
"Hai!"
Suara berat yang seakan-akan sesuai dengan penampilan wajah Barghest, benar-benar mengejutkan Scarlet. Niat awalnya yang ingin meredakan kegalauan sambil mengisi perut selagi istirahat makan siang, kacau begitu saja hanya karena kedatangan crush-nya
Tuan Putri yang terkenal galak itu segera merona semerah tomat. Bahkan makanannya hampir saja jatuh ke tanah karena dirinya yang tersentak. "Ka-ka-kau...?! Ke... kenapa kaubisa ada di siniiii?!" ia menjerit, tak peduli ia berada di tengah keramaian.
"Aku membutuhkanmu. Bisakah kita pergi ke tempat yang lebih sepi?" Barghest membisik.
Nalar Scarlet yang masih memeras kuat untuk mengetahui alasan kenapa pria wild di depannya sedang bicara langsung sedekat ini pada wajahnya, secara tidak langsung malah mengabaikan Barghest.
"Tuan Putri...? Anda tidak apa? Wajah Anda merah sekali...." suara warga sekitar yang melihat kejadian itu, akhirnya menyadarkan Scarlet.
"Y-y-ya! Aku tidak apa-apa. Maaf sudah mengganggu aktivitas kalian." Ia berbenah diri dengan membetulkan posisi dan "mewajarkan" raut wajahnya.
"Baiklah kalau begitu." Mereka yang terhenti sesaat hanya karena penasaran dengan yang terjadi pada Tuan Putri, seperti permintaan Yang Mulia, menjalani aktivitas kembali.
"Kenapa kau tiba-tiba ke sini?!" Scarlet menanyakan lagi hal yang sudah dijawab. Hal itu memantik senyum pada Barghest.
"Ayo, ikut aku. Oh, aku akan menunggu kalau kau sedang makan."
"Soal itu jangan dipikirkan!"
Barghest sukar memahami gelagat Scarlet. Gadis itu menyihir makanan di beberapa tusukan di tangannya agar terlepas, kemudian memotongnya jadi potongan kecil, lalu menelannya setelah mengunyah beberapa kali.
"Bwh... bwhahaha!" gelak tawa Barghest tidak membuat senang Scarlet.
"Kwe... kwenapwa kwau twertawa?!"
Wajah lucu Scarlet kala mulutnya penuh oleh makanan, juga keputusannya untuk menelan sekaligus ketimbang makan perlahan, adalah hal yang sangat baru bagi lelaki yang tumbuh di hutan itu.
"Tidak, maafkan aku. Menurutku kau imut sekali!"
"I-imut?!"
'GLEK!'
Scarlet membelakangi Barghest. Ia memegangi wajahnya sendiri. Wajahnya lagi-lagi memerah. "Tidak ada yang pernah memanggilku imut sebelumnya!" gumamnya pelan.
Tiba-tiba saja, gadis yang belum pernah merasakan cinta itu menggertak gigi. "Grrh! Ayolah! Kauingin bicara sesuatu yang penting, 'kan?! Ini bukan waktunya bagimu membuang-buang waktu denganku!" ia menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
Barghest mengerutkan kening. "Aku, sih, tidak menganggapnya begitu."
Jantung Scarlet nyaris copot atas komentar itu. Padahal, dirinya sudah menggertak dan menyiapkan diri untuk lebih serius, pria itu malah meluluhkannya dengan mudah.
"Tapi, kau benar," sambung Barghest, "aku ingin bicara denganmu."
Scarlet melihat wajah Barghest. Ia paham ini bukan waktunya berdegup tak menentu hanya karena kedatangan seorang crush. "Baiklah."
......................
Barghest menggiring Scarlet ke sebuah sungai yang arusnya deras. Ini bukan sungai yang mengalir ke desa Lazuli, bahkan ini jauh dari kerajaan Aurora. Scarlet sendiri sampai bertanya-tanya, mengapa Barghest harus sejauh ini hanya untuk bicara dengannya?
"Pertama-tama," ujar Barghest, "aku harus bilang alasanku mengajakmu jauh ke tempat seperti ini, adalah agar tidak ada yang bisa menyadap pembicaraan kita."
"Menyadap...? Siapa memangnya yang bisa melakukan hal semacam itu?"
"Yah...." Barghest tersenyum. "Nanti kau juga akan tahu. Sekarang, apa yang ingin kubicarakan adalah...."
Barghestpun menceritakan keperluannya dengan Scarlet.
__ADS_1
.
