
Gala.... Adalah nama manusia pertama yang bisa memakai sihir. Kekuatannya yang bangkit di bawah sinar bulan purnama, segera memutar-balikkan dunianya yang selama ini diinjak-injak. Pembalasannya kepada banyak makhluk sihir setelah pembantaian kelompoknya—termasuk anaknya sendiri—bahkan mampu menggugurkan keangkuhan ras paling kuat, Naga dan Raksasa. Dan dalang dibalik semua kejadian memilukan untuk Gala tersebut, adalah Ratu Peri selama tiga ribu tahun, Feline, yang kini telah menerima karma pahitnya.
Kemudian, mengikuti sejarah tersebut, ada seorang pria bernama Galkrie. Dia adalah seorang penjaga Tanah Kematian yang ditemui Zeeta di Fyrriheim, sekaligus pria yang mengaku bahwa dirinya adalah keturunan Gala. Lantas, jika Fyrriheim adalah dunia masa lampau ketika Yggdrasil masih eksis—dengan kata lain sejarah itu sendiri—berarti, gadis di hadapan Zeeta saat ini juga benar-benar ... seseorang yang sama sepertinya.
“Lalu kenapa...? Kenapa rasanya sangat berbeda sekali?” Zeeta yang tersungkur di tanah bergetar melihat Gadis Penjaga Tanah Kematian.
“Hihihi....” Si Gadis terkekeh. “Iiiihihihi.... Duh, tidak usah begitu takut. Aku ini manusia, sama sepertimu.”
“Lalu kenapa...? Kenapa aku tidak bisa merasakan mana darimu?” tanya Zeeta.
“Hmm. Aku tahu kaupunya banyak pertanyaan, tapi ... jawablah dulu pertanyaanku, rekan Auroraku.”
Zeeta terbelalak. Raut wajah Si Gadis Penjaga Tanah Kematian berubah total.
“KENAPA KAUBISA BERSAMA PERI BANGSAT ITU?
“KENAPA KUPU-KUPU JIWA JUGA YANG MENUNTUNMU KE SINI?!”
Bersama dengan intonasi Si Gadis yang ditinggikan, mana teramat besar langsung membumbung tinggi—seolah bom atom yang meledak. Gelagatnya yang juga siap “menerkam” Zeeta dengan gigi-gigi runcingnya kapan saja, menambah ketakutannya.
“Ya ampun.” Feline yang sedaritadi duduk di bahu kanan Zeeta sambil berpegangan pada rambut Zeeta, akhirnya berdiri. “Tidakkah pion-pionmu memberitahukannya padamu? Aku dan dia sudah menukarkan jiwa kami dengan dua gadis yang sembarangan kaurebut.”
Alis Si Gadis berkedut. “Hah...?” mana yang meledak darinya pun juga perlahan menciut.
“Tambahan,” sambung Feline, “rekan Auroramu ini sangatlah aneh. Selagi aliran waktu di sini berbeda, aku tidak keberatan jika harus meninggalkan kalian.”
“Tu-tunggu dulu!” seru Zeeta, “jangan bilang kau berniat kabur?!”
“Tentu saja tidak, dasar bodoh!” Feline menampar Zeeta sekali lagi dengan tangan mungilnya. “Sudah kubilang barusan jika kita sudah menukar jiwa, ‘kan? Tiada gunanya juga bila aku kabur!”
“Oh. Iya juga. Hehehe. Terima kasih, Feline. Kau membuatku kembali tenang.” Zeeta yang berseri-seri membuat Si Gadis terheran-heran.
“Haaah.... Pokoknya, tuntaskanlah apapun yang kalian inginkan, aku akan mencari mereka berdua.”
“Eh?” Zeeta dibuat bingung. “Kenapa harus dicari? Bukankah penjaganya ada di sini?”
“Tidak sepertimu, dia terlihat sangatlah membenciku. Bahkan jika itu permintaanmu sebagai sesama Aurora, dia takkan bersedia. Iya, ‘kan?”
Si Gadis menyilangkan tangan. “Cuih!” ia meludahi Feline—yang tentu saja juga mengenai Zeeta.
“Ih!” Zeeta terkejut, juga memasang wajah jijik.
__ADS_1
“Keparat...!” Feline naik pitam.
“Takkan kubiarkan ... kalian seenaknya di Tanah Kematian!” seru Si Gadis, “Rekan Auroraku! Kutantang dirimu satu lawan satu denganku!
“Jika kau mampu menang, aku akan menurutiii ... semua maumu! Bahkan jika itu mengembalikan jiwa kalian dan dua gadis mainanku!”
Zeeta tersentak saat Si Gadis menyebut “mainan”. “Feline…,” ujarnya. Ia tertunduk. “Sepertinya aku memang dirugikan di tempat ini, tapi....”
“Tentu saja. Tempat ini menghalau segala kehidupan. Kau takkan bisa menggunakan mana alam. Hanya dengan mana darimu sendiri sa—“
“Aku akan membuatnya menunduk minta maaf!” Zeeta mengepal tangan.
