
[Ruang Scarlet, pukul sembilan pagi....]
Ruang miliknya itu adalah ruang yang baru saja dibuat dengan sihirnya. Tempat itu tidak terlalu jauh dari ruang singgasana, tetapi cukup memakan waktu agar bisa menuju kamar Zeeta. Isinya hanyalah sebuah tempat tidur yang berada di tempat terpisah, meja dan kursi untuknya bekerja, rak-rak buku yang memenuhi tembok, dan beberapa set lentera sihir untuk penerangan. Untuk mendeskripsinya lebih sederhana lagi, ruang Scarlet hanyalah ruang seorang pekerja kantoran, dengan sedikit sentuhan sihir padanya.
Seafood Risotto ada di mejanya. Scarlet yang ada di kursinya, untuk sesaat hanya menatap. Masakan Zeeta itu masih panas dan akan cocok untuk menghangatkan tubuh. Pelayan juga memberikannya segelas air dan sebotol anggur bersama dengan cangkirnya. Scarlet masih bertanya-tanya dengan impian Zeeta yang baru saja diketahuinya.
Tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu.
'tok tok tok'
“Ini aku, Ibu,” kata sang pemilik suara dari balik pintu, Alicia.
“Masuklah!” perintah Scarlet.
Alicia disambut dengan pemandangan cukup unik. “Ada apa ini?” pikirnya dalam benak.
“Kautahu apa ini?” tanya Scarlet. Ia menunjuk risotto-nya.
“Uhmm....” Alicia menutup pintunya kemudian menjawab, “makanan?”
“Tidakkah kautahu siapa yang memasaknya?”
“Zeeta?”
Scarlet mengernyit. “Jadi ... kautahu?”
“Tentu saja, aku ibunya!
“Tunggu, Ibu, apa kau memanggilku karena ini?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Ada yang janggal.”
“Apa maksudmu?”
“Masih kuingat seperti kemarin, bahwa rencanamu ketika melahirkan Zeeta dan melindunginya dari serangan Peri adalah dengan membuat sihir dimensi? Bukankah kalian bertiga ada bersama?”
Alicia mulai paham alasannya dipanggil. “Setidaknya, habiskan dulu, Bu, selagi masih hangat. Itu adalah masakan sang koki kelas bangsawan, Zeeta.”
“Jelaskanlah selagi aku memakannya.”
“Tentu, tetapi setelah itu Ibu juga harus memberitahuku kemana dan apa yang terjadi saat Portal Hitam itu muncul.”
“Jika waktunya tepat. Aku pasti akan menceritakan semuanya. Yang lebih penting, Zeeta. Cepatlah!”
Alicia tersenyum. “Dasar, sejak kapan Ibu jadi selembut ini?” ia kemudian menciptakan kursi dari sihirnya lalu duduk dan segera menjelaskan.
......................
Sama halnya dengan yang terjadi antara Luna dan Zeeta. Luna memberitahu Zeeta apa saja yang telah terjadi selama Zeeta tak siuman selama satu minggu. Katanya, Nebula—sang pangeran, raja, dan rakyatnya—telah kembali ke kerajaan mereka dan hendak memulai awal yang baru. Mereka meninggalkan benda canggih yang bisa mengantarkan sekelompok orang antar kerajaan—sebuah alat ciptaan Suzy—yang dibuatnya sendiri setelah meminta alat dari Axel dan beberapa pandai besi dan pengrajin lain di Aurora.
Aria juga kembali ke Grandtopia dengan memberi pesan bahwa ketika situasi kerajaan sudah aman, mereka akan meminta izin pada istana untuk pemberitahuan resminya tentang Elf—juga sekaligus untuk membangun hubungan baru yang telah didambakan seorang leluhur Aurora yang spesifik.
Crescent Void bernaung dalam pasukan Alexandrita untuk sementara, sebelum Zeeta bangun, dan membantu pembangunan kerajaan yang beberapa tempat sudah rusak. Sementara Azure, karena ia tidak bisa tenang dalam istana dan selalu memikirkan adiknya yang tak kunjung sadarkan diri, ia mencari kesibukan lain—yaitu membantu Arthur dengan kedainya.
