Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Dariku, 300 Tahun yang Lalu


__ADS_3

[Tanah Kematian....]


“Aku akan membagikan ingatanku pada kalian,” ujar Tellaura, “kau juga akan melihatnya Belle, dan aku takkan menerima penolakan darimu!”


“I-iya, ih! Aku paham! Tidak usah marah-marah terus! Kau sungguh horor sekali, melebihi diriku bahkan,” balas Belle.


Empat urat di sudut kiri kening Tellaura terlihat jelas, tapi dia bisa menahannya. “Semua yang akan kalian lihat adalah benar-benar yang terjadi padaku dan adikku. Pada ingatanku ini juga, kalian akan memahami kenapa aku memutuskan untuk mengutuk dunia ini jadi bisa bersihir.”


“Tidak kusangka...,” batin Zeeta, “cerita legenda yang dulu ayah Arthur ceritakan padaku, ternyata benar-benar terjadi, dan orang itu sedang berada di hadapanku sekarang....


“Aku tahu ini bukan waktunya tapi... ini terasa sedikit menyenangkan!”


Tellaura memejamkan mata, membuat lingkaran sihir di tengah-tengah mereka yang duduk melingkar, lalu cahaya merah segera menyilaukan semuanya.


......................


[Tiga ratus tahun yang lalu, desa Lazuli, sebuah desa yang disebut Tellaura sebagai desa permulaan....]


Desa tersebut masihlah sebuah desa yang teramat tradisional, dimana bangunan-bangunan rumahnya masihlah terbuat dari bebatuan, kayu, dan anyaman jerami. Jika ada bangunan yang bagus, itu adalah milik Kepala Desa.


Di salah satu dari puluhan rumah yang terdapat di desa, ada seorang perempuan berambut ungu, dan seorang perempuan berambut merah. Perempuan berambut ungu memiliki panjang rambut hingga menyentuh mata kakinya. Sementara perempuan berambut merah, dia hanya memanjangkan rambutnya sepunggung, itupun dia harus menggeraikannya karena terbaring lemah di atas kasur lusuh.


“Kakak ... kenapa kau tiba-tiba saja sakit seperti ini? Selama sembilan belas tahun hidup, kau tak pernah sakit selama ini. Apa kau terkena semacam kutukan?” tanya Si Perempuan Berambut Ungu. Dia sedang duduk di samping kakaknya—Perempuan Berambut Merah.


“Entahlah.... Aku juga tidak tahu...,” balas Kakak.


"Haaahh~ baiklah, aku yang akan mengisi kekosonganmu di ladang. Kalau Si Brengsek itu datang, kaubisa mengatasinya, ‘kan?”


“Hahah, kaupikir aku siapa? Aku ini Kakakmu yang selalu me—“


“Iya iya, kau selalu bicara begitu. Aku tahu itu, Kak. Tapi untuk sekarang, istirahatlah yang banyak. Aku sudah memasak bubur untukmu, tapi hanya itulah yang kita punya untuk hari ini.”


“Cih, andai saja Kepala Desa dan anak brengseknya itu tidak rakus....”


“Sudahi bicaramu, duh! Aku berangkat!”


“Clarissa!”


“Iya?”


“Berhati-hatilah!”


Perempuan Berambut Ungu tersenyum lembut. “Ya, aku tahu itu, Kak Laura. Kakak juga berhati-hatilah sendirian.”


.


.


.


.


“Sedang apa kau bersembunyi di sana, Peri?” tanya Tellaura, begitu Clarissa pergi.


“Sudah kuduga kau benar-benar jadi bisa melihatku.” Seorang Peri berambut merah muda, bermahkota, dan bersayap delapan helai, muncul dari persembunyiannya—sebuah guci kecil yang kosong. “Adikmu ternyata benar, tidak ada apapun di sini selain bubur.” Peri itu membuka satu per satu guci-guci yang tersusun rapih di dekat perapian.


“Maaf saja kalau kami miskin! Ughuk ughuk!”


