
[POV Siren.]
Dunia ini terkutuk oleh suatu kekuatan yang disebut sebagai sihir. Setidaknya, aku yakin seseorang yang menjadi kunci dari setiap kejadian yang sudah berlalu itu, menganggapnya demikian. Sihir telah merenggut apa yang berharga baginya. Mimpi, keinginan, dan kebebasannya. Tapi, aku pun tahu bahwa ia tidak melihatnya dari satu sisi itu saja. Karena dunia sihir ini pun, ia tahu dirinya diberkahi oleh pertemuan-pertemuan tak ternilai harganya sehingga bisa membentuknya menjadi dirinya saat ini.
Ketiga teman-temannya, yang sudah berjuang bersamanya sejak kecil, Azure, Danny, dan Gerda, adalah sosok yang paling tidak ingin gadis itu memiliki akhir yang buruk. Namun, mereka pun tidak tahu, bahwa entah seperti apapun arus waktu diubah, bila takdir berkata tidak, maka jawabannya adalah tidak.
Maksudku, takdir memang bisa diubah, bila orang-orang didalamnya berperan untuk mengubahnya.
Sayangnya....
Kami, para Roh Yggdrasil, melihat apa yang menanti gadis itu. Dia sudah diperingatkan oleh Undine, dan dia tak keberatan. Dia sudah diperingatkan lagi oleh Ars, tetapi ia tidak mempermasalahkannya.
Yang berarti, bahkan sebagai orang-orang terkasihnya, ketiga teman-temannya itu, mau tidak mau harus siap untuk perpisahan. Gadis itu... teman-teman mereka itu... ingin beristirahat setelah perjalanan panjangnya. Terus diperlihatkan masa lalu yang mengerikan, selalu berkaitan dengan kebencian, hingga pada akhirnya dibebankan padanya.
Dalam suatu arti, perjalanan gadis itu lebih dari tiga ribu tahun. Perjalanan selama itu akhirnya bisa dilepasnya. Bila ketiganya menghalanginya....
Dunia yang diinginkan gadis itu... Zeeta Aurora XXI, adalah dunia yang amat sangat cerah dengan harapan dan perdamaian. Semuanya bisa hidup berdampingan, tanpa perseteruan atas nama sihir dan payung tirani kekuatan.
Kami, para Roh Yggdrasil dan Roh Kuno tahu, bahwa setelah pertarungan ini usai....
......................
Gerda, Danny, dan Azure menciptakan sebuah sihir baru. Sihir tersebut diciptakan hanya dalam waktu beberapa belas menit, sebab mereka sudah bersiap untuknya sejak lama.
Sesaat setelah Edward dan Ella ditarik oleh makhluk-makhluk mati yang terwujud dari sihir kegelapan Alter, Azure mengejutkan gadis berambut hitam itu dengan merebut meteor yang diturunkannya dan mengubahnya menjadi gumpalan racun.
Tidak sempat dilukai, makhluk-makhluk yang mengepung Edward dan Ella di tanah, terjerat oleh kobaran api yang menjalar di akar-akar raksasa. Akar tersebut muncul dari sebuah lingkaran sihir di bawah Jormungand. Tentu, akar berkobar itu juga menjerat Si Raksasa Ular.
"Ba-bagaimana bisa?!" Alter tak menduga situasinya begitu cepat dibalik, layaknya membalik telapak tangan. Dua sihir tersebut dikiranya hanya seperti "jeratan dan pukulan", sehingga Alter sempat menyeringai.
"Kau benar-benar meremehkan kami, ya, Zeeta?!" jerit Azure. "Aku, juga teman-temanmu yang sudah bersumpah untuk melindungimu telah berjuang setengah mati demi bisa mengejarmu!
"Rasakanlah!
"Gerda! Danny! Kita harus menghukum gadis cengeng ini!"
"AKU TAHU!" jerit kakak-adik itu.
Sihir keduanya, yang saling berkesinambungan di tanah, semakin menguat.
__ADS_1
"Hngh?!" Alter dipaksa kaget. "I-Ini?!"
Tidak hanya semakin kuat, sihir tersebut pun menguncinya. Azure tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia mewujudkan Buku Sihirnya dan mengangkat tangan kirinya. "Aku tak tahu di duniamu pernah melihatku memakai sihir ini atau tidak, tapi nikmatilah sihir kegelapanku yang menerangi ini, Zeeta!"
Alter tersiksa oleh kobaran yang semakin lama menyebar ke seluruh tubuh manusia dan raksasanya, sementara jeratan akarnya pun semakin kencang. "Ke-kenapa aku tak bisa menggerakkan tubuhku?! Sihir semacam ini, seharusnya tak berpengaruh padaku!" ia begitu histeris.
"Itu karena aku." Suara yang benar-benar sama dengannya memaksa semua pemeran di sana menoleh.
