
Apa yang akan terjadi apabila Bumi sedang ketakutan?
Mungkin saja, jawabannya adalah seperti ini. Ia mengumpulkan awan menjadi satu gumpalan yang amat besar, kemudian meluluh-lantakkan tanah dengan petir yang dihasilkan. Petir tersebut ada yang berwarna kuning, ada pula yang ungu. Daya ledak petir ungu itu jauh lebih dahsyat daripada petir lainnya. Namun, bisa saja ini diartikan sebagai Bumi yang sedang meledak-ledak, tapi apapun pengartiannya, tak salah lagi Hollow itulah yang menyebabkan datangnya petir-petir itu.
.
.
.
.
Suasana kerajaan Aurora yang sudah cukup tegang dengan perintah dadakan dari Zeeta untuk segera mengungsi, menjadi lebih buruk ketika satu dari empat lapis pelindung itu hancur tiba-tiba.
Rakyat Aurora yang sedang menjalani aktivitas harian mereka, tak mungkin tidak merasa terkejut dengan perintahnya. Setelah melihat dengan mata kepala mereka sendiri apa yang mampu dilakukan Zeeta saat kerajaan sedang terancam dengan sihir Ozy yang mampu mendatangkan meteor, mereka tahu bahwa ancaman yang saat ini sedang mendekat akan sangat membahayakan mereka.
Selain itu, garda terdepan yang masih di luar Labirin Cremlyn, hanyalah prajurit kerajaan dan semua bangsawan utama. Namun, seorang bangsawan di dalam labirin, memberikan seluruh kamar yang ada di sana, sebuah sihir berbentuk layar yang sedang menampilkan kejadian di atas sana—layaknya sebuah siaran langsung di televisi.
Betapa terkejutnya mereka ketika melihat apa yang sudah dilakukan Zeeta. Penghalang empat lapis yang juga menggunakan mana dari alam, satu diantaranya hancur setelah Zeeta terpelanting oleh serangan Hollow. Mereka juga terkejut atas kehadiran Ozy si Raksasa di sana yang tengah membantu bangsawan utama.
......................
Di bawah reruntuhan tembok yang menimpa dirinya, Zeeta terluka di sekujur tubuh, baik itu luka lecet atau patah tulang di bagian punggung dan lengan. Ia sama sekali tidak mampu berdiri. Meskipun matanya terbuka, itu tak memantulkan cahaya—atau kosong. Anting bulan yang sebelumnya bersinar ketika ia ingin melakukan sesuatu terhadap tentakel dari Hollow, saat ini hanyalah anting biasa yang tampak menghiasi gadis kecil tak berdaya.
"Sakit...."
"Seluruh tubuhku sakit...."
"Ah ... hanya gara-gara ini ... apa aku akan mati...?"
"Apa aku akan berakhir ... disaat aku belum melakukan apapun?"
"Ini bukan sebuah lelucon, 'kan? Aku hanya bisa ... membuat pelindung ... yang bahkan aku tak tahu akan bisa menahan lebih lama lagi makhluk itu atau tidak...."
"Ah ... apa aku ... tidak akan bertemu dengan ibu...?"
Beberapa saat kemudian, Albert mendarat di sebelah Zeeta, lalu melempar reruntuhan tembok yang menimpa tubuh Zeeta. Ia terkejut setelah mendapati luka yang diterima Zeeta. Kayu-kayu dari pondasi sewaktu menjadi pondasi, telah melukai perut dan kakinya. Kayu-kayu itu menancap bagaikan paku.
"Astaga, Tuan Putri! Bertahanlah! Aku akan segera menolongmu!" Albert menyihir kayu yang menancap itu agar lenyap dari tubuh Zeeta, kemudian menyihir luka Zeeta dengan harapan bisa menghentikan pendarahan dan menutup total lukanya.
"Ah ... berisik. Biarkan aku sendiri...."
"Aku ini ... lelah, tahu...."
Dengan tangannya yang ia tempelkan di tubuh terluka Zeeta sambil terus menyembuhkannya, Albert dapat merasakan suhu tubuh Zeeta semakin dingin dan terus mendingin.
"Tidak! Tuan Putri, bertahanlah!" Albert tampak menitikkan air mata. "A-aku harus cepat menghubungi ibu, kekuatanku tak cukup untuk menutup lukanya!" sambil terus menyihir luka Zeeta, Albert menghubungi Ashley.
Satu menit ia mencoba untuk terus memanggil ibunya melewati telepati, namun Albert tak menerima jawaban. Dua menit ... tak ada jawaban juga. "Apa yang terjadi di sana? Kenapa ibu tidak menjawab?!" batin Albert cemas.
[Lalu, setelah tiga menit....]
'BBOOOOMMM!!'