“Tunggulah beberapa saat lagi. Sesuai janjiku, kau akan jadi bisa bersihir.”


“Apa sakitku ini ada hubungannya dengan aku yang menyelamatkanmu?”


“Tentu saja! Kaukira, Manusia sepertimu yang sebelumnya tidak bisa bersihir sama sekali, ketika mendapatkan kekuatan, segera bisa memakainya begitu saja? Apa kau ini bodoh?”


“Hahaha, kau sama sekali tidak menahan diri ya....”


Tanpa diketahui Tellaura yang memejamkan matanya, Peri berambut merah muda dan bersayap delapan helai tersebut—yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ratu Peri Feline—sedang menyeringai.


“Hei, Peri,” panggil Tellaura.


“Aku di sini,” jawab Feline.


“Apa kaubisa memberitahuku kenapa kau berada di dalam Sickseed—maksudku tumbuhan karnivora itu? Kalau kaubisa bersihir, bukankah kaubisa menyelamatkan dirimu dengan mudah?”


“Sickseed bukanlah sekadar tumbuhan karnivora saja, itu juga memakan manaku.”


“Mana...? Apa itu?”


Feline lalu menjelaskan apa itu mana.


“Hmmm.... Jadi tanpa mana, aku tidak bisa bersihir dan kembali seperti manusia biasa?”


“Salah. Bukan hanya tidak bisa, tapi kau akan mati.”


“Ma-mati?


“Haaaaah~ menjadi penyihir ternyata cukup merumitkan, ya....”


.


.


.


.


“Katakanlah padaku. Apa yang ingin kaucapai dengan kekuatan yang akan kuberikan nanti ini?” tanya Feline.


Tellaura bangun dari tidurnya, lalu menatap pada Feline dengan senyumannya. Meskipun demikian, wajahnya masih terlihat pucat. “Untuk permulaannya, aku ingin membuat desa ini menjadi desa yang lebih baik.


“Ratu Aurora sekarang—Amanda Aurora VIII—tidak pernah mau melirik desa jauh dan terpencil tanpa penghasilan yang berarti seperti Lazuli ini. Maka dari itu, jika aku bisa bersihir, aku akan menjadikan Lazuli menjadi tempat yang lebih baik.


“Setelah itu, aku ingin mempelajari sihir lainnya untuk kebaikan banyak orang. Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kupikirkan.”


“Tidak berarti sekali ya.”


Tellaura menatap Feline sesaat. Dia lalu tersenyum lagi. “Kau benar. Di matamu mungkin terlihat seperti itu, tetapi bagiku, ini bisa jadi batu lompatan besar bagiku ... juga untuk adikku.

__ADS_1


“Orang tua kami terbunuh oleh orang yang tidak kami kenal, yang ternyata berasal dari Kerajaan Flare. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa orang tua kami bisa terlibat dengan mereka, tapi yang pasti, setelah itu aku dan adikku selalu berjuang bersama-sama.


“Sebagai kakaknya, aku ingin adikku hidup lebih layak dari ini. Jika ini juga kaupandang tidak berarti, maka aku tak tahu seberapa mulia lagi tujuan yang ingin kaudengarkan dariku. Bagiku pribadi, ini sudah cukup mulia dan aku selalu ingin membuat adikku tersenyum.”


Feline hanya memandangi gadis berambut merah dan mata yang sewarna tersebut dalam diam. “Dari sekian banyaknya Manusia, mungkin kaulah yang pertama kali memiliki tujuan seperti itu.” Dia lalu terbang menuju jendela.


“Eh?”


“Malam nanti aku akan datang lagi. Saat itu tiba, aku akan mengajarimu sedikit tentang bersihir. Rahasiakan ini dari semuanya, termasuk adikmu."


“Ba-baik! Terima kasih atas bantuanmu, Peri!”


......................


[Malamnya, pada saat bulan purnama....]


