Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Dunia Impian di Dalam Dunia Terkutuk


__ADS_3

Ditengah-tengah jalannya pertempuran antara Aurora dan pasukan Hollow Keenai, di Tanah Kematian, sedang terjadi pembicaraan serius....


Azure dan Mellynda membawa Zeeta pergi ke tempat yang lebih sepi untuk berbicara sesuatu yang penting—yang telah menjadi janji keduanya pada Edouard—yaitu untuk menjadikan Belle sebagai rekan mereka. Keduanya menjelaskan pada Zeeta tentang seperti apa masa lalu Belle dari sudut pandang ayahnya. Semua dibeberkan mereka, hingga ke titik cerita dimana seseorang berambut hitam dan beranting bulan mengubah hidup Belle.


Pandangan Zeeta segera kosong. Ia bergemetar dan memandangi tangannya sendiri, sekali lagi. “A-aku...? Penguasa Kekelaman...? A-apa maksudnya...?”


“Sudah kuduga dia akan begini,” batin Azure, “lagi pula, ini juga tidak mengherankan. Siapa di dunia ini yang akan menyangka kalau dirinya di dunia alternatif, benar-benar menjadi pembawa kehancuran, bahkan mampu melintasi dunia dan lebih ingin menghancurkan lagi.”


“Zeeta! Tatap mataku!” perintah Azure. “Aku tahu kau merasa tak percaya dengan apa yang baru saja kau dengar, tapi itu adalah Zeeta yang lain, bukan dirimu!”


“Aku ... tidak mempermasalahkan soal itu, Kak....” Zeeta murung. “Ini tentang Belle yang seharusnya membenciku. Kehidupannya yang berubah ... dalam sebuah artian adalah KARENAKU.”


“Soal itu kurasa sedikit salah,” balas Mellynda.


“Tidak tidak tidak. Ayahnya sendiri yang bercerita, bukan, kalau aku dari dunia alternatif—“


“Zee, apa yang ingin kaulakukan pada dunia ini? Katakanlah sekarang pada kami,” tukas Mellynda.


Zeeta mencengkeram tangan.


.


.


.


.


“Sejujurnya, aku ingin menghancurkannya.”


Saat Zeeta mengatakannya, ia menutup matanya erat-erat. Dia tidak berani melihat reaksi kedua orang yang menjadi salah satu orang paling berharganya.


“Aku juga berpikir begitu, Zee.” Suara santai Azure mengejutkannya.


“Aku sih agak berbeda dengan kalian, tapi aku paham kenapa kalian berpikir begitu.”


“Aku sudah lama mengenalmu, Zee,” tutur Azure, “setelah semua rahasia dunia yang kita ketahui berkatmu, jangan kira aku tidak bisa menebak apa yang ingin kaulakukan pada dunia ini.


“Sejak dulu kau sudah tahu bagaimana kauingin mengakhiri takdirmu yang mengemban beban dunia ini. Tapi, akhirnya kau mendapatkan jawaban jelas di hatimu setelah kau mengakhiri Marianna.


“Kendati demikian, kau juga ragu apakah kau benar-benar harus melakukannya atau tidak, karena di dunia yang ingin kauhancurkan ini ... ada orang-orang yang hanya bisa hidup dengan mana.”


.


.


.


.


“Curang.


“Kenapa kaubisa mengetahuinya semudah itu? Tidakkah kautahu seberapa galaunya aku memikirkan itu semua?”


“Zee, apa aku boleh ikut bersuara?” tanya Mellynda.


“Uhm.”


“Kau adalah Benih Yggdrasil yang nanti ditakdirkan akan menumbuhkan kembali Pohon Dunia. Kemudian, dengan adanya pohon itu, keseimbangan dunia akan hadir kembali. Apa itu benar?”


“Tidak. Itu tidak sepenuhnya benar.”


“Eh?”


“Jika dibilang seimbang, mungkin seimbang. Tetapi, seimbang itu memiliki arti lain.


“Dunia seperti apakah yang akan hadir setelahnya?


“Jika Luna mengatakan hal jujur, maka saat aku mengembalikan Yggdrasil, pohon itu akan mengabulkan apapun permintaanku, sebagai bentuk terima kasih.


“Clarissa... sudah memberitahu ini sejak lama, kalau semua kesedihan dan kemarahan gila yang terus saja terjadi di dunia sihir ini, bisa berhenti apabila mana itu sendiri lenyap. Tapi, seiring bertambahnya waktu, aku jadi mengenal Elf, Naga, dan Raksasa, yang suplai hidupnya berasal dari mana alam.


“Jika aku menghancurkannya....”


