Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Amarah dari Sebuah Kekonyolan


__ADS_3

Dua hari satu malam sudah mengarungi kerajaan Aurora. Dengan kemampuan sihir Zeeta dan Ashley, mereka telah menuntaskan medan pelindung sensor, seperti yang sudah direncanakan. Selanjutnya, mereka akan membuat medan pelindung untuk pertahanan. Setelah pembangunan kerajaan ini selesai, fokus mereka adalah membebaskan Alicia Aurora XX dari lilitan akar raksasa—yang sampai saat ini, masih belum bisa dipastikan siapa dalang atau apa penyebabnya.


Memang, Hugo sudah meminta Zeeta untuk menyimpan mana-nya agar bisa dipakai saat latihan di Hutan Sihir Agung, tetapi masalah itu dan masalah kerajaan sudah berbeda prioritas.


Pembangunan wilayah penduduk dan bangsawan pun sudah mulai membuahkan hasil yang manis, berkat kerja keras dari rakyat dan makhluk sihir yang membantu mereka. Bangunan-bangunan kokoh sudah mulai menggilas tenda-tenda darurat setelah Labirin Cremlyn hancur.


Bila ucapan Klutzie pada Mellynda nyata adanya, maka kerajaan Aurora seharusnya ada di titik krisis ekonomi dan pangan karena kondisi mereka seperti ini. Namun, di dunia sihir yang segalanya bisa dibentuk oleh imajinasi, hal itu bisa dikurangi, meski tidak benar-benar menutup inti masalahnya.


Selain prioritas mereka membebaskan Alicia, sebagai bangsawan utama, mereka juga harus memikirkan keberlangsungan hidup rakyatnya. Dan masalah itu, sudah sewajarnya, tidak di tangan Zeeta, namun ada di tangan Ashley yang dibantu oleh Hellenia—sebagai seorang Marchioness. Pekerjaan rumah mereka masihlah menggunung.


Di lain sisi, kerajaan tetangga mereka, Nebula, tanpa diketahui Aurora sedang dalam masalah yang masih diselimuti misteri. Tidak ada tanda kehidupan manusia di kerajaan itu, bahkan Siren, sebagai seekor Roh Yggdrasil pun, terpaksa meninggalkan Sebas yang terluka parah seorang diri atas tindakan kakak Klutzie, yakni Suzy. Kini, Klutzie dan Siren sedang bersembunyi di dalam gua di sebuah hutan. Mereka terkamuflase oleh rimbunnya pepohonan, serta medan pelindung dari Siren yang menyembunyikan aura mereka.


......................


"Apa yang harus kita lakukan...?" tanya Klutzie. Ia duduk tersungkur.


"Entahlah," jawab Siren sambil menyilangkan tangan, "yang pasti aku tidak akan mengizinkanmu berhadapan dengan Suzy seorang diri, bahkan jika kau adalah Benih Yggdrasil, Lutz."


"Aku tahu!" pekik Klutzie, "tapi apa yang sebenarnya terjadi dengan kak Suzy?! Dia bukanlah orang yang tega melukai Sebas seperti itu!


"Kak Suzy adalah ilmuwan yang jenius!"


"Dan Suzy itulah yang paling mencurigakan, Lutz!" bentak Siren, "segeralah terima kenyataannya dan hadapi! Bukankah kau sendiri yang bilang jika kauingin menguak semua rahasia dunia sihir dan menjadi nomor satu?!"


"Tapi... tapi...."


"Fufufufu...." Sebuah tawa lelaki terdengar dari kedalaman gua.


"Siapa di sana!?" Siren segera bersiaga.


"Tenang saja, Roh yang Agung. Aku tidak memiliki niat untuk menantang kalian. Aku hanya merasa lucu dengan kejadian beberapa hari ini....


"Tak kusangka, kami akan mendapatkan Benih Yggdrasil kedua secepat ini...."


"Kau...? Peri?!" Klutzie berdiri lalu ikut bersiaga. Ia mampu menyadarinya karena familiar dengan suara Peri itu.

__ADS_1


"Harus kukatakan, kau dan Zeeta sangat bertolak belakang. Kau sepertinya lebih mudah untuk dikendalikan daripada Zeeta, ya, Klutzie Nebula...?"


"Hoo...? Kau berani mengatakannya disaat aku ada di hadapanmu, ya, Peri...?!" Siren dibuat geram.


"Hahaha, maafkan atas kelancanganku. Ini sudah jadi kebiasaanku. Yang pasti, aku hanya datang untuk memastikan apakah yang dirasakannya benar atau tidak. Selamat siang, Klutzie dan Roh yang Agung!"


"Aku lebih mudah dikendalikan olehnya daripada Zeeta? Dia pikir aku tidak tahu apa yang sudah mereka lalui sejak aku ada di Aurora?!" batin Klutzie.


"Lutz, jangan pikirkan Peri itu. Sebaiknya kaupikirkan bagaimana kita menghadapi Suzy jika sewaktu-waktu dia—"


"Halo, Klutzie sayang~" tiba-tiba dari depan gua, Suzy datang begitu saja.


