Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Burung yang Tersangkar dan Burung yang Terburu


__ADS_3

Di salah satu bagian istana Aurora, di dalam sebuah ruangan, Tellaura terbaring dalam posisi masih tidak sadarkan diri. Seorang pelayan gadis masuk membawakan makanan seperti roti isi selai dan segelas susu. “Terima kasih sudah membantuku, Hilma,” ujar lelaki berambut pirang dan beranting bulan, Leon Aurora IX, yang menerima nampan makanan dan minuman tersebut dari tengah pintu.


“Bukan masalah besar, Yang Mulia,” balas Si Pelayan, Hilma. “Tapi, apa Anda yakin? Sekarang sudah tengah hari, Anda ingin memberikan tamu pribadi Ratu makanan seperti ini? Tidakkah lebih pantas jika aku membuatkannya makanan ringan dan teh?”


Leon tersenyum. “Mengamati orang adalah hobiku. Dirimu yang merupakan pelayan pribadi sejak aku sepuluh tahun, seharusnya sudah tahu. Menilai gadis itu belum makan dari pagi cukup mudah bagiku. Bila dia keberatan nanti, aku akan memanggilmu.


“Biarkan aku berdua dengannya, ada hal yang harus kupastikan padanya.”


“Aku mengerti. Kumohon berhati-hatilah Yang Mulia.”


“Ya. Terima kasih.”


Begitu Hilma mundur beberapa langkah menjauh dari ruangan, Leon menutup pintunya. Dia lalu menghampiri Tellaura yang masih terlelap. Setelah itu, pangeran tersebut mengeluarkan sebuah botol berisi cairan berwarna merah dan meletakkannya di jendela yang terbuka lebar.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Tellaura mulai membuka mata. “Ugh... Adik...! Jangan gegabah seperti itu... kaubisa terlukaaaa!


“Adik!”


Seperti baru bangun dari mimpi buruk, tubuh Tellaura juga ikut terbangun. “Lah... hanya mimpi kah...? Syukurla... haaah?! SIAPA KAU?!” jantung gadis berambut merah itu terasa ingin melompat begitu melihat pria tak dikenalnya ada di sampingnya.


“Halo, syukurlah kau sudah siuman.” Leon mengambil cairan merah yang sudah habis setengah itu, lalu menyimpannya dalam kantung bagian dalam blazer putih dengan sisi-sisi kuning keemasannya. Sebagai pelengkap blazer-nya, dia memakai celana biru dongker.


“Oh, ternyata kau, Pangeran...!” Tellaura segera sadar begitu melihat anting bulannya. “Memangnya kau tidak malu memakai anting seperti itu?”


Mendengar pertanyaannya, Leon dibuat tersenyum. “Eh? Kenapa kau berpikir begitu...?


“Tidak. Aku tidak merasa malu, sebab ini adalah bagian dari kebanggaanku sebagai keluarga kerajaan.”


“Hmmm.”


“Aku membawakanmu makanan. Aku menduga kau belum makan sejak pagi, ‘kan?”


Tellaura melihat keberadaan makanan di samping kanannya. Begitu dia melihatnya, ia segera mengingat adiknya. Wajahnya segera berubah lesu.


“Ada apa? Jika kau tidak menyukainya, aku akan menyuruh pelayanku untuk menggantinya segera.”


Tellaura melirik Leon. “Tidak. Bukan itu. Aku hanya teringat adikku. Kapanpun waktunya makan, kami selalu bersama.”


“Kalau begitu bawalah makanan yang banyak sepulang kau dari istana. Sebagai Pangeran Aurora yang Kesembilan, aku mengizinkannya.”


Tellaura segera mengernyit. “Kaukira aku ini apa? Pengemis?”


“Ti-tidak!" Leon yang panik, reflek berdiri. "Bukan itu maksudku!”


“Aku ini datang bertemu ibumu, selain untuk bicara dengannya, juga untuk menunjukkan buah—“ dia baru ingat peti-peti yang seharusnya ia kenalkan pada Ratu, tidak ada di dekatnya.


“Oh, jika kau mencari peti milikmu, aku sudah menyuruh pelayanku untuk menjaganya." Leon duduk kembali. "Kalau kau membutuhkannya, aku akan segera memberikannya padamu. Tapi ... apa aku boleh tahu apa isi di dalam peti itu?”


Tellaura mengambil satu buah dari empat roti isinya. Sambil memakannya, dia bilang, “Kau orang yang baik. Apa itu hanya topeng?”


“Topeng? Apa maksudmu?”


“Kau ini bangsawan. Tidak pernah dalam sembilan belas tahunku hidup, ada bangsawan yang baik. Aku dan adikku bahkan pernah dinodai oleh mereka. Aku sendiri juga tidak yakin bisa pulang selamat setelah kau berbicara lama denganku. Bisa saja setelah aku mengisi perutku, kalian membunuhku karena aku ‘sudah tidak sopan’ berbicara denganmu.”


Leon menutup matanya. “Itulah yang ingin kuubah dari negeriku ini. Tapi aku tidak memiliki kekuatan untuknya.”


