
Setiap pagi cerah maupun gelap sejak kepergian Zeeta untuk berlatih sejak dua bulan lebih, di Kerajaan Aurora, selalu diawali dengan kebisingan dari ledakan, erangan, teriakan semangat, juga pekikan kekecewaan dari dalam istana. Sejak saat itu, pengeliminasian untuk anggota Pasukan Crescent Void telah digelar. Dari sekian ratus jiwa yang terdiri dari anak-anak, remaja, hingga dewasa, telah mengikuti rangkaian stage yang diberikan tiga makhluk sihir yang bersedia melatih mereka, yaitu Eclipse, Ozy, dan Luna.
Tentu saja, apa yang diberikan mereka bertiga pada rakyat tentu tidak akan sepadan, terutama dari Luna, dengan apa yang diterima oleh Azure, Gerda, Danny, dan Mellynda beberapa waktu yang lalu.
Stage yang diberikan mereka bertiga ada beberapa macam. Satu; selama lima hari hari empat malam, mampu tidak makan dan hanya bertahan hidup dengan mana masing-masing.
Dua; dari lima hari tersebut, jika mana mereka tidak terlihat adanya tanda menguat meskipun sangat sedikit, akan diberikan latihan yang lebih keras, yaitu melawan Ozy secara langsung. Stage ini bukan tanpa alasan. Dengan membiasakan diri bertemu dan melawan lawan kuat, akan meningkatkan tingkat keselamatan mereka kedepannya, sekaligus menambah pengalaman.
Tiga; bagi yang telah menunjukkan tanda peningkatan mana dari lima hari empat malam itu, mereka akan dilatih untuk menyelamatkan warga dari serangan Phantasmal, yang dilakukan oleh Eclipse dan Albert. Mereka membuat simulasi yang sedemikian rupa yang sama dengan insiden Hell Hydra dan menambahkan makhluk sihir semu buatan Ashley—yang akan kembali menjadi mana setelah sekian waktu berjalan.
Empat; setelah tiga stage itu berhasil dilewati, stage yang terakhir adalah melawan Luna, kemudian dilanjutkan dengan melawan Alicia. Rencana mereka sebelumnya, yang ingin mempertemukan mereka yang lolos dengan Zeeta dan Azure, harus diperkeras lagi, demi masa depan mereka sendiri.
Setelah keringat dan darah dipertaruhkan oleh ratusan rakyat Aurora, hanya ada enam yang mampu bertahan dan dinilai layak untuk berdiri paling depan, bertarung melawan Phantasmal, dan melindungi kerajaan.
Mereka adalah Danny, Gerda, Novalius, Mellynda, Marcus, dan Colette. Seperti yang diketahui, Marcus adalah salah satu prajurit dibawah komando Alexandrita. Dia pernah membantu Zeeta keluar dari penjara bawah tanah Rowing dan pernah menjalani misi ke penjara kerajaan di Wilayah Utara. Sementara Colette, adalah gadis berambut cokelat panjang, bermata biru dengan wajah yang sayu. Dia bergaun hitam dengan cardigan hijau. Dari keenam orang ini, yang paling tua adalah Marcus, yang diikuti oleh Colette, kemudian Novalius, Danny, Mellynda dan Gerda
Enam orang itu sekarang sedang berlutut di hadapan Alicia, yang disampingnya duduk sang Raja, dan sekutu-sekutu mereka seperti Lucy, Eclipse, dan Ozy. Tidak lupa hadir juga di sisi sang Ratu, Grand Duchess Ashley, Komandan Pasukan Kerajaan Albert, juga disertai bangsawan utama lain. Tidak lama kemudian, Aliciapun angkat bicara.
“Kalian berenam sangat membanggakanku karena mampu melewati latihan keras selama dua bulan ini. Entah kalian memiliki bakat atau tidak, aku tetap mengapresiasi kemampuan kalian. Kalian juga mampu menilai, mengatasi, juga berpengetahuan cukup sebagai perwakilan kerajaan yang akan jadi garda terdepan menghadapi ancaman Phantasmal.
“Aku juga telah menyaksikan kemampuan kalian secara individu. Pengalamanku, serta pengalaman semua bangsawan utama yang ada di ruang ini bersama kalian, setuju jika kemampuan kalian benar-benar mampu mengatasi Phantasmal.
“Meskipun nantinya masih banyak rakyat yang tidak percaya pada kemampuan kalian karena jumlah kalian hanya ada enam orang saja, selalu ingatlah di hati dan kepala kalian bahwa Ratu ada di pihak kalian.
“Baiklah. Mellynda von Ophenlis IX, Marcus McGroovey, Samantha Colette, Danny Bloomy, Gerda Bloomy, dan Novalius de Dormant XVIII, secara resmi kuangkat kalian menjadi Pasukan Crescent Void, bersama dengan seragam ini sebagai simbolnya!”
