Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Apa yang Menjadi Janjinya


__ADS_3

Feline dan Morgan terperangkap dalam botol yang telah disihir Rune oleh Ozy. Aria yang sudah menunggu kesempatan ini seakan ingin melampiaskan seluruh dendamnya terhadap rasnya pada Peri-Peri ini.


"Feline... Morgan... kalian benar-benar berpikir jika semua rencana akan dipikirkan oleh Zeeta, ya?" tanya Aria, sambil berjalan gontai namun beraura mengancam.


"Yang perlu kalian waspadai bukanlah hanya sosok Zeeta seorang, tetapi siapa yang sudah jadi sekutunya. Jika kalian melupakan hal penting itu...."


"Melupakan?" wajah Morgan ia tundukkan. "Mana mungkin."


Tiba-tiba dari segala penjuru Aurora, tanah-tanah bergemetar hebat hingga menjatuhkan orang-orangnya. Rakyat yang sebelumnya sudah berada di Labirin Cremlyn panik dengan reruntuhan yang mengancam nyawa mereka. Reruntuhan-reruntuhan itu terus melebar hingga akhirnya membuat mereka tercengang. Kerajaan Aurora terangkat hingga melayang beberapa meter, meninggalkan Labirin sendirian.


"A-apa yang terjadi?!" banyak rakyat yang panik menanyakan hal yang sama.


Di sana, ada Azure dan Mellynda. Mereka sama-sama sepakat untuk mengatasi reruntuhan itu dengan sihir mereka sendiri.


"Kita harus menyelamatkan diri kita sendiri! Tuan Putri dan bangsawan utama sedang mempertaruhkan nyawa mereka demi kita! Jika kita tidak bertindak sekarang, kapan lagi?!" teriak Azure, sambil mengubah reruntuhan-reruntuhan itu menjadi kapas.


"Tuan Putri adalah rivalku, jika aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri, aku tak pantas berhadapan dengannya. Begitu juga dengan kalian! Bila kalian tidak selamat hanya karena reruntuhan ini, bayangkan betapa sedihnya Tuan Putri itu!" teriak Mellynda.


Merasa teryakinkan dan malu dengan keberanian dua anak kecil, rakyatpun bahu-membahu saling menolong ketika reruntuhan besar maupun sedang jatuh mendadak.


Namun... situasi di atas kerajaan jauh lebih tajam daripada di Cremlyn....


......................


Peri-Peri dari Hutan Peri datang bergerombol menjadi bala tentara Feline dan Morgan. Yang masih berusaha berdiri saat ini hanyalah Claudia yang sudah selesai menyembuhkan Zeeta, Ozy, Aria, dan Ashley.


"Jangan pikir hanya karena kaubisa memakai Rune, kami tidak memiliki cara untuk keluar dari situasi ini...." Morgan sumringah.


"Ozy tidak akan membiarkan itu terjadi!" Ozy memperkuat sihir Rune-nya. Meski ia digertak, Ozy tetap percaya dengan kekuatan Rune-nya.


Feline yang sedaritadi diam sejak terkurung dengan sihir Rune, memerintah Peri-Perinya untuk menyerang saat ini juga.


Tanpa peduli apapun, Peri-Peri itu melancarkan sihir mereka dalam jumlah besar. Menghantam tanah dengan petir merah, menghancurkan segala yang ada dengan sihir angin dan sihir api, sehingga mereka berubah menjadi lima buah tornado api.


Sylva yang ada diantara Peri-Peri itu terlihat sama sekali tidak menikmati apa yang ia lakukan, layaknya yang terjadi pada Falmus dan Yuuvi.


"Kenapa harus jadi seperti ini?" batin Sylva.


Ashley segera bertindak cepat untuk melindungi siapapun yang ada di dekatnya, baik yang jatuh pingsan atau masih berdiri. Ia membuat semacam peti lonjong berwarna hijau transparan pada masing-masing orang untuk melindungi mereka. Tapi, sihirnya terlihat tak mampu menahan banyak sihir sekaligus, sebab sedikit demi sedikit, retakan-retakan yang timbul pada peti itu melebar.


"Hei-hei, ini gila sekali!" seru Aria.


"Sihir dari kita berempat saja mustahil untuk menghentikan sihir-sihir ini!" seru Ashley.


"Peri-Peri sialan!" seru Ozy, sambil memelototi Feline dan Morgan.


"Inilah akibatnya jika menentang Peri! Aaahahahaha!!" teriak Feline.


......................


[Sementara itu Zeeta....]


Untuk yang kesekian kalinya dia berada dalam ruang putih tanpa ujung. Ia berjalan tak tentu arah hingga menemukan seorang wanita berambut merah panjang sampai betis kaki sedang menyiram tanaman hias dengan sebuah gembor berwarna hijau.


"Ah, selamat datang," sapa wanita itu, "jadi kamu, ya, keturunanku yang diramalkan Feline?"


Zeeta mengangguk.


"Yahoo~ namaku Velvet Aurora XI! Salam kenal, ya, Zeeta!" wanita itu tersenyum lebar. Zeeta merasa senyumnya mirip dengannya.


