
[Malam hari, usai perbincangan panjang yang mengisahkan tentang masa lalu Nebula....]
Hembusan angin malam. Siapa yang tidak pernah merasa angin umpama teman yang menemani dalam kesendirian? Ya. Demikianlah yang dirasakan sang Pangeran kerajaan Nebula saat ini. Dari tingginya istana, ia memerhatikan pulau-pulau layang dimana masyarakatnya tinggal dan tengah beraktivitas malam.
Ia memandangi gemerlap lampu baik dari lampu jalan, lentera di dalam bangunan, dan lain sebagainya. Meski hanya terlihat bagaikan semut yang sedang berlalu-lalang, Klutzie tersenyum.
"Nampaknya suasana hatimu sedang bagus," ucap Siren yang menangkapnya basah setelah datang dari belakang.
"Ah, Siren. Habis dari mana?"
"Hanya berbincang dengan Luna. Tidak mungkin kubiarkan informasi yang kita dapatkan disimpan untuk kita sendiri."
"Benar juga."
"Lalu? Kenapa kau tersenyum begitu? Tidak seperti dirimu saja. Biasanya kau hanya melamun."
"Begitulah. Walau masa lalu orang tuaku tidak seperti yang kubayangkan dan sebenarnya cukup rumit, aku senang rakyatku bisa hidup damai begini. Dengan peranku sebagai salah satu Benih Yggdrasil saat ini, aku tahu apa yang harus kulakukan....
"Tidak, mungkin bukan 'harus', namun 'ingin' kulakukan."
"Oh?" Siren menyeringai. "Biar kutebak, apa itu untuk menopang Zeeta?"
Klutzie menatap Siren. "Itu benar, sih, tapi ada yang lebih penting dari itu."
"Hmm?"
"Aku ingin melindungi dan menjaga kerajaan yang bersejarah ini. Tidak hanya karena nilai sejarahnya yang tinggi dan kental, aku ingin menjaga senyuman rakyatku.
"Ya, dahulu mereka pernah menjadi dendamku karena sebagian dari mereka penyebab kakakku sempat berubah menjadi orang yang berbeda.
"Tetapi sekarang aku tahu bahwa dunia ini bukan hanya hitam dan putih saja. Aku tidak bisa bergerak hanya karena keinginanku sendiri.
"Selain itu...."
Mata Siren berbinar kala awan yang menghalangi bulan tertiup angin—menunjukkan wajah bahagia Klutzie yang sama sekali belum pernah dilihatnya sebagai Wadah. Dengan senyumnya yang sangat lebar itu, Klutzie bilang, "Aku ingin mewujudkan dunia yang damai dimana semua ras bisa hidup berdampingan!
"Aku tahu itu seperti mimpi yang ada diatas langit, namun entah kenapa ... aku yakin apa yang ingin dicapai Zeeta adalah dunia seperti itu—dunia tanpa adanya sihir, namun kita semua masih hidup berdampingan."
Siren mendadak mengingat kilas balik sejak saat dirinya memilih Klutzie sebagai Wadahnya, pertumbuhannya menuju dirinya yang sekarang sangatlah panjang dan penuh dengan lika-liku. Ada yang tajam, ada pula yang landai. Hingga akhirnya, matanya menitikkan air mata. Iapun seraya mengatakan, "Kautahu hal itu harus benar-benar diperjuangkan, bukan? Kalau begitu gertakkanlah gigimu!" ia juga melemparkan senyum yang serupa dengan Klutzie.
"Hahaha! Tentu saja! Lagi pula, aku ini kan Wadahmu!"
......................
[Beberapa jam sebelumnya....]
Alicia mendobrak pintu ruangan Scarlet. Nenek dari Zeeta itu sedang di balkon memandangi cucunya melatih Crescent Void. "Ibu, aku ingin penjelasan darimu sekarang juga." Alicia membanting buku harian ayahnya di meja
"Ada apa denganmu? Tiba-tiba—" saat Scarlet masuk ke dalam dan mendapati judul dari buku hariannya, ia terpatung. "Da-darimana kau dapatkan itu...?!"