Sebuah ledakan begitu lantang terdengar dari arah Ashley dan lainnya. Mata Albert terbelalak.
"A-apa-apaan itu?!" pekik Albert.
Petir ungu tampak menyambar Hollow yang terjerat di dalam sihir kurungan tanah milik Ozy, tapi entah kenapa tanah tersebut hancur dan membuat Hollow itu berubah bentuk sebesar ukuran Ozy yang memiliki tinggi mencapai sekitar seratus dua puluh meter. Itu menjadi sosok monster yang telah diketahui masyarakat melalui sebuah mitos, Hell Hydra. Dengan sembilan kepala, satu tubuh, disertai tiga ekor, Aurora benar-benar akan menghadapi kehancurannya.
......................
__ADS_1
Sebelum ledakannya terjadi, bangsawan-bangsawan utama itu sudah melakukan apa yang mereka bisa demi membantu Ozy, terutama dari Ashley sebagai bala yang paling kuat diantara Manusia di sana, untuk saat ini. Dengan izin dari Ozy ketika ia mengetahui Ashley akan menggunakan Ki, Ashley seketika menghajar bola kurungan tanah itu. Ya, meskipun akan terlihat seperti seorang wanita paruh baya bermain dengan bola tanah dengan meng-upper-cut, tendang, dan pukulan dari atas hingga merusak tanah, Ozy dapat merasakan Hollow itu bisa terluka, namun hanya sekedar lecet.
"Kau yang hanya sebatas Manusia rendahan, jangan terlalu percaya diri bisa mengalahkanku!" teriak Hollow dari dalam.
Tanpa diduga Ashley, yang merupakan kebiasaan buruknya, ia tak menduga Hollow-nya akan melancarkan serangan dari dalam tanah dan melubangi tubuhnya.
'ZRAT!'
Serangan beruntun berupa "tombak" berhasil memuntahkan darah dari bahu, tengah dada, lengan, ginjal, dan kaki Ashley. Seketika, ia jatuh tak berdaya. dengan darah yang tak kunjung henti. Hellenia dan Willmurd segera berlari menolongnya. Disaat itulah, Albert menghubungi Ashley dengan telepatinya, namun tak terjawab.
......................
Karim serta keluarga Levant yang lain, yang sudah berada di Labirin Cremlyn, merasakan dengan jelas mana Zeeta semakin menipis. Ketika sihir layar tersebut menampilkan sosok Hell Hydra, banyak orang di sana jatuh dalam keputusasaan, menangis, juga memukul-mukul tembok karena kesal.
Mereka tahu, dalam sebuah mitos, Hell Hydra adalah makhluk yang pasti akan membawa kehancuran untuk apapun yang ada di hadapannya. Api hitam yang disemburkan dari mulutnya, bisa melelehkan gunung berapi. Kekuatan dari kepala dan ekornya, dapat membuat Bumi terbelah menjadi dua. Dan kini, makhluk itu ada di kerajaan Aurora.
Selain melihat Hell Hydra dari sihir layarnya, mereka juga diperlihatkan dengan Zeeta yang tak mampu melakukan apapun selain memberi penghalang yang tampaknya juga tak akan berguna di hadapan Hell Hydra. Edward dan Ella yang mau tidak mau melihat kondisi Zeeta, tak mampu melihatnya lebih lama dan segera memalingkan wajah sambil memeluk erat neneknya. Mereka kemudian menangis, sambil memanggil nama kakak sepupu mereka, dibarengi dengan harapan agar ia selamat.
Tetapi ... rakyat yang sudah menaruh harapan tinggi pada Zeeta dan percaya ia sendiri bisa melakukan segalanya karena kekuatan besar yang dimiliki, seketika mengkhianati rasa percaya itu.
"Inikah kehancuran yang diramalkan Ratu Peri...?"
"Bukankah Tuan Putri itu sangat kuat? Apa dia hanya menggertak saja?"
Azure dan Gerda yang sedang berada di kamar yang sama, ketika mendengar omong kosong itu, kepalanya seketika mendidih.
"TUTUP MULUT KALIAN!" teriak mereka bersamaan.
"Agh, aku tak peduli apa yang akan terjadi, aku akan menyusul Zeeta!" Azure pergi dari kamar. Tapi, layaknya tahu apa yang akan dilakukannya, sebongkah kristal meghalangi jalan Azure.
Azure mencengkeram kuat tangannya lalu berteriak lagi, "Siapa bangsawan sialan yang berani menghalangiku?! Zeeta sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, aku harus menolongnya!"
Sebuah suara terdengar di belakang Azure, itu dari Gerda. "Hei, lihat! Siapa dia?!"