“Kalau begitu buat saja dunia dimana mereka pun bisa hidup tanpa sihir!” seru Mellynda, “aku cukup menyukai ide kita bisa hidup berdampingan tanpa sihir itu!”


“Eh? Apa itu benar-benar bisa dilakukan...?”


“Tentu saja bisa!” sebuah suara wanita datang dari suatu arah.


“Si-siapa itu?!” ketiganya segera bersiaga.


“Hei-hei, apa kaulupa siapa yang telah menyelamatkan kalian tadi?”


“Z-Zee! Antingmu bulanmu berbicara!” seru Mellynda, yang telunjuknya bergemetar.


“A-anting?!” Zeeta melepas anting bulannya. Saat dilepas, seseorang berambut merah yang telah dilihat Zeeta sebelumnya keluar dari situ.


“Yo!” Wanita berambut merah itu menunjukkan cengir lebarnya.


......................


Disaat yang bersamaan, Edouard menceritakan apa yang sedang terjadi di Aurora, juga mustahilnya mereka yang nanti hidup kembali, pulang begitu saja dan tidak mengalami hal apapun.


“Aku tahu kalian sangat memikirkan tentang kerajaan itu, tetapi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan kerajaan itu dari kondisinya sekarang hanyalah anakku, Belle seorang.”


“A-aku?! Kenapa aku harus melakukannya?!”


“Karena kau telah melepaskan Keenai dari pandanganmu.”


“Kee-Keenai...? Dia hanya manusia biasa yang tak memiliki nilai!”


“Dan orang itulah yang sedang menyerang kerajaan itu sekarang!”

__ADS_1


Belle tidak menduga ayahnya akan berteriak seperti itu.


“Kau juga gagal memerhatikan kalau orang yang membuatnya bisa melakukan hal itu, adalah orang yang sama yang membuat kita mengalami hal itu lima belas tahun yang lalu!”


‘DEG!’


Suasana di sekitar Belle berubah. “Orang itu ... ikut terlibat...?!”


“Kenapa kau selalu terpaku pada Zeeta dan tidak menuruti perkataanku yang menyuruhmu untuk terus mengawasi tiga dunia?! Jika itu kaulakukan dengan benar, maka ini semua takkan terjadi!


“Untuk apa juga kau memancing Zeeta ke sini? Hanya untuk melampiaskan semua ketidak-adilan yang terjadi padamu?!”


Scarlet mengernyit. “Mundurlah,” ujarnya pelan, sambil menarik Porte.


.


.


.


.


“APA YANG KAUTAHU TENTANGKU, DASAR BAJINGAN?!” jerit Belle kencang. “Kau hanya menyuruhku melakukan ini dan itu, tetapi kau sama sekali tidak pernah bertanya tentang keinginanku!


“Jika saja aku bisa mati, aku sudah mati sejak ibu meninggalkanku!


“Aku selalu benci padamu! Karenamu aku jadi begini! Karenamu ibu mati!


“Kau itu....


“Sebaiknya kau itu tidak usah menjadi ay—“


“Hei ... hei ... sudah cukup sampai di situ saja!” teriak Wanita Berambut Merah yang berjalan bersama Zeeta, Azure, dan Mellynda ke arah mereka.


“Ka-kau...?!” Belle tahu wajah Wanita itu. Demikian juga dengan Edouard.


“Zee! Siapa Wanita itu?!” seru Scarlet.


“Haai! Namaku adalah Tellaura! Apa kalian tahu nama ini?” ia mengedip mata kanan, menjulurkan lidah, dan membuat pose “peace” pada jemari kirinya.


Empat urat kepala timbul di dahi Scarlet. “Kalau bercanda, lihat situasi dan kondisinya! Katakan siapa dirimu sebenarnya!” Scarlet menarik gaun yang dipakai Tellaura.


“K-Kyaaa, aku dilece—baik, kau benar. Ini bukan waktunya bercanda.” Tellaura menurunkan tangan Scarlet. “Kau pun seorang Aurora, bukan? Anting itu sudah pasti akan memberitahukan apakah aku bohong atau tidak.”


“Cih....” Scarlet sedikit menjauh darinya.


“Anggap saja kedatanganku tadi sebagai candaan untuk mencairkan suasana yang tegang ini, tetapi aku di sini untuk mewujudkan permintaan terakhir Feline.”


“Pe-permintaan terakhir...?” para Aurora yang ada di sana, mengecualikan Edouard, terkejut. Begitu pula dengan Azure, Mellynda, dan Porte.


“Aku akan membantu anak ini....” Tellaura merangkul erat Zeeta. “Untuk memantapkan hatinya!”


.


.


.


.


“Bisakah kaujelaskan lebih rinci maksudmu tentang Feline tadi?” tanya Scarlet.


