Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Menuju Kerajaan Nebula 1/3


__ADS_3

Bulan telah menyambut hari. Gerda, Danny, dan rata-rata penduduk desa Lazuli telah usai membersihkan bekas pesta, dan hendak pulang ke kediamannya masing-masing. Ketika kedua remaja itu melihat Klutzie dan Siren angkat kaki dari A n' Z dengan Zeeta yang mengantarkan kepergian mereka dengan melambaikan tangan, mereka bertanya-tanya. "Hei, apa Zeeta sudah memberitahunya?" tanya Gerda.


"Entahlah," jawab Danny, "kupikir sudah."


"Ada apa, menatap mereka berdua sambil bisik-bisik?" suara Arthur yang tiba-tiba muncul dari belakang mengejutkan mereka.


"A-astaga! Jantungku serasa mau copot saja!" Gerda terengah. "Jangan bicara tiba-tiba begitu, dong!"


"Ahahahah, maaf maaf. Jadi, apa yang kalian bisikkan?"


"Ah, soal itu...." Danny hendak menjawabnya.


"He-hei, Danny! Apa kauyakin akan memberitahunya?"


"Tentu saja, dia juga orang tuanya Zeeta. Dia harus tahu."


"Ugghh.... Kau tidak salah... baiklah, apa boleh buat...."


Akhirnya, Gerda membiarkan Danny cerita tentang kemampuan Zeeta sekarang yang sudah mereka ketahui, dan kemungkinan dia akan pergi lagi bersama Klutzie ke kerajaan Nebula.


"Begitu, ya." Arthur tersenyum.


"Eh? Pa-Paman...?" senyuman Arthur membuat Danny bertanya-tanya.


"Dia melakukan semuanya karena dia sudah bertekad. Melihat perkembangannya selama enam setengah tahun ini membuatku berpikir.... Zeeta sudah besar. Meskipun terkadang dia masih membuatku khawatir, tetapi kini dia sudah mampu berdiri dengan dua kakinya sendiri. Walau dia terjatuh, dengan kalian yang ada bersamanya, kuyakin dia pasti mampu berdiri kembali.


"Jika anak itu hendak membawa kalian, kuserahkan Zeeta pada kalian!" Arthur mengelus kepala dua remaja itu. "Oke, pasukan kebanggaan kami, Crescent Void!"


"Heh!" Danny menyeringai. "Akhirnya kau mengakui kehebatanku, ya, Pama—"


"MENYINGKIRLAH DARI MEREKA BERDUA!!"


'BWAAMMM!!'


Arthur terpental jauh setelah Zeeta melompat dengan kedua kaki lalu menendang dagu Arthur dengan lutut kanannya. Tanah tergores lebar dari dampak yang diberikan punggung Arthur.


"A-apa yang kaulakukan, Zeeta?!" baik Gerda dan Danny, atau orang-orang yang masih ada di sekitarnya terkejut bukan main. "Dia ayahmu, lho!"


Zeeta mengacuhkan Gerda dan mengatakan, "Kalian sudah diambang kepunahan tapi masih ingin melakukan tindakan tipuan untuk kami, hah, Morgan?!" jeritan Zeeta membuat semuanya segera paham apa yang terjadi. "Tak bisakah kau berkaca dari kesalahan kalian yang menyebabkan saudara-saudaramu dihabisi Lucy?!"


"A~ah.... Sialan. Kupikir aku sudah meniru kelakuan dan kebiasaannya dengan baik.... Aliran mana-nya pun sudah kutiru sedetail mungkin... sudah kuduga kau memang monster, Zeeta!" tubuh Arthur di hadapan mereka ini perlahan-lahan meleleh dan menunjukkan wujud sebenarnya, si Peri Morgan, yang terbang dengan kepakan sayapnya.

__ADS_1


"Ta-tapi, bagaimana dia bisa masuk ke sini? Bukankah kita memiliki medan penghalang?" tanya Gerda.


"Tidakkah kaudengar?" tanya Danny, "dia mampu meniru aliran mana."


"Ah. Begitu.... Sialan...." Gerda mencengkeram tangan dan hendak bersihir.


"Hentikan, Gerda." Zeeta merentangkan lengan kirinya. "Kau tidak perlu buang-buang mana dan waktu untuk Peri. Biar aku yang mengatasinya."


"U-uhm... baiklah."


"Ingin kau apakan ayahku?" tanya Zeeta.


Morgan menyeringai. "Hanya memberimu sebuah peringatan." Ia membuka sebuah portal dan menjatuhkan Arthur yang tak sadarkan diri. Zeeta dengan sigap membuat bantalan kapas agar tidak melukai Arthur.


"Peringatan? Kauingin menyerang Aurora lagi?" tanya Zeeta.


"Kuhahahaha! Tidak! Hanya buang-buang waktu saja! Dengar, Nebula takkan bisa kalian selamatkan. Sebab di sana, ada seseorang yang mustahil kalian kalahkan."