Sementara itu, Aria yang dengan secepat sayap Peri (tiruan)-nya bisa, terus menuju ke tempat dimana Zeeta berada. Tentu saja, ia bisa merasakan mana gadis kecil itu terus menurun, dan hadirnya keberadaan mana lain yang membuatnya semakin ingin cepat sampai dan memberikan senjata suci yang diamanatkan kepadanya.
......................
Suhu tubuh Zeeta yang semakin mendingin itu juga membuat Arthur ikut berkeringat dingin. Ia panik dan khawatir dengan keselamatan satu-satunya keluarga kerajaan yang sah menjadi penerus takhta. Tetapi kemudian, dari bebatuan di sekitar mereka, tiba-tiba muncul sebuah lingkaran sihir berwarna hijau. Sambil terus menyembuhkan luka Zeeta, Albert bersiaga untuk mundur sambil membawa Zeeta dengan sihir teleportasi. Perlahan, sosok burung hantu bertubuh seperti manusia, muncul dari sana sambil membawa tongkat kayu yang memiliki panjang sampai bagian tengkuknya.
"Jangan takut, Manusia, kukuu!" seru sosok tersebut. Ia mendekati Albert dan Zeeta. "Sebaiknya kamu segera menuju tempat ibumu berada, kukuu, nyawanya juga sedang terancam."
"Ta-tapi...." Albert tidak yakin ingin meninggalkan Zeeta.
"Namaku adalah Maisie, kukuu. Aku adalah Dryad, sosok pengawas seluruh hutan ini, kukuu."
"D-Dryad? Bukankah itu hanya...."
"Kita tidak punya banyak waktu untuk berbincang. Zeeta akan kusembuhkan, kukuu, Oleh karena itu, kamu bawalah Ashley Alexandrita mundur dan segera obati dia selagi sempat. Cepatlah, Albert Alexandrita. Ibumu akan mati."
"Khhhh.... Sial!" Albert mau tidak mau menggunakan teleportasinya.
Lalu, sosok burung hantu bertubuh manusia itu, dengan tongkatnya, kembali membuat lingkaran sihir berwarna hijau setelah memukulnya dua kali di tanah. Entah apa yang dilakukan sang Dryad, Maisie, tubuh terluka Zeeta tertutup begitu saja—berbeda jauh dengan usaha yang dilakukan Albert. Napas Zeeta yang terus terengah sebelumnya, perlahan kembali tenang.
Disaat yang sama, Zeeta sendiri sedang mengalami sesuatu di alam bawah sadarnya. Ketika dirinya membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah ruang tak berujung berwarna biru laut dengan garis-garis layaknya ketika sebuah kapur digoreskan yang tampak seperti awan. Selain itu, ada banyak bintang-bintang jatuh tak henti yang bahkan menembus tubuh Zeeta sendiri. Tak ada siapapun selain dirinya di ruang yang indah nan hampa itu ... sampai sebuah sosok muncul di depan Zeeta.
"Yahoo!" sapa sosok itu. Ia berbentuk bola bekel dan bercahaya kuning. Suaranya terdengar seperti suara seorang anak lelaki, tetapi bisa saja perempuan.
"Kelihatannya aku akan terus mengalami hal seperti ini, ya...," kata Zeeta. Ia tampak kelelahan.
"Ohya...? Kau sadar akan potensimu di masa depan?"
__ADS_1
"Potensi apa? Lagi pula, bukankah aku akan mati?"
"Ah, itu? Tenang saja, tenang saja. Kau tidak mungkin mati untuk beberapa tahun ini."
"Hah? Kenapa kautahu? Memangnya kau ini siapa?"
"Aku? Ah ... kau akan mengetahuinya nanti, jadi anggap saja ini hanya sapa pertama kita. Nanti ketika hal ini terjadi lagi, aku yakin kau sudah mengalami banyak hal sulit."
"...." Zeeta terdiam untuk beberapa saat, mencengkeram tangannya, kemudian bertanya, "apa ini harus kulalui hanya demi bertemu dengan ibuku?"
"Ibu? Oh, maksudmu si anaknya Scarlet, kah? Hmm hmm." Sosok bola bercahaya itu terlihat bergerak ke atas dan bawah—seperti sedang mengangguk-angguk. "Tanyakan hal itu pada sosok yang kaulihat ketika kau membuka matamu nanti, oke?"
"Hmm...?" Zeeta memiringkan kepala. "Lalu, apa tujuanmu bertemu denganku di sini?"
"Kau ini... bukankah sudah kukatakan? Ini adalah salam sapa dari kami. Apapun yang akan menjadi rintangan bagimu, kami akan menjadi pedangmu. Tapi... jangan gunakan kekuatan itu secara sembrono ya, atau jantung kecilmu bisa meledak, seperti, duaarr!"
