Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Bangsawan, Pelayan, dan Rakyat Jelata


__ADS_3

Usai tiga hari Tellaura mengelilingi ibu kota untuk membeli persediaan desa, diantaranya ada alkohol, kapas, minyak, dan beberapa kebutuhan sehari-hari lainnya, Leon juga beberapa kali ikut menemaninya. Selama perjalanan mereka, hubungan Leon dan Tellaura semakin dekat meskipun hanya seujung jari. Di mata Tellaura, Leon adalah Pangeran yang menyebalkan dan berisik, sementara di mata Leon, Tellaura adalah gadis yang penuh misteri—dimana dirinya merasa harus mengungkapnya demi alasan “keingintahuan”. Disaat-saat menemani Tellaura itu juga, Leon jadi semakin tahu realita dunia—setidaknya bagaimana cara masyarakatnya bekerja.


Ketika berada di tempat penyulingan alkohol, selain mengetahui pengetahuan baru tentang langkah, aroma, serta orang-orang dari penyulingan tersebut, dia juga jadi tahu bahwa alkohol bukanlah barang murah yang bisa dibeli secara merata. Namun, Tellaura yang membeli banyak untuk persediaan, berarti dia bukanlah orang yang miskin, tetapi kenapa dia mengaku seperti itu? Kendati memiliki pertanyaan itu, Leon mengurungkan niat untuk bertanya.


Setelah membeli alkohol langsung dari tempat penyulingannya, Tellaura membawa Leon ke beberapa bar atau kedai yang ada, semata-mata untuk memberi tahunya kalau ada berbagai macam tempat yang menyajikan alkohol dengan caranya masing-masing. Tetapi, saat mereka bertemu toko yang menyajikan alkoholnya dengan cara “dewasa” kendati hari masih terang, Tellaura sangat mencegah Pangeran kerajaan yang sedang belajar itu masuk ke dalamnya.


Saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju toko kapas, Leon akhirnya mengajukan pertanyaan yang sudah menjadi tanda tanyanya cukup lama selama masa belajarnya ini. “Kau baru kali ini ke ibu kota, bukan?”


“Ya, itu benar.”


“Lalu kenapa kaubisa tahu lokasi-lokasi yang sudah kita kunjungi dengan tepat? Apa kau memiliki peta atau semacamnya?”


Tellaura tersenyum sambil menggeleng. “Tidak. Ini adalah sihir.”


“Sihir? Memangnya sihir seperti apa?”


“Akan repot dan butuh waktu jika harus kujelaskan detil, tetapi intinya, mataku ini dapat melihat sesuatu yang disebut mana. Mana-mana itu menuntunku ke mana arah yang ingin kutuju.”


“Hmmm....


“Apa menurutmu aku juga bisa bersihir?”


“Tidak tahu.”


“Huh...? Kenapa kau berlagak seolah tidak peduli? Bukankah kita satu keturunan?”


“Karena aku MEMANG tidak peduli! Adikku saja tidak bersihir.”


“Benarkah? Tapi, kalau begitu... adikmu sekarang sendirian di—“


“Makanya aku tidak bisa membuang banyak waktuku terlalu lama denganmu.”


Leon memejamkan matanya sesaat. “Baiklah. Aku minta maaf.”


“Hah?”


“Setelah toko kapas ini, aku akan pulang. Aku juga akan menyuruh pelayanku Hilma untuk mencarikan penginapan untukmu. Kau masih butuh dua hari lagi di ibu kota, bukan?”


“Fufu. Kau Pangeran yang pengertian juga ternyata. Kuhargai bantuan itu dan kuterima dengan senang hati.”


“Terlalu formal! Sudah kubilang untuk—“


“Aghhh! Iya iya! Terima kasih!”


“Begitu lebih baik.” Leon tersenyum lebar.


Kemudian, setelah membeli beberapa set kasur, bantal, dan guling, dan menatanya serapi mungkin di keretanya, Tellaura mengantar pulang Leon, sementara Hilma—yang sudah siap di depan gerbang istana, gantian naik ke keretanya untuk mengantarkannya ke sebuah penginapan bernama “Neko’s Inn”.


Saat itulah....


.


.


.


.


“Kau sudah tumbuh besar ya, Laura.” Suara Hilma yang mendadak sok kenal dan sok dekat dengannya, segera membuat Tellaura yang baru saja turun dari kursi kusirnya terbelalak.


“Siapa kau?!”


“Tidak usah terkejut begitu. Aku akan mengungkapkan semuanya padamu, sebagai ganti kau mengizinkanku bertamu sebentar.”


“Tsk....” Tellaura mengalihkan pandangannya sesaat. “Baiklah.”


