Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Arti Sebuah Kerajaan


__ADS_3

Sejenak lagi cakrawala akan sepenuhnya menyelimuti mentari. Kenikmatan pesta penyambutan kepulangan Zeeta berlangsung meriah dan penuh keributan yang mengundang tawa, mau tak mau harus berakhir. Empat dari enam Crescent Void pun telah angkat kaki untuk kembali menjalani kewajibannya berpatroli. Gerda dan Danny membantu desa untuk membersihkan bekas pesta, meski esok festival masih berlangsung. Sementara Zeeta, ia melamun di hadapan suatu gunungan yang membuatnya enggan untuk memercayai apa yang dilihatnya.


"Hmmm....


"Kami memang bersenang-senang sampai memakan waktu empat jam lamanya untuk pesta kepulanganku, tapi....


"Apa-apaan JUMLAH cucian ini?!"


Zeeta dihadapi oleh gunungan piring, cangkir, dan gelas kotor. Tinggi tumpukan keseluruhan cucian kotor itu bahkan melebihi dua kali lipat tingginya sendiri.


"Haaaahh~ apa boleh buat. Bersemangatlah, diriku!"


Baru saja Zeeta akan mulai cuci piring, Klutzie menghampirinya ke dalam kedai.


"Oh? Kau ada di sini, Pangeran?" Zeeta mulai mencuci dengan sihir yang dibuat terpisah. Satu untuk mencuci, satu untuk mengelap.


"A-apa yang kaulakukan, Putri Zeeta?" Klutzie yang terkejut, tidak kalah terkejutnya dengan Siren.


"Hmm? Tentu saja mencuci piring, apa lagi yang terlihat oleh matamu?"


"Ka... kau adalah bangsawan, lho! Tidak! Kau itu seorang Tuan Putri! Kenapa harus mencuci piring?!"


Zeeta merasa tersinggung dan justru melihat Klutzie aneh. "Apa boleh buat, 'kan? Lihatlah jumlah ini! Warga desa sedang membersihkan bekas pestanya, jadi kulakukan apa yang bisa kulakukan!


"Apa segitu anehnya untukmu, oh Pangeran Nebula, melihat seorang Putri kerajaan membantu warganya sendiri?"


"Aku tidak bermaksu—"


"Hahahah! Aku bercanda. Duduklah, meski ada beberapa konfeti yang masih berserakan. Apa kauingin minuman panas?"


"Aku tidak bermaksud untuk jadi pelangg—"


"Aku tahu, Pangeran. Disaat seperti ini, rileks adalah hal penting supaya pembicaraan nanti dapat kaudengar dengan baik."


Siren setuju dengan Zeeta. "Terimalah, Lutz. Kita juga harus menunggu Putri untuk selesai."


"Tenang saja, aku sudah belajar dari ayahku." Zeeta meninggalkan sihir pencuci piring lalu meninggalkan wastafel. Ia memakai celemeknya lagi. "Mungkin aku bisa membuatkan minuman kesukaanmu dari kampung halamanmu, lho, Pangeran."


"Hmmm." Klutzie mengangguk. "Kalau begitu, apa kaubisa buatkan aku...."


......................


"Yaahahahahah..... Siapa sangka seorang Pangeran sangat suka hidangan manis seperti ini!" Zeeta tersenyum lebar.


'Sluuurrpp'


"Apa?! Keberatan?!" Klutzie sedikit merona.


"Katakan saja apapun yang kauingin kumasakkan untukmu. Aku juga ingin kau melakukannya, Siren!"


"A-aku tidak begitu paham makanan Manusia, jadi...." Siren malu-malu kucing.


Zeeta menyeringai nakal.


"A-a-apa-apaan senyuman itu?!" Siren nyumput dibalik bahu kiri Klutzie.


"Apa kaulupa kemampuanku yang kubocorkan pada Luna pagi ini?" Zeeta tidak menghilangkan seringainya. Siren yang mengingat pun segera merona semerah tomat.


"Ka-kau! La-lancang sekali!"


"Oh, ayolah! Kau itu imut! Hidangan seperti pasta bisa kumasak kapanpun kau mau, lho! Asal kautahu, pasta tidak hanya satu jenis, selain itu pasta bisa dimasak dengan berbagai varian rasa. Kau akan menyesal kalau menolaknya!"


