
[Ini terjadi ketika jiwa Mellynda dan Azure baru saja diambil oleh sesama Aurora, Belle Vianna de Aurora....]
Seperti hanya baru mengedipkan mata satu kali saja, kedua gadis yang berteman itu, sadar bahwa mereka tidak lagi berada di dunia yang dikenalnya. Sekitaran mereka adalah kabut yang menghalangi penglihatan, serta terdapat siluet dahan-dahan kering yang mengganggu keberanian Mellynda.
Si Gadis Pirang Bermata Hijau itu terus mendekap erat lengan Gadis Berambut Hitam-Biru, yang lebih tua setahun darinya.
“Hei,” panggil gadis yang lebih tua satu tahun, Azure.
“Iya?” tanya gadis pirang, Mellynda.
“Kautahu kita sudah mati, ‘kan?”
“Yah, dilihat dari tubuh kita yang tembus pandang ini, aku sendiri pun paham.”
“LALU KENAPA?!”
“UWAH!” Mellynda sampai tersungkur. “Kenapa kenapa kenapa?! Kenapa berteriak?” ia meringkuk.
“Hah.... Tak bisakah kau tenang? Ini semua hanya kabut dan kumpulan dahan kering!”
“Apa boleh buat, ‘kan?!" Mellynda balas membentak, dengan titik air mata. "Semuanya terjadi tiba-tiba! Begitu kita mendengar teriakan melengking di desa mati sebelumnya itu, tahu-tahu kita sudah jadi tembus pandang begini! Semua hal jadi terasa menakutkan, termasuk kau!”
“Agggghhh!” Azure mengacak-acak rambut panjangnya. “Disaat Zeeta dan dunia sedang terdesak... kita malah mati duluan. Ini sangat konyol!”
Tatkala Mellynda dan Azure meratapi nasib, siluet seorang berambut perak panjang, bermata merah darah, menghampiri mereka, disertai ucapan, “Jaaangan terlalu cepat menyimpulkan.”
Azure dan Mellynda langsung menjauh dan bersiaga.
“Hei heeiiii, tidak usah terlalu waspada begitu. Ingatlah juga, kalian ini sudah mati, jadi tidak ada gunanya melawan. Iiihihihihi.”
Saat sepasang teman itu mendongak, mereka melihat gigi-gigi tajam dari si pemilik suara, juga warna rambut. Tidak terlewat pula, kalung berbentuk bulan yang tampak jelas sekali.
“Siapa kau...?” tanya Azure, “kenapa emblem Aurora bisa ada padamu?” dia mengernyit.
“Kenapa...?” Si Gadis tersenyum—menunjukkan gigi-gigi tajamnya. “Apa kau ini bodoh? Tentu saja karena AKU PUN seorang Aurora.”
“Apa...?” keduanya terkejut.
“Begini... aku mengambil nyawa kalian ... hanya untuk melakukan hal sederhana. Apa kalian ingin tahu?”
Keduanya terdiam, tapi tetap menatap tajam Si Gadis.
“Aku ingin memancing rekan Aurora-ku itu ke sini. Selama ini ... aku telah mengamatinya. Bagaimana dia hidup, berteman, belajar, dan mengalahkan musuh-musuhnya.
"Aaahn... sangat bagus sekali!" napas Si Gadis tiba-tiba jadi berat, tapi kemudian.... “Dia ....” Si Gadis menundukkan kepala. Ia juga mengepalkan erat kedua tangan. “Dia SANGAT mengganggu! Dia juga sangat berkebalikan denganku, padahal kami SAMA-SAMA seorang Aurora!”
‘BHWAMM!’
Kabut tebal yang menutupi pemandangan, seketika tersapu dengan jarak hingga lima ratus meter dari posisi Si Gadis berdiri. Rambut Mellynda dan Azure juga terhempas dan memaksa mereka melindungi mata dari debu dengan salah satu lengannya.
“Apa-apaan perasaan ini...?! Rasanya aku ingin kabur sejauh mungkin...,” batin Azure, “hah? Apa yang kupikirkan barusan? Tidak seperti aku saja!”
__ADS_1
“Dia juga seorang Aurora...?” batin Mellynda.
“Ah, maaf.” Si Gadis dapat kembali menahan emosinya. “Perkenalkan dulu, namaku Belle Vianna de Aurora.” Dia menyodorkan tangan kirinya.
Mellynda membantu Azure bangun. Sayangnya mereka tidak menyambut tangan yang mengisyaratkan ingin berjabat tangan itu.
Tanah kering yang sudah pecah-pecah itu—di sekitar Belle berdiri—membeku.
Mellynda dan Azure yang menyadarinya, langsung melangkah mundur. “Apa yang ingin kaulakukan pada Zeeta...?” tanya Azure.
Tanah beku itu kemudian kembali normal. Belle menjawab, “Bukan hal besar. Hanya untuk membunuhnya.”
.
.
.
.
“HAAH?!
"BUKAN HAL BESAR, katamu?!”
Azure menjerit kencang. Disaat yang sama, Mellynda berusaha menahan Azure dengan terus mencengkeram pergelangan kirinya. Sambil tetap menahannya, Mellynda ganti bertanya, “Kenapa ... kauingin membunuh ... Zeeta?”
“Hmm. Ikut aku.” Belle berjalan melewati Azure dan Mellynda dengan santainya. “Aku akan menunjukkan sesuatu.”
......................