.
.
.
"Begitu...." Scarlet menyilangkan tangannya. "Kautahu? Aku merahasiakan sesuatu padamu dan aku ingin menceritakannya. Tapi, aku tidak yakin apakah ini bisa membuatmu marah atau tidak. Maukah kau mendengarnya?"
"Apa?"
"Sebelumnya, aku meminta maaf padamu. Karena keingintahuanku tentang siapa dirimu, kemarin malam ... Peri bernama Morgan jadi menceritakan sesuatu yang menjadi trauma bagimu."
Barghest tersenyum kecil. "Tidak apa. Sudah menjadi sifat bagi Peri untuk mencari masalah dengan Manusia. Aku tidak keberatan."
"Dia sudah tahu Peri, tetapi dia tidak tahu mereka yang sebenarnya...." Barghest memutuskan untuk diam.
Scarlet kemudian lanjut bertanya. "Kalau begitu, ada satu hal yang sangat mengganjalku dari permintaanmu DAN kisah dari Morgan."
"Hmm?"
"Mengapa kerajaan Gala begitu mengincarmu, jika kau hanyalah anak dari pasangan rakyat biasa? Terlebih, kau memiliki kutukan Naga. Mereka tak memiliki alasan kuat untuk mencarimu hingga ke belantara hutan, mengorbankan nyawa prajuritnya pada bermacam makhluk sihir dan hewan buas yang tidak pernah dilawan mereka sebelumnya."
"Ji-jika dipikirkan lagi ... itu benar...."
"Trauma untukmu adalah kau telah merebut nyawa mereka yang sudah tumbuh bersama dan merawatmu sejak bayi. Dengan kekuatanmu juga, kau merusak sebagian besar hutan kala itu.
"Hal sebesar itu bisa tidak diketahui oleh Aurora ... aku tidak mengerti, tapi....
"Berdasarkan Morgan, setelah kejadian malam itu, kau dijauhi oleh penduduk hutan. Kau memang tidak diusir, tetapi kau jadi sendirian. Kehidupanmu jadi jauh berbeda.
"Baik malam pada saat itu, makhluk hitam yang kausebut ini, serta alasan mengapa kau diincar ... menurutku akan menjadi masalah politik yang sangat merepotkan."
"Politik...? Kenapa jadi sebesar itu? Tujuanku hanyalah—"
"Aku mengerti. Aku sangat mengerti maksudmu. Namun, hal ini melibatkan tiga kerajaan sekaligus.
"Berdasarkan teritori, jika kau melihat makhluk hitam itu ada di hutan dekat kerajaanku, maka seharusnya Aurora-lah yang mengatasinya. Namun, berdasarkan ucapanmu, makhluk itu sedang mengincar Gala. Sedangkan disaat yang sama, orang yang memiliki kutukan sepertimu ada di kerajaan Southern Flare.
"Itu berarti, makhluk hitam itu adalah Hollow yang tercipta tidak hanya dari emosi jahat dari kalian berdua, melainkan juga residu emosi dari Naga itu.
"Jika teoriku benar, proses perubahannya menjadi Hollow belumlah sempurna. Oleh sebab itu kau yang menjadi salah satu target dan saat itu justru berada di dekatnya, gagal dirasakan.
"Dia bergerak hanya berdasarkan ingatan emosi Naganya—ia sangat benci dan ingin membunuh dua keturunan itu, yang masing-masing berada di kerajaan yang berbeda.
"Dan beruntung bagimu, Pria Besar, aku tahu siapa identitas Naga itu."
"Katakan lebih banyak," pinta Barghest yang seketika terbelalak.
"Ini adalah kisah turun-temurun. Ini juga kuketahui bukan dari catatan buku sejarah, namun dari sini." Scarlet menjentik anting bulannya.
"Apa maksudnya itu...?"
Scarlet lalu menceritakan kisah leluhurnya, Tellaura dan Clarissa, juga Naga yang bernama Sephiroth. Meskipun kala itu, Scarlet tidak mengetahui nama Tellaura dan hanya melihat potongan-potongan kejadian yang melibatkan keduanya dengan Sephiroth.
......................
"Lalu ... apa hubungannya sejarah itu dengan Gala? Kenapa aku bisa jadi korbannya Sephiroth?!" Barghest masih sulit menerima kebenarannya.
__ADS_1
"Dunia ini memiliki sepasang Manusia yang dahulu memungkinkan rasnya menaikkan derajat agar bisa setara dengan Raksasa, Peri, dan Naga.
