
Hangatnya matahari, kicauan merdu dari burung-burung yang telah beraktivitas, sinar mentari yang menembus sebuah cela dari gorden besar, membuat tiga bangsawan di kediaman Cloxzar, yang memiliki emblem perisai dan di atasnya terdapat trisula dan pedang yang diukir menyilang, terbangun dari lelapnya.
Setelah menginap semalam dengan Hellenia dan Selen, Zeeta segera pulang ke kediaman Ashley dengan teleportasinya. Tentu saja itu ia lakukan itu setelah melakukan sarapan, mandi, dan berias ala Hellen. Meskipun dibilang ala Hellen, karena pada dasarnya Zeeta sudah imut sejak lahir, pakaiannya sudah tepat, Hellen hanya bisa menata rambut Zeeta jadi semakin cocok untuknya. Rambut pendek violetnya dipakaikan jepit rambut imut berbentuk kelinci yang memisah-dua-kan poni depan pada bagian ujung kirinya.
Ketika Zeeta sampai di halaman depan kediaman Ashley, ia dapat melihat dua buah limusin hitam yang ber-emblem matahari di dua bagian pintunya. Perasaan tidak enak mulai bergejolak di dalam hati Zeeta. Ia merasa bahwa ia akan menemui sebuah masalah lagi, tepat setelah ia masuk ke dalam.
"Guru, aku pulang," sapa Zeeta, setelah menyiapkan diri.
Apa yang Zeeta lihat begitu memasukinya adalah kehadiran sosok Arthur, Ashley, dan lima orang yang ... kelihatannya merupakan bangsawan. Lima orang itu terdiri dari pria dan wanita lansia, satu pria yang kelihatan sepantaran dengan Arthur, serta dua anak kecil—laki-laki dan perempuan.
Pria dan wanita lansia itu sudah kehilangan warna pada rambutnya—atau lebih tepatnya sudah beruban. Sang pria memiliki rambut pendek cepak yang ubannya sudah memenuhi kepala dan bermata merah, sementara sang wanita yang memiliki rambut panjang berwarna merah muda, sudah memiliki uban di beberapa area rambutnya. Seperti sekitar telinga dan di atas kepala. Ia memiliki mata berwarna kuning kecokelatan.
Pria sepantaran Arthur itu memiliki rambut merah muda pendek, berpostur badan tinggi, dan bermata kuning kecokelatan. Dia dan dua lansia itu berpakaian luar yang sama, yaitu mantel putih yang bagian lehernya tinggi, dan berlengan panjang.
Sementara dua anak-anak itu, adalah sepasang kembar. Mereka memiliki warna rambut pirang cerah. Si laki-laki berambut lurus panjang, namun karena kepanjangannya, poninya menutup mata bagian kirinya. Sama seperti si laki-laki, mata si perempuan juga tertutup karena rambutnya, hanya saja rambut itu BENAR-BENAR menutupi penglihatannya. Mereka terlihat bergandengan tangan meskipun sudah duduk di atas sofa yang empuk.
"Eh... Ayah? Bukankah Ayah sedang dipenjara...?" tanya Zeeta, yang melihat kehadiran Arthur.
Mendengar ucapan Zeeta, pria sepantaran Arthur itu tiba-tiba saja berteriak. "Orang ini bukanlah ayah Anda!" Zeeta sampai dibuat kaget setengah mati.
"A-anu... a-apa aku kenal Anda...?" tanya Zeeta. Entah kenapa ia bermandikan keringat sekarang.
"Apa...? Hei, kau bahkan tak memberitahu Tuan Putri siapa ayah kandungnya, hah?!" Pria itu menggebrak meja.
"Tidak," jawab Arthur singkat.
"Berani-beraninya—"
"Ratu Alicia memerintahkan untuk merahasiakan identitas dirinya sampai ia berusia delapan tahun," potong Arthur, "bagaimana aku bisa menjelaskan siapa ayah kandungnya jika Zeeta dalam ancaman Rowing? Waktu berharga itu lebih baik kupakai untuk membesarkannya."
"Khhh.... Sialan! Kenapa kak Alicia juga tidak memercayakan Zeeta pada kami?!" pria itu mencengkeram tangannya.
"A-anu...?" Zeeta dari tadi menunggu jawaban untuk pertanyaannya.
Pria dan wanita tua itu saling menatap, lalu saling mengangguk.
"Lowèn, mental Tuan Putri tidak bisa ditekan lebih jauh dari ini. Biar kami yang mengatasinya," kata Si Wanita Tua.
