
Menepati janji yang dikatakannya sebelum berpisah dengan Zeeta, Hitomi pergi ke Hutan Elf bersama Xennaville. Dalam perjalanannya, keduanya merasakan segerombolan Raksasa sedang menuju Seiryuu, oleh karena itu Hitomi segera menciptakan medan penghalang.
Sudah lima belas menit setelah pemasangan medan penghalangnya, pasangan Roh Yggdrasil dan Wadahnya sampai di tujuan. Dan apa yang menunggu mereka adalah Ozy dan Elf yang bersiaga dengan senjatanya di atas pepohonan.
"Berhenti." Ozy menatap serius. Bersamaan dengan dia mengucapkannya, dentuman besar mengguncang tanah sekitar mereka. Pertempuran antara Seiryuu dan Raksasa Vulkan terjadi.
"Ada apa ini?" tanya Xennaville, memunggungi Wadahnya.
"Tidak perlu penjelasan apapun. Kalianlah yang membunuh Jeanne."
"Begitu?" Hitomi memegang pelan bahu Xennaville. Roh Yggdrasil itu segera memundurkan langkah. "Aku hanya menepati janjiku dengan Zeeta. Tidak bertemu dengannya pun tak masalah."
"Ada tempat yang lebih baik yang harus kaulindungi sekarang daripada janjimu dengan Zeeta."
'BLARRR!'
Dentuman sekali lagi terdengar.
"Jarak dari kekaisaranmu sampai hutan ini sangatlah jauh. Lawan mereka pun Surtr. Sebagai Manusia yang ingin membuka Jötunnheim, tentu kau memiliki sedikit informasi tentang siapa-siapa saja diantara kami yang berbahaya, bukan?"
"Itu benar. Semua argumenmu sangatlah benar. Tetapi tidak berarti aku harus ada di tempat yang sama untuk membantu yang membutuhkan. Lagi pula, Seiryuu tidak membutuhkanku, tetapi....
"Yang lebih penting, sebentar lagi Bumi akan semakin hancur."
Beberapa detik setelahnya, Bumi memuntahkan lava, langit pagi menjadi gelap dalam sekejap. Menanggapinya, Ozy mengernyit, tidak seperti para Elf yang panik kala melihat pijar lava raksasa itu, demikian pula Manusia yang ada di dalam hutan.
"Yang perlu diperhatikan dalam pertempuran ini adalah Jormundgand. Aku dan Wadah lainnya harus bisa bertahan hidup sampai ia dikalahkan, tetapi sayangnya, makhluk itu sedang berhadapan dengan Nebula."
......................
Tidak ada tanda-tanda kalau Jormundgand akan menghentikan laju cepatnya. Mata runcing berwarna ungu miliknya itu fokus terhadap istana Nebula a.k.a Vanadust.
__ADS_1
Hugo tidak tinggal diam dan pertama kali yang mulai bersihir. Ia mengangkat tongkatnya, kemudian alam menjawab. Akar-akar dari dalam tanah segera bermunculan. Akar itu perlahan membesar karena sihir sang tetua, untuk mengikat si raksasa ular. Baru saja terikat, Hugo langsung menangis darah, serta mimisan. Menanggapinya, Lloyd tidak tinggal diam, demikian pula dengan rakyat Nebula.
Aura hitam segera menyelimuti Lloyd. Meteor-meteor yang berjatuhan dari lingkaran sihir, ia ambil alih dan arahkan pada Jormundgand. Mengikuti langkah Lloyd, para Nebula ikut menyerang dengan meriam nano. Meriam tersebut menembakkan sesuatu seperti laser yang memiliki partikel-partikel di sekelilingnya.
Asap segera mengepul di area serangan mereka. Setelah asap itu mulai lenyap, mereka bisa melihat apakah semua effort-nya mempan atau tidak. Serangan tersebut bukan tidak mempan, tetapi damage-nya terlalu kecil.
"Apa?!"
"Jangan berhenti menyerang!" Klutzie menjerit. "Jika bisa diserang, maka dia bukanlah kebal!"
Tetapi seketika, dari tubuhnya yang terluka kendati ibarat lecet, terhempaskan asap berwarna kuning. Asap itu tersebar begitu cepat dan menetralkan segala sihir yang ada di sekitarnya, termasuk akar yang mengekang dirinya. Dengan cepat Jormundgand segera mempercepat lajunya.
"SEMUANYA, MENGHINDAR!" demikianlah perintah sang Raja, Eizen Gustav. Rakyat Nebula membubarkan diri dari meriam-meriam yang terpasang di tiap ujung pulau layang ke lingkaran sihir yang berada di tengah-tengah. Ketika mereka sampai, mereka segera berteleportasi ke dekat istana. Namun ada pula yang gagal atau kurang sigap menyelamatkan diri sehingga....