Merasa tak ada lagi yang harus dikatakannya, Feline mengangguk. Setelah itu dia dibawa Zeeta pergi menjauh dari lokasi.
[Beberapa saat kemudian....]
“Sebelum kuterima tantanganmu,” ujar Zeeta, yang menatap Si Gadis serius. “Katakanlah namamu.”
Si Gadis yang tak kunjung mengurungkan seringainya kemudian menjawab, “Belle Vianna de Aurora. Kau bisa ... memanggilku Belle.”
“Oh,” balas Zeeta, “namaku Zeeta.”
“Asal kautahu,” kata Zeeta, “aku diberitahu oleh seekor Roh yang bernaung di anting ini setelah tak bisa membaca aliran mana darimu.” Zeeta menjentik anting bulannya. “Katanya, di sini, aku mustahil menang darimu. Feline juga bilang hal yang sama. Tapi ... jangan pikir aku tidak tahu alasannya, serta menemui jalan buntu untuk menghadapimu.
“Kendati dirimu mengaku sebagai manusia, tetapi sebagai penjaga tanah ini, kau dapat dikategorikan berbeda dengan manusia pada umumnya.
“Singkatnya, kau adalah monster.”
Belle terganggu dengan sebutan itu. Alisnya sekali lagi berkedut.
“Jangan salah paham. Aku pun seorang monster. Aku sendiri terkadang takut dengan diriku sendiri—dan perasaan ini tak pernah berubah sejak aku kecil.
“Tujuanku, Feline, Tuan Porte, serta nenekku Scarlet, hanyalah untuk mengembalikan jiwa-jiwa yang kaurebut pada tubuhnya masing-masing. Namun, karena kau telah mengejek mereka, aku takkan tinggal diam. Aku tahu ini melenceng jauh dari tujuan utama kami, tapi....
“Mainan?
“Kausebut Melly dan kak Azure mainan, bukan, Belle?”
“Percuma kau mengancamku, Zeeta! Apapun yang kau—“
“Dahulu, saat aku bertemu dengan kakek Galkrie, kekuatanku tak bisa kugunakan sebab sirkuit sihirku rusak parah. Namun, Roh Kuno Ifrit yang kebetulan telah dipercayakan kepadaku ikut andil atas kenapa aku bisa ada di sini di hadapanmu.”
__ADS_1
“I-Ifrit?!”
“Kuperingatkan. Akan kuterima bantuan darinya lagi untuk saat ini dan ini akan sangat destruktif.” Anting bulan Zeeta bersinar merah.
Belle tak habis pikir. Alisnya lagi-lagi berkedut. “Apa...? Apa yang sebenarnya dipikirkan Zeeta? Ifrit? Benarkah Roh Kuno api itu benar-benar telah memihaknya? Tetapi jika begitu, kalau dia benar-benar menerima kekuatan Ifrit, tubuhnya—“
Belle mendadak merasa dipelototi oleh sesuatu yang mengerikan di depannya. Tidak. Itu bukanlah Zeeta, melainkan...
Sentilan tangan kanan dilakukan Zeeta.
‘FWUISH!’
Bola api melesat dari jarinya dengan kecepatan tinggi menuju Belle.
‘BWHAAMMM!’
Keringat dingin langsung bercucuran di sekujur tubuh Belle. Ia juga terbelalak.
Berubah.
Penampilan Zeeta benar-benar berubah total.
“Ratu Iblis” mungkin adalah sebutan yang tepat untuk penampilannya yang sekarang. Dua tanduk banteng
yang meliuk—seakan menjadi bagian dari kepala Zeeta. Sama seperti ketika Ifrit mengambil alih tubuhnya, ia sedikit melayang di atas tanah dengan kaki yang dirapatkan, kedua tangan disetengah-regangkan. Tanah tepat di bawah kakinya itu juga tampak terbakar. Kuku-kukunya pun memanjang.
Rambut peraknya pun berubah merah api. Percikan-percikan api juga tidak kunjung berhenti dari sekitar tubuhnya. Senada dengan rambutnya, mata biru langitnya juga sama.
“Maaf jika tadi membuatmu terkejut, Belle,” ujar Zeeta, “itu adalah salam kecil dari Ifrit. Oh...?” Zeeta menyeringai. “Ada apa, Belle? Bukankah kita sama-sama seorang ... Aurora?”
“Ghhhh…!” Benar-benar diremehkan, Belle langsung naik pitam. “Aku adalah Penjaga Tanah Kematian! Kau benar-benar ... melawan orang yang salah, Zeeta!”
‘ZWOOOOMMMM!!’
Aura hitam kekelabuan meledak dari dalam tubuh Belle. Dan dari ledakan itu, Zeeta mendadak merasa kekuatannya direnggut. “A... apa...?” ia bertanya-tanya.
“Jangan sekali-kali kau berani menantang kematian, Zeeta!
“Kau yang terus dikelilingi kehidupan, takkan mengerti betapa menakutkannya kematian dan tanah tanpa kehangatan ini!
“Kau yang telah meremehkanku ... akan kupastikan kau menyesalinya!”
__ADS_1