Enam buah cahaya muncul di hadapan masing-masing prajurit. Mereka yang lelaki menerima sebuah kemeja panjang biru yang bagian kerah dan ujung lengan berwarna putih, dilengkapi rompi setengah badan ber-hoodie. Di rompi bagian depan kanannya, terdapat emblem bulan sabit-tak berbentuk sabit—layaknya bulan sabit yang pecah disertai pecahan-pecahannya. Di depan bulan itu ada tombak. Emblem itu diwarnai kuning keemasan. Mereka juga menerima celana biru panjang—senada dengan kemejanya dan sepatu, serta sarung tangan kulit hitam.
Bagi mereka yang gadis, mereka menerima rok terusan biru denim dengan mode tambahannya—ikat pinggang cokelat. Mereka pun mendapat rompi yang sama dengan lelaki, dan sepasang sepatu hak pendek berwarna putih.
Tanpa mengubah posisi berlutut mereka, keenam prajurit terpilih itu menerima seragamnya masing-masing. Marcus melihatnya dengan tatapan penuh bangga. Ia juga tersenyum. Tak pernah ia sangka sebelumnya, bahwa ia bisa mencapai di titik ini. Kemudian, mereka membalas ucapan sang Ratu bersamaan.
“Kami, Pasukan Crescent Void, siap melindungi kerajaan Aurora! Kami akan berjuang untuk memenuhi harapan Anda, Yang Mulia!”
......................
Satu jam berlalu sejak peresmian mereka, para anggota Crescent Void sedang menghabiskan waktu mereka di desa Lazuli—tepatnya kedai A n’ Z—sambil menyantap pesanan mereka tanpa mengenakan seragam barunya. Meskipun bersama, tak ada satupun diantara mereka yang bicara. Merasa karena dia yang paling tua, Marcus mencoba mencairkan suasana.
“Salam kenal semuanya,” sapa Marcus, “namaku Marcus McGroovey! Sebelumnya aku adalah—“
“Hentikan,” potong Novalius, “aku tahu suasananya awkward, tapi kami semua sudah setuju jika kaulah yang harus menjadi leader kami. Kami tahu siapa dirimu."
“Eh?” Marcus mengernyitkan alis, tak nemahami arus pembicaraan.
“Uhm. Sejak stage kedua, kau selalu yang memotivasi kami, yang paling pertama yang bisa memahami situasi sekitar, juga menyusun rencana untuk kami,” sambung Mellynda, “diantara kami semua, tidak aneh kalau kaulah yang paling berpengalaman dalam medan pertempuran karena kau mantan prajurit Alexandrita. Aku dan Novalius memang bangsawan, tapi pengalaman kami sama seperti Gerda, Danny, dan Colette. Iya, ‘kan, Colette?”
Colette tersenyum manis pada Marcus. “Tentu saja. Aku ‘kan ikut sejauh ini hanya untuk melindungi tunanganku.” Ia meraba punggung tangan Marcus.
“He-hei!” Marcus segera menarik tangannya sambil merona. “Kau sudah berjanji untuk merahasiakan ini!”
“Oh,” Colette mendekatkan wajahnya ke Marcus. “Apa sebegitu inginnya kau berduaan denganku karena tak ingin rahasia ini bocor?”
__ADS_1
Melihat dua orang ini, membuat Gerda menutupi matanya dengan tangan.
“Tapi, tak kusangka kaubisa sejauh ini, Ophenlis,” ujar Novalius mengacangi dua sejoli itu.
“Hah? Apa maksudmu?” Mellynda segera sewot.
“Kudengar kau pernah melukai Tuan Putri, apa sebenarnya yang membuatmu berubah, bahkan sampai melakukan ini?”
“Ah, itu. Bisa kausebut sebagai balas budi dan bentuk rival. Aku hanya tak ingin kalah dari seseorang yang cengeng, penakut, dan sok kuat itu.
“Terlebih ... aku juga ingin segera menyelamatkan kak Azure. Dia ... pokoknya dia harus kita selamatkan.”
Colette yang sedang bergurau dengan Marcus berubah serius. “Hei. Kalian bertiga sering menghabiskan waktu bersama Tuan Putri, ‘kan?” tanyanya.
“Ya, ada apa?” tanya Gerda.
“Apa kalian percaya jika dengan melindunginya, kita bisa melindungi dunia?”
Danny mencengkeram tangannya. “Siapa yang tahu? Kita bahkan tidak tahu seperti apa Phantasmal yang hendak menyerang kita.
