Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Bersama Senyum, Ditemani Oleh Senyum


__ADS_3

Waktu kembali ke masa sekarang, dimana saat ini, di sebuah kubah yang terbuat dari tanah, beberapa makhluk yang tak pernah dilihat banyak orang sebelumnya, telah mengerumuninya. Makhluk itu seperti raksasa, tetapi hanya mendekati. Tubuhnya tidak begitu besar, tetapi cukup dilebati oleh bulu yang tumbuh melalui kulit berwarna kuning kemerahan. Ada diantara mereka yang hanya memiliki satu mata, tetapi ada juga yang tiga, bahkan hingga empat. Entah berapa jumlahnya, hanya satu kesamaan yang dimiliki—yaitu ukuran mata yang seakan ingin menguasai wajahnya. Jika harus teliti untuk melihat dimana letak mulut dan hidung, keduanya tidaklah berada di wajah. Kedua indera itu terletak di leher dan di dada sebelah kirinya—mulut di dada, hidung di leher.


Hanya ada satu alasan mengapa tidak banyak orang atau makhluk sihir yang mengetahuinya. Mereka hanya muncul untuk menjemput jiwa yang telah mati dengan tubuhnya yang tembus pandang bagi jiwa yang hidup. Makhluk itu disebut sebagai Flakka. Tapi kali ini ... ada satu kasus langka yang memaksa tidak hanya satu Flakka, tetapi sudah tiga yang berusaha mengambil jiwa yang berada di balik kubah tanah yang sulit untuk ditembus ini. Namun, hal itu tidak akan berlangsung lebih lama, sebab seseorang di suatu tempat yang penuh kabut dengan tanah kering dan pepohonan mati, mengawasi ketiga Flakka itu di suatu danau.


Sambil memandangi apa yang terjadi melalui danau, ia menghela napas. “Haaaah....” Lalu dengan tongkat yang digenggamnya, ia dekatkan ujung bawah tongkatnya pada kubah tanah yang terpampang di danau. “Kalian memiliki perawakan yang seram, tetapi mengapa sihir seperti ini tidak bisa kalian hancurkan? Apa aku kurang ketat, tidak sepertinya?” ia menyentuh kubahnya dengan tongkat, lalu....


‘KRAK!’


Kubahnya mulai mengalami keretakan dari bagian paling dasar. Sementara itu, tiga orang yang ada di dalam kubahnya....


......................


[Waktu mundur beberapa saat, sebelum keretakan kubah mendarat....]


Basah.


Pipi seorang pria dan wanita Elf di dalamnya basah oleh air mata yang tidak ingin berhenti mengalir. Kedua mata mereka pun menunjukkan tanda bengkak dan pipi yang sembab—meski salah satu diantara mereka hanyalah jiwa yang mati.


“Ini semua ... ini semua penyebabnya adalah Peri?! Feline brengsek itu... selama ini dialah...,” ujar Hugo yang sesenggukan, “aku tahu dia licik, tapi tak kusangka....”


“Tenang saja. Apa yang telah kuucapkan di hari itu, sudah kulaksanakan dengan tangan ini.” Marianna


menunjukkan tangan kanan layaknya monster berwarna merah-hitam pada anak-anaknya. Ia berkaca-kaca.


“Aku terperangkap di dalam sihir itu selama dua ratusan tahun dan di dalamnya aku tidak pernah berhenti mengutuk Peri-Peri itu. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Julia, Audrey, dan keturunannya hingga saat ini... namun yang pasti, mimpi yang ingin kulihat ... kuyakin sebentar lagi akan terwujud.” Di akhir kalimatnya, Marianna tersenyum.


“Sekarang, aku hanyalah Manusia yang tak lagi memiliki tempat di dunia ini. Berapa nyawa yang sudah kuhilangkan, berapa tangis yang sudah terhenti, dan berapa amarah yang tertuju padaku, aku tidak bisa menghitungnya lagi.


“Terkadang aku memiliki kesadaran, terkadang aku mengamuk layaknya monster yang hanya haus akan darah. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.


“Dan selama aku masih memilikinya, aku ingin kalian tahu kebenarannya. Lalu Hugo, sampaikanlah pada Elf lain bahwa mulai sekarang Manusia bukanlah makhluk yang akan memburu mereka. Dengan begitu, aku pun bisa menuntaskan janjiku.”


‘KRAK!’


Kubah sihir Hugo mulai menunjukkan keretakan.


“Kita tidak memiliki banyak waktu. Kukatakan hal terakhir yang harus kukatakan.

