Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Mau Tidak Mau


__ADS_3

Mellynda dan Azure baru saja keluar dari tenda mereka untuk melaporkan situasi pada kerajaan dan mendekat menuju desa terbengkalai yang sebelumnya batal dihampiri karena suasananya yang creepy. Namun, hal yang tidak diduga keduanya terjadi tepat setelah mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam area pedesaan yang dibatasi oleh pagar.


Baru satu langkah memasukinya, merekapun menyaksikannya.


Kabut mendadak menghalangi pandangan dengan cepat, dibarengi dengan munculnya puluhan mata-mata besar di sekeliling mereka. Mata itu menyala merah darah—melototi mereka dengan aura kebencian yang mendalam.


Serasa seperti disengat, tubuh mereka tidak bisa melakukan apapun—bahkan untuk bersuara. Panik tentu saja dirasakan setelahnya. Tidak bisa melakukan apapun ditengah kebingungan, ketakutan, juga rasa ingin kabur sejauh mungkin begitu melihat matanya.


Tetapi, tidak hanya mendelik, terdengar juga suara yang bersumber disekitar matanya. Suara menyeramkan yang terdengar melengking. Teramat melengking bahkan sampai memecahkan kaca desa di dekatnya. Begitu mendengar teriakan tersebut, mendadak, bola mata Azure dan Mellynda seperti terbalik ke atas—kehilangan kesadarannya—lalu jatuh tak berdaya.


Disaat yang sama, orang-orang yang satu pasukan dengan mereka, merasakan hilangnya dalam sekejap mana dari dua orang itu.


.


.


.


.


Gerda dan Serina—mereka yang juga sedang bermalam, menjadi tamu di suatu desa dimana sebuah Batu Jiwa pernah dijaga oleh seorang Raksasa bernama Jeanne. Mereka terbelalak begitu saja ditengah jamuan makan malamnya. Bahkan Gerda menjatuhkan gelas yang sedang digenggamnya.


Danny yang masih bertarung dengan L’arc sejak senja—meski dalam kondisi babak belur, menyadari hilangnya mana Azure dan Mellynda. Ia mencengkeram tangannya, juga menggertakkan giginya. “Yang benar saja?!” batinnya.


Sementara itu Jourgan, yang sedang berjalan dituntun oleh Cynthia ke suatu tempat—mendadak berhenti—membuat Cynthia kebingungan, apa yang terjadi padanya.


Colette dan Lloyd yang masih berada di kedalaman gua pun merasakannya. Mereka terpatung tidak hanya karena merasakan hilangnya mana rekan mereka, tetapi juga musuh yang ada di dekatnya.


Kemudian yang terakhir, Mintia, Marcus, dan Novalius yang sedang bersama-sama lari sejauh mungkin dari kejaran ledakan-ledakan, kemudian bersembunyi di balik batu raksasa di tengah padang salju.


“HEI!” seru Marcus, “apa aku hanya panik karena serangan ini, atau aku memang merasa mana Putri Azure dan Mellynda lenyap?!”


“Hah?! Kukira hanya aku?!” tanya Novalius.


“Cih! Disaat seperti ini....” Mintia menggertakkan giginya.


......................


[Kala yang sama, tempat yang berbeda....]


Zeeta sedang membersihkan tubuh sejak seharian terokupasi dengan banyak hal. Mengantar kepergian Crescent Void, kedatangan penyusup dari kekaisaran Seiryuu, dan lain-lain. Air bersuhu empat puluh dua derajat celsius bercampur sabun dengan aroma bunga sedang merilekskan tubuhnya.


Seharusnya seperti itu....


Tetapi hal yang tidak menyenangkan yang terjadi pada kakak dan teman bangsawan pertamanya, pun dirasakannya. Dengan tergesa-gesa, ia segera membilas tubuh, memakai pakaian dengan sihirnya, lalu pergi menemui orang tuanya.


Sesampainya di ruang takhta, ia mendapati telah berkumpulnya bangsawan utama, beserta neneknya dan Albert. Dia juga menyadari kehadiran Illia Lopéz von Ophenlis—ibu dari Mellynda—yang sedang menundukkan kepala, juga mengaitkan lengannya pada sang suami. Hal itu menjelaskan bahwa apa yang tidak ingin dipikirkannya terjadi, justru terjadi.


