Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Rahasia Dunia dan Ambisi untuk Menang


__ADS_3

Di atas bukit dimana tingginya bisa melihat keseluruhan kerajaan Aurora, terdapat dua orang Elf—Lloyd dan Mintia, tiga orang Manusia—Marcus, Colette, dan Novalius, serta seorang Dryad yang bicara melalui rekan burungnya, Maisie.


Bukit ini pernah disinggahi Zeeta dan Luna untuk beberapa kali merefleksi diri, apakah ia sudah pantas disebut sebagai Tuan Putri atau tidak, atau tentang takdirnya yang memegang nasib dunia.


Para Elf dan Manusia sudah mengetahui beberapa fakta dari Luna tentang apa yang akan terjadi sebenarnya bila sembilan Batu Jiwa terkumpul, yaitu terjadinya Ragnarok, juga tentang Zeeta yang pernah mati oleh Benih Yggdrasil dari lima ratus tahun yang lalu dan dihidupkan kembali dengan kekuatan dari Roh Api Kuno, Ifrit. Mereka juga sudah bertemu Roh Angin Kuno, Zephyr, meski baru mengetahuinya setelah mereka angkat kaki dari “sarang”-nya.


Untuk mengisi kekosongan informasi yang dimiliki para Manusia dan Elf yang sudah membentuk aliansi persahabatan itu, Maisie menggantikan Luna karena ia harus bertemu dengan Alicia.


“Sebagai permulaan,” ujar Maisie, “aku harus bertanya pada kalian, apakah masih ingat kenapa Yggdrasil memecah dirinya menjadi bentuk-bentuk Roh, seperti yang sudah kalian saksikan dengan mata kepala sendiri, kuu kuu?”


Para Elf dan Manusia saling tatap sesaat, mereka lalu mengangguk. Sebagai perwakilan, Mintia menjawab, “Karena untuk menghentikan perang antara Manusia dan makhluk sihir.”


“Benar, kuu kuu. Kali ini, kalian sudah harus mengerti alasan perang itu bisa terjadi, sebab ke depannya, jalan yang akan kalian lalui ... bisa saja lebih berduri daripada Manusia di zaman Yggdrasil yang harus menjadi lawan bagi rata-rata makhluk sihir.


Semua saksi yang memerhatikan utusan Maisie—burung yang bertengger di dahan pohon, menelan liur mereka.


“Kuyakin Zeeta sendiri sudah melihat alasannya, oleh karena itu dalam beberapa tahun ini dia berubah—seakan dia bukanlah Zeeta, tetapi disaat yang sama dia masihlah Zeeta. Mengerti maksudku, kuu kuu?”


Marcus memegangi dagunya sambil menjawab, “Kau benar. Aku merasakan perbedaan yang signifikan dari bagaimana Putri Zeeta menjalani kesehariannya. Senyumnya terasa jauh berkurang sejak ia mengalahkan leluhurnya, Lucy.”


“Umu,” balas Maisie, “ada sebuah turunan dari keluarga kerajaan yang menyebut bahwa penerus Ratu, kekuatannya akan bangkit saat ia berusia tujuh belas tahun.


“Namun kuu kuu, atas beberapa kejadian beruntun yang memaksanya harus mengeluarkan tenaganya secara serius, seperti menggunakan Rune, senjata suci Catasthrope Seal, serta insiden dimana ia pernah mati dan dibangkitkan oleh Ifrit, membuat kekuatan bulannya bangkit....


“Di saat-saat terakhir ia akan mengalahkan Lucy. Ingatkah kalian bahwa langit tiba-tiba seperti robek dan memerlihatkan bola mata Raksasa?”


Semua saksi mengangguk.


“Atas reaksi dari bangkitnya kekuatan bulan Zeeta, kekuatannya bahkan bisa merobek dimensi antar-dunia.”


“Dimensi antar-dunia...?” Lloyd tidak mengerti, begitu juga yang lain.


“Ya. Sebagai akibat lanjutan dari memecahnya Yggdrasil—dimana perannya sebagai Pohon Dunia yang menghidupkan seluruh makhluk dalam satu dunia yang sama, terpecahlah pula dunia ini menjadi tiga dunia.


“Galdurheim, dunia yang kita pijaki saat ini, dimana isi makhluk hidupnya adalah mereka yang terus bertahan setelah Yggdrasil menjadi Roh. Ada beberapa Naga, Raksasa, juga ada Peri, kuu kuu.


“Selanjutnya, ada Drékaheim. Dunia para Naga. Kebanyakan—rata-rata Naga yang ada kala itu, semuanya hidup di dunia ini, kuu kuu.


“Dan terakhir, ada Jötunnheim—dunia para Raksasa. Sama seperti Drékaheim, para Raksasa juga hidup di dunia ini.”


Semua saksi yang mendengarnya kehabisan kata-kata, sebagaimana kebanyakan orang akan menanggapinya.