"Guuuggghhh.... Berani-beraninya kau menyuap seekor Roh Yggdrasil dengan makana—"


"Hmmm, begitu, ya.... Yah kalau begitu tidak usah, tidak apa-apa, 'kan? Kau juga setuju, Pangeran?"


"Ya. Kau benar." Klutzie menyeruput minumannya lagi.


"Lutz! Kau...! Dasar pengkhianaatt!"


"Terimalah kebaikan Putri. Jangan sungkan atau dia akan sedih."


"Uhm. Kausungguh mengerti, Pangeran. Padahal kita baru beberapa kali bertemu...." Zeeta meladeni akting Klutzie.


"Kuuh.... Baiklah-baiklah! Aku juga ingin dimasaki hidangan lezat olehmu!" Siren mengalah dengan rona merah di pipi dan telinga.


Menang.


Itulah isi kepala Zeeta dan Klutzie.


"Baiklaaah, tunggu sesaat selagi aku memasaknyaaa...." Zeeta bangun dari duduknya di hadapan Klutzie.


Klutzie tersenyum. "Rasa tidak ingin kalahku darinya semakin tinggi.... Siren, ayo berlatih lebih keras lagi!"


Siren ikut tersenyum. "Uhm. Ayo!"


"Lakukan itu setelah kalian pulang, yaaa!" jerit Zeeta. Siren dan Klutzie malu sendiri.

__ADS_1


"Dasar! Beri kami ruang privasi!" pekik Klutzie dan Siren bersamaan.


"Hahahaha! Baik, baik, maafkan aku!"


......................


Waktu telah terbang dua puluh lima menit, Siren dan Klutzie juga telah dijamu oleh Zeeta. Piring dan cangkir kotor dari mereka masih dibiarkan di meja, sementara kedua bangsawan kerajaan itu berwajah serius.


"Kita sudahi omong kosongnya, mari kita mulai ke tujuanku bertemu denganmu, Pangeran," ujar Zeeta.


"Ya. Aku sudah lama menunggunya," jawab Klutzie.


"Sebelum itu, mereka yang diluar pasti bisa mendengar kita, jadi...."


Klutzie bertanda tanya. "Hmm?"


'Klik!'


Zeeta menjentik jemarinya. Ruang kedai itu berubah jadi dimensi yang biasa Zeeta lihat dalam alam bawah sadarnya. Keseluruhan ruang layaknya bintang jatuh tak terbatas berwarna kuning terang dan latar biru, membuat lawan bicara Zeeta terkejut.


"Ka-kau... kaubisa melakukan ini?!" Siren seperti tahu apa yang dilakukan Zeeta.


"Kautahu apa ini, Siren?" tanya Klutzie.


"Y-ya! Ini adalah ruang dimensi yang takkan bisa dimasuki oleh siapapun kecuali pembuat dimensi itu mengizinkannya!


"Ruang dimensi ini menghubungkan antara jiwa si pembuat dan tamunya. Tapi ... ini adalah sihir dimensi tingkat tinggi, yang sangat sulit diwujudkan!"


"Uhm, kau benar, Siren. Tapi, ini bukan kekuatanku. Ini kekuatan milik anting bulan. Yah, menjelaskan itu tidak termasuk dalam inti bahasan kita, jadi kita lewati saja dulu, oke?" Zeeta menyentuh anting bulannya.


"Ba-baiklah. Sepertinya ini juga sangat penting...."


"Oke, Pangeran. Dengarkan aku dan siapkanlah mentalmu. Apa yang akan kaudengar dariku bisa jadi berita baik maupun buruk."


"Glek!" Klutzie menelan liurnya sendiri.


Zeeta pun menceritakan terlebih dahulu kemampuannya yang bisa merasakan pergerakan mana dari jarak yang sangat jauh. Kemudian, hal yang diucapkan setelahnya membuat Klutzie terbelalak sekaligus bertanda tanya. "Kerajaan Nebula yang selama ini kauanggap telah tiada, sebenarnya masih hidup di dalam kerajaan itu sendiri," ujar Zeeta.


"A-apa maksudmu?!" tanya Klutzie, "aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Tiada siapapun di sana! Dan sekarang, mungkin... bangunan-bangunan di sana juga sudah...."