Zeeta merona, lalu ia mengangguk pelan. "U-uhm. Salam kenal juga...."


"Moh~ kau itu berbagi darah yang sama denganku, jadi tidak perlu malu-malu begitu! Berbeda dengan ibu, aku punya banyak waktu untuk bicara denganmu. Tapi, sebelum kita berbicara banyak, bukankah rekan-rekanmu sedang dalam bahaya?"


"Aku tahu, tapi aku tak yakin apakah aku bisa melakukan sesuatu. Lagi pula, aku hanyalah anak kecil...."

__ADS_1


"Humm humm." Leluhur Zeeta bernama Velvet itu mengangguk-angguk sembari menyilangkan tangan. "Kau logis, tapi... apakah kau akan mengkhianati ucapanmu sendiri, yang mengatakan bahwa kaubisa membuktikan rasa percaya dari orang-orang padamu?"


"Kalau itu....


"Sejujurnya... aku hanya takut. Kekuatanku begitu besar dan nyawaku selalu terancam. Aku takut...."


Velvet menaruh gembornya lalu mendekap Zeeta. "Kali ini, Kakak cantik dan penuh semangat inilah yang akan membantumu keluar dari situasi ini!


"Meskipun, seharusnya ini dilakukan oleh Luna si Roh itu...."


"Eh? Bagaimana?" tanya Zeeta.


"Percayalah padaku dan bukalah matamu sekarang!"


......................


Ketika Zeeta membuka matanya, ia dapat melihat Aria, Ozy, Claudia, serta Ashley saling berdekapan melingkar untuk melindungi Zeeta dari sihir yang tak masuk akal kuatnya dari para Peri sambil menutup mata mereka rapat-rapat. Selanjutnya, anting bulan Zeeta bersinar biru dan membuat orang-orang itu membuka mata.


"Zee... Zeeta? Kamu tidak apa, Nak?!" Claudia segera memeluk Zeeta.


"Tidak apa, sekarang, biar kami yang mengatasinya," kata Zeeta, sambil keluar dari lingkaran itu lalu menyelimuti dirinya dengan aura biru-putih.


"Kami?" batin empat orang itu saling tatap.


"Catastrophe Seal tidak digunakan hanya untuk menyegel bencana besar yang mengancam. Maka dari itu, ia memiliki tiga macam bentuk. Satu; adalah sabit besar, dua; tongkat sihir, dan tiga; tameng. Kali ini kau akan menggunakan versi ketiganya. Ikuti ucapanku, karena kau akan merapal lagi!" melalui anting bulannya, Velvet memandu Zeeta. Feline dan Morgan yang menyaksikannya hanya bisa melihat dan menduga-duga dengan apa yang ingin ia lakukan.


Zeeta mengangkat tangan kirinya lalu merapal. "Oh, wahai ibu dari segala makhluk sihir, Yggdrasil! Bila engkau adalah sekutuku, jawablah aku!"


Cincin Catastrophe Seal-nya bersinar emas, lalu mengubah bentuk jadi perisai prisma emas di bagian ujung, serta putih di bagian dalam. Di tengah perisai itu terdapat pola pohon Yggdrasil yang bagian ranting dan batangnya terlihat seperti akar melebar.


Morgan dan Feline lantas terkejut dengan apa yang dikeluarkan Zeeta. Tidak hanya mereka, para Peri, dan Manusia yang ada di belakang Zeeta juga tercengang dengan mata yang berbinar.


"Apa yang ada di hadapanku adalah bencana yang harus dilenyapkan. Alam ... adalah tempat kembalinya mistik yang tersesat ini...."


"Segellah mereka. Catastrophe ...."


Semua sihir-sihir yang mengamuk itu terserap ke dalam perisai.


"Seal!"


Ketika semua sihir itu sudah terserap....


'CLING!'


'BBBMMM!'


Diawali seperti sebuah kilat cahaya emas pada pola Yggdrasil-nya, butiran-butiran emas jatuh darinya dan menyebar dengan sendiri ke alam.


......................


Sementara itu, di bawah, tempat di mana Alex's Workshop berada, Pria Tua yang dapat mengubah bagian-bagian tubuhnya itu tersenyum. "Cih, aku jadi tak punya waktu untuk unjuk gigi," gumamnya.


"Apa yang kaukatakan? Kau sudah melukai Zeeta dan kau tidak akan kuizinkan mendekatinya lebih jauh dari tiga meter!" Luna, saat ini berada di atas kepala Pria Tua itu sambil memukul-mukulnya.


"Ma... maafkan saya, Roh yang Agung...."


"Lagi pula, aku memintamu untuk menunjukkan SIAPA dirimu yang sebenarnya, bukan untuk MELUKAINYA!"


"I... itu karena saya sudah lama sekali tidak bertarung... jadi terbawa suasana...."


"Meskipun kau adalah salah satu ras Naga, melukai seorang anak kecil memanglah salah!" Luna masih tidak berhenti mengomelinya.


"Maaf, nanti saya pasti akan meminta maaf langsung dengannya."