"Itu tidak penting sekarang. Aku ingin tahu saat ini juga Kenapa ayah selalu menghindariku dan kenapa ia tewas di tangan raja Eizen?! Sudah cukup Ibu rahasiakan sesuatu dariku!"
Scarlet memejamkan matanya. Ia menenangkan napasnya, kemudian menjawab, "Sebenarnya kau juga tidak perlu mengetahui itu, tetapi karena kau sudah melihatnya, apa boleh buat." Ia mengambil buku hariannya lalu pergi ke balkon lagi. Nenek satu cucu itu membacanya sebentar. Alicia mendapati ibunya meremas buku hariannya. "Dasar.... Kenapa hal seperti ini kaurahasiakan dariku, Bajingan...?!" gumamnya pelan.
__ADS_1
"Ibu...?" Alicia bertanda tanya dengan gelagat Scarlet.
"Ah. Alasan kenapa ayahmu selalu menghindarimu, ya?
"Tidak ada alasan spesial dari itu, hanya saja ia selalu diliputi rasa bersalah."
"Rasa ... bersalah...?"
"Kerajaan Gala hancur karenanya, kau sudah tahu itu?"
Alicia mengangguk.
"Itulah sumber dari rasa bersalahnya. Kurang lebih."
"Maksudnya...?"
"Catastrophe Seal."
Alicia tersentak mendengarnya.
"Sebelum barang itu ada di tangan Tetua Elf, kerajaan Gala-lah yang bertanggung jawab memberinya kekuatan.
"Kerajaan Gala telah memberi cincin itu mana sejak mereka berdiri. Roh Yggdrasil juga memberkati—memperkuat mana yang ada di dalamnya. Bahkan, berdirinya kerajaan itu pun bisa disebut semata-mata hanya untuk Catastrophe Seal.
"Namun, mau bagaimanapun juga, mana Manusia tidaklah sebanding dengan makhluk sihir lain. Apalagi, mengingat ramalan Yggdrasil tentang Zeeta. Sebab mereka jugalah, siapapun yang tidak mendapatkan izin dari Yggdrasil untuk memakai cincin itu, mereka akan lenyap menjadi debu.
"Jika Barghest tidak menghancurkan Gala, kaubisa berhubungan baik dengan mereka, kemudian Zeeta pun bisa diajarkan bagaimana cara memakai cincinnya. Di sana, sebenarnya ada beberapa catatan penting yang bisa dijadikan pelajaran untuk Zeeta sebagai 'Penyelamat' mereka—tentunya maksudku lebih dari apa yang bisa dilakukan Zeeta saat ini dengan Catastrophe Seal.
"Tipu muslihat laki-laki brengsek itu pada Barghest, ditelan bulat-bulat olehnya.
"Barghest menyesali semuanya setelah dia kembali padaku."
"Kembali padamu...? Memangnya dia pergi?"
"Apa? Dia tidak menuliskannya di sini?"
"Lihat saja halaman terakhirnya."
Begitu Scarlet segera membuka halaman paling terakhirnya, ia tersentak, kemudian tersenyum. "Dasar...."
Alicia kebingungan. Kenapa halaman yang dirobek malah membuatnya tersenyum?
Jawabannya....
Scarlet menunjukkan apa yang dibacanya pada Alicia. Ia bahkan ikut terkejut melihatnya. Halaman itu bertuliskan, "Maafkan ayahmu yang bodoh ini, Wahai Putriku, Alicia. Namun, aku percaya. Bahwa tanpa adanya catatanku dan bantuan dari Galapun, kau dan keturunanmu akan baik-baik saja. Tapi, tetap saja aku harus melunasi kesalahanku kepada mereka.