Jormundgand melahap mereka bulat-bulat bersama dengan pulaunya. Moral rakyat segera turun usai melihat seberapa besar terbuka dan tajamnya gigi makhluk itu. Mereka pun tak percaya, meski makhluk itu melata, ia bisa menaikkan badannya seakan menerkam mangsa.
"Mustahil kita bisa mengalahkannya, Pangeran Klutzie!" rakyat mulai putus asa. "Lawan seperti ini harus diserahkan pada putri Aurora! Kita semua sudah pernah melihat kekuatannya, bukan?! Dengan kekuatannya, pasti—"
"Tapi—"
"Yang takut dengan peperangan ini adalah pecundang, namun aku takkan menghentikan kalian. Lihatlah dua Elf itu!"
Hugo dan Lloyd terus berusaha kendati serangan mereka nyaris tak berarti karena asap kuning yang kembali dihempaskan Jormundgand. Rakyat termangu ketika melihat kondisi Hugo, kendati dia sudah berdarah-darah, dia tidak berhenti menyerang.
"Kalian pikir aku tidak akan maju ke baris paling depan?" Klutzie masuk ke mode Spirit Warble-nya lalu melapisi pedang bertuliskan Rune itu dengan sihirnya. Kemudian, dia terbang ke angkasa dan tanpa ketakutan sama sekali, menghampiri Si Raksasa.
Fokus Jormundgand yang sempat disibukkan oleh Hugo dan Lloyd dengan keras kepalanya mereka, kendati serangannya tak membuahkan hasil, berganti ke Klutzie seorang. Ia menggeram, lalu tanpa peringatan, segera menyemburkan api biru.
Dengan pedangnya, Klutzie memutar-mutarnya untuk menghalau api tersebut. Api yang terfokus pada Klutzie seorang itu, mampu ditangkisnya berkat bantuan Rune yang diberikan Jeanne. Api itu melelehkan pulau di bawah Klutzie—tempat dimana Lloyd dan Hugo berpijak. Mereka berinisiatif menghindar sebelum apinya menyentuh pulau tersebut.
"Panasnya bukan main." Klutzie membatin. "Meski aku sudah berbesar cakap, rakyat memang takkan mampu mengatasi hal semacam ini."
__ADS_1
"Apa yang akan kaulakukan? Mundur?" tanya Siren.
Klutzie menggertak gigi. "Tentu saja terus maju!" ia tebas api itu dengan pedangnya, yang sekaligus memberikan serangan berupa sinar. Sinar tersebut membesar cukup signifikan sebelum akhirnya mendarat di mata targetnya.
"GROAARR!!" Jormundgand tampak kesakitan.
"Berhasil! Pangeran Klutzie berhasil menyerangnya!" rakyat segera bersuka cita. "Benih Yggdrasil memang seharusnya begitu!"
Namun, Klutzie sama sekali tidak merasa menambahkan sihir apapun pada serangannya. Keraguan itu segera terjawab tanpa menunggu.
"Kerja bagus sudah menahannya, Manusia!"
Tidak hanya Klutzie yang bisa mendengar suara wanita itu, tetapi juga Hugo dan Lloyd, demikian pula dengan rakyat Nebula.
Mereka mendapati langit yang sebelumnya dihiasi oleh lingkaran sihir bertuliskan Rune, kini hancur dan tergantikan oleh spiral hijau yang perlahan menurunkan kaki-kaki Raksasa.
Rakyat Nebula segera kepanikan dan kaku. Pemandangan ini layaknya sebuah mimpi di siang bolong. Sangat tidak realistis.
Tidak hanya satu atau dua kaki yang turun dari spiral di langit itu, namun puluhan.
"Kurasakan Rune dari Jeanne, kendati kudengar dia sudah mati. Itu berarti, dia membantumu dan melihat semua ini dari Tanah Kematian, bukan?"
Seorang Raksasa wanita berambut hijau rumput dengan mata yang sewarna, berjongkok untuk bicara dengan Klutzie, sementara Raksasa lain yang turun bersamanya mulai menyibukkan Jormundgand. Tinggi mereka serupa dengan Raksasa yang pernah dilihat Klutzie untuk pertama kalinya—Titania.
"Itu benar.... Apa kalian ada di pihak kami?"
"Ya. Tapi...."
Mereka melihat kalau Raksasa yang sebelumnya menyerbu Jormundgand segera terhempas begitu saja dengan ekornya. Untung saja tidak ada yang terpental ke arah Vanadust.
"Kami butuh kekuatanmu dan kami akan membantumu."
__ADS_1
Klutzie segera mengerutkan dahi dan mengeratkan genggamannya pada pedangnya.