Zeeta tertunduk. Ia pun memberi pertanyaan. "Pangeran, apa kautahu apa itu kerajaan?"


Klutzie semakin mengernyitkan kening.


"Apakah kerajaan adalah bangunan istanamu? Apakah itu adalah kekuatan atau teknologinya?"


"Tenang saja, jangan pikirkan soal waktu. Di sini waktu tidak berjalan, jadi jawablah!"


"A... apa...?" Klutzie tidak habis pikir Zeeta mampu melakukannya. Siren juga tetap bungkam, merasa ini harus dijawab Klutzie sendiri.


"Kau telah memerhatikanku melawan musuh-musuh yang mengincar kerajaan Aurora. Setidaknya, kautahu apa itu kerajaan, 'kan?"


Klutzie tetap tak bisa menjawabnya dan hanya jatuh dalam gemetar meski Zeeta telah memberinya waku untuk berpikir.


"Begitu. Kau tidak tahu....


"Pangeran, apa kautahu tanggung jawabmu sebagai seorang Pangeran kerajaan itu apa?"


Pertanyaan Zeeta memantik ingatan lampau Klutzie menyala kembali di dalam kepalanya.


.


.


.


.


"Dengarkan Ayah, Lutz! Kau adalah lelaki, kau adalah Pangeran, lalu kau juga adalah pewaris nama Nebula pertama yang di masa depan nanti akan meneruskan kerajaan ini!


"Berhentilah menangis dan teguhkanlah pikiranmu!


"Kuberitahu satu kekuatan yang mampu membangkitkan orang sepertimu dan menjadi kuat, jadi dengarkanlah aku!"


"Eeeh... tapi aku takut... Ayahanda...!"


"DIAM!


"Apa ucapanmu pada kami yang selalu bilang akan melampaui Suzy hanyalah omong kosong?!"


"Ta-tapi...."


"Bertekadlah Lutz! Kerajaan ini takkan bisa dilindungi tanpa tekad kuat darimu.


"Bertekadlah yang kuat dan perkuatlah dirimu sendiri! Ketika kau telah bertekad, nanti kau akan tahu sendiri apa tanggung jawabmu sebagai Pangeran!


"Ketika hari itu tiba, apapun yang terjadi janganlah menangis dan tetaplah tuju cahaya kemenangan demi kerajaan!"

__ADS_1


.


.


.


.


"Tanggung jawab seorang Pangeran, kah...." Klutzie tersenyum. "Menurutku, aku bertanggung jawab membawa cahaya kemenangan untuk Nebula. Kemenangan itu tidak hanya terbentuk dari kemenangan perang, tetapi juga dari kebutuhan sehari-hari rakyatku.


"Dan kerajaan ... adalah orang-orang yang tinggal di dalam wilayah kerajaan itu! Tanpa kami, maka Nebula benar-benar.... Run... tuh...?"


Zeeta menyeringai. "Akhirnya kau mengerti petunjukku.... Benar! Kerajaan Nebula masihlah hidup dan kita akan menyelamatkannya!"


"Apa maksudmu menyelamatkannya? Apa Nebula dalam bahaya?"


"Ya. Ancaman ini lebih berbahaya daripada yang pernah Suzy lancarkan pada Aurora beberapa tahun silam."


"Jelaskan padaku!"


"Nebula adalah kerajaan dengan teknologi pesat yang telah menandingi seluruh kerajaan di dunia ini. Mari kita anggap hal itu benar secara utuh.


"Dengan teknologi mutakhir yang dimilikinya, maka Nebula—para peneliti di sana memiliki tujuan utamanya, yaitu memakmurkan rakyat secara merata.


"Namun, manusia tetaplah manusia. Kerakusan mereka jauh berbeda dari makhluk sihir lain atau bahkan hewan sekalipun. Mereka jadi lupa diri hingga suatu hari seorang diantara mereka berkelakuan aneh. Kau pun tahu siapa orang ini."


"Ya, aku tahu. Ketika aku melawannya bersama Siren, aku melihat apa yang terjadi.


"Seekor Phantasmal telah merasuki tubuhnya dan merebut kendali tubuh secara total darinya."


"Tidak. Tidak secara total, Lutz," sanggah Zeeta.