“Soal itu bukan aku yang akan menjelaskannya.” Tellaura melirik Edouard.


“Ayah?” batin Belle, yang meliriknya.


“Sebelum aku berpapasan dengan dua gadis itu....” Edouard menunjuk Azure dan Mellynda dengan tongkatnya. “Aku berbicara dengan Feline.”


......................


“Kami tidak memiliki banyak waktu, jadi aku akan langsung pada intinya." Feline sedang berbicara dengan Edouard. "Aku sudah membuat kontrak untuk menyerahkan jiwaku pada Flakka, sebagai ganti memasukkan mereka yang menginjakkan kaki di sini.


“Tapi, apa nyawaku masih cukup untuk meminta hal lain darimu secara langsung, oh Mantan Penjaga?”


Edouard mengernyitkan dahi. “Apa yang ingin kaulakukan?”


“Tidak perlu kujelaskan lagi secara mendetail, tapi aku ingin Tellaura terbebas dari Lembah Jiwa, untuk membantu Zeeta.”


“Nyawamu takkan cukup. Kudengar kau juga mengorbankan nyawa anak itu untuk memasuki Tanah ini?”


Feline tersenyum kecil. “Setelah semua yang dia lakukan dan yang kulakukan, aku setidaknya ingin melakukan satu hal yang benar sebelum benar-benar mati. Mana mungkin kulakukan itu pada gadis yang mengemban takdir dunia?


“Katakan padaku, apa yang harus kupersembahkan lagi pada Tanah ini agar bisa mewujudkan itu?”


Edouard memejamkan matanya sesaat. “Kau benar-benar ingin membantu manusia yang setelah ribuan tahun ini kau tipu daya, Feline? Semua leluhurku, telah kauperdaya.”


“Aku tahu dan aku serius.”


“....


“Maka angkatlah perjanjianmu dengan para Manusia yang telah mengikat kalian sejak tiga ratus tahun lalu.”


Feline tidak mengerti. Apa untungnya hal itu untuk Tanah Kematian seperti ini?


“Ini juga bukan kuminta sebagai imbalan, tetapi langkah lanjutannya.”


Feline tersenyum. “Nyawaku saja sudah cukup? Apa kauyakin? Setelah semua dosa yang kami, Peri, lakukan?”


“Aku bukanlah Dewa, anak itu juga bukanlah Dewi. Kami sama-sama takkan mengerti apa nyawamu saja benar-benar cukup untuk mengganti semua yang telah kaulakukan, tetapi aku tahu kematianmu akan membawa perubahan lain pada dunia, entah itu baik atau tidak.”


“Kalau begitu, bisakah kaugantikan aku untuk memberitahukannya permintaanku ini?”


“Tentu. Jika itu saja, aku yang sudah berbentuk jiwa ini masih bisa melakukannya.”

__ADS_1


“Begitu. Terima kasih.”


Edouard mengerutkan dahi saat melihat Feline pergi menuju Lembah Jiwa. “Siapa yang menyangka Peri berusia ribuan tahun itu akhirnya meneteskan air mata...? Dia sangat bersungguh-sungguh tentang ini....”


......................


“Fe-Feline tidak jadi menumbalkan nyawaku?!” Zeeta meraba-raba tubuhnya. “Tapi ... aku yakin sekali, sebelum masuk ke sini, dia....”


“Itu karena Kupu-Kupu Jiwa yang mengantarkanmu ke sini,” jawab Belle. “Peri bangsat itu pasti awalnya berniat ingin bernegosiasi denganku atau Ayah demi mendapatkan Tellaura. Tapi, saat Kupu-Kupu Jiwa yang diluar dugaannya membantumu, hal itu tidak lagi diperlukan.”


“Apa itu Kupu-Kupu Jiwa?” tanya Tellaura. Semua mata tertuju padanya. “A-apa?! Wajar bila aku tidak tahu! Dasar....”


“Haaah~” Belle menggelengkan kepala. “Satu-satunya makhluk yang bisa mengizinkan makhluk hidup menginjak Tanah Kematian ini. Itu juga merupakan alasan kenapa kaubisa memakai sihirnya Ifrit.


“Meskipun begitu, saat kau keluar dari sini, kau tetap akan menerima efek yang sama dengan mereka—tidak bisa bersihir sama sekali selama beberapa hari karena sirkuit sihir kalian sudah benar-benar mati.”


“Jadi, kita hanya bisa diam tanpa melakukan apapun saat Aurora dalam bahaya...?” Porte mencengkeram tangannya.


“Itu benar. Jadi percuma saja jika kalian ingin buru-buru keluar dari sini. Meskipun Ayah memintaku membantu kalian, aku tetap merasa tak ada kewajiban melakukannya.”


