
[Tanah Kematian....]
Di tempat yang arus waktunya lebih lama dari dunia luar ini, terdapat tiga keturunan Aurora dan seorang "pelayan" setia dari dua diantaranya, seorang prajurit pasukan khusus, serta seorang Putri yang kedepannya tidak berhak menerima takhta. Mereka semua sedang berkumpul bersama, di tengah-tengah hutan mati.
Porte, sebagai pelayan kerajaan yang sudah bersumpah setia dibawah nama Scarlet dan Zeeta, sudah bereuni dengan putri sulungnya, Mellynda. Tidak ada luka atau apapun yang perlu dikhawatirkan darinya, tetapi hanya satu pertanyaan yang timbul pada keduanya; bagaimana cara membuat Mellynda—lebih tepatnya jiwa yang sengaja diculik ke Tanah Kematian ini—bisa kembali ke tubuhnya?
Sementara itu, senada dengan Porte dan Mellynda, hal yang sama dilakukan oleh Scarlet, Zeeta, dan Azure. Kendati Azure bukan cucu kandung Scarlet, dia masih tetap menganggapnya sebagai keluarga yang berharga. Mengingat, dia pun sudah diceritakan banyak hal pula melalui mulut Zeeta sendiri tentang betapa berharga Azure baginya.
Namun, mengecualikan semua orang-orang yang berasal dari kerajaan Aurora itu, hanya seorang dari mereka, Belle Vianna, yang duduk menjauh dari mereka. “Cih. Sialan! Semuanya memiliki orang yang bisa membuat mereka tersenyum!
“Kenapa aku harus berada di sini bersama mereka?!
“Kenapa pula aku juga jadi mengurungkan niatku untuk membunuh Zeeta?
“Ini semua ... pasti karena wanita dengan kekuatan gila tadi itu tiba-tiba saja muncul....”
......................
[POV Belle.]
Orang tuaku ... Edouard dan Estella... telah menjaga Tanah Kematian ini selama dua ratus tahun lamanya. Mereka lama menua, layaknya Elf, selain karena arus waktu di sini lebih lama, juga karena sesuatu seperti 'hak khusus' yang dimiliki keduanya, agar bisa lebih leluasa menjaga Tanah dan Lembah Jiwa.
Dahulu, yang bertugas menjaga Lembah Jiwa dan terus mengawasi arus jiwa-jiwa yang sudah ke Lembahnya, kemudian kembali pada dunia dan menjadi mana, adalah ibuku, Estella.
Sementara itu, ayahku Edouard, bertugas untuk menjemput jiwa-jiwa yang sudah mati dan berada diambang kematiannya, bersama para Flakka.
Aku, Belle Vianna, terlahir dua puluh lima tahun yang lalu. Dari mereka kuketahui, bahwa aku pun kelak akan berusia lama seperti mereka karena memiliki tugas yang sama. Kami semua tidak memiliki masalah untuk hidup di Tanah Kematian ini, sebab kendati tugas yang mengikat kedua orang tuaku, mereka masih bisa bergerak bebas di dunia luar.
Mereka masih bisa berinteraksi dengan orang-orang luar, berbelanja demi kebutuhan sehari-hari, dan hal-hal lain untuk hidup. Aku pun begitu. Aku mengerti betapa berbedanya Tanah Kematian dan dunia luar, karena aku pun pernah diajak berinteraksi dengan orang-orangnya.
Terutama ... mereka yang berasal dari desa yang semua penduduknya sudah kubunuh... desa ujung dunia ... Rhongomyniad.
Semua kehidupan kami damai, orang tuaku selalu menjalankan tugasnya, tetapi semuanya berubah saat orang itu datang tiba-tiba....
......................
[Lima belas tahun yang lalu....]
Estella, seorang wanita berambut hitam panjang dengan mata berwarna kuning kehijauan, sedang menjaga Lembah Jiwa, dan mempercepat jalannya para jiwa agar terjun dari Lembahnya, dan mempercepat siklus mana.