"Baiklah, Bu. Tolong, ya," jawab Lowèn. Kemudian pria dan wanita lansia itu pergi mendekati Zeeta.
"Selamat pagi, Tuan Putri," sapa Si Wanita, lalu diikuti Si Pria.
"A-ah... uhm. Selamat pagi." Zeeta mengangkat sedikit roknya sebagai tanda hormat.
"Bisakah Anda ikut dengan kami?" tanya Si Pria.
Zeeta melihat ke arah Ashley, kemudian melihatnya mengangguk.
"Huuupp...." Zeeta menarik napas panjang. "Haaaah...." Lalu menghelanya. "Baiklah!" kemudian Zeeta mengekori dua lansia itu menuju halaman.
......................
Setelah dua lansia itu menyendiri dengan Zeeta, mereka mengajaknya duduk di atas rerumputan. Mereka bertiga duduk berselonjor. Kini, Zeeta diapit oleh dua lansia itu. Si Pria lansia di kanan, dan Si Wanita di kiri.
Angin berhembus dengan lembut, dedaunan maple yang pada musim ini berwarna merah di sisi luar dan kuning cerah di bagian dalam, mengikuti ayunan angin kemanapun ia membawanya. Mereka tersenyum sambil menikmati pemandangan tenteram ini.
"Tuan Putri ... tidak, Zeeta...," ujar Si Wanita, "kami yakin kalau kamu belum terbiasa menjadi seorang Tuan Putri, makanya kami memintamu duduk santai seperti ini. Apa kamu keberatan?"
Zeeta tersenyum. "Tidak... tidak sama sekali," jawabnya, "lalu... apa aku boleh tahu, siapa kalian?"
"Namaku adalah Agatha Levant, dan pria tua di sebelahmu adalah Karim Levant. Dia adalah suamiku." Wanita Tua itu tersenyum—membalas senyum manis Zeeta.
"Lalu... ada perlu apa kalian denganku?"
"Ggghhh.... Agatha, aku tidak sabar lagi!" Karim tiba-tiba berteriak.
"He-hei...! Kau sudah berjanji untuk tetap tenang!" Agatha bersiaga—ia seperti tahu apa yang akan terjadi.
"Tidak! Tidak bisa! Dia adalah cucuku! Aku bahkan tak bisa melihat dia saat masih bayi, bahkan untuk menggendongnya!
"Zeeta... kah, namamu? Kemarilah, aku adalah kakekmu, lho. Peluklah aku!" Dengan gerak jemari-jemarinya yang diluk-likukkan layaknya tentakel bergoyang, Karim mendekati Zeeta.
"Hnggh!!?" Aura kematian dari Agatha muncul. "Kalau sudah berjanji, tepatilah janjimu, dasar Kakek tak berguna!"
'POW!!'
Agatha meninju telak dada Karim hingga terpental dan menimbulkan debu sambil bergelinding.
"Lagi pula, kelakuanmu itu justru menakuti Zeeta! Bagaimana kalau kesan pertamanya jatuh saat dia melihatmu seperti itu?!"
__ADS_1
Sementara Zeeta yang melihat semuanya dalam diam, hanya bisa tertawa kecil dan menjatuhkan keringatnya sambil berpikir, "apa yang sebenarnya terjadi? Dan dia adalah kakekku...? Berarti...."
"Em... apa ayah kandungku... namanya Hazell Levant?" tanya Zeeta.
Karim langsung berdiri. Ia kini masuk mode serius. "Darimana kamu tahu nama dia, Nak?" tanyanya sambil berjalan mendekati Zeeta dan Agatha.
"Eh...? Padahal tadi tinjuan Nek Agatha kuat sekali sampai berbunyi! Kenapa tidak ada bekas luka di dadanya, padahal dia sudah tua?" batin Zeeta. "Ah, uhm... aku baru pulang menginap dari kediaman nona Hellenia, dia cerita banyak tentang masa lalunya."
"Oh, Cloxzar, kah.... Jadi, apa yang ada dalam pikiranmu setelah tahu Hazell adalah ayah kandungmu?" tanya Karim lagi, setelah ia duduk sila di sebelah Zeeta.
"Meskipun Kakek bertanya, aku juga tak tahu apa yang harus kujawab.... Delapan tahun terakhir, aku hidup dengan ayah angkatku." Zeeta menatap kembali dedaunan maple di depannya.
"Kalau begitu, apa yang kamu pikirkan setelah tahu kami adalah Kakek dan Nenekmu?"
"Hmmm.... Aku tidak bisa bilang kalau aku kaget, tapi... rasanya masih sulit untuk dipercaya saja. Kukira, aku akan sendirian untuk bisa bertemu ibu. Hehe, apa jawabanku aneh?"