__ADS_1


“Hugo, Jewel, tak lama lagi, aku dan Zeeta pasti akan berhadapan. Untuk mempersiapkannya bisa melawanku yang sudah berlumuran darah dan dipenuhi kekuatan terkutuk dari dunia ini, aku sengaja membuatnya berlatih di Grandtopia.


“Hugo, apapun akhir yang hendak dilakukan Zeeta padaku, terimalah, karena ini jalan yang kuinginkan untuk benar-benar mengakhiri jalan dendamku. Tapi, Hugo... Lucy telah berjanji untuk melindungimu dan Jewel, dan dia telah melaksanakannya. Sejak hari itu Jewel pun berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas Manusia, dan dia pun sudah melaksanakannya.


“Sama halnya denganku, ada dua janjiku yang telah kulaksanakan. Membalas Peri-Peri bajingan itu, dan mengubah dunia dengan kehadiran kalian.


“Oleh karena itu, kau pasti tidak ingin hanya dirimu yang tidak berjanji. Sekarang, berjanjilah padaku dan Jewel!” Marianna menyodorkan kelingking kirinya, lalu diikuti oleh Jewel dengan kelingking kanannya. “Bahwa setelah ini kau akan hidup sepenuh hatimu tanpa penyesalan, hiduplah demi kami bertiga, dan warnailah hidupmu dengan senyuman bila kauingin merubah nasib hidup kita!”


Jewel yang masih menangis, kini tersenyum. Marianna pun mengikutinya.


Dengan sesenggukannya yang tidak ada henti bersama tangisnya, Hugo mengangguk dan terus mengangguk. “Uhm! Uhm! Uhm! Pasti!” Ia juga menyodorkan kelingking kanannya. Mereka kemudian menyatukannya.


...“Enaknya … aku juga ingin ikutan!”...


.


.


.


.


Marianna yang sebelumnya tidak menjatuhkan sedikit pun tangis, tiba-tiba menangis dengan derasnya. Jerit tangis disusul oleh kedua anaknya, menyadari siapa suara dan tangan itu.


..."Terima kasih, Ibu ... Jewel ... Hugo.... Setelah ini semua selesai, mari kita tertawa bersama seperti biasanya, ya! Aku akan menunggu!”...


.


.


.


.


“KAK LUCY...!!” Hugo dan Jewel menjerit bersamaan. Sayangnya, identitas yang dipanggil keduanya tersebut justru hilang bagaikan asap. Demikian pula di mata sang ibu.


.

__ADS_1


.


.


.


“Wah wah... hal begini ternyata benar-benar bisa terjadi, ya…,” ujar orang bertongkat yang memandangi apa yang terjadi dari danau. “Dasar, ikatan keluarga, ya...,” sambungnya, “tapi ... sudah waktunya baginya untuk pergi, lho.” Ia kembali menyentuh refleksi kubah di air dengan tongkatnya.


‘KRAK KRAK!’


Retakan kubah semakin melebar yang perlahan-lahan menghilangkannya. Tidak tinggal diam, salah satu dari tiga Flakka tiba-tiba berubah.


“Saatnya berpisah, Hugo.” Jewel tersenyum. “'Kan kutunggu dirimu juga, Ibu.”


Hugo dan Marianna lantas mengantarkan Jewel beristirahat selamanya dengan senyum yang tak kalah hangat darinya.


“Tenanglah di sana bersama Kak Lucy, Kak Jewel. Aku pasti akan menepati janjiku,” balas Hugo.


“Aku tak tahu apakah akan bertemu kalian atau tidak, tapi kusenang kita semua bisa tersenyum bersama seperti ini untuk yang terakhir kalinya,” balas Marianna.


Kubah tanah buatan Hugo kemudian benar-benar hilang, menampakkan ketiganya di tanah luas yang kosong dengan sambutan mentari pagi yang hangat dan tidak begitu menyilaukan.


...“Kalau begitu ....”...


Jewel terbelalak karena sekali lagi mendengar suara Lucy. Ia menoleh kanan dan kiri, lalu tersenyum.


...“Mari kita pulang ... bersama-sama!”...


Jewel menggandeng sebuah tangan anak kecil. Mereka kemudian berjalan menuju arah mentari bersama.


...“Jangan pernah lagi lepaskan tanganku, ya, Adik Kecil!”...


“Fufu... seharusnya aku yang bilang itu, Kakak....”


...“Mulai sekarang ... kita akan seeelaaaluuu bersama!”...


“Uhm! Seeelaaalu!” Jewel mengeratkan gandengannya, seakan tak ingin melepasnya selamanya.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, mulai dari kepala, kedua kakak beradik itu menghilang menuju cahaya, sambil bergandengan tangan, bersama senyum, ditemani oleh senyum....


__ADS_2