Sementara itu, di Tanah Kematian, Edouard dan Belle yang masih berusia sepuluh tahun, memandangi Estella dari kejauhan. Sebuah pertanyaan diajukan oleh Si Kecil. “Ayah, kenapa ibu harus selalu menjaga Lembah Jiwa? Kalau dia bisa meninggalkannya untuk keluar berbelanja dan hal lainnya, ibu tidak harus selalu ada di situ, ‘kan?”
Edouard, yang tampangnya masih tampan dan muda, dengan rambut cokelat dan bermata merah, dihiasi dengan janggut dan kumis yang tipis, menjawab anak tunggalnya tersebut. “Ibumu memiliki peran yang sangat penting.
“Ibu memiliki kekuatan yang bisa mempercepat siklus kembalinya para jiwa itu agar kembali menjadi mana. Dengan kekuatannya, ibumu bisa melihat sebaiknya menjadi apakah jiwa-jiwa itu saat berubah menjadi mana.
“Maksudnya, segala hal di alam dunia luar, memiliki mana-nya sendiri. Tumbuhan, hewan, pokoknya segalanya. Dengan adanya mana itu, dunia sihir ini bisa berjalan.
“Oleh karena itu, peran ibumu sangatlah penting. Mana itu memang seperti pisau. Ada sisi yang tumpul, ada pula yang tajam. Selain bisa digunakan sebagai kejahatan, mana juga bisa digunakan untuk kebaikan.
“Tetapi, tugas kita bertiga akan selesai, saat kata-kata Yggdrasil tiba waktunya. Kau masih ingat apa itu Yggdrasil, bukan?”
“Uhm!” Belle Vianna, dengan rambut hitam dari ibu dan mata merah dari ayahnya, mengangguk dengan semangat, juga dengan senyum yang lebar.
Edouard mengelus kepala Belle. “Leluhur kita yang selama ini sudah menjaga Tanah Kematian dan Lembah Jiwa, selalu mengatakan ini secara turun temurun.
“’Dua tempat ini ada untuk akhir dari semuanya. Jagalah siklus mana, agar tiga dunia bisa tetap seimbang, sampai hari akhir itu tiba.’
“Kemudian, kalung ini....” Edouard menunjuk kalung di dada putrinya. “Kalung ini adalah serpihan dari bulan, yang kelak kau akan mengerti maksudnya. Kalung ini memiliki kekuatan untuk memerlihatkan masa lalu dan memberikan kita hak untuk memutuskan sesuatu.
“Dan hal itu adalah ... ’Langkah apa yang akan kamu ambil? Apakah itu kehancuran? Kedamaian? Atau kehampaan?’
“Tidak apa bila kau tidak mengerti, Belle-ku Sayang, sebab nanti kau pun akan mengerti sendiri.
“Yang pasti Nak, selalu ingat dan berjanjilah pada kami. Apapun yang terjadi, jagalah Tanah Kematian dan Lembah Jiwa ini.”
Belle tersenyum, ditemani dengan matanya yang berbinar-binar. “Uhm! Aku memang tidak begitu mengerti, tapi ... kalau aku menepati janjinya, apakah kita bisa lebih banyak bermain di dunia luar? Ada satu tempat yang saaaangat ingin kukunjungi bersama kalian!”
“Hahahaha, tentu saja!” Edouard mengelus rambut putrinya.
“Baiklah, aku berjanji!”
.
.
.
.
Tetapi....
Tiba-tiba saja, tanpa ada tanda-tanda apapun....
Lubang hitam berspiral berwarna hitam keunguan muncul di dekat keduanya. Edouard, segera membelakangi anaknya dan menyuruhnya bersembunyi di balik hutan. Tentu saja, dari ketinggian Lembah, Estella mengetahui apa yang terjadi. Tetapi, ia masih tetap di sana dan mengawasi.
Seorang wanita berambut hitam muncul dari balik lubang hitam tersebut. Tentu saja melihatnya, Edouard dan Estella teramat sangat terkejut. Apalagi, dia memakai anting bulan yang serupa dengan kalung sekeluarga itu.
__ADS_1
“Akhirnya kubisa masuk ke zaman ini,” tutur wanita itu, yang melayang beberapa senti di atas tanah kering.
“APA KAU GILA?!” jerit Edouard, yang langsung ditanggapi kernyitan dahi dari Si Wanita.