Zeeta yang sebelumnya mencengkeram tangan kanannya erat-erat, melemaskannya. Begitu juga dengan lengan kirinya. "Kaupikir aku tidak tahu?"


"A-apa?!" Morgan terkejut dengan aura mencekam yang mengancam dirinya sekarang.


"Cih!" Morgan pergi dengan sihir portal hitam-merahnya.


.


.


.


.


"Pada akhirnya... apa tujuannya ke sini...?" Gerda bertanya-tanya.


"Biarkan saja. Hanya sebuah kesombongan dan sikap tidak tahu diri. Aku akan pulang ke istana. Kalian juga, untuk sekarang, beristirahatlah." Ucapan Zeeta segera diterima mereka, dan Zeeta membawa bantalan kapas itu ke dalam rumah Arthur untuk segera menidurkannya di sana.


Setelah Zeeta menidurkan Arthur, ia pergi menuju rumah Kepala Desa untuk memberitahunya apa yang hendak ia lakukan bersama Klutzie. Ia menyampaikan maafnya karena tidak bisa berlama-lama di sini meski baru saja melakukan pesta penyambutan, dan ia juga senang mereka masih menerimanya dengan hangat. Karena alasan "kehangatan" inilah, Zeeta merasa harus menolong Klutzie dengan kemampuannya yang sekarang. Desa Lazuli-lah alasan utama dirinya berpikir untuk membahayakan dirinya lagi.


Kepala Desa hanya tersenyum dan menjawabnya dengan tawa. "Aku bisa menghabiskan waktuku lebih lama di dunia ini karenamu, Zeeta. Cukuplah ingat bahwa janji kita yang bisa selalu kaugambarkan dari liontin pemberian kami, merupakan bentuk kekuatan lain. Aku hanya bisa mendoakanmu agar selamat sampai kaupulang lagi."


Zeeta tersenyum. "Terima kasih, Kepala Desa. Aku pergi dulu. Ada banyak hal yang harus kusiapkan."

__ADS_1


"Ya."


Ketika Zeeta hendak membuka pintu, ia terhenti karena suara Kepala Desa. "Zeeta," panggilnya.


Zeeta menengok. "Jangan paksakan dirimu dan ingatlah untuk beristirahat yang cukup."


Terlukis senyuman di bibir Zeeta. "Ya. Aku mengerti!" kemudian, ia meninggalkan desa Lazuli dengan sihir teleportasinya menuju istana.


......................


Keesokan pagi, sementara festival Evergreen masih berlangsung, Zeeta mengadakan pertemuan dengan bangsawan utama dan Luna, termasuk Ratu dan Raja, dengan Klutzie dan Siren sebagai tamu. Ia menjelaskan lagi apa yang terjadi pada Nebula dan apa yang hendak dilakukannya untuk Nebula.


"Jadi begitu...." Ashley menyilangkan tangannya. "Jawab satu pertanyaanku, Zeeta."


"Apa itu, Guru Ashley?" tanya Zeeta.


"Aku tahu kaubisa merasakan mana dari jarak yang sangat jauh, tapi... bagaimana kaubisa memastikan penduduk Nebula masih hidup selama enam tahun lebih ini? Apa yang terjadi dengan mereka?"


"Tidak, Guru. Ini bukan karena aku yang merasakan mana mereka. Disaat aku bicara sekarang pun, aku sama sekali tak mampu merasakan mana manusia di wilayah kerajaan Nebula."


"Lalu, bagaimana...?"


"Aku sudah bilang, ini kemampuan temanku saat latihan. Anggap saja dia sama seperti Maisie dengan hutan sebagai atribut sihirnya. Hutan-lah yang memberitahunya."


"Mu-mustahil... bagaimana bisa...." Zacht tak percaya apa yang ia dengar.


"Di dunia sihir ini, apapun bisa dilakukan, Tuan Dormant," balas Zeeta.


"Setelah menyelamatkan Nebula, apa yang ingin kaulakukan, Putri Zeeta?" tanya Alicia.


"Ya, Yang Mulia. Jika aku harus jujur, tindakanku kali ini hanya sebuah keinginan pribadi, yang secara tidak langsung terhubung dengan tujuan kami berdua sebagai Benih Yggdrasil."


"Begitu." Luna angkat bicara. "Aku harus berpikir berulang kali kenapa kauingin ke sana, tapi akhirnya aku mengerti."


Semua mata menatap Luna.


"Aku tidak bisa memastikannya jika tidak melihatnya secara langsung, tetapi apabila yang dikatakan, dirasakan, dan terpikir oleh Zeeta atau temannya ini benar, maka Nebula adalah...."


"Aaah! Itukah maksudnya?!" Siren menepuk telapak kirinya dengan kepalan kanan.


"Ya. Mungkin saja itu adalah lokasi dimana Yggdrasil akan tumbuh lagi."

__ADS_1


__ADS_2