“Benih Yggdrasil dari kerajaan Nebula itu bahkan tidak berniat mengungkap siapa Phantasmal yang menyerang kerajaannya. Kita semua kekurangan informasi. Apa yang bisa kita lakukan hanya percaya dan menunggu Zeeta, sambil melindungi kerajaan ini.”
Gerda segera mengumpat pada kakaknya. “Cih, kau mengatakannya seolah itu mudah!”
“Lantas, hanya berlandaskan ramalan Ratu Peri, kita harus melindungi Tuan Putri dan mencegahnya melakukan apa yang ada di ramalan itu?” tanya Colette, “jujur saja, aku bersedia menjadi Pasukan Crescent Void bukan untuk jadi pengawal bocah i—“
“Hentikan, kau tidak perlu membahas itu, Cole—“ Marcus yang hendak menghentikan Colette tak dihiraukan.
“Tetapi, serangan yang membunuh kakekku itu tidak diragukan lagi bersumber dari bocah itu. Jika benar dia memang bisa nenggunakan senjata yang disebut-sebut legendaris itu, tapi pada akhirnya tetap saja ada korban jiwa SEPERTI KAKEKKU, untuk apa aku harus melindunginya? Dia pasti hanya bocah manja yang tak tahu apapun. Kalau dia mati, biarkan saja dia mati, Ratu Alicia masih bisa menjalankan kekuasaannya!”
'PLARR!!'
Marcus menampar Colette. “Keluar dan dinginkanlah kepalamu, Colette. Kau sudah keterlaluan!”
Colette yang memegangi pipinya membanting meja sambil mengumpat-umpat. “Kau bukan Marcus yang kukenal. Dasar. Kenapa kau jadi begini?!” ia segera meninggalkan mereka dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan.
Suasana segera menjadi canggung. Para pengunjung lain juga menatap lima orang di sana. Tak ada yang mampu mengatakan apapun sampai Arthur datang. “Dasar. Sebagai orang tua, aku sakit dan merasa ingin meledak mendengar ucapan gadis itu,” ujarnya, “aku akan protes padanya. Zeeta-ku yang manis, cantik, dan kuat sekerajaan, takkan kubiarkan ditindas seperti itu. Gerda, kutitipkan kedai padamu.”
“Pa-Paman Ar—“ Gerda yang ingin menghentikannya terhenti.
“Hmm? Jadi, dia adalah ayah angkat Tuan Putri?” tanya Novalius. Gerda, Danny, dan Melly mengangguk. “Hahahaha!”
“Eh?!” ketiganya terkejut dengan tawa lantangnya.
“Begitu, ya, begitu, ya! Marcus, aku setuju dengan dia! Kau juga harus protes padanya dan buktikan kalau Tuan Putri haruslah hidup bersama kita!”
“Eh? Kau mengenal Arthur, Nova?” tanya Melly.
“Ya. Mendiang kakekku sering membanggakannya. Dia juga pernah datang ke kediamanku dan pernah satu kali menunjukkan kemampuannya padaku. Kalau dia membesarkan Tuan Putri, dia pasti diajari cara pikir dan hati seorang Arthur!”
Danny sumringah. “Sialan, Paman Arthur ternyata jauh lebih hebat dari ayahku. Kukira dia hanya seorang koki biasa—yang kemampuannya tidak lebih hebat dari seorang pemburu. Berani-beraninya dia menyembunyikan fakta ini dari kami. Tidakkah ini membuatmu berapi-api, Gerda?”
__ADS_1
“Jangan tanya padaku, dasar Kakak bodoh, tentu saja aku berapi-api! Ayo buat mulutnya menganga karena kemampuan kita!” Gerda menjotos telapak kirinya, ia juga sama-sama sumringah.
Marcus yang sedari tadi hanya mendengarkan akhirnya tersenyum—ia tak habis pikir—bahwa di sekelilingnya, ada banyak orang yang terlibat dengan Zeeta, tetapi sama sekali tidak terpengaruh tentang kekuatannya yang gila, dan justru tertantang untuk melindunginya.
“Jangan tinggalkan aku sendiri, biarkan aku ikut kalian!” seru Marcus, “meskipun, tujuanku hanyalah untuk melindungi kerajaan. Melindungi Tuan Putri tidak mengubah tujuanku.”
“Menarik. Aku ikut dengan kalian,” timpal Novalius, “aku masih tidak tahu seberapa hebatnya kekuatan Tuan Putri ini, tapi melihat reaksi kalian, dia pasti sangat berharga bagi kalian. Hanya mengetahui itu saja, meskipun aku mati dalam misiku, aku bisa mati dengan bangga!”
“Hei, tidak sopan sekali, kalian ini! Jangan melangkahi aku karena aku sudah lebih dulu jadi rivalnya!” timpal Mellynda, “yah ... tapi ... kalau melindungi Zeeta, tentu saja aku ikut.”