“Hah? Omong kosong apa yang kaubicarakan? Kau itu Pangeran.”


“Tidakkah kau tahu?


“Kendati ini adalah sebuah kerajaan, tetapi sistemnya sama seperti keratuan. Mereka yang wanita sajalah yang berhak meneruskan takhta. Aku memang adalah Pangeran, tetapi kelak, dari sekian banyaknya bangsawan, akan ada pemilihan resmi oleh Ratu... bila Beliau tidak memiliki penerus perempuan.”


“Turut berduka cita untukmu.”


“Ahahaha....”


“Makanan ini enak. Aku menghargainya. Pelayanmu jago ya, membuatku teringat pada seseorang yang sudah mati....”


“A-aku menghargai pujianmu,” balas Leon canggung.


“Jadi, setelah kau menyogokku dengan makanan, apa yang ingin kaubicarakan? Dari mana aku berasal dan semacamnya, ‘kan?”


Binar mata langsung terpantul dari mata biru langit Leon. “Ke-kenapa kaubisa tahu?! A-apa kau memiliki hobi yang sama denganku, mengamati orang?”


Tellaura mengernyit. “Hobi? Mengamati orang? Kau ini apa? Orang mesum?”


“Ha-hah?! Ti-tidak! Tidak seperti itu!”


“Haaah~ oh Pangeran yang tidak kuketahui namanya, hidupku dan hidupmu berbanding jauh. Selama kau terkurung dalam sangkar burung yang disebut istana ini, aku dan adikku selalu sendirian di gelap dan kejamnya dunia.” Tellaura kemudian meneguk susunya. “Oh? Bahkan susunya pun terasa lezat! Pelayan itu memberinya madu, ‘kah? Aku harus memberitahu Risa soal ini!”


Sementara itu, Leon bercermin dari kata-katanya. “Aku akan serius. Maukah kau menjadi istriku?”


.


.


.


.


“HAH?!” rona merah terpampang jelas di wajah Tellaura. “A-apa maksudmu tiba-tiba melamarku dengan wajah seperti itu?! Kau dan aku bahkan tidak mengenali satu sama lain!”


“Soal itu masalah belakangan! Aku merasa kau adalah orang yang cocok bagiku, sejak pertama kali melihatmu datang ke istana!”


Rona merah Tellaura semakin memerah, tapi dia segera menggeleng-geleng. “Tidak! Tidak boleh!


“Aku dan kau berbeda status, terlebih aku hanyalah rakyat jelata yang kotor dan miskin!”


“Soal itu biar aku saja yang mengurus! Jadi, jawablah aku, maukah kau—“


Sebelum mengusaikan kata-katanya, bagian dalam pakaian Tellaura bersinar merah.


“A-apa itu?!” seru Leon.


“Risa!” seru Tellaura dengan wajah cemas. Dia segera memegang apa yang bercahaya merah di dalam pakaiannya tersebut—sebuah kalung yang sama dengan cincin yang ia berikan pada Clarissa sebelum berangkat. Saat dia menutup matanya itu, ia melihat Sigurd yang terhadang oleh penghalang di kediamannya yang sudah diciptakannya.


“Laki-laki itu, selalu saja, selalu saja, selalu saja!”


Leon dapat melihat dengan jelas amarah yang tercermin dari raut wajah Tellaura. Dia ingin bertanya ada apa, tetapi ragu. Apakah pantas dia bertanya tentang itu?


Tetapi tidak lama setelah itu, raut wajah Tellaura serius sambil menatapnya. Gadis itu bilang pada Leon, “Aku tidak ingin kau menganggapku sebagai gadis monster seperti yang banyak orang katakan padaku ... juga tentu saja pada adikku, maka kutanyakan satu hal padamu sebelum kau menyesali kata-katamu tadi.


“Pangeran, apa kau bersungguh-sungguh? Apakah kau akan menerimaku, juga tentu saja adikku, apapun kekurangan yang kami miliki?

__ADS_1


“Jika tidak, aku pun tidak akan menanggapi keseriusanmu dengan serius.”


.


.


.


.


“Jujur saja, aku tidak tahu.” Begitulah balasan Leon. Namun, bukannya kecewa, Tellaura justru tersenyum lega. “Tapi...,” sambung Leon, “aku ingin melihat dunia yang kaulihat itu. Jika aku tidak mengerti bagaimana dunia ini sebenarnya bekerja, maka akupun tidak akan mengerti apa yang harus kuubah terhadap negeriku.


“Aku belum berniat ingin menarik ucapanku sebelumnya, tetapi kau ada benarnya dan aku tidak bisa menyangkalnya. Untuk itu... maukah kau membiarkanku menjadi temanmu?


“Dengan begini, masing-masing dari kita memiliki keuntungan tanpa kerugian yang berarti besar, bukan?


“Kaubisa memakai namaku dan aku akan melihat dari sisimu.”


Tellaura menyeringai. “Hehe. Aku menyukai ide itu. Tapi....” Seringainya berubah jadi melotot yang mengancam nyawa Leon. “Jika kau berani mengkhianatiku, aku takkan segan.”


“Ba-baiklah aku mengerti!”