Kernyitan Si Wanita lantas menghilang, kala ia melihat kalung Edouard. “Aku adalah Penguasa Kekelaman. Kehancuran adalah keputusanku.”
“A-apa katamu...?!” Edouard serasa menggigil saat Wanita itu menghampirinya.
“Suamiku!” jerit Estella, yang segera menyusul.
Mata kuning kehijauan Estella, melihat aliran mana dari Si Wanita. Tiba-tiba saja, Estella muntah di tempat hingga membuat Edouard sangat bertanya-tanya. Estella melihat betapa mengerikannya mana yang dimiliki Si Wanita.
Mengabaikan Estella, Si Wanita berambut hitam dan beranting bulan itu segera berkata, “Jadi, Penjaga Tanah Kematian dan Lembah Jiwa dunia ini tetaplah kalian...?”
“Apa sebenarnya yang kauinginkan?! Kenapa kau memilih jalan kehancuran?! Kalau kau keturunan bulan seperti istriku, maka katakanlah alasannya pada!” seru Edouard.
Si Wanita memejamkan mata biru langitnya. “Baiklah. Karena aliran waktu di tempat ini lama ... kenapa tidak.” Dia kemudian berpose duduk, tetapi melayang di udara. “Singkatnya, aku sudah muak dengan dunia sihir ini. Segala yang ada di dekatku sudah mati.
“Makhluk sihir, juga Phantasmal yang kukenal, semuanya mati.
“Gara-gara siapa?
“Aku. Akulah penyebabnya.
“Tapi, Yggdrasil mengkhianatiku. Setelah semua pengorbanan yang kulakukan, nyawa yang telah terinjak dan korbankan demi keberhasilanku, serasa tidak ada gunanya untuk pohon bajingan itu.”
“A-apa maksudmu...?” Edouard tetap merangkul Estella, yang kini juga ikut mendengarkan.
“Saat kuberhasil membangkitkan pohon itu, mereka tiba-tiba saja membuangku, di dunia tanpa adanya apapun. Aku dibuang ke kehampaan, tanpa adanya kehidupan, bahkan suara yang ada.
“Tidakkah kaupikir itu berlebihan?
“Ribuan tahun perjalanan Aurora demi membangkitkan Yggdrasil, semua jiwa yang sudah mati ke tempat ini pun, seakan-akan tidak pernah ada. Aku, yang mewarisi semua tekad, keinginan, dan harapan kalian, berakhir dibuang.
“Tapi, itu tidak mengapa. Aku sudah terbiasa. Tidak ada lagi yang bisa membuatku berhenti. Aku akan membalaskan dendam ini, pada orang yang sepantasnya sejak awal tidak ada, dan TIDAK SEHARUSNYA MEMEDULIKAN DUNIA BANGSAT INI!”
Mendadak, kalung bulan ketiganya bersinar bersinar, kemudian mendorong Wanita Berambut Hitam itu mundur kembali ke lingkaran berspiral yang sejak kedatangannya masih ada.
“Sialan. Waktuku sudah habis?!
“Berterima kasihlah, oh rekan Aurora-ku! Karena pengorbanan kalian, dunia ini pasti akan terselamatkan!” Wanita Berambut Hitam itu mengarahkan tangan kirinya pada Estella.
“A-apa yang—“ belum selesai Edouard berbicara, ia terbelalak dengan apa yang terjadi pada istrinya.
“E-Edoua....”
“KEPARAT!!!” Edouard segera bersihir, melancarkan sihir kegelapan dari matanya—agar menghancurkan tangan yang baru saja menyerang istrinya.
‘BLARTT!’
Tangan kiri Wanita itu segera hancur berantakan, menumpahkan banyak sekali darah.
“Sudah kuduga dari Aurora, tapi, kau tidak ada apa-apanya dari Azure!” dengan tangan kanannya, ia melakukan hal yang sama ke arah Edouard, seperti gerakannya pada Estella.
Tubuh Edouard perlahan menua, tetapi dengan cepat dia menggertakkan gigi. “Oh Seele yang bernaung dalam kalungku! Bantulah aku dengan kekuatanmu itu! Dunia ini terancam bahaya besar bila aku lenyap dari Tanah Kematian!
