Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ancaman


__ADS_3

Kerajaan Aurora lima belas tahun yang lalu, Scarlet yang sudah mem-briefing singkat para murid yang kelasnya diwakili oleh Willmurd, kembali ke singgasananya. Di sana, ia diajak bicara oleh seekor Peri.


"Apa sebenarnya tujuanmu mengirim bocah-bocah itu turun membasmi Erigona?" tanya Peri tersebut, "kenapa tidak kauperintahkan saja seluruh akademi itu untuk membantu mereka?


"Tidak, bukankah akan lebih bijak jika kau menurunkan prajurit sihir?"


Scarlet menatap tajam sang peri. "Diamlah, Peri. Ini tidak ada urusannya denganmu. Bahkan jika kuberi tahu, apa keuntungannya bagimu?"


"A-ayolah, bukankah kita rekan demi membangun kerajaan—" ucapan sang Peri diputus.


"Hah!? Kau yang hanya kaki tangan Feline, ingin bilang kau berjasa sudah membantuku? Jangan bercanda. Aku membangun kerajaan ini dengan kekuatan dan orang-orangku sendiri. Jangan berlagak seolah ras kalian paling memiliki kekuatan di dunia ini!


"Enyahlah dari hadapanku, sekarang juga!"


Sang Peri diam-diam mencengkeram erat tangannya, kemudian meninggalkan Scarlet.


"Mana bisa kubiarkan cucu-ku di masa depan mengalami semua ramalan Feline itu. Selagi aku masih berkuasa, akan kubinasakan semua yang menjadi ancaman bagi cucu-ku!" batin Scarlet, dengan tatapannya yang tajam.


......................


Erigona, makhluk sihir berupa tumbuhan menjalar ini untungnya muncul di hutan jauh dari kerajaan. Tetapi, ada berbagai macam poin yang amis yang hanya akan tercium oleh orang-orang tertentu, seperti Scarlet misalnya. Dan saat ini, orang terpenting sekerajaan itu justru menurunkan Tuan Putri-nya ke sana.


Para murid yang terdiri dari dua kelompok—Kelompok Willmurd dan Kelompok Ashley—kini sudah menyebarkan diri dan mencoba berbagai macam hal yang terpikirkan oleh mereka untuk membasmi Erigona tanpa memakai sihir. Seperti menyerang memakai pedang, tombak, dan benda fisik lain. Namun sayang, semua itu tak berpengaruh.


Sebuah batang panjang dijulurkan Erigona tiba-tiba. Itu menyerang orang-orang yang ada di dekat Hellen, termasuk dirinya sendiri. Dengan kecepatannya yang sulit dihindari, membuat mereka yang masih berstatus siswa, sangatlah kesulitan.


"Dasar, meskipun tubuhnya besar, tapi apa-apaan kecepatan dan ketahanan tubuhnya itu?!" keluh Hellen, "bagaimana cara kita mengatasi regenerasinya jika batangnya sudah terpotong tapi ia malah tumbuh lebih banyak?!"


"Awas atau kalian akan kena!" teriak Garren mendadak.


Di atas tubuh Erigona, Garren membuat lingkaran sihir yang cukup besar untuk memayungi target mereka. Lingkaran sihir tersebut, layaknya emblem Rowing, memiliki pola bunga mawar serta berwarna merah. Melihat lingkaran sihir itu, para siswa segera menjauhkan diri.


"Tuan Will, bersiaplah untuk sihir penyembuh," bisik Ashley, yang mengawasi dari kejauhan.


"Baik," jawab Willmurd, kemudian mengumpulkan mana.


Lingkaran sihir Garren kemudian menyala terang hingga hampir membutakan sesaat semua pandangan yang ada di sana. Setelah itu, ia menurunkan kedua tangannya secara bersamaan. Seakan merespon Garren, air bah dalam jumlah besar tumpah dari lingkaran sihirnya, membasahi Erigona.


"Apa yang ingin kaucoba lakukan, Tuan Garren?" tanya Porte.


"Sebuah tumbuhan ... tidak akan mampu bertahan setelah ... menerima banyak air," jawab Garren. Ia bermandikan keringat, juga kehabisan napas.


Tubuh raksasa Erigona itu tampak mengerut dan batang-batangnya pun mengecil. Melihat ini, Garren tersenyum.


"Berhasil, kah...?" tanya para siswa cemas.


Beberapa saat kemudian...


Alicia menyadari sesuatu. Ia membelalak tiba-tiba. "Tidak!" jeritnya lantang, "semuanya, menghin—" Alicia yang mencoba memperingati teman-temannya ... terlambat.


"UWAAAGHH!"


Dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya, Erigona berhasil melukai siapapun yang ada di dekatnya dengan tusukan tajam batangnya.


Tidak terkecuali untuk para makhluk sihir, mereka juga menjadi korban dan menjatuhkan penunggangnya.


"Cih, gagal, kah?" keluh Garren, yang kesal sihirnya tak bekerja.


"DASAR BODOH!" teriak seseorang yang ada di bawah Garren. Mendengarnya, Garren refleks melihat ke sumber suara.