Mendengar jawaban Zeeta, Karim dan Agatha terkejut.
"Nak, kamu tadi bilang apa? Kamu ingin bertemu dengan Alicia?" tanya Agatha, berusaha memastikan.
"I-iya...."
"Apa maksudmu... Alicia masih hidup?"
"A-aku tidak tahu. Tapi, dimana dan kapanpun ketika aku sedih dan takut, anting ini seperti menenangkanku. Aku tak tahu bagaimana, tapi entah kenapa aku tahu ibu ingin bertemu denganku dan aku juga sama...."
"Kalau begitu...." Karim memegang dagunya. "Zeeta, apakah perasaanmu ketika mendengar nama ayahmu, serta ketika kamu tahu bahwa kami adalah Kakek dan Nenekmu, apa itu sama dengan anting itu?"
"Ma-maaf... aku tidak merasakannya...." Zeeta tampak murung.
"Begitu, ya...." Karim memandang langit.
"Tapi...."
Agatha dan Karim menengok ke arah Zeeta.
"Saat ini... anting ini seperti berbisik... bahwa kalian benar-benar Kakek dan Nenekku. Selain itu...."
"Selain itu?" Agatha dan Karim bertanya bersamaan.
"Kata Ratu Peri dan bangsawan utama lain, aku ini dicintai oleh alam. Aku tak tahu ini berhubungan atau tidak, tapi... tanpa perlu memastikan dari anting inipun, aku bisa tahu kalian memang benar-benar Kakek dan Nenekku!" Zeeta tersenyum.
Di momen ini, hati dua lansia itu merasa hangat. Kehangatan dari senyum tulus dari seorang anak berusia delapan tahun, cucu mereka, Zeeta Aurora. Sehingga, hasrat keibuan Agathapun muncul. Ia menarik kepala Zeeta ke dekapannya, lalu mengelusnya dengan lembut.
Dari pandangan Zeeta, ia melihat titik air mata dari Agatha dikala ia mengelus kepalanya.
Sambil memandangi Zeeta dielus oleh Agatha, Karim bercerita, "Sungguh, ketika akar raksasa itu datang tiba-tiba, kami sangat panik. Hazell dan Alicia yang sedang mengandungmu tengah berada di istana. Kami telah melakukan banyak hal, bahkan sihir terbesar milik kamipun tak membekas pada akar itu.
"Jika kami tahu bahwa anak mereka selamat, itu sudah sangat melegakan untuk kami." Karim tersenyum. Ia juga menunjukkan titik air mata.
.
.
.
.
Beberapa saat kemudian....
"Kek Riiim, Nek Agaaa!" dua anak kembar berlari dengan penuh semangat menuju kakek dan neneknya, namun terhenti setelah melihat Zeeta.
"A-apa dia... kakak sepupu kami yang dibilang oleh Papa?" tanya si perempuan, bernama Ella.
"Ya," jawab Agatha dan Karim sambil mengangguk.
"Cih, jangan percaya dia, Ella! Bi-bisa saja dia cuma ingin merebut Kek Rim dan Nek Aga dari kita!" tukas Edward, si laki-laki.
"Edward.... Uhm! Kamu betul, kita harus mengusir dia dari pelukan Nek Aga!" balas Ella.
"Ayo kita lakukan itu!" Edward memberi aba-aba.
"Oke!"
Namun....
"Hei, Zee!" teriak Ashley dari pintu. Ia bertolak pinggang.
"I-iya, Guru?!" Zeeta segera bangun dan berdiri tegap.
__ADS_1
"Hmm?" anak kembar itu saling menatap.
"Waktunya latihan, kemarin kau sudah libur dari latihan malammu!" Ashley kembali masuk ke dalam.
"Eeeh? Bukankah Guru sudah mengizinkankuuu? Kenapa harus diungkit?" dengan nada yang sangat malas dan sangat terpaksa, ia mengikuti Ashley. "Lagi pula, aku masih ingin bertanya sesuatu pada Ayah!"
"Haaa?! Kau berani menentangku?!" aura kematian datang mengancam Zeeta.
"Ba-baiklah baiklah! Aku akan serius!" Zeeta tetap menjalani kewajibannya meski merasa terpaksa.
Arthur yang melihat mereka berjalan melewatinya, hanya bisa melambaikan tangannya dan berkata, "Semangat, Nak! Aku akan menunggumu di sini!"
"Jangan sok dekat-dekat dengan Zeeta!" Lowèn tiba-tiba saja emosi melihat Arthur seperti itu.