Saat sudah sampai di tujuan—yaitu sebuah lapangan kering dengan beberapa kolam, Belle memunculkan sebuah tongkat, kemudian menuju salah satu kolam yang airnya berwarna jingga-kecokelatan.
“Lihatlah ini.” Belle menyentuh dengan pelan air kolam dengan ujung tongkatnya. Setelah diangkat, tetesan air dari tongkatnya itu kembali ke kolam, membentuk ombak kecil, yang segera mengubah warna jingga-kecokelatan tadi jadi sebuah pemandangan.
“I-itu...?!” keduanya terkejut dengan apa yang bisa dilihat dari kolam tersebut.
Kolam itu menunjukkan pemandangan yang sama sekali tidak diduga—yaitu sebuah dunia dimana hanya ada para Naga di dalamnya.
“Ini adalah Drékaheim, sebuah dunia Naga yang terpisah dari dunia ini.” Belle menjelaskan.
Yang bisa dilihat dari kolam tersebut adalah langit jingga—mirip seperti petang. Di bawah langit jingga itu, ada ratusan ... mungkin bahkan hingga ribuan kelompok-kelompok Naga dari ukuran kecil hingga melebihi gunung yang berkumpul di sebuah lembah.
Ada berbagai macam Naga yang tertampilkan di kolamnya. Ada yang bersisik hitam, merah, ada juga yang perak bercampur biru. Yang paling mencolok—Naga dengan ukuran melebihi gunung—dengan jumlah tiga ekor, yang memiliki warna merah, hitam, dan biru.
“Dunia para Naga...?” Mellynda bertanya-tanya. “Bu-bukankah Naga adalah makhluk legendaris yang keberadaannya sangat jarang?”
“Bila yang kaumaksud adalah seperti Elbrecht atau Myra, jawabanku adalah....
"Untuk sekarang, iya, tapi ... mereka bukanlah apa-apanya dibandingkan Naga-Naga ini.”
Belle menatap kolam berpemandangan Drékaheim.
__ADS_1
“Kulihat,” tambah Azure, “mereka dalam kelompok yang sangat besar. Apa yang sebenarnya mereka lakukan?”
“Hmmm.... Dengan pengetahuan yang kalian miliki sekarang, anggap saja sebuah balas dendam.”
“Pada Zeeta, sebagai target?”
“Yah, siapa lagi keturunan Aurora yang telah dilihat oleh Jormungand, saat sedang memakai Catastrophe Seal?”
“Jor ... mun?” Mellynda terbata-bata, tak bisa menyebutnya dengan benar .
“Jor-mun-gand!” tegas Azure, “lalu, siapa Jormungand ini?”
“Ah.
“Dia adalah Raksasa yang sangat-sangat ... terrramat sangat membenci Manusia—apalagi Aurora. Sederhananya, dia melihat rekan Aurora-ku sudah bisa memakai Catastrophe Seal secara utuh, maka sama saja dengan pernyataan perang baginya.”
“Hah? Kenapa?”
Belle menyeringai. “Haruskah kusebut secara eksplisit, oh Kakak Azure yang sangat berharga bagi rekan Aurora-ku? Dengan pengalamanmu bersama Lucy... tidak... Mary... seharusnya kaubisa menebaknya.”
Azure terdiam sesaat, lalu bisa menjawabnya. “Aku mengerti. Tapi, jawablah satu hal ini. Kenapa kau memutuskan ingin membunuh Zeeta? Apa itu akan membuat masalah ini berhenti?”
“Tidak tahu dan aku tidak peduli.”
“Apa sebenarnya maumu, sialan?!”
“Tidak usah kujelaskan lagi, keberadaan rekanku itu terlalu membahayakan dunia. Hanya dengan dia hidup di dunia ini saja, dia seringkali mengancam keselamatan dunia. Andaikan dia tidak berhasil mengalahkan leluhurnya sendiri, apa kautahu seberapa banyak jiwa yang akan melayang karena keinginan balas dendamnya?”
“Tapi itu tidak menjadikanmu berhak untuk membunuhnya!” jerit Mellynda.
Belle mengernyit, tapi kemudian disusul oleh gelak tawa. “Ahahahahaha.... Ihhihihihiii....
“HAK?
“Tentu saja ada!
“Aku adalah Penjaga Tanah Kematian. Para leluhurku selalu mengawasi tiga dunia dalam kesunyian dan kehampaan dunia para orang mati. Sejak tiga ribu tahun yang lalu, Galdurheim—dunia yang kita tinggali ini—telah mengalami banyak perubahan. Sementara Drékaheim dan Jötunnheim—dunia para Raksasa—sama sekali tidak. Tahu kenapa?"
"...." Keduanya termangu
Menanggapi keheningan itu, Belle tersenyum. “Karena mereka nyaris abadi. Dua dunia itu masih memegang kuat anggapan bahwa mereka lebih agung dari Manusia dan ras lain, kendati Yggdrasil memihak Manusia sekalipun.
“Sebagai perbandingan sederhana agar kalian yang bodoh ini bisa paham... hanya melawan Hollow saja
sudah susah payah, kalian takkan mampu melawan Raksasa, apalagi Naga.
“Kalian ingin mengandalkan rekan Aurora-ku? GILA ITU ADA BATASNYA!
“Oleh karena itulah, sebagai kewajibanku yang menjaga keseimbangan tiga dunia ini, aku harus
membunuh Zeeta!”
__ADS_1