
[Sembilan tahun silam....]
“Fyuuuhh~” Zeeta menghela napas lega bersama dengan tenggorokannya yang merasakan hal serupa, setelah meminum langsung dari sungai. Tentunya, dirinya yang masih berusia delapan tahun ini ditemani guru-gurunya, Volten Sisters.
Zeeta berada tidak begitu jauh dengan tiga bersaudari yang sedang membersihkan tubuh dari keringat dan kotoran setelah melatih muridnya. Kala itu, Zeeta kecil memandangi dalam diam saudari-saudari yang tengah asyik dalam obrolan dan aktivitas bersih-membersih mereka.
Jourgan yang sadar terus dipandangi dengan tatapan mata biru muridnya, langsung tersenyum—yang perlahan berubah jadi seringai usil.
“Rasakan iniii!” seru Jourgan, seraya mengguyurkan sejumlah besar air pada Zeeta dengan dorongan kedua tangannya.
Zeeta terkejut melihat ada tsunami kecil menghampirinya. “Ah!” ia kemudian mengalihkan arah tsunami tersebut balik kepada dalangnya.
‘BYURRR!’
“Kak Jourgaaan!” bentak dua saudarinya, atas perbuatan senjata makan tuan kakaknya tersebut.
“Hahaha, maaf-maaf. Aku tak bisa diam saja saat menyadari Zeeta begiiitu penasaran dengan tubuh cantik kita!” dengan santainya, Jourgan tak merasa bersalah.
Zeeta merona mendengarnya. “Ti-tidak! Bukan begitu, ih!” jeritnya, “aku hanya penasaran, kenapa kalian bertiga, meskipun sama-sama Elf, berbeda dengan Aria dan yang lain! Ah, tapi ... Paman Hugo sama seperti kalian—maksudku kulit kalian berwarna gelap, sementara Elf yang lain tidak seperti itu.
“Aku penasaran, memangnya apa bedanya? Aku selalu merasa kalian sama-sama adalah Elf....”
Tiga bersaudari itu saling tatap, yang disusul oleh terjahitnya senyum manis pada mereka. “Kamu polos sekali, Zee!” Jourgan mengatakannya. Ia bersama dua adik-adiknya lalu menyudahi mandi mereka, memakai pakaian, lalu menghampiri Zeeta.
“Terima kasih atas ucapanmu, kami merasa senang.” Ucapan Jourgan yang diselingi senyum itu sama sekali tidak membuat Zeeta merasakan senang yang sama.
“Kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu yang membuat kalian tertawa?”
Jourgan lalu mengelus kepala Zeeta. “Akan kujelaskan perbedaan kami dan Tetua, dengan Elf yang lain. Mungkin ini terlalu cepat untuk bisa dimengerti olehmu yang masih delapan tahun, tetapi ... kupikir suatu saat nanti kau akan memahaminya. Jadi, dengarkanlah saja, oke?”
“Uhm. Baiklah.”
“Selagi aku menjelaskannya, Adik-Adikku yang cantik dan menawan, bisakah tolong kami untuk sediakan makan siang dan beberapa jumlah jus renjie kesukaannya?”
Serina dan Mintia tersenyum lebar. “Tentu saja!” mereka menjawabnya bersamaan. Zeeta, yang merasa diberikan hadiah, tentu merasakan kegembiraan tingkat dewa.
“Terima kasih, Guru-Guruku yang jelita!” Zeeta melontarkan senyum manisnya. Ia tulus memberikan senyuman itu.
......................
__ADS_1
[POV Jourgan.]
Zeeta, kudengar kau sudah tahu dari Aria tentang asal usul kami para Elf seperti apa. Namun, untuk mengingatkanmu saja, akan kuulangi lagi. Kami adalah makhluk-makhluk yang berasal dari tercampurnya mana Manusia dan Peri. Meskipun demikian, hal itu tidak berarti kami diterima oleh Manusia. Malahan, hal sebaliknya justru menimpa kami.
Peperangan tiada akhir ... seakan sudah menjadi tema abadi dalam hidup kami.
Kauingin tahu mengapa Manusia berperang dengan Elf?