Saat sudah membiarkan Hilma masuk terlebih dahulu ke kamarnya lalu mengunci pintu, mendadak Tellaura mengernyit. Ia segera melompat dan berputar tiga ratus enam puluh derajat di udara, lalu ketika kakinya mendarat di lantai, dengan bantuan sihir angin sebagai pendorong di kakinya, ia bisa segera memojokkan gadis yang ingin menyerangnya—Hilma.


Sebilah pisau terjatuh di lantai, tubuh Hilma dihimpit oleh kuatnya serangan Tellaura. Ia juga mengunci kedua tangan Hilma dengan sihir tanah yang diciptakannya layaknya borgol.


“Betapa ramahnya kau menyambutku seperti ini,” ujar Tellaura, “katakanlah saja siapa kau sebenarnya, sebelum kau menyesali perbuatanmu.”


Namun, bukannya merasa terancam, Hilma justru senang dengan langkah yang diambil Tellaura. Dia bertanya, “Ingatkah kau dengan Matilda?”


Tellaura segera bereaksi. “Apa hubunganmu dengannya?”


“Aku tidak begitu lebih tua darimu, tak bisakah kau menebaknya?”


Mata Hilma mendapati mata Tellaura bersinar merah sesaat. Setelahnya Tellaura memindahkan Hilma yang masih terborgol, melalui kerah yang diangkatnya dengan satu tangan saja. Dia melempar pelayan pribadi sang pangeran yang berambut pendek cokelat dan bermata kuning itu ke kasur. Dia yang memakai gaun panjang senada dengan rambutnya, ketika bagian roknya tersingkap, tak begitu peduli.


Tellaura menciptakan kursi lalu duduk di hadapan Hilma. “Kenapa kau menyerangku?” tanyanya, sambil duduk melipat-kunci kaki.


“Hanya sebuah tes,” balas Hilma pendek. Dia juga sama sekali tidak merasa keberatan dengan sikap Tellaura padanya. Marah pun tidak, malahan dia tersenyum. “Sebagai sesama gadis yang menempuh jalan layaknya berada di neraka, kuucapkan selamat. Akhirnya kau pun dapat mengubah arus hidupmu.”


“Hei.” Tellaura tidak menatap mata Hilma. “Apa aku ... boleh mengunjungi makamnya?”


Hilma sedikit terkesiap saat melihat tetes air mata Tellaura terjatuh. “Aku akan menemanimu.”


“Uhm. Terima kasih.”


.


.


.


.


Tellaura dan Hilma sekarang berada di lantai pertama penginapan untuk makan malam bersama. “Kau yakin berlama-lama seperti ini denganku? Bukankah ini akan membuat ‘Tuan’-mu khawatir?”


Hilma menjawab sambil tersenyum. “’Nyonya’ dan ‘Tuan Besar’ sudah melepas sementara kewajibanku. Kuucapkan terima kasih juga padamu karena sudah banyak mengajarkan ‘Tuan’-ku banyak hal.”


“Aku hanya menuntaskan apa yang dimintanya.”

__ADS_1


“Aku tahu, makanya aku berterima kasih.”


Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya pemilik penginapan, sekaligus yang membawakan makanan untuk mereka, sembari menyajikan makanannya, dia bilang, “Ya ampun, Hilma! Akhirnya kau membawa seorang teman juga untuk makan malam bersama, ya!”


Hilma tersenyum lembut. “Uhm. Dan aku sangat senang!”


Tellaura dibuat terpaku oleh senyum itu. Melihatnya, justru membuat dirinya ikut melelehkan senyuman. “Ternyata kaubisa tersenyum seperti itu.”


“Rahasiakan ini. ‘Tuan’-ku tak pernah tahu.”


“Heeeee....” Tellaura mengangguk-angguk.


“Ayolah, Dik!” seru Wanita Pemilik, “jangan bersikap dekat dengan Hilma saja. Meskipun sudah tua begini, aku pun sering bicara dengannya tentang banyak hal!


“Yap, banyak hal!


“Jadi, jangan sok kaku begitu dan beritahu aku siapa namamu!”


Tellaura paham apa maksud Wanita Pemilik sampai mengulangi kata yang sama dua kali. Sambil berjabat tangan, Tellaura memperkenalkan diri.


“Hilma,” ujar Wanita Pemilik sambil berjalan santai kembali ke dapur, “kuakan dengarkan semuanya darimu nanti dan kau harus tepati itu, jika tidak—“


“A-aku tahu!” seru Hilma. Dia melirik canggung Tellaura.


“Bagaimana caramu keluar dari kerajaan gila itu?” tanya Hilma yang kemudian memilih menikmati makanannya.


“Banyak sekali hal yang sulit dipahami untukku saat itu, tapi....”


“Tapi?”