"Zeeta...?" Azure tercengang.
"Kak Zeeta...?" demikian pula Ella dan Edward.
Mereka semua terpana dengan Rhongomyniad yang menjulang tinggi hingga menembus awan gelap.
"Kaunaz telah menunjukkan kejadian ini dipagi setelah Danny menyatakan perasaannya padaku. Kau membunuh mereka, menginjak-injak tubuhku yang tak berdaya meski sudah memegang tombak suci ini.
"Selama perjalananku untuk mendapatkan Rhongomyniad, aku selalu mengalirkan mana-ku yang berafinitas cahaya kepada alam. Aku tahu dan yakin kalau Danny dan Gerda akan melakukan apa yang kulakukan, jadi mana kami bertiga sudah pasti akan menyatu, menciptakan sihir yang sudah pasti akan mengalahkan Jormungand, tentunya dengan kunci sihir Kak Azure yang sangat mengerikan itu." Diakhir katanya, Zeeta tersenyum.
"Hei!" bentak Azure.
Danny dan Gerda tersenyum, sepupunya pun sama. Alter menggertak giginya kuat-kuat, sembari melakukan apapun agar bisa terbebas. Sayang, hasilnya sia-sia.
"YAA!" jawab ketiga rekannya bersamaan dengan semangat yang begitu membara.
Azure mengubah bentuk meteornya menjadi suatu makhluk— wanita yang mencengkeram pedang dengan kedua tangannya. Sihir yang hendak ia gunakan adalah sihir penyembuh, yang pernah ia berikan pada Klutzie saat ia berusia sembilan tahun dan terluka bakar parah oleh serangan Suzy. Yang membedakannya, sekarang sihir tersebut jauh lebih kuat dan mematikan. Semakin lama, dalam jangka waktu yang cepat, sihir yang berwujud wanita itu berselimutkan api dan dedaunan.
"Ini adalah sihir terkuat dan sudah pasti sihir terakhir yang bisa kami gunakan...!" batin Gerda.
"Berkat pemulihan para Raksasa dan sepupu Zeeta, aku masih bisa mendapatkan kesempatan untuk menopangnya, namun setelah ini...!" batin Danny.
"Jika sihir ini tetap tak bisa menumbangkannya, tamatlah riwayat kami. Tapi, aku yakin, kami pasti bisa!" batin Azure.
.
.
.
.
__ADS_1
Segala mata yang berada jauh dari sana bisa melihatnya, namun tak dapat mendengarnya. Bagaimana empat sekawan ini berjuang hingga tetes darah penghabisannya, demi menumbangkan perwujudan dari kehancuran dunia itu.
.
.
.
.
"QUATERNITY GRANDEUR!!"
.
.
.
.
Azure, Gerda, dan Danny menjeritkan nama itu bersamaan. Sihir Azure menebas bagian tengah antara Alter dengan Jormungand, sementara sihir Danny dan Gerda membakar seluruh tubuh dua korbannya, lalu Zeeta menujah dengan tombaknya seraya meneriakkan, "RHONGO... MYNIAD...!!!"
Sebuah kilatan cahaya secepat mata berkedip datang, dengan akhir sebuah pusaran cahaya yang menukik tajam ke suatu Raksasa Ular.
Alter terbelah— terpisah oleh Jormungand, menyisakan setengah tubuhnya yang tetap terbakar oleh sihir yang masih aktif. Sementara itu, tubuh Jormungand hancur oleh Rhongomyniad. Jeritan lantang diberikannya hingga memaksa siapapun yang mendengar menutup kencang telinga sampai menggertak gigi. Tubuh Raksasa tersebut mengucurkan darah hitam, membanjiri sosok yang tubuhnya tak utuh. Tetapi, darah tersebut segera menguap oleh api sihirnya, hingga Ular itu lenyap tak bersisa dengan teriakannya yang perlahan memudar. Makhluk-makhluk yang muncul dari sihir Alter pun ikut lenyap bersama dengan hancurnya dia.
Edward dan Ella yang melihatnya dari dekat berdecak begitu kagum. "Berhasiiil!" mereka segera menyorakkan kegembiraannya sambil melompat-lompat.
Senjata suci Gerda dan Danny hancur berkeping-keping, dibarengi dengan keduanya yang jatuh bertekuk lutut. Azure menahan tubuh mereka yang lemas, sementara Zeeta perlahan turun dari langit. Rhongomyniad yang digenggamnya perlahan memudar. Walau tubuhnya sempoyongan, gadis itu berusaha untuk tetap berdiri. Ia tersenyum. "Jangan bergerak dari sana, kalian bertiga. Kalian pun sama, Ed, Ella."
"Hah...?"
Tiba-tiba....
'ZRASSHT!'
Perut Zeeta berlubang oleh suatu bilah tajam.
Semuanya terbelalak. "ZEETAA!!"
__ADS_1