Tellaura memandang serius Belle.


“Apa? Ini sudah bukan zamanmu lagi, untuk apa mata itu memelototiku!?”


“Jangan main-main, Bocah. Kau sendiri tahu dunia ini sedang terancam apa, bukan? Bila aku tidak datang menyelamatkan kalian, Drékaheim akan terbuka di tempat terburuk yang pernah ada.


“’Dua tempat ini ada untuk akhir dari segalanya. Jagalah siklus mana, agar tiga dunia bisa tetap seimbang, sampai hari akhir itu tiba.’


“Jangan bilang padaku kalau kau lupa tentang titisan itu?


“Kaupikir titisan itu hanyalah omong kosong yang takkan terbukti bila hari akhir itu tidak benar-benar terjadi?


“Ragnarok.


“Hal itu sudah pernah terjadi sekali dan saksi itu semua adalah leluhur kalian berdua, Galkrie. Kaupikir aku tidak tahu semua itu?


“Kaupikir aku hanyalah kenangan masa lalu?


“Jangan sombong hanya karena kau selalu menghancurkan semuanya.


“KAUPIKIR AKU MENGUTUK DUNIA INI, HANYA KARENA KEBENCIANKU SAJA?!”


‘BWHAAMM!’


Angin kencang menghempaskan semua yang ada di sana.


“Ke-kekuatannya benar-benar gila!” batin Zeeta. Ia sampai tertelungkup lumayan jauh dari Tellaura.


“Belle. Itu, ‘kan namamu?


“Sekarang pikirlah dengan otak sombongmu itu.


“Lima belas tahun lalu, apakah desa Rhongomyniad bisa menggunakan sihir? Semua yang telah kaubunuh tanpa belas kasih itu, APAKAH MEREKA BISA MENGGUNAKAN SIHIR?!”


Tertekan oleh suara tingginya Tellaura, Belle mencoba mengingat-ingat. “Ti-tidak.... Mereka tidak bisa....”


“Lalu kenapa ... kutukanku yang membuat dunia ini bisa bersihir lagi ... tidak menyentuh Rhongomyniad?


“Karena desa itu memiliki peran penting saat Ragnarok terjadi ribuan tahun yang lalu. Orang sepertiku yang bahkan tidak bisa memakai senjata suci, takkan bisa melakukan apapun padanya!


“Rhongomyniad....


“Adalah ‘akhir dunia’ dari Ragnarok, dan akan tetap akan seperti itu, sampai hari akhirnya tiba!


“Kau meremehkan dunia sihir ini, Belle. Kendati kau memiliki kekuatan untuk melihat dunia, tetapi apa yang kaulihat hanyalah dari sebuah lubang kunci. Jika kau terus seperti itu, maka kematian ibumu akan terlewat begitu saja, apakah kau mau itu?!”


.


.


.


.


“Maafkan aku.


“Maaf....


“Aku hanya ... merasa iri pada mereka yang hidup di dunia luar....”


Tellaura segera bisa mengendalikan lagi emosinya. “Belle. Tetaplah menjadi manusia yang seperti itu. Rasakanlah berbagai macam emosi, janganlah menjadi sepertiku yang rela membuang semuanya demi satu hal.


“Semuanya, jangan jadi anak manja dan berkumpullah lagi! Aku akan memberitahukan kalian alasanku mengutuk dunia.”


Zeeta dan yang lain segera menghampiri Tellaura. Ia sengaja mendekati neneknya. “Darah orang itu benar-benar mengalir padamu, ya, Nek. Rambut merah, sifat yang sering marah, semuanya sangat mirip denganmu.”


“HAH? Kau berani meledek Nenekmu ini, hah?!”


“HEI! Siapa bilang kau boleh berteriak-teriak?!” jerit Tellaura.


“Hah?! Kau diam saja, dasar hantu gentayangan!”


“Apa katamu?!”


Azure mencubit Zeeta. “Jangan memulai peperangan hanya karena keisenganmu itu, bodoh!”


“Ma-maaf, semuanya terasa seru saat melihat leluhurku benar-benar mirip dengan Nenekku. Hehehe....”


......................


Setelah semuanya berkumpul melingkar lagi, Tellaura segera bicara. “Ini adalah kisah yang menyangkut perubahan besar pada hidupku dan adikku. Meski ini sudah terjadi tiga ratus tahun yang lalu, bagiku ini baru saja terjadi kemarin.


“Zeeta, kulihat kau berasal dari desa Lazuli?”

__ADS_1


“I-iya! Itu benar!”


“Jika desa Rhongomyniad adalah ‘akhir dunia’, maka menurutku, desa Lazuli adalah awal dari ‘akhir dunia’ tersebut.”


__ADS_2