__ADS_1


"Apa kau tidak dengar ucapan Grand Duchess kalau Erigona akan menyerap sihir?! Meskipun yang kau wujudkan adalah air, sihir tetaplah sihir!" orang yang berteriak itu adalah Arthur. Ia terluka di bagian sisi kiri perutnya. Ia sedang memegangi luka itu dengan tangan kirinya sambil meringis sakit.


"Lalu apa yang bisa kita lakukan, coba katakan padaku! Selain beregenerasi, dia juga cepat!" pekik Garren, tak mau disalahkan.


"So-soal itu...."


Garren mengerutkan keningnya. "Hah?! Lalu kau berani protes padaku, rakyat jelata? Jangan berlagak seolah kau lebih hebat—"


"Kalian berdua, hentikan! Ini bukan waktunya untuk bertengkar." Alicia menengahi mereka dengan mata hijau permatanya yang menyala.


"Tu... Tuan Putri...." Garren tak bisa mengelak, begitu juga dengan Arthur.


"Lihatlah sekitar kalian, apa yang terjadi disaat kalian bertengkar."


Semua murid tersungkur di tanah yang mati, begitu juga dengan makhluk sihirnya.


"Ma-mana-ku... a-aku kehilangan napas...."


"Apa ... yang ... terjadi? Tubuhku, tak bisa...."


Para murid itu tak menyangka akan menjadi seperti ini. Erigona yang terus menyerap mana di tanah, mendapatkan bonus sedap dari bangsawan dan murid berbakat sihir tersebut. Yang pada akhirnya, Erigona mengevolusikan dirinya sekali lagi.


Willmurd dan Ashley tak diam diri saja setelah melihat murid-murid mereka terjatuh seperti lalat. Keduanya mengangkut mereka dengan sihir berbentuk ratusan tangan yang keluar dari tubuh para siswa. Tangan-tangan itu mengoper ke tangan yang lain dan mereka pergi menjauh sejenak untuk disembuhkan.


Saat ini, yang tersisa di dekat Erigona, hanyalah Alicia, Hellen, Arthur, Garren, dan Porte. Memahami situasi genting ini, kelima bangsawan tersebutpun berkumpul.


"Semuanya, aku punya rencana. Maukah kalian membantuku?" tanya Alicia.


"Ya!" Arthur, Hellen, dan Porte mengangguk tanpa ragu. Sementara Garren menatap kesal Alicia.


"Garren, berhentilah bersikap egois untuk saat ini!" teriak Hellen.


Sementara mereka berdiskusi sambil menghindari serangan Erigona yang tidak berhenti....


......................


Peri yang sebelumnya berbicara dengan Scarlet, memakai sihirnya untuk berteleportasi menuju area Erigona yang sedang dilawan Alicia dan teman-temannya.


"Scarlet, akan kubuat kesombonganmu itu menjadi penderitaanmu sendiri!" ia tampak mencari keberadaan Erigona. Setelah menemukannya, ia tersenyum lebar.


"Hahahaha! Apa ini, apa ini, apa ini...?! Tidak pernah kulihat Erigona mencapai sebesar ini! Kalau sudah begini... bagaimana wajah Scarlet jika anak kesayangannya mati karena perintahnya sendiri, ya...?" senyum Peri itu semakin lebar.


Peri itu mengumpulkan mana di satu titik—depan telunjuk kirinya, kemudian merapal. "Wahai tanah ... wahai air ... wahai angin ... wahai alam yang menjadi pilar kekuatanku, sebagai Peri kuperintahkan kalian. Buatlah Erigona menjadi sempurna!"


Berbagai butiran mana terkumpul di telunjuk peri itu. Kumpulan mana itu berubah menjadi merah dan sebesar kelereng, kemudian bergerak maju menuju Erigona.


"Aaah... aku tak sabar melihat wajah terpuruknya Scarlet...," gumamnya kembali tersenyum lebar.


Disaat yang sama, Ashley dan Willmurd yang sedang menyembuhkan kondisi murid-murid itu dikejutkan oleh perasaan menekan yang kuat.


"Hmm?!" Ashley dan Willmurd terbelalak.


"Apa-apaan mana ini?!" tukas Willmurd, "dan mana ini arahnya...?"


Setelah menyadarinya, mereka panik bukan main. "Nona Alicia!!" keduanyapun melesat menyusul Alicia dan teman-temannya.


......................


"Ada satu hal yang kusadari dengan pertumbuhan ukuran Erigona yang cepat ini. Ia pasti memiliki inti di bawah tubuhnya yang tertutup oleh tanah. Oleh karena itu, Porte, aku ingin kaucari tahu letak akar-akar Erigona itu.

__ADS_1


"Aku dan Garren akan mengangkat tanah yang tidak dilewati akar-akarnya. Hellen dan Arthur, kalian bantu kami untuk menangkis batang itu disaat kami sedang mengangkat tanahnya, kemudian aku akan menghancurkan inti itu dengan sihirku."


Alicia sudah mematangkan rencananya, namun....