Suatu ketika, kami yang masih seusiamu mendatangi Tetua. Kala itu, kami sama seperti Elf lain, juga sama sepertimu, yang selalu bertanya-tanya, mengapa hanya Tetua saja yang seakan berbeda dengan kami?
Tetua Hugopun menjelaskan.
Manusia menganggap Elf adalah makhluk yang misterius. Hal itu bisa dipahami secara logika, sebab selama ini, sebelum hadirnya dirimu di dunia ini yang nantinya akan menjadi “jembatan” akan semua masalah-masalah besar di dunia, Manusia dan Elf sendiri selalu berperang. Baik dalam jumlah besar, maupun kecil.
Buruknya lagi, Elf tidak hanya terancam oleh Manusia, namun makhluk sihir lainnya juga. Alasannya mungkin sederhana, yaitu mereka tidak suka dengan keberadaan “tidak jelas” kami. Kami memiliki tubuh sama seperti Manusia, namun kami memiliki telinga Peri. Tidak hanya itu, kami bisa bersihir lebih kuat daripada Manusia, tetapi kami tetap saja kalah oleh kelicikan Manusia.
Bila bicara tentang Manusia, Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang penakut. Mereka takut akan perubahan, kemisteriusan, dan sesuatu yang tidak pernah dilihat. Secara sepihak, mereka akan menganggap hal-hal tersebut adalah kutukan, monster, dan lain sebagainya. Mereka hanya mengandalkan panca indera, tanpa memikirkan cara lain untuk bisa “memahami”, dan selalu mencoba untuk menghapus keberadaan-keberadaan seperti itu.
Dengan kata lain, Manusia ... adalah monster yang sebenarnya. Seperti itulah pandanganku terhadap Manusia.
Menurutku, entah seperti apapun zaman akan berubah, Manusia selalu seperti itu. Mata ini telah melihat selama nyaris dua ratus tahun dan tidak ada begitu banyak perubahannya. Tentu saja, aku tahu ada Manusia yang berbeda, kuingin kaugaris bawahi hal itu. Tetapi ... ketahuilah, mereka yang berbeda itu, lambat laun akan menjadi musuh dalam kandang yang sama. Ke depannya, mereka yang menganggap penghapusan tanpa memahami adalah hal yang salah, akan tergerus lagi oleh mereka yang menginginkan kedua hal itu.
Oleh karena itu, Elf yang muak dengan semua hal-hal itu, bersumpah atas dirinya sendiri, juga bersumpah pada Roh Yggdrasil yang tinggal di sini, bahwa untuk menuntaskan semua omong kosong itu, mereka akan meninggalkan semua kenormalan bagi Elf, dan menggantinya sebagai kebencian. Kebencian yang akan membawa mereka pada perubahan.
Seperti yang kautahu, Zee, kebencian adalah salah satu dari banyaknya sumber kekuatan di dunia ini. Kebencian adalah sumbu dari banyaknya perilaku keji. Aku, dua saudariku, serta Tetua Hugo, mengandalkan kebencian besarnya sebagai kekuatan penumpu yang mampu membuat kami bertahan di dunia yang seperti ini.
Dengan demikian, kami berempat adalah simbol keburukan bagi Elf. Kami adalah Elf yang jatuh dari kebaikan. Tapi, itu tidak merubah fakta bahwa kami berempat selalu berjuang untuk kebebasan dan kedamaian bangsa kami.
Kami ... adalah Dark Elf. Kami akan selalu menjadi simbol bahwa Elf pun adalah makhluk hidup yang bisa marah, bahagia, dan ... membenci. Dark Elf juga merupakan simbol, sekaligus pengingat, bahwa meskipun Elf dan Manusia selama ini selalu berperang, kami adalah makhluk yang mirip.
Dark Elf akan terus mengemban kebenciannya sampai mati dan mengubahnya menjadi kekuatan.
Sebab itu, Zee, dirimu yang mengatakan kami sama seperti Elf yang lain, kembali menyadarkan kami bahwa Manusia itu tidak semuanya busuk. Hal itu membuat kami ... tetap bisa ingat bahwa Dark Elf ... Tetap diizinkan untuk merasakan kehangatan.
......................
[Saat ini, di kedalaman samudera...]