"A-apa?! Bagaimana kaubisa...?!" Siren segera menarik Klutzie menjauh beberapa langkah dari Suzy.


"Hmmmm~, kau ternyata juga diincar oleh Peri, ya...? Tapi sayangnya, mereka takkan bisa mendapatkanmu, karena aku akan membedahmu terlebih dahulu!" Suzy mengeluarkan pisau bedah dari balik jubah klinisnya. Pisau itu bersinar merah gelap.


"Cih, aku tak bisa terus lari begini!" pekik Klutzie, yang melepas paksa tangan Siren, lalu memusatkan sihir di kepalan tangan dan kakinya.


"He... hei, jangan gegabah!" Suzy hendak menarik kembali Klutzie, namun ia berhasil lolos.


"Ah... aku salah pakai tangan.... Seharusnya aku menyerangmu pakai tangan kiri... hehehe," kata Suzy, yang tersenyum mengerikan.


"Lutz!" teriak Siren.


"Jangan ikut campur!" ketika Suzy membalikkan badan, ia juga mengeluarkan sihir merah yang membuat pergelangan tangan dan kaki Siren terkunci di tembok.


"A-apa ini?! Aku tak bisa melepaskan diri?" Siren terus mencoba menggoyangkan keempat pergelangan atau menggunakan sihir untuk membebaskan diri, namun semuanya nihil.


Dengan santai tanpa mempedulikan Siren, Suzy berjalan mendekati Klutzie yang tak mampu berdiri setelah menembus tiga batang pohon besar dan membuat tulang punggungnya patah. Meski begitu, Klutzie masih waspada dalam posisi telungkup, sambil bersiap dengan sihir di tangan kanannya.


"Kenapa Kak Suzy...? A... apa yang terjadi denganmu...?" tanya Klutzie.


Sontak, Suzy terhenti dan mencengkeram kedua tangannya erat-erat. Tiba-tiba, aura merah pekat muncul bak raksasa dan menghanguskan sekitarnya begitu saja.


"Inilah hal yang tidak wajar diputuskan oleh Roh Yggdrasil...," kata Suzy, "kenapa anak kecil harus jadi Benih Yggdrasil...? Tahu apa mereka tentang dunia?!

__ADS_1


"Memangnya bahumu cukup kuat untuk menanggung semua kebenaran yang kaucari tanpa tahu apapun, Lutz?!


"Konyol! Dunia sihir ini harus kuhancurkan, bahkan jika itu harus menumbalkan adikku sendiri!"


Klutzie terbelalak ketika Suzy mengeluarkan sihir bola merah kecil dengan mana yang terpusat di telunjuk kiri yang terlihat dapat mewujudkan kata-katanya.


"'Kan kuberikan kau keputusasaan, Lutz!"


"KLUTZIEE!!!" pekik Siren putus asa.


Ia menembakkan bola kecil itu ke langit lalu itu berubah menjadi bola raksasa panas yang menghancurkan apapun yang disentuhnya. Saking besarnya dampak dari sihir bola merah itu, getaran dan panasnya bisa dirasakan sampai ke Aurora.


Orang-orang Aurora, termasuk bangsawan dan makhluk sihir yang sedang membangun, ikut merasakan getarannya.


Ashley dan Zeeta yang berada di kediaman Alexandrita, yang sedang melakukan "ritual" untuk membangun medan pelindung dengan menajamkan imajinasi sambil menutup mata, terbelalak seketika. Bahkan, Zeeta sampai terengah tiba-tiba.


"Mana yang sangat jahat sekali...," katanya, "apa yang terjadi, Guru...?"


"Firasatku tidak enak... tapi kita tidak boleh berhenti setengah-setengah. Kita harus menyelesaikannya!" sahut Ashley.


"U-uhm!" Zeeta kembali fokus.


......................


Setelah ledakan dari sihir Suzy usai, tak ada bagian dari hutan yang sebelumnya rindang tersisa. Bahkan tak sedikit pun tampak abu yang berterbangan. Hanya ada bekas hitam di tanah.


Suzy masih tampak baik-baik saja, bahkan tidak kehabisan napas meski sudah melancarkan sihir ukuran besar. Sedangkan Kluztie, tampaknya ia berhasil menghanguskan adiknya, karena ia melihat dan mencium aroma hangus dari posisi adiknya telungkup. Ia juga tidak merasakan adanya lagi pancaran mana dari Siren.


"Misiku belum usai, tapi setidaknya sudah lebih mudah," katanya. Tanpa memastikan kembali, Suzy lenyap begitu saja dari sana.


Siren keluar dari kedalaman gua sambil mengendap-endap. "Lutz!" ia berbisik sedikit keras—mengkhawatirkannya. Ketika ia melihat apa yang dilihat Suzy....


"Oh tidak! Oh tidak, oh tidak, oh tidak!" Siren segera membuat bola air cukup untuk tubuh Klutzie, mengangkatnya dengan sihir dan memasukkannya ke sana.


Sekitar sembilan puluh lima persen tubuh Klutzie hangus. Dirinya yang merupakan Benih Yggdrasil, dipilih dan bertarung bersama Roh Yggdrasil, kalah tanpa memiliki kesempatan....

__ADS_1


__ADS_2