Para bangsawan utama telah kembali ke Wilayah-nya masing-masing dan bekerja seperti sedia kala. Mereka menunggu kabar baik istana tentang sang putri.
Rakyat dan prajurit yang memenuhi rumah sakit, sebagian besar telah kembali ke kediaman masing-masing atau kembali bertugas. Tetapi tak bisa dipungkiri, korban jiwa pun ada. Sayangnya, angkanya tidaklah kecil. Lebih dari lima puluh orang tewas karena “bencana alam” atau tertimpa reruntuhan.
Ashley, yang mengetahuinya, segera mengakui diri bahwa penyebab bencana tersebut adalah karenanya yang putus asa untuk menyelamatkan Zeeta. Walau begitu, ada banyak nyawa yang tak bisa tertolong karena perbuatannya, karena itulah, ia turun dari jabatannya sebagai Grand Duchess.
Kendati demikian, rakyat yang kehilangan keluarganya itu, merasa Ashley tak perlu melakukannya mengingat Zeeta adalah orang yang cukup penting, yang selalu menyelamatkan kerajaan. Tetapi alasan itu tidak bisa diterima. Kekurangannya dalam pengendalian adalah titik fatal mengapa ini bisa terjadi.
Kini, Grand Duchess menjadi Grand Duke, yang posisinya diduduki oleh Albert. Selain turun jabatannya Ashley, rakyat tetap tidak menginginkan hukuman padanya, sehingga sebagai Ratu Aurora Kedua Puluh, Alicia mengabulkan permintaan rakyatnya.
Sementara itu, informasi yang disisakan Luna paling terakhir, adalah pesan Suzy bahwa dia ingin bertemu Zeeta secara empat mata.
......................
Piring risotto-nya sudah habis, begitu juga segelas airnya. Zeeta menaruh kembali piring dan gelas ke atas nampan, menyeka mulutnya, lalu berkata, “Nanti saja bertemunya. Aku akan ke makam terlebih dahulu.” Zeeta langsung berpakaian serba hitam.
“Aku akan menemanimu,” ujar Luna.
“Baiklah.”
Zeeta keluar dari kamar, yang dalam perjalanannya berpapasan seorang pelayan. “Kate, katakan pada mereka yang mencariku, aku pergi ke makam. Oh, jangan lupa ambil piringnya dari kamar.” Ia mengatakannya tanpa berhenti berjalan.
“Dimengerti, Yang Mulia,” balas Kate, sang pelayan. “Sejak kapan Putri tahu namaku...? Juga... jadi Beliau sudah tahu tentang itu....” Kemudian, Kate melaksanakan perintah Zeeta.
__ADS_1
.
.
.
.
Sebuah makam yang berada di Wilayah Utara, disitulah Zeeta berada. Makam itu tidak jauh dari penjara kerajaan yang dulunya dikepalai oleh Willmurd. Penjaranya layaknya berada di ujung jurang, jadi dari makam, Zeeta bisa melihat sosok penjara seperti apa. Tempat itu selalu dikelilingi oleh langit gelap dan guntur.
Memutuskan untuk mengabaikan penjaranya, Zeeta menciptakan sebuket bunga untuk makam-makam mereka yang tewas akibat "bencana alam". Masih ada buket bunga milik orang lain jadi tak sulit untuk membedakan. Setelah meletakkannya satu per satu dengan sihir, Zeeta menutup matanya. “Semoga jiwa kalian tenang. Maafkan kami karena tak bisa melindungi.”
Setelah itu Zeeta membuka mata dan sedikit menjauh dari makam. Ia teringat sesuatu dan langsung bertanya, setelah berteduh dibawah pohon. Luna duduk di pangkuan pahanya. “Luna, beritahu aku sekarang. Apakah Tanah Kematian dan Lembah Kematian benar-benar eksis di dunia ini?”