Jourgan menyaksikan seperti apa tubuh Cynthia yang perlahan-lahan membesar, yang dibarengi dengan semakin besar pula kekuatannya. Sadar dirinya semakin terpojok karena situasi dan kondisi, membuat Jourgan tersenyum sesaat dan mengingat kejadian sembilan tahun silam bersama dengan Zeeta. “Maaf, Zee, menjadi Dark Elf ... itu sama saja dengan mengerahkan segalanya yang kaumiliki, bahkan kehidupan itu sendiri menjadi kekuatan. Aku tak mampu mengatakannya padamu saat itu, tapi bila kita berpisah nanti ... kuharap kau takkan menangis.”
__ADS_1
Cynthia yang sedang menerjang Jourgan, tentunya melihat seperti apa lekukan bibir lawan di seberangnya tersebut. Matanya yang bersinar putih, mendadak senyap. Namun....
“SEGEL, LEPAS!”
Tombaknya bersinar hitam dan membutakan mata Cynthia, serta dua makhluk “besar” di belakang Cynthia yang menjadi penonton.
‘BWHAMMM!’
Bersamaan dengan sinar hitam dan terbutakannya pandangan mereka, ledakan sangat-sangat-sangat besar terjadi. Tetapi, itu bukan ledakan yang memiliki daya hancur, namun hanya mendorong segala yang ada di dekatnya terlempar. Sehingga, apa yang terjadi saat ini, adalah samudera memiliki lubang. Hal itu segera saja membuat cuaca buruk di atas lautan menjadi semakin parah.
Dimulai dari munculnya sebuah tornado, dua buah, hingga tiga buah hanya karena munculnya lubang di samudera yang perlahan menutup—menggimikkan sebuah pusaran.
Sebelum tornado-tornado tersebut menggila, Jourgan menggunakan kesempatan itu untuk menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu, lalu melompat tinggi ke langit dalam keadaan basah kuyup. Ia kemudian segera pergi menjauh dari samudera untuk mencari tempat aman sementara.
Disaat yang sama, di kedalaman samudera tersebut, karena perbuatan Jourgan, istana emas Orsfangr hancur berkeping-keping dibarengi dengan hancurnya beberapa biota laut lainnya.
“A-apa yang baru saja terjadi…?” Cynthia menggumam, kemudian melihat sekitarnya. Ia perlahan sadar bahwa tubuhnya telah membesar, kendati tidak sebesar dirinya yang semula. “E-eeehh...? Kok bisa...?!”
Kala Cynthia terlarut dalam kebingungannya, suara wanita mengejutkannya. “Wahai Penakluk Penguasa Lautan, Cynthia.” Undine menghampirinya, bersama dengan Xennaville.
Begitu Cynthia melihat pemilik suara wanita yang didengarnya, Putri Duyung itu segera bertekuk lutut. “A-Anda...! Undine Yang Agung!
“Su-suatu kehormatan bagiku bisa bertemu langsung denganmu, Undine Yang Agung!”
“Cukupkan basa-basinya untuk nanti, ada sesuatu yang harus segera kaulakukan.”
Cynthia mendongak. “A-apa itu...?”
“Oya...? Apa kau benar-benar melupakan beberapa menit yang telah kaulewati?”
Cynthia terkesiap. “I-itu bukanlah mimpi ataupun lamunanku saja...?”
“Umu.” Undine tersenyum seraya mengangguk-angguk. “Kau memang memiliki potensi.” Wajahnya kemudian langsung berubah serius. Ia lalu menyambung tuturannya. “Dengarkan aku, aku takkan mengulanginya.
“Dua makhluk daratan itu hampir membangkitkan lagi kekuatanmu yang telah dikunci oleh Naga bernama Carlou. Namun sayangnya, dirimu yang belum sepenuhnya dapat mengendalikan diri, hendak menyerang dua makhluk darat itu, sehingga membuat keduanya terpojok, dan situasinya saat ini, bila kau tidak turun tangan, keduanya akan mati.”
“Ma-mati...?! A-apa yang harus kulakukan, Undine Yang Agung?! Keduanya adalah orang-orang berjasa bagiku—tidak—bagi kerajaan Orsfangr, sebab telah bersedia membantuku!”
Undine tersenyum lagi. “Kau akan menjadi supporter bagi Roh Yggdrasil di sebelahku ini.”
__ADS_1