......................
Sejak keluar dari kedai A n’ Z, Colette bisa merasakan dengan jelas ada yang mengikutinya dari belakang. Ia tersenyum sambil membatin, "Bodoh sekali. Akan kubuat dia menyesal karena sudah mengikutiku.” Ia kemudian menuntun Arthur ke lapangan terbuka yang tak memungkinkan siapapun bersembunyi.
“Jadi, untuk apa kau mengikutiku sejauh ini, Pak Tua?” Colette yang percaya diri menyilangkan tangannya.
“Yah, begini.... Sebenarnya aku ingin protes padamu, tapi kau terus saja berjalan. Aku memang bisa memanggil dan menghentikanmu, tapi aku juga ingin menjelaskan sesuatu padamu.” Arthur melemaskan badannya. Dari leher, jemari, hingga badan.
Melihat bahasa tubuhnya, Colette tersenyum. “Kapanpun aku si—“ seketika senyum itu berubah menganga.
“Kamu terlalu berkepala besar, Nak.” Dengan tatapan yang tak bersahabat sama sekali, Arthur berada di belakang Colette dan hendak melukai lehernya dengan memasang sebilah sihir di telapak tangannya.
“Kaubicara seolah kaulah yang paling memendam dendam, dan kaulah yang paling berhak membalaskan dendam kakekmu, serta secara sepihak menyalahkan putriku. Tetapi, jauh di lubuk hatimu, kautahu, bahwa dunia sihir inilah penyebabnya.
“Dunia sihir ini penuh dengan entitas misterius yang tak mampu dipahami nalar Manusia, sehingga kau merasa takut. Kau takut akan keberadaan mereka lalu dengan mudahnya menyamaratakan putriku sama dengan entitas misterius itu, dan berpikir bahwa mati bukanlah hal yang aneh.”
Ucapan demi ucapan yang dilontarkan Arthur tanpa henti membuat Colette bergemetar. Ia benar-benar ter-skak. Bergerak sedikit saja pasti membuat lehernya putus.
“Apa kautahu, jika makhluk-makhluk misterius itu terlahir dari Manusia semacammu, Nak?”
Colette terbelalak mendengarnya. “A-apa maksudmu?”
“Lihatlah. Kau memiliki kesempatan untuk memahami mereka tetapi kau menutup kesempatan itu rapat-rapat karena sesuatu yang disebut ketakutan itu.
“Camkanlah ini, Nak. Putriku jauh lebih hebat daripadamu. Sebagai orang tua aku tidak keberatan jika kau mati setelah kau menjelek-jelekkannya, tetapi aku juga menghargai nilai sebuah nyawa.
“Putriku selalu dikelilingi oleh rasa takut tak terbendung. Ia takut jika gagal, maka nyawa orang tak bersalah—contohnya seperti DIRIMU, akan melayang, jadi dia berlatih sekuat tenaga.
“Dia juga takut, jika kekuatan besarnya malah membuat orang-orang takut—contohnya seperti DIRIMU, yang bahkan tak mencoba untuk memahami kesulitannya.
“Tapi, lihatlah situasi sekarang. Apa putriku kalah dari ketakutannya dan menjelek-jelekkan orang seperti yang kaulakukan, hmm?”
Colette tak sanggup lagi. Ia menangis bak air terjun. “Aku minta maaf! Maaf telah menjelek-jelekkan Tuan Putri! Iya, aku merasa takut tapi aku juga tak tahu harus berbuat apa! Semuanya seperti yang kaukatakan! Iya, aku takut!”
Arthur melepaskan Colette. “Bagus. Ketika kau melakukan kesalahan, selalulah meminta maaf. Kau kumaafkan.” Arthur lantas pergi dari sana, meninggalkan Colette yang jatuh terduduk dan lemas. “Kau masih memiliki kesempatan itu dengan Pasukan Crescent Void. Jangan sia-siakan itu, Nak!” ia juga melambaikan tangannya.
“Moh.... Siapa pria itu...? Aku sama sekali tak melihat dia bergerak dan juga ... dia tak memasang sihir apapun untuk ke belakangku.... Aku ini ‘kan Crescent Void, lho!” batin Colette. Seketika, Colette teringat ucapan Alicia, bahwa di medan pertempuran, tak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi.
“Ahhh! Jadi inikah maksudnya! Sialan! Kenapa Marcus tak menghenti—ah, dia sudah melakukannya….
“Tapi ... pria itu menakutkan sekali…. Marcus, tolong aku....”
__ADS_1
Pasukan ini masih memiliki ruang untuk berkembang jadi lebih baik dari segi manusiawi, juga kekuatan. Mereka berpotensi untuk mekar secara anggun.