“Tidak banyak yang bisa kusampaikan. Jiwa dua anak itu telah direnggut oleh Flakka—penduduk Tanah Kematian,” ujar Scarlet, mengakhiri laporannya pada Ratu dan Raja.


Mendengarnya, Zeeta bergetar. “Flakka...?” kedatangannya kemudian disadari oleh mereka yang berada di ruangan. Mereka menatapnya. “Kenapa Batu Jiwa bisa berada di tempat seperti itu...?" sambungnya, "bukankah tiada yang bisa memasuki Tanah Kematian kecuali jiwa-jiwa yang mati, Flakka, dan pengawasnya saja?”

__ADS_1


“Disitulah letak masalahnya, Zee,” balas Scarlet.


“....” Zeeta terdiam, mencengkeram tangannya. “Nek, tak bisakah kita melakukan sesuatu?”


Semua orang di sana paham betul bagaimana perasaan Zeeta. Terlihat dari ekspresinya yang hancur, namun tetap berusaha tegar. Seolah dia telah kehilangan orang yang sangat berharga baginya, tetapi ia berwajah seakan ia baik-baik saja.


“Tidak,” balas Scarlet singkat.


“Khh!” Zeeta begitu mendengarnya langsung memutar badan, hendak berlari menyusul ke tempat dimana Azure dan Mellynda berada.


“Tunggu dulu, dasar Cucu bodoh!” jerit Scarlet, menyilangkan tangannya. “Aku belum selesai bicara. Tenangkanlah pikiranmu atau aku tidak akan melanjutkannya.”


Zeeta langsung mengatur napasnya, lalu memukul-mukul pipinya. Ia siap mendengarkan.


“Kita—terutama manusia—tak bisa melakukan apapun jika berhadapan dengan Tanah Kematian,” kata Scarlet, “tetapi ada ras yang bisa mengunjunginya dengan bayaran tertentu dan kuyakin kalian—termasuk diriku sendiri—sangat tidak ingin berurusan lagi dengan mereka.”


“Ja-jangan-jangan...?” Albert menduga-duga, siapa ras yang dimaksud.


“Ya. Itu benar sekali, Albert.


“Peri.


“Merekalah jalan keluar dan masuk bagi kita.


“Secara nyata, di dunia ini, hanya Peri-lah yang bisa menjadi jalan masuk dan keluar kita menuju Tanah Kematian.”


“Tidak mau berurusan dengan Peri, katamu, Nek?” tanya Zeeta, mengepalkan kedua tangannya. “Aku akan buang harga diriku jika teman dan kakakku sendiri dipertaruhkan. Aku akan menemui mereka.”


“Aku juga ikut. Kaupikir kaubisa remehkan Nenekmu ini? Berurusan dengan Peri memang sangat ogah


kulakukan, tetapi ini demi keluargaku juga.


“Alicia! Seperti itulah!”


Mengerti maksud kalimat akhir dari ibunya, Alicia tersenyum, seraya memerintahkan ketiganya.“Tunggu apa lagi? Segeralah temui mereka!”


Kemudian, ketiganya lantas pergi ke Wilayah Selatan—tepatnya desa Lazuli.


Baru saja mereka pergi, Illia langsung bersuara pada Alicia. "Paduka Ratu, jika Anda berkenan...," ujarnya.


"Tidak perlu kaukatakan dengan mulutmu, Illia. Pergilah ke titik itu bersama Albert dan amankanlah tubuh gadis-gadis itu. Wilayah Timur biar kami yang urus," balas Alicia.


"Terima kasih, Yang Mulia."


......................


Sesampainya Scarlet, Zeeta, dan Porte di desa Lazuli menggunakan teleportasi—perbatasan antara desanya dengan Hutan Peri—mereka sadar bahwa hutannya barangsur-angsur lebat kembali setelah dihabisi oleh Marianna. Tidak membuang-buang waktu lagi, ketiganya mendekatkan diri pada Hutan Peri, dan disambut oleh seekor Peri yang pernah menjalin hubungan dengan Zeeta, yaitu Sylva.