“Lalu, oleh karena bangkitnya kekuatan Zeeta disaat-saat genting kala itu, kuu kuu, ia bisa membuka—merobek jika kalian ingin menyebutnya begitu—ke Jötunnheim berada.


“Seperti yang kalian ketahui, kuu kuu, Ratu Aurora—tidak, bahkan semua keturunan Aurora, semua yang kalian tahu, bisa menciptakan dimensi dengan mudah, bukan? Maka, bukan hal baru bagi kita untuk bisa dengar seseorang dari keturunan ini bisa melakukannya.


“Tapi, catatlah ini, kuu kuu. Meskipun kekuatan Zeeta sudah bangkit, bukan berarti ia bisa membuka lagi dimensi menuju Jötunnheim secara bebas. Kupercaya, itu hanyalah kebetulan.”


.


.


.


.


“Kalau begitu, apa hubungannya Roh Kuno dengan Yggdrasil?” tanya Novalius.


“Roh Kuno ... sangat penting keberadaannya karena merekalah yang menciptakan Batu Jiwa-nya.”


Marcus mengernyit, tapi yang lain kaget. “Mereka yang menciptakannya? Bukankah Batu itu bertuliskan Rune?”


“Benar sekali, kuu kuu. Akan singkat jika kalian sudah melihat seperti apa bentuknya.


“Mungkin Zeeta sudah pernah bercerita pada kalian, bahwa meski dia bisa bersihir Rune, masih ada beberapa huruf yang tak bisa ia gunakan. Alasannya, itu terlalu berbahaya bagi tubuhnya—dan bahkan mengancam nyawanya sendiri karena kekuatannya yang melebihi dirinya sendiri.”


“Ke-kekuatan yang melebihi Zeeta...?!” Minita tak percaya.

__ADS_1


“Ya. Kalian tidak salah dengar, kuu kuu.


“Roh Kuno, adalah bagian dari dunia, layaknya Yggdrasil. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan mereka, tapi mereka bukanlah makhluk yang bisa diperalat, atau bahkan ingin memperalat.


"Setelah menciptakan sembilan buah Batu Jiwa, para Raksasa yang terlibat saat itu, mau tak mau harus mengikuti apa yang diinginkan Yggdrasil—yaitu menulis Rune yang mustahil Zeeta tulis, dan menyebarnya di Galdurheim—sebab di sinilah semua makhluk berasal.


"Roh Kuno....


“Mereka selalu netral. Menghukum siapa yang pantas dihukum dengan masing-masing elemennya, juga mengulurkan tangan bagi siapapun yang dipilihnya.


“Tapi, pengecualian untuk Ifrit. Selama ribuan tahun ini, dia tidak pernah mengulurkan tangannya pada siapapun dan hanya menggunakan apinya untuk menghukum dan terus menegakkan ‘dunia yang adil’ menurutnya, kuu kuu.


“Sejak dahulu, Zephyr adalah Roh yang suka membantu dengan anginnya. Kapanpun dia mendengar permintaan tolong dari anginnya, ia membantu tanpa pandang bulu, tanpa menuntut imbalan, atau bahkan apa yang diminta… bahkan jika permintaan itu adalah memberikan kehancuran sekalipun.


“Namun, sejak Yggdrasil menjadi Roh, dia selalu mengurung diri di dalam sarangnya, dan kurasa baru bisa keluar setelah mendapati Luna berada di dekatnya.


“Terakhir ... aku akan membahas Undine, sang Roh Kuno Air, kuu kuu.


“Air adalah sebagian besar dunia, oleh karena itu dialah Roh Kuno yang paling berkuasa.


“Dengan air dia bisa menghukum, dengan air dia bisa menghidupi, dan dengan air pula ia bisa mengamati dunia. Sayangnya, aku... tidak, hutanku tidak memiliki banyak informasi tentangnya, tetapi mereka menyuruh kalian agar waspada dengannya.


“Dia bukanlah sekutu, juga bukanlah musuh.”


“....” Keheningan terjadi sesaat diantara para Elf dan manusia, dengan Maisie.


 “Maisie.” Marcus sekali lagi bicara. “Katakan pada kami kenapa Putri Zeeta... tidak... Aurora bisa sekuat ini? Apa yang sebenarnya terjadi?”


.


.


.


.


Semua mata mengernyit, dibarengi dengan hembusan kencang angin dari arah timur yang memaksa rambut mereka seakan-akan ditarik. Setelah mengernyit, mereka justru terbelalak.


“A-apa-apaan mana jahat ini?!” Mintia mendadak jatuh, Lloyd juga dipaksa berlutut. Keduanya menutup mulut.


“Lihat itu!” Colette menunjuk ke arah timur.


“A....


“Apa itu...?”


Novalius, seorang bangsawan berharga diri tinggi dan menjunjung tinggi tekad melindungi dari kakeknya, menatap putus asa pandangan yang dilihatnya dari arah timur.


“Apakah firasatku bisa membuktikan kalau kejadiannya akan seburuk ini…?” gumam Marcus, juga bertatap sama dengan Novalius.


Gelombang tsunami hitam.