Clarissa yang seranjang dengan kakaknya masih sangat terlelap kala Tellaura berusaha sepelan dan tidak bersuara yang ia bisa agar tidak membangunkan adiknya. Setelah berhasil, ia juga berjalan menjinjit hingga ke pintu. Di pintu, dia juga sepelan mungkin membukanya agar tidak menimbulkan suara kayu yang sudah lapuk.


Tatkala ia berhasil keluar, ia segera berlari dengan penuh semangat. Karena Feline tidak memberi tempat janjian, maka hanya satu lokasi yang terpikir oleh Tellaura—yaitu di hilir sungai dimana ia menyelamatkan Feline sekitar tiga hari yang lalu.


“Aneh!


“Sungguh aneh rasanya!


“Padahal tadi pagi tubuhku rasanya sangat sakit, lemas, dan tak berdaya, tapi sekarang... seakan-akan kekuatan mengalir deras di dalam tubuhku! Aku merasa tidak lelah sama sekali!”


Disaat Tellaura berlari kencang begitu, tanpa ia sadari, larinya perlahan menjadi sangat-sangat cepat, hingga menimbulkan debu yang mengekor pada kakinya.


Beberapa saat kemudian, ketika Tellaura sampai, dia sudah mendapati Feline yang sedang menunggu bertelentang dan menaruh kaki kanan pada lutut kirinya, di atas daun teratai. “Maaf sudah membuatmu menunggu, Peri!”


Feline bangun dengan santai. Dia menghampiri manusia di dekatnya itu. “Tanpa basa-basi lagi, aku akan mengajarkanmu beberapa sihir sederhana. Terbang dan menciptakan sesuatu dari tanah.”


Mata merah Tellaura, yang memantulkan cahaya bulan, berbinar-binar mendengarnya. “Tolong ajarkan aku!”


Feline tersenyum untuk membalasnya.


.


.


.


.


“Hahahaha!


“Wuuuhahahaha!”


Rambut merah yang tergerai itu terbang dengan bebas di udara. Tangan dan kaki si pemilik rambut tersebut juga direntangkan lebar. “Ternyata begini rasanya terbang! Sungguh aneh sekali!”


“Kendalikan penggunaan mana-mu, atau kau bisa mati hanya karena terbang!” jerit Feline.


“A-ah! Baik! Aku minta maaf!” Tellaura memelankan laju kencang terbangnya, yang perlahan-lahan ia arahkan ke arah sungai, lalu sengaja membalik tubuh dan membiarkan rambutnya basah. Setelah itu, dia segera menukik dan memutar badan bersamaan—yang membuatnya menciptakan tornado kecil sebagai dampak.


Melihatnya, Feline menyeringai. “Sudah kuduga dari keturunan bulan....”


......................


Clarissa yang sedang bercermin, mendapati sesuatu yang aneh pada jumlah guci yang tersusun rapi. “Kenapa ada lebih dari empat? Apa aku salah hitung?” batinnya.


Saat ia mendekat, ia segera mengernyit. “Ini guci baru?! Sejak ka—“ dia segera mencurigai kakaknya yang masih terlelap nyenyak.


“Tidak tidak. Itu tidak mungkin. Kakak tidak memiliki cukup tabungan untuk membeli dua guci baru. Terlebih, jika dia punya tabungan, dia akan lebih memilih kebutuhan kami sehari-hari.”


Disitulah kecurigaan Clarissa semakin lama semakin besar, hingga akhirnya pada malam purnama berikutnya....


Berbeda dengan biasanya, Clarissa malam ini mengganti minumnya dengan kopi—yang biasanya hanyalah air biasa saja, sebagai teman makan malam roti tawarnya dan kakaknya. Sebelum mengikuti diam-diam kakaknya yang sudah dicurigainya sejak lama, dia juga menganggap gelagat kakaknya semakin hari semakin aneh.