"Itu benar! Kau juga menyeret nama baik Dwarf baik hati itu. Pikirkanlah perasaannya! Ketika dia sudah selesai, bantu dia bereskan masalah besar ini."

__ADS_1


"Pasti, Roh yang Agung...."


......................


"Yeaaaayy, kau berhasiiil!" suara Velvet masih terdengar oleh Zeeta. "Nah, sekarang, apa kau sudah tahu apa yang ingin kaukatakan pada mereka?"


"Uhm. Tenang saja. Aku sudah memikirkannya sejak lama. Tapi... bisakah Kakak temani aku sampai semuanya selesai?"


Velvet merona dan matanya berkilauan. "Tentu saja, Sayang!"


"Ehehe, terima kasih." Zeeta mengatur napasnya. Kemudian, ia melihat ke arah Peri-Peri itu. "Sylva, Falmus, Yuuvi, aku ingin meminta tolong. Kalian pasti bisa tahu apa yang ingin kukatakan, jadi...."


Sylva, Falmus, dan Yuuvi menghampiri Zeeta. Selanjutnya, mereka dan Zeeta mendekati Ozy yang masih menggenggam Feline dan Morgan.


"Selamat siang, Ratu Peri Feline." Zeeta memberi hormat ala bangsawannya. "Selamat siang, Morgan."


Feline dan Morgan tak membalas sapaan Zeeta.


"Morgan, di mana nenekku berada?" tanya Zeeta langsung ke inti.


"Hah?! Kau pikir aku menculiknya? Memangnya kaupikir aku ini siapa?!" balas Morgan.


"Uhm. Aku tahu. Aku tahu jadi katakan padaku. Di mana nenekku?"


"Cih. Langkahi dulu mayatku, Nak!"


"Begitu. Baiklah....


"Ratu Peri Feline, Anda melakukan perjuangan dan penipuan selama tiga ratus tahun, apakah Anda menikmatinya?"


"Anak kecil sepertimu, tahu apa!? Sebaiknya kau jadi Manusia yang penurut seperti leluhur-leluhurmu yang bodoh itu!" balas Feline.


"Apa katamu?!" Ashley terpancing emosi, namun ditahan oleh Zeeta.


"Jika Yggdrasil dibangkitkan lagi, apa semua ras akan selamat? Apa seluruh dunia akan damai dan indah?" tanya Zeeta.


"Heh! Dunia ini kotor karena manusia-manusia bajingan seperti kalian! Jika Yggdrasil dibangkitkan, semua ras akan mudah mengalahkan Manusia!" jawab Feline.


"Kak Velvet?" Zeeta bertanya tentang pendapat leluhurnya ini.


"Jadi intinya, dia mengakui jika Manusia memang sulit dihadapi dan sangat mengganggu mata mereka. Bila Yggdrasil—ibu dari semua makhluk sihir bangkit, kemungkinan besar mana mereka juga akan meningkat lebih tinggi," jawab Velvet.


"Oh... begitu."


"Ratu Feline, mari buat kesepakatan," kata Zeeta.


"Eh?" Peri-Peri dan manusia di dekatnya bertanda tanya.


"Anda ingin Yggdrasil untuk dibangkitkan lagi, tetapi Anda masih butuh dua Benih Yggdrasil lagi untuk menyempurnakan rencana itu. Sampai dua orang itu ditemukan, aku ingin informasi tentang nenekku, dan jangan pernah ganggu kerajaan Aurora lagi—tidak, jangan pernah kepakkan sayap kalian lagi di sini. Jika tidak, aku akan meminta sekutuku Aria, dan semua Elf yang memiliki dendam dengan kalian, menyerbu Hutan Peri.


"Jangan lupakan tentang kekuatan Hutan Sihir Agung. Aku serius dalam masalah ini, Ratu Peri. Aku tidak peduli Anda ingin menganggapku anak kecil atau apa, tapi aku sudah muak dengan perlakuan Anda terhadap ras selain Peri, terutama terhadap Manusia dan Elf.


"Begini-begini, jika aku benar-benar ingin menghancurkan seperti apa yang ada dalam ramalanmu, aku bisa melakukannya saat ini juga. Tapi... ramalan itu sudah berubah, 'kan?


"Bahkan tiga Peri ini sudah tidak kuat dengan kelakuan kalian. Sadarilah posisi kalian, dasar Peri berumur. Turuti kesepakatan ini, atau kugunakan Catastrophe Seal lagi untuk menghancurkan Hutan Peri."


"Kkkhhh...." Feline merasa bimbang.


"Oh, jangan lupakan lagi jika Roh yang Agung sudah ada di pihakku. Morgan, melenyapkanmu bukanlah hal yang sulit bagiku."


"Sialan! Dasar Manusia sialan!" teriak Morgan.


"Seharusnya tidak seperti ini! Seharusnya kalian selalu menari di atas telapak tanganku!" jerit Feline.


"Jawaban itu sungguh sederhana, Ratu Peri. Itu karena aku bisa membuktikan rasa percaya dari rakyatku, serta warisan dari leluhurku. Soalnya ... aku sudah berjanji...!" Zeeta memasang senyum lebarnya.

__ADS_1


__ADS_2