"Keturunan dari mereka lambat laun disebut sebagai keturunan Bulan dan keturunan Matahari.
"Sebagai bentuk penghormatan dan kepercayaan tinggi pada dua Manusia tersebut, orang-orang membangun sebuah kerajaan. Gala untuk keturunan Matahari dan Southern Flare untuk Bulan. Sedangkan untuk Aurora, dipercaya adalah nama dari kekuatan mereka.
"Alasan mengapa kau dan seseorang dari Southern Flare itu terkena kutukan, sebenarnya sederhana. Kalian mewarisi kekuatan dari salah satu keturunan itu."
"Tapi...." Barghest memandangi anting bulan Scarlet. "Bukannya kau juga seorang keturunan Bulan...? Mengapa kau tidak terkena kutukan Sephiroth...?"
"Itu, aku tidak tahu. Oleh sebab itu, aku memiliki saran."
"Apa?"
"Kau akan ikut bersamaku untuk pesta teh!" Scarlet memasang senyum manis nan lebarnya.
"PE-PESTA TEH?! Apa yang kaukatakan disaat aku serius begini?!"
"Hah?!" aura merah Scarlet meledak. "Kauingin menolak saranku?!"
"HAH...?!" Barghest tidak ciut. Ia justru balik menantang. "Apa-apaan kau ini? Jika ini hanya bercandaan, sama sekali tidak lucu!"
"Aku bilang pesta teh, apa kau tidak memahaminya?!"
"Bagaimana bisa aku paham kalau aku tidak tahu apa maksudmu?!"
"Oh." Scarlet tenang kembali. Ia sudah seperti orang aneh saja yang tiba-tiba marah, tiba-tiba santai. "Maaf, aku hanya tak terbiasa ada yang balik menantangku. Ehem."
Kedua alis Barghest berkedut. "Jadi begini dirimu yang biasanya...?" batinnya.
"Pesta teh, adalah pesta yang akan dihadiri oleh banyak bangsawan penting dari tiga kerajaan yang sudah kusebut tadi.
"Dalam pesta teh itu, tujuan utama kita adalah mencari korban kutukan Sephiroth yang lain dan bicara langsung dengan keluarga kerajaan Gala."
"Apa manfaatnya jika kita bicara dengan orang-orang Gala?"
Scarlet mengerutkan dahi dan melirik Barghest aneh. "Apa kau bodoh? Tentu saja untuk mencari tahu fakta yang sebenarnya! Semua yang kau, aku, dan Morgan katakan, hanyalah serpihan-serpihan untuk pelengkap tentang identitasmu yang sebenarnya!
"Jika keluarga kerajaan Gala tahu kau masih hidup dan ternyata mereka memang mengincarmu, itu berarti mereka sedang mencari seseorang yang mewarisi kekuatan Matahari, dengan kata lain DIRIMU. Namun jika sebaliknya, itu berarti ... mereka ingin menyingkirkan semua orang yang memiliki kaitan dengan hal-hal semacam dunia sihir ini.
"Meskipun, aku sangat yakin kemungkinan itu sangatlah kecil."
"Kenapa kaubisa sangat yakin?"
"Sebab Manusia adalah makhluk yang bodoh, Pria Besar. Sangat bodoh hingga tidak ragu untuk mewarisi kutukan berusia ribuan tahun pada penerus-penerusnya...." Scarlet mengatakannya dengan nada yang agak pelan.
Barghest terdiam sesaat sebelum ia bilang, "Kau masih melupakan satu kemungkinan lagi."
"Hmm? Apa memangnya?"
"Semua ini adalah perangkap untuk menjeratku dan rekanku yang lain, untuk dimanipulasi kekuatannya oleh mereka."
"Aku tidak akan membiarkannya!" sontak, Scarlet langsung emosi. Wajahnya juga sangat mencerminkannya, hingga membuat Barghest sendiri terkejut.
"Bahkan jika itu memanglah terjadi ... aku akan menghancurkan mereka! Jangan remehkan aku, Pria Besar, kautahu aku ini kuat, 'kan?!
"Aku takkan membiarkan orang yang pertama dan terakhir membuatku jatuh cinta ... terpisahkan oleh alasan semacam itu!"
Barghest terbelalak. Angin juga menderu kencang menyusul kalimat Scarlet. Tiupan angin yang membawa rambut merah panjang gadis di depannya... tidak disangka-sangka, membuat sang Raja Buas ... merona....
__ADS_1