Luna dibuat tersentak. “Darimana kautahu?”
Zeeta menunjuk anting bulannya.
“Kapan? Bagaimana?”
“Fyrriheim, Jötunnheim, Galdurheim, dan Drékaheim. Katakanlah saja, Luna.” Zeeta memasang wajah serius.
“Jadi ... sudah waktunya....”
Zeeta menunggu jawabannya.
“Ada.”
“Sudah kuduga.
“Ternyata saat itu bukan hanya instingku saja....”
Luna tak mengerti. “Apa maksudmu?”
“Saat aku berhadapan dengan Jewel, aku menggunakan Rune untuk menghempaskan Jewel. Rune itu sebenarnya bisa menghanguskan seutuh tubuhnya, tetapi aku memisahkannya dengan Rune lain, sehingga ia bisa hidup meski dalam bentuk jiwa—sebutlah hantu, jika kau mau.
"Dengan cara itu, paman Hugo bisa reuni dengannya dan mengatakan apa yang seharusnya dikatakan—seperti yang sudah kami rencanakan berdua.
“Sebelum tahu tentang adanya Tanah atau Lembah Kematian, aku hanya berpikir jiwa itu nanti hanya kembali pada alam. Itu saja. Seperti yang sudah pernah kulihat pada makhluk sihir lain.
“Namun, saat di Fyrriheim, kata ‘kembali pada alam’ bermakna baru untukku.”
Setelah paham, Luna memberi jarak dengan Zeeta, lalu mengubah bentuk menjadi wujud setengah-manusianya. “Kukira kau takkan mampu mengetahui itu jika bukan aku yang memberitahumu.”
“Tidak. Hollow adalah Phantasmal yang HANYA muncul dari Tanah Ephemeral. Tetapi, seperti yang kautahu, ada seseorang yang bisa memaksa Phantasmal atau makhluk sihir menjadi Hollow.”
"...." Zeeta merenung. Ia bimbang dengan apa yang bisa terjadi di masa depan, di dunia sihir yang hampir segalanya tidak mustahil.
.
.
.
.
“Luna....
“Sebenarnya apa itu Phantasmal? Apakah mereka hanyalah kehidupan yang tercipta dari mimpi atau keinginan makhluk di dunia?”
Zeeta meringkukkan kaki.
“Dulu, penjelasan seperti itu adalah benar.”
“Aku ... harus apa?”
“Tidak ada. Tidak ada yang perlu kaulakukan.”
“Luna... bolehkah aku bersandar padamu?”
Luna menarik kepala Zeeta, meletakkannya pada pangkuan pahanya. “Jangan bertanya dua kali.” Ia mengelusnya dengan lembut. “Kita akan melaluinya bersama-sama. Jangan rahasiakan apapun dariku. Aku juga akan melakukannya. Tetapi, semuanya butuh waktu.
“Kali ini, cukupkan dirimu sampai sini. Oke?”
Zeeta mendekap lengan Luna. “Oke.”
Luna tersadar kala itu, bahwa sekuat apapun Wadah yang ia tempati, Zeeta tetaplah makhluk yang lemah. “Aku takkan membiarkanmu mati lagi. Takkan!”
......................
“Jadi?!
__ADS_1
“Kauingin berkata jika....
“Selama delapan tahun....
“Zeeta melewati masa-masanya dengan ORANG ASING? Masa-masa kecil berharganya tanpa orang tua?!”
Scarlet sudah menghabiskan risotto, ia juga meneguk anggur, mengabaikan cangkirnya.
“Ibu!
“Tidak sopan!
“Arthur telah merawat dan mendidiknya hingga Zeeta bisa seperti ini sekarang! Levant tak bisa menepatinya karena Chloe dalam kondisi kritis!
“Aku selalu melihatnya dan aku tak ingin Ibu mengejek nama penyelamat putriku!”
Scarlet menaruh botol anggur dengan membantingnya. “Aku tahu. Terkejut saja.”