“Aku lega aku melakukannya meskipun hal yang kulakukan adalah salah.”


“Seseorang pernah bilang padaku kalau ‘di dunia ini orang-orang akan selalu terikat pada hal yang benar atau salah, keadilan atau kejahatan, kebaikan atau keburukan.


“’Namun, apa yang dianggapmu benar, pasti akan dianggap salah oleh orang lain. Apa yang menurutmu kejahatan, adalah keadilan bagi orang lain.


“’Oleh karenanya, yang harus kaulakukan bukanlah memikirkannya terlalu lama hingga membusukkan dirimu sendiri, tetapi menaruh rasa bangga terhadap apa yang telah kaulakukan, agar saat kau mati nanti, kau tak memiliki penyesalan.’”


Hilma termangu mendengarnya, tetapi segera tersenyum. “Hebat juga kau mengingat ucapan orang lain selengkap itu.”


“Dia adalah orang yang membantuku dan adikku pulang.”


“Oh....


“Agak gila juga, ya.


“Jika aku sudah membunuh seseorang yang berharga bagi orang lain, tapi aku menaruh rasa bangga terhadapnya, aku merasa bisa menjadi psikopat dengan mudah.”


“Tapi, kau tidak menyesalinya, ‘kan?”


“Bagaimana bisa aku menyesalinya saat yang kulakukan itu membuatku terbebas seperti ini?”


“Maka orang itu tidaklah salah dengan kata-katanya.”


.


.


.


.


Makanan dan minuman di meja sudah habis, namun pembicaraan antara pelayan pribadinya seorang pangeran dan seorang rakyat jelata belumlah selesai. Mereka bicara di penginapan yang sudah mulai sepi. Sementara itu, Wanita Pemilik penginapan tetap menjaga di meja resepsionis, sambil memerhatikan keduanya dengan tatapan serius.


“Flare sedang dalam masa perang saudara dan akulah penyebabnya.” Hilma mengatakannya dengan begitu tenang. “Sudah saatnya negeri itu berubah total.”


“Kau penyebabnya?” Tellaura mencoba menyambungkan satu per satu rentetan kejadian hari ini. Dia juga melirik Wanita Pemilik yang sedang menatap mereka. “Ah... seperti itu.... Kau benar-benar rubah yang licik.” Dia tersenyum kecut.


“Hahaha, aku lega kau orangnya cepat mengerti! Jujur saja saat melihatmu dari dekat setelah mengantarkan makanan untukmu, aku mengira kau adalah orang yang bodoh.”


‘BRAK!’


Tellaura menggebrak meja. “Jadi benar kau yang membuat semuanya?!”


“I-iya, apa kau tidak suka?”


“IKUT DENGANKU PULANG KE DESA!”


“E-eh...?”


“Pokoknya harus ikut!”


“Ta-tapi ista—“


“Kau sudah diizinkan Raja dan Ratu!”


“Ba-baiklah....”


Tengah malamnya....


Tellaura duduk dan menekuk kaki kanannya di jendela kamar sambil memandangi bulan. “Satu demi satu kejadian baik datang padaku. Entah ini pertanda atau bukan, aku merasa harus segera pulang.”


......................


Pada pagi ketiga Tellaura di ibu kota, kereta kuda yang dibawanya sudah penuh. Dia juga bersiap untuk pulang di jalan umum depan Neko’s Inn. “Fuuuh~” ia menyeka keringatnya, lalu mengikat rambut merah sepunggungnya dengan ikat rambut hitam. Dia kemudian menyeka keringat di leher dan tengkuknya. “Andai aku bisa menggunakan sihir di sini, tidak perlu repot-repot hingga membutuhkan waktu empat jam perjalanan.”


“Aku bisa mengantarmu ke wilayah yang sepi penduduk, lho.” Suara Hilma terdengar dari belakangnya. Gadis itu menghampirinya.


“Hilma!” Tellaura amat senang dan menyambut kedatangan Hilma, tetapi.... “Geh, Leon? Kenapa kau juga di sini?”


“Ada apa dengan reaksimu itu?!” keluh Leon, “bukankah kita ini teman baik sejak tiga hari yang lalu?”


“Haaaahh~” Tellaura menghela napas panjang. Sambil bertolak pinggang, dia bertanya, “kenapa orang sepertinya ikut? Aku tidak ingat mengundang orang penting sepertinya ke desa pelosokku.”

__ADS_1


“Maaf, karena kupikir ini akan mena—


“Ehem.


“Karena aku sudah bercerita pada Tuanku, aku minta maaf padamu. Tapi ini sudah merupakan kewajibanku karena beliau bersikeras.”


Mendengar penjelasan Hilma, Tellaura menyilangkan tangannya. “Leon, Hilma, mendekatlah.”


