera tersimpul di wajah Reid. “Baik, Nona Serina!”


Tapi, tidak lama setelah itu, mereka berdua mendengar jeritan Gerda. “Apa katamu?! Zeeta ... di Tanah Kematian?!”


Serina menjatuhkan cangkir—membuatnya segera pecah. Pandangannya juga kosong tiba-tiba, seisi kedainya pun seketika hening.


[Sementara itu, di Kekaisaran Seiryuu....]


Sang Penguasa Kekelaman sedang mengikuti Asteria—Sang Penyihir Bintang—setelah dihentikan untuk menyerang Carlou.


“Kalau yang kudengar darimu hanyalah omong kosong,” ujar Penguasa Kekelaman, “aku akan segera membunuhmu.”


Asteria tersenyum kecut. “Ayolah, kau menyuruhku dan kakakku untuk membunuh Zeeta, tetapi kau yang tidak sabaran, ingin membunuhku?”


“Aku bisa melenyapkan gadis naif itu dengan mudah, tanpa berbelit-belit sepertimu!”

__ADS_1


“Lebih penting dari itu....” Asteria mengalihkan pembicaraan. “Harus kukatakan padamu, kata-kata bintang hanyalah sebuah kemungkinan saja. Benar-tidaknya itu, hanya waktu yang akan menjawabnya. Tapi, berdasarkan pengalamanku sejak terlahir di dunia ini, bintang tidak pernah meleset.


“Dia akan selalu meluncur lurus, pada satu titik kemungkinan yang ingin kaubaca.


“Tetapi dalam kasus ini, bintang melihat takdirmu, dan menyuruhku menyampaikannya padamu.”


Keduanya sampai di sebuah ruang tradisional timur dengan lantai tatami.


“Oh bintang, izinkan aku melihat takdirnya, dan menyampaikannya sesuai keinginanmu,” ucap Asteria, seperti merapal.


Tak lama kemudian, ruangan tersebut tiba-tiba, dari bawah kaki Asteria, berubah dimensi—membawa keduanya ke bawah milyaran bintang. Mereka berdiri di atas air yang merefleksikan bayangan mereka. Asteria sadar saat itu, Penguasa Kekelaman tidak memiliki bayangan, namun airnya hanya merefleksikan kepulan asap-asap hitam, yang membuatnya sempat mengernyit sesaat.


“Lalu apa? Apa aku hanya disuruh diam tanpa melakukan apa—“


“Tunggulah saja,” tukas Asteria, “dan lihatlah ke depan.”


Mengikuti kata-kata Asteria, Sang Penghakim melihat ke depan. Kemudian....


“Apa-apaan ini?! Sebuah lelucon?!”


“Ingatlah apa yang sudah kukatakan, bintang selalu lurus meluncur pada apa yang ingin dibaca.”


“Sudah kuduga, anak itu harus segera kubunuh!


“Keluarkan aku dari sini!”


Sang Penyihir Bintang terdiam.


“Kau tidak dengar aku? Keluarkan aku dari sini!”


“Zeeta.” Penguasa Kekelaman tersentak saat dia memangilnya begitu. “Aku tidak mengerti dan tidak ingin tahu apa yang sudah kaualami di duniamu, tetapi....


“Sampai akhir hayatmupun, keberadaanmu selalu ditolak, ya?”


Asteria memberi seringai di akhir ucapannya.


Tentu saja hal itu memantik emosi tinggi pada lawan bicaranya. “KAUPIKIR KAU BISA MAIN-MAIN DENGANKU?” aura hitam keunguan meledak dari tubuhnya. Hanya karena itu saja, dimensi dimana mereka berada sekarang, segera retak, dan pecah.


Asteria hanya bisa termangu... tak bisa memercayai apa yang dia lihat.


“Sejak kedatanganku ke sini, aku selalu serius dengan apa yang ingin kuraih. Jika kau sebagai alatku tidak bekerja dengan baik, maka sudah sewajarnya aku memperbaikimu, bukan?”