Beberapa hektare ladang milik Kepala Desa yang menjadi tanggung jawab Tellaura, selesai dengan waktu yang sangat cepat, padahal biasanya butuh waktu lebih dari sehari. Namun kakaknya, hanya butuh sehari saja untuk menyelesaikan seluruh tugasnya, seperti pemupukan, perawatan, dan lain-lain.


Tentu saja, kinerja kakaknya itu dihargai oleh Kepala Desa, karena lelaki tua itu menilai lebih seseorang dari kerjanya. Dia juga tak peduli trik apa yang digunakan Tellaura, asalkan hasil panen ladangnya tersebut membuahkan cuan padanya.


Berkat kakaknya juga, beberapa bagian rumah mereka yang rusak seperti atap, pintu, lantai, dan kasur, juga sudah diperbaiki karena uang yang dimilikinya. Clarissa sadar bahwa dirinya tidak seharusnya lebih jauh mencurigai kakaknya, tetapi dia juga sangat tahu bahwa kakaknya itu bukan orang yang menjaga rahasia erat-erat bila tidak memiliki alasan yang sangat kuat.


.


.


.


.


Matanya terbelalak, dagunya seakan ingin jatuh dari wajahnya.


Clarissa tengah mendapati kakaknya sedang terbang di langit layaknya burung elang—merapatkan kaki dan tangan—meluncur ke atas dan ke bawah, sambil memetik sesuatu. Clarissa tidak bisa melihatnya jelas karena terpaut jarak. Ia sedang ada di atas pohon rindang.


“Apa ini ... mimpi...?”


“Tidak, kau tidak bermimpi.”


Clarissa menoleh perlahan. Sangaaat perlahan pada sumber suara yang terdengar jelas di telinga kirinya.


“Kyaaaa!!”


Mendengar teriakan tersebut, Tellaura yang sedang menukik, segera memutar arahnya. “Clarissa!” dia melihat adiknya jatuh dari pohon. Dia segera mempercepat laju terbangnya dan....


‘BRUGG!!’


Keduanya jatuh.


“Kau tak apa, Adikku?” tanya Tellaura, yang berhasil melindungi adiknya, dengan punggungnya.


“Ka-Kak Laura...?!” Clarissa segera menjauh dari kakaknya.


“Apa yang kaulakukan di sini?” Tellaura bertingkah layaknya dia tidak memiliki rahasia. Gadis itu juga membersihkan tanah yang menempel pada pakaiannya.


“Dia sudah mengikutimu sejak kau keluar dari rumah. Sudah kukatakan agar rahasiakan ini dari adikmu,

__ADS_1


tapi kenapa ka—“


“Percuma.


“Adikku jauh lebih pintar dariku. Hal semacam ini, dia bisa mengendusnya dengan mudah.”


“Kak Laura....” Clarissa merasa tersanjung.


“Hukuman.”


‘SLAMM!’


Feline membanting Tellaura ke tanah dengan sihirnya.


“A-aduuuhh! Kau tidak harus melakukannya di depan Adikku juga, ‘kan?!"


“Apa kau tidak berpikir bagaimana jadinya kalau orang selain adikmu yang membuntutimu dari belakang, hah?!” jerit Feline.


Tellaura segera menyadari kesalahannya. “Ma-maafkan aku....”


.


.


.


.


“A-anu... apa aku boleh tahu apa yang sedang terjadi di sini….?” Clarissa merasa canggung.


Tellaura kemudian mendapatkan izin dari Feline untuk bercerita.


......................


Binar mata pada mata ungu Clarissa membuat Tellaura tersipu malu. “Hebat! Kakak sungguh hebat! Dalam satu bulan ini, kau sudah menguasai sihir terbang, angin, dan tanah?! Waaah....


“Ah, pantas saja guci di rumah bertambah.... Sudah kuduga itu pasti ada hubungannya denganmu!”


“Hehehe, hentikanlah itu, kau membuatku malu!


“Tapi, Peri... kenapa Adikku bisa melihat dan mendengarmu? Bukankah kaukatakan padaku jika mereka yang tidak memiliki mana—atau manusia biasa—takkan mampu melihat kalian?”