“Hmm? Ada apa, temanku?” tanya Leon.


“Apa ada yang ingin kaubisiki?”


Saat keduanya sudah mendekat.... “Nakal!” Tellaura menjentik kening keduanya hingga meninggalkan bekas merah.


“A-aduhh!” erang keduanya bersamaan.


“Aku takkan mengomeli kalian karena hanya akan membuang tenagaku saja, tapi itu sudah mewakilinya. Ayo naiklah.” Tellaura segera menuju kursi kusirnya.


“Fufu.” Hilma tertawa kecil, yang tentu saja didengar oleh Leon.


“Hilma, kau baru saja....”


“Ah! I-ini....”


“Apa kau sudah kenal dengan Laura cukup lama?”


“Ti-tidak, baru kemarin malam saja....”


Leon tersenyum lalu menepuk pelan bahu kiri pelayannya. “Akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum. Sejak kau menjadi pelayan pribadiku, aku sampai mengira kau tidak memiliki emosi.


“Syukurlah.” Leon melempar senyuman manis nan tampannya.


Tak kuasa melihat senyum itu, Hilma segera mengalihkan pandangan. “Tentu saja aku memiliki emosi, Yang Mu—maksudku, Tuan.”


“Hei! Ayolah kalian berdua, jangan berlama-lama!” jerit Tellaura.


“Ba-baiiik!” Hilma segera menyusul ke arah kusir, sementara Leon mempelajari hal berharga dari pelayannya yang sudah melayaninya selama hampir puluhan tahun itu.


.


.


.


.


Hilma yang duduk di sebelah kanan Tellaura menunjukkan arah yang harus diambil Tellaura, agar bisa membantunya memakai sihir. Ia menuntun mereka ke sebuah gang dan berakhir pada jalan buntu. “Di sini takkan ada orang yang lewat.”


“Tentu saja, karena ini jalan buntu,” balas Tellaura.


“Bu-bukan begitu maksudku....”


“Ingat ya kalian berdua, di dunia ini, hanya akulah manusia yang bisa bersihir. Tolong rahasiakan ini dan bila kudapati kalian mengkhianatiku....”


Leon yang mengapit Tellaura di sebelah kirinya, merasakan untuk kedua kali ancaman mengerikan dari tatapan mata gadis berambut merah itu. Sementara Hilma, ia tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Tellaura. “Kaubisa percaya dengan kami. Iya, ‘kan, Tuan?”


Leon tersenyum. “Hilma benar, Laura.”


Tellaura juga jadi ikut tersenyum mendengarnya. “Baiklah. Bersiaplah untuk terkejut.”


Ini adalah pertama kalinya Hilma dan Leon melihat sihir. Mereka tak sabar dan keduanya merasakan debar yang cepat dari jantung masing-masing. Rasa debar itu semakin hebat tatkala mereka melihat rambut yang diikat Tellaura melawan gravitasi, serta sebuah lingkaran sihir dari bawah kuda dan keretanya.


‘SCHWIP!’


Ketika Leon dan Hilma mengedipkan mata, tiba-tiba di depan mereka bukanlah jalan buntu, tetapi jalanan yang sekelilingnya masihlah hutan. Jalan itu mengarahkan mereka ke sebuah desa yang ... tampak baik-baik saja, bersih, dan jauh dari kata “miskin”, seperti yang sudah pernah dikatakan Tellaura.


“Ta-da!


“Barusan adalah sihir teleportasi.


“Kita berpindah tempat secara instan!”


Leon merona merah karena kegembiraan yang dirasakannya. Dagunya pun ikut menganga.


Dilain sisi, Hilma, ia menatapi Tellaura dengan tatapan tak percaya, hingga membuatnya tidak nyaman.


“A-ada apa dengan tatapanmu itu?” tanya Tellaura.


“Pangeran!” jerit Hilma.


“Ada apa Hilma? Musuhkah?”


“Bukan.


“Bisakah kupercayakan kereta kudanya padamu sebentar? Aku ingin bicara empat mata dengannya.”


Tellaura segera mengerutkan dahi mendengarnya. “Ada apa sebenarnya…?” batinnya.


.


.


.


.


Saat sudah berada cukup jauh dari kereta kuda, Hilma langsung mengatakan apa keperluannya. “Aku langsung pada intinya.


“Yang mengajarimu sihir, apa itu benar seekor Peri?”


Tellaura tak menyangka akan mendengar “Peri” disebut oleh Hilma. “Jika iya, kenapa?”


“Gawat....” Hilma menggigit kuku jempol kanannya. “Kerajaan Flare memiliki kisah turun temurun yang telah diketahui seluruh lapisan masyarakatnya kalau Peri itu adalah musuh manusia!”

__ADS_1


__ADS_2