"Cih... padahal baru mau pamer, malah sudah pergi...." Edward tampak kecewa.
"Uhm. Aku juga sudah bersemangat...." Sama dengan kembarannya, Ella juga tampak kecewa.
"Hooo...? Setelah sok berlagak tidak suka terhadap kakak sepupu kalian, kalian justru kecewa melihat dia pergi?" Karim datang menyempilkan kepalanya di tengah bahu mereka.
"Ka-kami tidak kecewa!" Edward dan Ella menjawab bersamaan.
"Apa aku juga harus bilang pada Zeeta bahwa kalian sangat menantikan ingin bertemu dengan Tuan Putri...?" Karim melanjutkan keusilannya.
Anak kembar itu merona. "Ja-jangan!"
"Bagaimana, ya...? Apa aku harus bilang yaa...?" Karim sangat menikmati kelakuan usilnya.
"Hmmmmpph!" Edward dan Ella menggembungkan pipinya.
"Ah... Cucuku imut sekali kalau kesal...," batin Karim.
"Aku benci Kakek!" Edward dan Ella mengucap bersamaan, kemudian beranjak menuju Agatha.
Bagaikan disambar petir, kapal, beton, dan dihantam banteng, Karim sangat terkejut.
"Cu... cucuku... MEMBENCIKU?" gumam Karim.
"Inilah akibatnya kalau terlalu usil! Makanlah hasil perbuatanmu sendiri!" Agatha kemudian menggendong cucu kembarnya.
"Nah, mari kita lihat seperti apa latihan kakak sepupu kalian, ya?" tanya Agatha sambil berjalan.
"Uhm!" Edward dan Ella menjawabnya bersamaan.
......................
Zeeta dan Ashley berada di sebuah ruang hijau yang terpisah dari kediaman Ashley, namun masih ada di dalamnya. Lowèn, sedang melihat mereka dari luar ruangan yang terpisah oleh pintu dan jendela kaca.
"Kau pasti sudah mendengar cerita tentang Erigona, bukan?" tanya Ashley.
"Uhm." Zeeta mengangguk dengan wajah serius.
"Latihan kali ini akan membuatmu semakin lincah dan tangkas ketika sewaktu-waktu berhadapan dengan makhluk seperti dia." Ashley memunculkan beberapa botol butiran sihir.
"Jadi... aku memang harus menghadapi makhluk seperti mereka, ya...?" tanya Zeeta.
"Ya, tapi itu tidak akan segera kau tangani. Bilapun ada, kamilah yang berwajib untuk mengatasinya."
"Aku mengerti."
"Baiklah. Lawanmu kali ini bukanlah aku, tapi mereka." Ashley mengangkat dua botol berbutir sihir.
"Eh?" Zeeta memiringkan alisnya.
"Mereka adalah makhluk sihir ciptaanku. Meskipun kusebut makhluk sihir, mereka hanyalah boneka yang bergerak sesuai keinginanku ketika membuatnya— melumpuhkan kaki lawannya, meskipun itu berarti memberikan lawan luka yang fatal."
"EH?!" keringat muncul di pelipis Zeeta.
"Berpikir dan bertindaklah dengan cepat, jika tidak, kakimu akan terluka dan kau akan kalah telak!"
Ashley melempar isi dari dua botol berbutir sihir itu.
"EEEHH?! YANG BENAR SAJA!"
Butiran-butiran sihir itu perlahan berwujud. Satu berbentuk boneka beruang bertuliskan nama Teddy di perutnya dan satunya lagi adalah rusa jantan dewasa yang matanya bercahaya biru.
Dari luar, Lowèn memegangi dagunya. "Hmm. Sudah kuduga dari Grand Duchess, menu latihan Beliau memang hebat," gumamnya, "tapi... apa Zeeta mampu melawannya?"
"Zeeta! Apapun alasannya, aku ingin kau tidak memakai sihir dalam jumlah besar!" teriak Ashley yang mundur ke ujung ruangan sambil menyilangkan tangan.
__ADS_1
Sambil kocar-kacir kesana dan kemari, Zeeta menjawab Ashley. "Tapi kenapa?! Bagaimana bisa aku fokus membayangkan sesuatu jika sambil menghindar?! Mereka juga sangat cepat!"
Teddy dan rusa jantan itu telah menyerang Zeeta. Sama seperti ucapan Ashley, mereka memang mengincar kaki Zeeta. Teddy dari kepalan tangan berbentuk oval-nya, sementara si rusa dari mata bercahayanya. Bagaimana cara Zeeta mengatasi mereka?