“Oh sial....”


Disaat yang sama... Arata yang sedang berada di sebuah dojo, merasakan Ki adiknya berkurang secara drastis, tetapi tiba-tiba naik kembali. Dia yang sedang berlatih, segera menyelesaikannya dan berlari menuju adiknya.


Arata berlari dari lorong ke lorong, tepat menuju Ki adiknya berasal. Larinya juga bukan secepat manusia biasa, tetapi saking cepatnya, seakan-akan dia terbang di atas tanah.


“HITOMI!” jerit Arata, saat menggeser pintu di ruang dimana Ki adiknya terasa. Dia segera terbelalak begitu melihatnya. “Kau...? Zeeta Aurora...?! Apa yang kaulakukan pada adikku?!”


Penguasa Kekelaman tersenyum lebar dan mengerikan. “Kau benci apa yang telah kulakukan, bukan?


“Maka ikutlah aku dan aku akan mengembalikan adikmu seperti sedia kala.”


“Apa ... yang telah kaulakukan pada Hitomi?! Jawab aku!!”


“Aku hanya membuatnya tidak bisa menolak permintaanku. Adikmu ini seorang penyihir yang bisa mengendalikan bintang, ‘kan? Andai kau menolak permintaanku, aku bisa menghancurkan kekaisaran ini dengan kedestruktifan kekuatannya.”


“Kau...! Berani-beraninya kau...! Bukankah kau sendiri yang bilang tidak akan mengetuk pintu kami, dengan begitu kau takkan mengganggu kami?!”


Penguasa Kekelaman semakin tersenyum lebar.


“Oleh karena itu kau harus menurutiku, Putra Mahkota Terkutuk....”


“Kkhhh...!” Arata mencengkeram kedua tanganya hinga telapaknya berdarah.


Tapi kemudian....


“Tidak harus kaulakukan itu, Tuan Arata.” Seorang pelayan klasik—bertolak belakang dengan model ruangnya—menghampiri mereka berdua dengan santainya.


“Kau...? Pelayannya adikku, Xennaville...?”


“Orang itu bukanlah Zeeta yang kaulihat di Aurora. Dia sudah membusuk hingga ke dalam hatinya, dan tidak perlu diselamatkan. Orang itu hanya membawa kehancuran, kemanapun ia melangkah.


“Tolong pergi dari sini dan lepaskan Nonaku, Zeeta.”


“Kaupikir Roh Yggdrasil sepertimu bisa memerintahkanku?! Bersujudlah, sialan!”

__ADS_1


‘Fwiiiingg... BWOAAM!’


Xennaville dipaksa mencium tanah—sama seperti yang dilakukannya pada Carlou, yang sontak mengejutkannya.


“Kalian tidak berhak sama sekali untuk menolakku. Lakukan apa yang kuperintahkan, maka kalian akan selamat!


“Arata. Aurora sebentar lagi akan diserang, ikutlah pada barisan itu.”


“A-apa?! Kaisar Zero tidak pernah mengeluarkan perintah apapun seperti itu!”


“Siapa yang bilang kalau itu dari Seiryuu? Mereka adalah bagian dari masa lalu, yang membenci Aurora. Tidak usah banyak basa-basi, lihatlah saja sendiri dengan kepintaranmu itu. Ingatlah apa yang kupegang di sini bersamamu. Jika kau juga tidak serius, sama seperti adikmu....”


“Cih!” Arata terpaksa melakukannya. Dia segera angkat kaki dari sana.


“Bagaimana bisa, seorang manusia sepertimu ... bisa memiliki kekuatan sebesar ini...?!”


“Untuk apa kubeberkan semua itu padamu?!”


‘DHUUAAAMM!’


Xennaville terhempas ke belakang dengan jarak yang teramat sangat jauh.