“Tidak apa bila aku hanya jiwa, tapi jangan izinkan aku mati sebelum hari akhir itu benar-benar tiba! Apapun bayarannya, akan kuberikan padamu!”
Kalung bulan Edouard bersinar merah. Menjawab permintaan pemakainya, penuaan dirinya berhasil dihentikan, tetapi....
“Aaaaagghhhh!” jeritan kencang terdengar dari arah hutan.
“Be-Belle...?!”
Dengan matanya, meskipun terpaut jarak yang jauh, Edouard bisa melihat anaknya. Kalung di dada putrinya nya bersinar. Tubuh kecil Belle yang sebelumnya penuh dengan darah segar, perlahan-lahan memucat. Bibirnya menghitam, gigi-giginya pun meruncing seperti seekor karnivora. Mata merahnya semakin menggelap, seperti warna darah.
“Ka-kalian ... meminta ganti keselamatanku, dengan mengutuk putriku…?!”
“Hahhhahaahaha!” Si Wanita Berambut Hitam tertawa lepas. Ia tidak peduli jika setengah tubuhnya sudah terhisap masuk lagi ke lingkaran berspiralnya. “Meskipun kau tidak mati, itu takkan mengganti fakta bahwa Tanah Kematian dan Lembah Jiwa takkan ada lagi....”
Edouard baru tersadar kalau tubuhnya kini tembus pandang. Bayaran yang harus diganti Edouard demi menghentikan semua yang terjadi tadi dengan sangat cepat itu, tidak disangkanya akan sangatlah besar dan merugikan begini....
.
.
.
.
Saat semuanya telah cukup tenang... Edouard menjelaskan apa yang terjadi pada Belle, meskipun akhirnya anak kecil itu menangis dengan sangat kencang, deras, dan teramat pilu tatkala mengetahui ibunya telah tiada, kondisinya sekarang, juga ayahnya yang tidak bisa berbuat banyak.
“Maaf, Nak.... Maafkan Ayahmu yang tidak bisa melindungi kalian... aku ... aku...!” Apapun yang dilakukan Edouard, percuma. Dia ingin memeluk putrinya itu, tetapi tubuhnya segera menembusnya. Hal itu justru membuatnya semakin sedih, kesal, dan membenci kelemahannya sendiri.
“Sial... sial!”
.
__ADS_1
.
.
.
Beberapa hari kemudian, dengan sembab dan lingkaran hitam di mata, Belle menghampiri ayahnya yang tetap mengawasi Lembah Jiwa dari kejauhan, meski kini siklusnya melambat. “Ayah, aku akan cari makan ke desa Rhon.” Belle mengatakannya dengan nada datar.
“Berhati-hatilah.”
“Uhm.”
Edouard tidak melihat kepergian putrinya. Ia tenggelam dalam pikiran. "Aku harus menjadikan Belle sebagai penerus Estella dan membantuku. Jika tidak, ucapan wanita itu sebelum hilang justru akan jadi kenyataan...."
Sudah dua puluh menit sejak kepergian Belle dan dirinya tak kunjung kembali. Tentu hal tersebut membuat Edouard yang sedari tadi mengawasi Lembah Jiwa, terganggu. Ia pun segera mendatangi kolam-kolam yang mencerminkan dunia luar, termasuk desa Rhongomyniad.
Betapa terkejutnya dia saat melihatnya....
“Be-Belle...?! Apa yang telah kaulakukan...?!”
Edouard melihat kedua tangan anaknya itu berlumuran darah. Kuku-kukunya menajam, serta seringai lebar, yang menunjukkan betapa dirinya menikmati apa yang sedang ia lakukan itu. Jasad-jasad berserakan seperti replika gunung mini. Dari banyaknya orang yang dibunuhnya dengan kedua tangannya, Belle menumpuk mereka di tempat yang sama. Darah dari mereka yang mati, mengucur seakan tiada henti, dan mengubah tanah menjadi genangan merah menyerupai sungai.