"Kau dan ibumu mungkin tidak akan mengerti atau memaafkanku, tetapi ini adalah caraku sebagai pria yang disebut sebagai Raja Buas. Eizen sudah menanti panggung ini dan aku harus menjawabnya."
"Apa-apaan itu?!" jerit Alicia, sambil mencengkeram tangan. "Bodoh sekali! Dia mementingkan harga dirinya sebagai pria dibandingkan putri dan istrinya?! Hanya karena itu?! Kupikir dia selalu membenciku!" Air mata Alicia segera tumpah dengan deras.
"Kau benar...." Scarlet memandangi langit jingga. "Pria itu ... suamiku benar-benar bodoh...."
"Kau meninggalkan pecahan hati dan kesedihan di dalamku dan Alicia, tetapi kau tak memberi kami kesempatan kalau kau pun meninggalkan harapan dan sedikit cinta.
__ADS_1
"Perjalananmu, kepergianmu, bila itu tidak pernah ditemukan olehnya, bagaimana bisa dia tahu kalau kau adalah orang yang saaangat penyayang dan sangat takut bila dibenci oleh keluargamu sendiri?
"Kau benar-benar bodoh, Barghest...."
......................
Hari semakin malam, Suzy keluar dari ruang bawah tanah dan menatapi langit. Walau dimana ia berdiri sekarang tidak begitu terang, ia masih di halaman istana dan tidak ada rasa gelisah sama sekali kendati sendirian di malam hari.
Kemudian, datang seseorang menghampiri Suzy. "Sepertinya ada seseorang yang sedang rindu menghirup udara segar."
Suzy menoleh, mendapati Ashley. "Ah, selamat malam, Nyonya Ashley." Ia menundukkan kepala.
"Umu. Selamat malam."
"Sedang apa Anda malam-malam begini?"
"Zeeta baru saja memintaku saran untuk melatih teman-temannya. Tidak kusangka secepat ini dia sudah menjadi guru, ha ha ha!
"Kau sendiri, sedang apa?"
Suzy sempat ragu untuk bicara. "Sebenarnya... anu ... apa Anda punya waktu untuk bicara denganku?"
Ashley menganggapnya enteng. "Tentu saja. Mampirlah ke kediamanku. Sekalian kita bicara dengan ditemani cokelat panas kesukaan Zeeta."
Suzy tersenyum. "Terima kasih. Kuterima tawarannya dengan senang hati."
.
.
.
.
Usai nampan yang tertata diatasnya teko dan dua gelas sudah sedia di depan meja dekat sofa di ruang kerja Ashley, Suzy mulai bercerita tentang buku harian yang ditemukannya.
"Hahaha...." Ashley tersenyum kecut. "Aku bahkan tidak tahu kalau Barghest menulis sesuatu seperti itu. Kau benar, semua sudut pandang darinya sudah pasti dari kekuatannya.
"Kupikir, dia menulis itu dimasa ia pergi meninggalkan Scarlet setelah menghancurkan Gala. Merupakan momen yang tepat baginya untuk mengetahui semuanya sendiri."
Kemudian, mereka lanjut bicara mendalam tentang buku hariannya, hingga....
"Aku sekarang mengerti," kata Suzy, setelah meneguk minumannya. "Kebohongan TERKADANG diperlukan untuk menjaga kedamaian generasi penerus.
"Ibuku sempat bilang padaku dan adikku, kalau Vanadust adalah buatan kakek buyut kami. Namun, hal serupa ternyata diucapkan pula oleh kakek-nenek kami.
"Jika yang dikatakan nyonya Scarlet tentang Catastrophe Seal, maka Vanadust memiliki peran serupa dengannya."
"Oh...?"
"Jika Catastrophe Seal ditempa oleh mana manusia dan Roh Yggdrasil selama ratusan tahun, juga mewarisi kepercayaan dan harapan banyak orang, maka Vanadust memiliki mana tidak hanya dari satu ras.
"Aku percaya, suatu hari nanti, peran Vanadust dan Southern Flare—Nebula... adalah...."
__ADS_1