Jika akan diibaratkan, maka itulah yang tepat, tapi tidak seratus persen tsunami.


“Bukankah mereka itu ... seperti yang pernah dikalahkan Putri Zeeta saat beliau berusia delapan tahun ... Hell Hydra?!” jerit Marcus.


Tubuh hitam berasap, dimana kedatangan mereka langsung mengakhiri hidup tanaman yang dilewatinya.


Ular berkepala dan berkaki empat, Naga, Raksasa, juga masih banyak “makhluk sihir” lain yang tertangkap mata mereka, berwujud hitam berasap seperti itu.


“Maksudnya...,” ujar Colette, “me-mereka semua ini ... adalah Hollow?!”


Marcus langsung teringat kejadian saat Zeeta baru pulang dari latihannya, dimana Zeeta bilang dia merasakan seseorang yang bisa mengubah paksa makhluk sihir dan Phantasmal menjadi Hollow.


“Mungkin dalangnya ada di dalam gelombang itu!” serunya, “kita harus segera kembali!”


“Tu-tunggu, kalian!” jerit Maisie, yang terdengar sangat menderita.

__ADS_1


“Zeeta ... tak akan hadir dalam pertempuran ini. Dia berada ... di Tanah Kematian dan takkan pulang dalam waktu yang lama!”


“Sial! Disaat semuanya butuh kekuatan besar miliknya....” Lloyd menggerutu.


Mereka memang tidak mengerti apa itu Tanah Kematian, tapi tak ada waktu lagi untuk bertanya.


“Aku ... kurasa aku juga takkan bisa membantu. Kuserahkan ... pada ... kalian....” Begitu suara Maisie terputus dari burung, burung itu ikut mati seakan terpengaruh oleh datangnya para Hollow yang seakan-akan tsunami itu.


......................


[Sementara itu di istana....]


“Begitulah kondisi kita saat ini. Aku, sebagai Yggdrasil, tentu saja tak akan tinggal diam dan sudah memanggil Siren.” Luna menjelaskan di hadapan Alicia dan Hugo dengan tetap dimode siluman-rubahnya. “Tapi ... sementara Wadahku bertarung di sana, aku tidak bisa memastikan keberadaanku sendiri—apakah aku akan terus hidup atau mati. Kalian juga tidak memiliki Scarlet di sisi kalian.


“Akankah kau tetap melawan mereka, Alicia?”


“....”


Alicia perlahan-lahan membuka matanya yang sejak tadi ia pejamkan selagi mendengarkan Luna.


“Luna....


“Aku dan suamiku adalah pemilik kekuatan Bulan dan Matahari. Kenapa kami harus mundur?”


“Raksasa dan Naga yang sudah menjadi Hollow pun akan susah dikalahkan meski dengan kekuatan kalian.”


“Lalu?”


“Tanpa Catastrophe Seal—“


“Tidakkah Crescent Void diberi senjata suci yang ditujukan sama dengannya? Senjata yang ditempa oleh Sang Dwarf Legenda, Axelius Gorten, dan seorang putri dari Naga Penempa Schrutz dan Naga Perang Orsted, Myra?”


Luna menyeringai. “Sebaiknya pegang teguh kepercayaan diri itu.”


“Kepercayaan diri?”


“Bukan, Luna. Ini bukan percaya diri. Tapi....


“Ambisi untuk menang!”


Anting bulan Alicia bersinar, menyilaukan pandangan Luna.


“Aku, juga.” Hugo berdiri, lalu melepas pakaian rajanya—menunjukkan tanda matahari di punggungnya. “Dengan sumpahku pada tanda di punggungku yang sudah berusia ribuan tahun, tidak mungkin aku mundur.


“Ini bukanlah bertarung melindungi kerajaan, tapi melindungi dunia. Matahari ... tak akan menyalahkanku.”


Luna semakin melebarkan seringainya. “Dasar. Ternyata Zeeta mendapati sifatnya dari kalian berdua, ya? Nekat dan tekad itu berbeda, sialan!”


“Ya ampun.” Sebuah suara datang dari balik pintu ruang takhta. Begitu pintu dibuka oleh si pemilik suara, yang datang adalah Klutzie dan Siren.


“Aurora memang selalu terlibat masalah, ya,” sambung si pemilik suara, Siren.


“Jujurlah saja, Siren," timpal Klutzie, "kau tidak sabar ingin membalas budi pada Zeeta, ‘kan, karena sudah mengembalikan negeriku?”


“To-tolol! Jangan bilang-bilang!”


“Kalian berdua....” Luna menitikkan air mata.


“Hah? Apa-apaan bulir mata itu? Kau ini adalah Yggdrasil, jadi....” Siren menghampiri Luna, kemudian....


‘TAARRR!’


Ia menampar keras punggung Luna. “Lebih tegarlah sedikit!”


“Uhm.”


Jawaban tanpa amarah dari Luna mengejutkan Siren. “Terima kasih.... Aku sungguh ... berterima kasih....”

__ADS_1


__ADS_2