Perlahan Zeeta melihat dirinya pudar dan merasa akan membuka matanya di alam sadarnya.
"Zeeta, sebelum kausadar, aku ingin memastikan satu hal.
"Kaubisa menyelamatkan semua orang, tapi harga yang perlu dibayar tidak akan sepadan dengan apa yang telah kaulakukan. Meski begitu, apa kau masih ingin menyelamatkan mereka?"
Zeeta tersenyum, lalu menjawab, "Lagi pula Ratu Peri sudah meramalkanku akan menghancurkan dunia. Entah kenapa, aku tahu alasan mengapa aku melakukannya, dan aku tidak ingin menyesali apa yang ingin kulakukan sekarang jika ke depannya aku akan seperti itu."
"Huuummm...." Sosok bola itu terdengar mengerti akan sesuatu. "Yah, kita lihat saja nanti."
Beberapa saat kemudian, Zeeta mendapatkan kembali kesadarannya. Lalu, ia dapat melihat sosok Maisie di sebelahnya. Ia tersenyum lalu berkata, "Ah ... jadi kau ya ... yang menyelamatkanku." Mata Zeeta berlinang. Ia ingat Maisie ada dalam "mimpi"-nya ketika ia pertama kali bertemu dengan Aria.
"Sama dengan dirimu yang ingin banyak bertanya, kukuu, kaupunya kepentingan lain yang harus kauselesaikan segera, bukan, Zeeta?" tanya Maisie.
"Uhm. Tapi ... bagaimana aku bisa mengalahkannya?" tanya Zeeta.
"Elf itu akan membawa jawabannya." Maisie menunjuk Aria yang akan segera mendarat di dekat mereka.
"Eh?"
Ketika sudah semakin dekat, Aria menyadari siapa yang ada di sebelah Zeeta. "Geh?! Kenapa Anda ada di sini, Nona Maisie?!" Aria mendaratkan sayapnya.
"Kuhuhuhu, tentu saja demi keselamatan dunia," jawab Maisie yang tawanya terdengar layaknya burung hantu asli.
Aria yang sudah melihat dari kejauhan sosok Ozy, dengan perasaan ingin segera ke sana untuk mengomelinya, memutuskan untuk terbang menuju Ozy bersama Zeeta dan Maisie. Tak ada waktu bagi si gadis untuk bertanya.
"Zeeta, aku akan menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang hanya dirimu bisa lakukan saat ini. Kau siap?" tanya Aria.
"Ya," jawab Zeeta. Raut wajahnya seolah berkata, "ini adalah tanggung jawab dan kewajibanku. Tentu saja aku siap".
......................
Sementara itu, Azure dan Gerda yang terus mengawasi Zeeta dari sihir layar, memasang wajah masam, sama seperti wajah Danny yang berada di kamar lain. Mereka bertiga memikirkan hal yang benar-benar sama, yaitu, "meski hanya tiga minggu setelah insiden Rowing, kau terasa benar-benar jauh dari kami, Zeeta. Kami tahu, kau merasa ini harus ditanggung olehmu sendiri, bukan?"
Azure menggertakkan giginya. "Bocah sok kuat itu... jika ini sudah selesai, aku harus mengomelinya!"
Rakyat Aurora yang sebelumnya telah mengkhianati rasa percaya mereka, meskipun ada juga yang masih memegang teguh rasa percaya itu, sama-sama mendapatkan kembali secercah harapan dari sosok Tuan Putri berusia delapan tahun itu.
Karim, yang juga terus mengawasi Zeeta, terus mengharapkan satu hal yang sama dengan Levant lainnya, yaitu keselamatan Zeeta, cucu yang baru ia lihat hari ini. Dirinya, Agatha, dan Lowèn, sebenarnya sangat tahu makhluk yang sedang dihadapi Zeeta.
"Hollow akan terus bertambah kuat apabila ia dapat menyerap emosi negatif dari makhluk di sekitarnya. Putus asa, marah, sedih, benci, dan rasa ingin mengutuk. Aku tak bisa menyalahkan rakyat, tapi aku juga tidak terima dengan perlakuan mereka!" batin Karim.
Disaat yang sama, dalam perjalanan terbang Zeeta, Aria, dan Maisie yang mengubah wujudnya menjadi layaknya seekor burung hantu biasa, Aria memberikan Zeeta "senjata suci" yang terus dibawanya.
"Zeeta, kau akan menghancurkan makhluk itu dengan ini!" seru Aria. Ia kemudian memberikan cincin pemberian Tetua-nya pada Zeeta.
__ADS_1
"Eh? Ini kan hanya sebuah cincin...?" Zeeta terlihat ragu.
"Bukan. Ini bukan cincin biasa. Ini adalah senjata suci, Catastrophe Seal."