"Tu-Tuan Putri... mana apa ini...?" Hellen tampak berkeringat dingin. Tetapi hal itu tidak terjadi dengan Garren, Porte, dan Arthur.


"Lihat itu!" Porte menunjuk ke belakang bawah.


Bola mana merah itu masuk ke dalam tanah kemudian menyatu dengan inti Erigona. Dengan sekejap, tubuh Erigona menghilang begitu saja.


"A-apa yang terjadi?" gumam Arthur.


"Apa bola merah yang terasa berat dan mencekam itu? Tidak, tunggu... bola merah itu...." Alicia mencoba menerka apa yang terjadi. "Astaga! Semuanya la—!"


'DDWWUUUMMM!!'


Ledakan berupa angin kencang menghempaskan lima bangsawan dan makhluk sihir yang mereka tunggangi itu hingga tersebar. Semuanya terluka, termasuk Alicia. Ia terlempar seketika ke tanah sehingga membuat lubang yang dalam.


Garren tersangkut di atas pohon dan kehilangan kesadarannya. Sementara Porte, berhasil mengecilkan dampak terjatuhnya dengan kristal yang ia buat untuk mendarat, namun ia justru membenturkan kepalanya di kristal dan membuat kepalanya menumpahkan darah sehingga akhirnya membuat ia kehilangan kesadaran juga.


Hellen yang terhempas di dekat Arthur, justru pingsan di tengah-tengah ia melayang di langit. Menyadarinya, Arthur segera mendekap Hellen dengan erat. Melihat mereka akan terjatuh, Arthur memasang punggungnya untuk melindungi Hellen dari benturan batang-batang pohon yang sudah mati, lalu akhirnya mereka mendarat ke tanah.


"Sial, sudah pasti punggungku remuk!" batin Arthur menahan rasa sakitnya. Tak lama kemudian, Hellen membuka matanya. Ia tersadar bahwa dirinya sedang dipeluk erat oleh Arthur.


"A-a-apa yang kaulakukan? Lepaskan aku!" pekik Hellen, yang sebenarnya berdegup kencang.


"Jangan banyak bergerak dulu! Karena punggungku patah, kurasa Anda harus bertahan dalam pelukanku lebih lama lagi." Kata-kata Arthur membuat Hellen merona merah. "Maaf jika aku sudah lancang, Nona Hellen." Bagaikan jatuh dari langit, Arthur membuat Hellen cemberut.


"Dasar sok pahlawan, padahal sebelumnya kau sengaja membuatku terjatuh!" tegas Hellen.


Arthur dibuat berpikir sesaat, lalu ia mengingat apa yang dimaksud Si Nona Bangsawan ini. "Sengaja? Tidak tidak, aku memang melihat tali sepatu Anda lepas," jawab Arthur.


"Tali...?" Hellen mengingatnya kembali. "Ah... dia benar... waktu aku bersiap untuk berangkat tadi, aku baru sadar tali sepatuku lepas...," batinnya malu. "Ternyata dia memang benar-benar melindungiku...."


"Maaf sudah salah sangka...." Hellen mencubit lengan Arthur.


"A-aduh, kenapa Anda mencubitku?"


"Di-diamlah! Kau tidak boleh banyak bergerak, tetaplah seperti ini, oke? Aku akan menyembuhkanmu." Wajah serius Hellen membuat Arthur sedikit merona.


"Ba-baik. Terima kasih."


......................


Willmurd dan Ashley datang terlambat. Apa yang menunggu mereka bukanlah Erigona yang mereka tahu dan tidak adanya sosok murid-murid itu sejauh mata memandang.


Perlahan ... perlahan tapi pasti di balik asap putih, sesosok makhluk menampakkan dirinya. Untuk berjaga-jaga, Willmurd dan Ashley mengeluarkan Buku Sihir mereka, sementara Willmurd juga berkuda-kuda dengan pedang rapier-nya. Namun....


"Agghk!" Willmurd tiba-tiba jatuh tersungkur. Mata kanannya terluka.


"Tuan Will?! Apa yang—"


"Hehehahahaha!" suara gelak tawa yang creepy, seperti bukan tawa dari Manusia, mengagetkan Ashley.


"Demi Aurora, makhluk apa kau ini?!" Ashley menggigil, matanya pun melotot setelah melihat sosok yang telah keluar dari asap putih tersebut.


Sosok itu berpostur manusia, tubuh berwarna cokelat gelap, berotot, bertangan, berkaki, namun berjari-jari runcing. Kepala yang memiliki dua tanduk hitam, tidak bermata namun bermulut. Punggungnya ditumbuhi batang-batang runcing membengkok ke bawah dan berwarna hitam.


Tanpa menjawab pertanyaan Ashley, sosok itu mengancang-ancang kakinya, lalu menerjang Ashley dengan kecepatan tinggi yang mungkin takkan bisa ditangkisnya.

__ADS_1


Semua orang yang terlibat di hari itu, takkan pernah lupa, bahwa kejadian penumpasan Erigona itu memiliki awal serta akhir yang mengejutkan.


__ADS_2