Semua orang yang dibunuh Belle, terluka parah. Ada yang kehilangan tangan, kaki, kepala, atau jantung yang langsung hancur, perut yang rusak, dan lain-lain. Semua yang dilakukannya, sama sekali tidak mencerminkan tindakan anak kecil berusia sepuluh tahun.
Di kolamnya, Edouard juga melihat masih ada orang yang bersembunyi dibalik kediaman mereka masing-masing, diliputi oleh ketakutan yang sangat-sangat besar. Ada dari mereka yang masih seusia dengan Belle, dan semuanya menangis dan berusaha untuk tidak bersuara.
Dengan tongkat yang biasa ia pakai untuk mengawasi siapa saja di dunia luar yang sudah mati dan diambang kematian, yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi, ia mencoba membuka gerbang ke dunia luar, tetapi tidak bisa.
“Kenapa?!
“Kenapa aku tidak bisa keluar?! Belle ... Belle sedang...!”
Edouard paniknya bukan main. Napasnya pun gelagapan. Tidak lama dari kolamnya, ia mendengar putrinya histeris.
“AHAHAHAHA, inilah akibatnya! Kalian sudah menyebutku monster, melempariku dengan batu....
"APA SALAHKU PADA KALIAN?!
*Aku hanya ingin membeli makanan....
“Aku ... hanya ingin ... makanan!
“KENAPA kalian berusaha membunuhku?! Sudah kukatakan kalau aku begini, bukan karena keinginanku! Aku ini dikutuk ... karena SALAH ayahku!”
Betapa sakitnya Edouard mendengar itu dari mulut anaknya sendiri. Ia melepas tongkatnya, dan terjatuh ke tanah. Ia lagi-lagi menangis.
“SIAAAAAALLLL!!! Keparat kau, Aurora sialan! Aku bersumpah, tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa yang kauinginkan!”
......................
"Pada akhirnya, seisi desa Rhongomyniad itu, kubunuh karena mereka meminta belas kasih padaku. Apa gunanya meminta belas kasih, saat mereka tidak pernah berniat untuk mendengarkan?
Makanya kubunuh mereka.
Aku benci ayahku.
Aku juga benci dunia ini.
Tetapi, karena ayahku juga, aku tetap ingin dunia ini ada. Aku pun tahu arti dari kehidupan yang indah di dunia luar. Tapi, Zeeta....
“Keberadaanmu benar-benar adalah ancaman. Hidupmu, selalu mengancam semua yang ada di sekitarmu. Tapi kenapa ....
“Kenapa kau masih bisa tersenyum seperti itu?!”
Belle memerhatikan dari kejauhan. Zeeta mengobrol dengan nenek dan kakaknya, dengan senyum ceria dan manis. Padahal sebelumnya, dia baru saja mengalami hal menakutkan, yang dilakukan oleh orang yang sebenarnya masih menjadi musuhnya itu.
Tetapi, saat memerhatikan Zeeta itu, Belle menyadari ada yang aneh. Ada satu makhluk yang sama sekali tidak kelihatan kehadirannya. Iapun segera menghampiri Zeeta dan yang lain, dan segera to the point bilang kalau tidak ada Mantan Ratu Peri di sana bersama mereka. “Kalian yang membawa makhluk bangsat itu kemari, bertanggung jawablah!” serunya.
“Dia berniat mencari kalian, lho, Kak Azure, Melly,” balas Zeeta.
“Kami?” tanya Mellynda. “Tapi kami tidak pernah berpapasan dengannya. Iya, ‘kan, Kak?”
“Ya.” Azure mengangguk.
“Peri sialan itu...!” Scarlet menggeram, sekaligus mencengkeram tangannya.
Tetapi, beberapa saat kemudian....
“Daripada makhluk kecil itu, sebaiknya kita meluruskan apa yang sedang terjadi di sini.” Sebuah suara pria terdengar menghampiri.
“Ka-kau...?” Azure dan Mellynda terkejut.
“Siapa kau...?” tanya Scarlet.
Zeeta hanya bisa menatap dalam diam pria tua tembus pandang yang sedang memegang tongkat dan mendekati mereka. Begitu pun dengan Porte.
“Ayah...?” Belle mencengkeram tangannya, yang hanya disadari oleh sang ayah sendiri.
__ADS_1