“Dasar! Sejak kapan kau tak minum begini? Sekalinya minum, kau seperti ini....” Alicia menekan-nekan pelipisnya.
“Hahaha! Soal itu maklumi saja!” seru Scarlet dengan rona merah di pipi—tanda bahwa ia mabuk. “Selama ini aku hidup tanpa makan dan minum, juga menghabisi waktuku menjadi ‘dewa kematian’. Hahaha!”
Alicia terpincut ucapannya. Ia segera memberi sihir untuk menghilangkan mabuknya. “Ibu. Apa yang baru saja kaukatakan tadi?” saking terpincutnya, ia sampai menarik kerah Scarlet.
Mau tak mau, Scarlet menceritakannya.
“Dimana buku itu sekarang?” tanya Alicia.
“Musnah.”
“Kenapa?”
“Apa maksudmu dengan ‘kenapa’? Tak akan ada lagi gunanya, jadi kumusnahkan.”
Alicia menggigit kuku-kuku ibu jarinya. “Ibu benar.”
“Terlalu banyak pengetahuan yang tidak pernah dibuka karena larangan turun-temurun kita yang sudah kadaluarsa. Sudah saatnya kita melanggar lebih jauh.”
“Ibu ... Ibu pasti sadar kita butuh waktu untuk melakukan itu ‘kan?”
“Jangan buat aku kecewa setelah berani menarik kerahku, dasar Ratu amatir!”
Alicia menggertakkan giginya. “Dasar Nenek Sihir! Kau hanya lembut pada Zeeta!” ia membanting mejanya.
“Tak sudi aku lembut padamu yang sudah akan beruban!”
“A-apa katamu?! Kau pun suda—
“Cih... setelah kulihat lagi, kenapa rambutmu tidak beruban, Ibu?!
“Kau sudah LEBIH dari enam puluh tahun!”
Scarlet memunculkan aura merah setelah mendengarnya. “Tidakkah kuajari bagaimana bersopan santun dengan wanita, huh, WANITA?!”
“Ogah! Sadarilah saja usiamu, dasar Nenek!”
“Apa katamu?!”
Saat itu, istana bergemuruh kencang hanya karena pertengkaran sepele sepasang ibu dan anak.
“Uhmm ... bisakah kalian dewasa, oh Orang Tua?” suara Azure langsung mengunci semua kehebohan yang terjadi.
Azure berdandan layaknya seorang Tuan Putri. Menawan, cantik, dan keren dengan gaun serba hitam dan sedikit corak biru padanya. Gaun itu juga sepasang dengan sarung tangan hitam dan pita bunga berwarna biru—menyesuaikan dengan warna rambutnya. “Aku bahagia dapat keluarga seperti kalian yang ... eh... bersemangat, tapi ...," sambungnya, "dimana Zeeta?”
Scarlet dan Alicia saling bertatap. “Zeeta!” keduanya bergegas untuk lari melesat menuju kamar Zeeta.
“Tak ada di kamarnya, aku sudah ke sana!” pekik Azure.
Mereka berdua terhenti dan langsung menge-gas kembali menuju Azure. “Tidak ada?!
“Zeetaaaa!!”
Saat itu, istana dibuat heboh oleh dua wanita yang panik bukan main. Sementara itu, Zeeta dan Luna yang duduk di bahunya, sedang berjalan di sekitar istana. Ia juga dibuat kaget oleh teriaknya mereka. “A-apa? Apa yang terjadi?!” Zeeta sampai dibuat bersiaga hanya karenanya.
“Hahahaha, mereka sungguh keluarga yang ceria, ya, Tuan Putri Zeeta?”
“Suara ini...?
“Suzy?”
Begitu Zeeta menoleh, ia mendapati senyuman Suzy, bersama pakaian kebanggaannya—jubah laboratorium. Dibalik jubahnya, ia memakai kemeja kotak-kotak cokelat dan celana panjang putih.
__ADS_1
“Bisakah kusita waktumu, Putri?” tanya Suzy.