“Zeeta...?” Sylva bertanya-tanya, memastikan siapa yang dilihatnya.


“Selamat malam, Sylva," sapa Zeeta, "kami datang untuk bertamu. Apakah mungkin jika kami bertemu Ratu Feline atau Morgan?”

__ADS_1


“Feline sudah bukan Ratu lagi!” jerit seekor Peri lain berambut merah, yang identitasnya adalah Falmus. “Angkatlah kaki kalian segera dari sini! Bukankah kami adalah musuh kalian?”


“Hanya ada sepuluh Peri di sini...,” ujar Scarlet, “sepertinya Marianna memang sudah membalaskan dendamnya.


“Hei Peri!


“Kita adalah ras yang sudah bertengkar sejak lama. Laaaaama sekali. Bahkan mungkin lebih lama dari usia hidupmu.


“Tak terbesitkah di kepalamu itu bahwa kalian lelah dengan semua ini?


“Biarkan kami bicara saja pada Morgan. Kami tak akan mengusik kalian.”


"Mereka datang bersama Zeeta. Kita sendiri tahu seperti apa Zeeta. Biarkanlah saja, Falmus," sahut Sylva.


“Oh? Kalian punya hubungan dengan Cucuku?” tanya Scarlet.


“Uhm." Zeeta menjawab Scarlet, "Sylva dan Falmus. Mereka pernah membantuku. Meskipun sayangnya, bantuan itu ternyata bagian dari rencana busuk dibalik bunganya Feline....


“Tetapi mereka juga pernah memarahiku demi kebaikanku. Mereka pun memarahiku ketika aku salah.


"Sayang sekali, salah satu dari mereka, Yuuvi, yang ikut dalam kelompok keduanya, tewas di tangan Mary.


"Kupikir, mereka sangatlah berbeda dari Peri yang selalu membuat kita emosi, Nek.”


“Kau... masih mengingatnya?” tanya Sylva.


“Uhm! Karena tanpamu, Sylva, aku takkan bisa selamat dari Rowing tanpamu yang memberitahu guru Ashley. Untuk hal itu, aku sangat berterima kasih!”


Diluar dugaan.


Tidak pernah diduga Sylva sebelumnya bahwa apa yang dirasakannya sekarang adalah sesuatu yang sangat hangat untuknya—yang bahkan belum pernah ia rasakan. Ia tidak tahu. Apa nama perasaan hangat setelah ia mendengar Zeeta ini, ia sama sekali tidak mengetahuinya. Dia juga tidak tahu, kenapa dia merasa senang setelah mendengarnya.


Tanpa sadar ... Sylva menjatuhkan air matanya, dimana hal itupun tidak disadari dirinya sendiri dan mengejutkan semua yang ada di sekitarnya.


Merespon ekspresi itu, Scarlet tersenyum lembut. Juga dengan Porte. Mereka paham. Peri memang makhluk sihir yang teramat usil, iseng, dan senang mengusik makhluk lain, tetapi pada akhirnya, mereka pun memiliki perasaan.


“Sy-Sylva...?! A-apa aku menyinggung perasaanmu?!” Zeeta kepanikan. "A-apa aku mengatakan sesuatu yang sensitif?!"


“Ti-tidak! Aku tidak apa!" sanggah Sylva, “aku akan bilang pada Morgan tentang kalian. Tunggulah.” Sylva kemudian menerbangkan sayapnya masuk ke dalam hutan.


“Hei, brengsek kau Sylva! Kenapa kau yang memutuskan!?” Falmus kemudian mengejar Sylva.


“Sebenarnya ada apa dengan Sylva...? Kenapa dia tiba-tiba menangis?” Zeeta masih bertanya-tanya.


“Haaaahh....” Scarlet menghela napas panjang, melirik pada cucunya. “Wahai Cucuku, kudoakan agar kau menjadi lebih peka.”


“A-apa maksudnya itu, Nek? Dasar....


“Bahkan kak Azure juga mengatakan hal yang sama....”


"Hahaha...." Porte hanya bisa tertawa kecil, sembari menunggu datangnya Morgan.

__ADS_1


__ADS_2