“Penjelasannya sederhana dan hanya ada satu. Adikmu memiliki potensi.”


“Po-potensi?!” Clarissa kaget saat mendengarnya.


“Sudah kuduga dari Adikku!” Tellaura merangkul adiknya. “Jika Kakakmu yang hebat dan pemberani ini bisa melakukannya, maka Adikku yang pintar dan cantik ini juga pasti sama!”


“Tidak. Adikmu tidak akan bersihir,” tolak Feline dengan cepat.


“Hah? Kenapa?” tanya Tellaura.


“Berbahaya. Percayalah padaku.”


“A-apa maksudmu berba—“


“Oops, sudah pukul satu pagi. Waktunya kita menyelesaikan latihan. Sampai jumpa esok.” Feline kemudian hilang dengan sihir teleportasinya.


“Sial!” Tellaura menendang rumput.


“Kenapa kau semarah itu, Kak? Lagi pula aku tidak begitu memikirkannya.”


“Karena sihir bisa melindungimu, Adikku! Kalau terjadi padamu saat aku tidak ada bersama—“


“Kaaaak, sudah berapa kali kubilang tentang hal ini?


“Kakak tidak perlu khawatir! Semua orang di desa adalah pihak kita, kecuali Si Brengsek itu, ‘kan? Tenang saja!”


“Tapi....”


“Haah....


“Kalau begitu, aku akan berjanji padamu. Aku akan baik-baik saja meskipun kau tidak ada, tapi bila kau masih tidak percaya, maka janjilah padaku. Saat aku membutuhkanmu, dengan sihirmu itu, kau akan datang padaku.”


Tellaura tersenyum lebar. Dia lalu memeluk erat adiknya. “Tentu saja! Aku ini Kakakmu, lho!”


Namun, keesokan paginya....


‘DWAGG!’


Seseorang mendobrak pintu kediaman kakak beradik berambut merah-ungu, hingga mengejutkan mereka yang masih terlelap. Tellaura segera menyuruh Clarissa berlindung di balik tubuhnya.


“Sudah waktunya kalian membayar pajak, Pelacur....”


Seorang pria bermata merah kekuningan dan berambut putih, dengan senyum yang menunjukkan taringnya, membuat dua wanita tersebut menggeram.


“Kami bukanlah pelacur!” seru Tellaura.


“Hei hei hei... apa aku salah dengar...? Kalian pernah memelas padaku untuk uang, dan aku sudah berbaik hati membiarkan kalian mendapatkan satu kantung penuh uang, makanya kalian bisa membeli rumah ini, ‘kan?”


Tellaura mencengkeram erat tangannya. “Kalian menyerang kami dari belakang. Jangan bilang kaulupakan hal penting itu!”


“Hah? Menyerang...?


“Kalian sendiri, bukan, yang datang dengan pakaian yang hanya menyisakan kain pada dada dan bawah kalian, sudah wajar kami mengira kalian itu adalah pemuas kami!” pria ini menyeringai dengan sangat lebar. Ia menikmati setiap detik waktu yang ia habiskan di sini.


“Keparat....”


“Apa kaubi—“ Pria berambut putih itu terkejut dengan tatapan emosi Tellaura. “Apa yang bisa kaulakukan dengan tubuh kecil itu? Desa ini takkan bisa makan daging, bila aku—Sigurd—putra Kepala Desa Greimwald—tidak berburu untuk jatah selama sebulan!


“Berterima kasihlah pada kami, dasar Pe—“


‘BWHAAMM!”


Lantai yang terbuat dari kayu seketika hancur berkeping-keping—dengan kepala Sigurd masuk ke dalam lubangnya.


“SUDAH KUBILANG, KAMI BUKANLAH PELACUR!”

__ADS_1


Clarissa yang menyaksikan semuanya, dengan tangis yang sudah membasahi pipi, terbelalak. Kakaknya menjadi lebih ganas dari yang pernah ia tahu....


__ADS_2