"Eh?"


"Apa yang saat ini terjadi pada Suzy, juga terjadi padamu dengan Siren.


"Perhatikan. Wujudmu ketika menyatu dengan Siren, kaubisa menggunakan beberapa kekuatan miliknya, bukan?


"Hal itu pun terjadi padanya. Karena jika tidak, Suzy tidak perlu menahan diri untuk benar-benar membunuhmu di kerajaan Nebula begitu kau sampai di sana dengan pelayanmu.


"Phantasmal itu juga selalu memerhatikanmu, sama seperti yang Siren lakukan padamu. Dan dia berkeputusan untuk memberimu sebuah tes sebelum kalian datang bersuaka di Aurora, dan tes itu telah gagal memuaskannya."


"Tu-tunggu tunggu tunggu!


"Jadi maksudmu...."


"Biarkan aku bicara dulu, Lutz," sanggah Siren, yang mengernyitkan keningnya. "Bagaimana bisa kau mengetahuinya sampai sedetail itu? Bahkan sebagai Roh Yggdrasil, aku tak bisa merasakan apa yang baru saja kaukatakan tentangnya saat itu, padahal aku selalu ada bersama Lutz.


"Kau tidak berniat menipu kami, 'kan?"


"Tentu saja tidak, Siren. Informasi ini tidak kudapatkan dariku sendiri, melainkan alam yang bicara pada temanku."


"A-apa katamu?!" Siren terkejut. "Alam bicara?!"


"Lebih tepatnya, Hutan Sihir Agung. Tentu saja kautahu itu, 'kan?"


"Si-sialan! Aku tidak memperhitungkan kemungkinan Hutan Sihir Agung telah memiliki seseorang yang akan meneruskan si Elf itu...."


"He-hei... apa yang kalian bicarakan? Kenapa aku merasa hanya aku yang tidak mengerti ini?" tanya Klutzie.


Zeeta dan Siren pun menjelaskan tentang keberadaan Hutan Sihir Agung, Grandtopia, dan para Elf yang tinggal di dalamnya.


"Sungguh, aku tak percaya ini!" seru Klutzie, "begitu banyak rahasia dunia sihir yang tidak kuketahui begitu menakjubkan!"


Zeeta tersenyum, tetapi dia tidak mengizinkannya bertahan lama. "Kabar baik sekaligus buruk untukmu, Pangeran. Kabar baiknya, kau mengetahui rahasia lain tanpa menunggu waktu lama, yaitu 'Roh' tidak hanya seperti Siren dan Luna."


"Huh? Apa maksudmu?"


"Ingatlah cerita yang kusampaikan padamu, Lutz," jawab Siren, "demi menghalangi peperangan terjadi lebih jauh, kami memutuskan untuk memecah diri menjadi Roh.


"Secara umum, Roh memang lebih kuat dari Manusia manapun dan termasuk makhluk sihir yang dapat dibilang selalu netral.


"Sejauh yang kuingat, Roh yang pernah mengunjungi Yggdrasil adalah Undine, Ifrit, dan Zephyr.


"Tak kusangka, begitu aku melihatmu lagi, Zeeta, kau sudah membuatku ingin berteriak untuk menghentikan dirimu semakin menjadi 'monster'."


"Ahahaha...." Zeeta hanya bisa tertawa. "Aku bahkan tak bisa menyangkalnya. "Lalu kabar buruknya, Pangeran, Phantasmal yang ada di dalam tubuh Suzy itu, telah memutuskan untuk membinasakan Nebula."


"Apa?! Lalu... kita harus segera—"


"Tidak. Jangan terburu-buru. Ingatlah, Suzy itu bisa membawa Hollow dan Phantasmal lain ada dibawah kendalinya."


"Apa yang telah kaurencanakan?"


"Pangeran, sebelum aku pulang ke kerajaan, aku sempat melawan Hollow yang berubah secara paksa. Orang yang memaksa perubahan itu bukanlah Suzy, tetapi seorang lelaki yang tidak pernah kutemui sebelumnya.


"Jika... jika instingku benar, maka ada dua prioritas yang harus kita lakukan. Dan salah satu darinya, berisiko nyawamu atau nyawaku yang bisa saja hilang."

__ADS_1


__ADS_2