“Zeeta Zeeta Zeeta Zeeta...!” Penguasa Kekelaman mencengkeram wajahnya sendiri dengan tangan kirinya. “Aku tidak akan membiarkanmu hidup!”


“Dengan siapa kaubicara ... Gerda...?” tanya Serina, yang bergemetar. “Apa maksudmu Zeeta sedang berada di Tanah Kematian?!”


“Ssst!” Gerda menyuruh Serina diam dulu, kemudian menutup telinganya. “Uhm. Uhm. Baik.... Be-benarkah?!


“Tapi, aku masih tidak bisa meninggalkan desa ini!


“....


“Baik. Akan kukatakan pada Serina. Terima kasih sudah memberitahuku, Reina.”


Tatapan panik dan berkeringat Gerda, mengubah acara senang-senang di kedai tersebut hancur seketika.


“Kak Gerda...? Kau tidak apa...?” Titania khawatir.


“Serina, kita harus bicara. Berdua.” Meski tidak bermaksud, Gerda mengabaikan Titania, juga membuatnya jadi semakin cemas.


“Baik!”


Memandangi dalam diam kepergian keduanya, Reidpun menggumam. “Sepertinya ini bukan waktunya untuk bersenang-senang....


“Semua! Segera kemas barang-barang penting kalian! Kita akan mengungsi!”


“Eh? Apa maksudmu?” tanya salah satu pemuda, “bukankah kita baru saja menyelesaikan desanya?”


“Aku mengerti itu, tetapi ikuti saja aku sampai kita sampai ke tempat ungsiannya. Bersegeralah. Kita terhimpit oleh waktu. Wanita, bantu para anak-anak.”


Semuanya langsung berwajah serius lalu segera menjalankan perintah Reid.


Di area makam, Gerda menceritakan semua yang dikatakan Reina pada Serina. Tentang kondisi Zeeta, anggotanya Mintia, Jourgan, dan Aurora yang sesaat lagi akan diserang pasukan Hollow.


“Aku tidak bisa meninggalkan desa ini. Seiryuu sudah pasti akan kembali dan kau juga tahu itu. Oleh karena itu, kau sendiri dulu saja yang kembali ke Aurora. Kekuatanmu lebih berguna daripadaku.” Gerda menjelaskan panjang lebar.


“Kau sendirian, menghadapi mereka yang sudah pasti memiliki kekuatan Naga?! Apa kauingin mati?!”


“Tentu saja tidak. Kakakku pun sedang terpojok, karena lawannya saat ini adalah Mantan Benih Yggdrasil lima ratus tahun yang lalu. Bagaimana bisa seseorang sepertinya menang?


“Tapi, itu tidak akan membuatku berhenti. Aku sudah memutuskan untuk melindungi dan menyelamatkan desa ini. Ini sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku.”


“Jika kau mengkhawatirkan mereka, aku sudah menyuruh Reid untuk pergi ke Hutan Elf untuk mengungsi. Kau tidak perlu—“


“Ini rumah mereka. Tolonglah, Serina. Aku yakin kau mengerti alasanku. Kekuatanmu lebih berguna untuk melawan Hollow yang ada di sana bersama Lloyd dan Mintia.”


Tiba-tiba, mereka melihat bulan yang saat mereka keluar sudah berwarna biru, cahaya perkasanya dihalangi oleh huruf Rune Perthro raksasa.


Serina berwajah serius. “Berjanjilah padaku! Meskipun kau kehilangan anggota tubuhmu, tetaplah hidup!”


Gerda tersenyum. “Terima kasih. Sekarang, pergilah!”


Setelah itu Serina berteleportasi. Tetapi tak lama setelah kepergiannya....


‘BWAAMMM!’


Tanah di sekitar halaman desa seperti terjadi ledakan.

__ADS_1


“Sudah datang, kah? Baiklah... saatnya untuk serius!”


__ADS_2