“Kalau begitu....” Tellaura menyodorkan tangan kanannya, setelah menyekanya di kasur untuk menjaga “kesucian” tangan Pangeran. “Namaku Tellaura. Kaubisa memanggilku Laura.”


Leon membalas jabatan tangan lawan bicaranya. “Namaku Leon. Kuharap kau tidak melemparkan hormat padaku, sebab sejak saat ini kita adalah teman yang setara.”


“Hahaha! Aku suka itu!”


‘Tok tok tok!’


Pintu diketuk, kemudian suara menyusulnya. “Pangeran, Paduka Ratu memanggil Anda.” Dia adalah Hilma.


“Ya, baiklah. Aku akan segera ke sana. Oh, Hilma, apa kau juga bisa bawakan peti milik tamu pribadi ini ke ruang takhta pula?”


"Hilma...?" Tellaura merasa pernah mendengar nama itu.


“Dimengerti.”


“Laura, masalah izin ibu tentangku dan dirimu, biarkan aku saja yang mengurusnya nanti. Kau selesaikan saja dulu urusanmu dengan ibu.”


“Ba-baik!”


......................


“Putraku, Leon Aurora IX. Apa kau mengerti apa yang sudah kauminta barusan?” tanya Amanda, dengan tatapan melototnya pada Leon yang menghadap ayah dan ibunya sendiri.


“Aku mengerti, oleh karena itu dengan terang-terangan, aku meminta izinmu, Yang Mulia!” jawab Leon, yang tatapannya tidak kalah serius dengan ibunya.


“Hooo....


“Apa memangnya yang kaulihat dari gadis itu?


“Kebebasan seperti yang selalu kaudambakan?”


Leon terbungkam.


.


.


.


.


Kini giliran Amanda yang terbungkam. “Biarkan kuberitahu satu hal. Gadis itu satu keturunan dengan kita.”


“Be-benarkah itu?”


“Ya, dia bahkan juga memberitahuku kalau dia bisa bersihir.”


Leon menatap lantai—seakan sedang memikirkan sesuatu.


“Kau tidak tampak terkejut, apa yang sudah kaubicarakan dengannya sebelum ini, Leon?”


“Aku melamarnya!”


“....


“....


“....


“A-APA KAUBILANG?!”


“Kalau dia satu keturunan dengan kita, maka status mereka saat ini takkan menjadi masalah! Oleh karena itu, akupun sekalian minta izin untuk menjadikan Laura sebagai pendamping hidupku, Yang Mulia!”


Empat urat kepala perlahan timbul di kening Amanda. “Pikirkan dulu ucapanmu sebelum kau mengatakannya, dasar Putra bodoh!”


“Ama benar, Leon! Meskipun fakta itu benar adanya, kau tidak bisa serta-merta memintanya seperti itu, semua butuh proses dan takkan bisa semudah yang kaubayangkan!


“Jika rakyat jelata diangkat menjadi keluarga kerajaan, bangsawan-bangsawan lain akan menaruh kecurigaan pada kita, dan kita hanya akan menimbulkan perang saudara!”


“Aku percaya aku bisa menuntaskannya, jika itu adalah masalah yang akan tiba ke depannya, Rajaku!”


“Kau—!!” Gerard hendak berdiri dari takhtanya, tapi ia dicegat oleh Amanda.


“Kau takkan kuizinkan membawa gadis itu sebagai pendamping hidupmu.”


“Ke-kenapa Yang Mulia?!”


“Tidak usah bertanya!


“Tapi, untuk masalahmu yang ingin melihat dunia bersamanya, kuizinkan.”


Leon segera bertekuk lutut di hadapan keduanya.


“Ama!" jerit Gerard, “kaupikir apa yang sudah kaulakukan? Jika begitu, maka tak ada bedanya dengan kau—“


“Diamlah. Aku yang memutuskannya.”


“K-kkhh....


“Leon! Sebagai Ayahmu, setidaknya patuhilah saja ini!

__ADS_1


“Kau adalah Pangeran, kau memiliki nama dan kau menanggung nama Aurora! Bersikaplah dengan baik dan jangan lupa untuk samarkan identitasmu diantara mereka!”


“Ra-Rajaku....” Leon tak menduga ayahnya akan satu suara dengan ibunya.


“Cih, dasar kau!” Amanda tersenyum.


“Terima kasih atas izin kalian, Ratuku, Rajaku!


“Kalau begitu tanpa membuatnya menunggu lagi, aku pergi dulu!”


Dengan semangat, Leon keluar ruang takhta.


“Hilma, lakukan tugasmu,” ujar Amanda, “janganlah lupa untuk senantiasa melaporkan apapun pada kami, entah sekecil apapun itu. Mereka—tidak—Laura dan adiknya ... adalah orang terpenting setelah Leon. Kau mengerti?”


“Perintahmu adalah perintah Pangeran, Yang Mulia. Aku akan menuntaskan—“


“Hilma,” tukas Gerard, “kau juga dibebaskan sementara dari tugas istana. Fokuslah saja pada tugas mengamatimu.”


“Umu. Gerard benar, Hilma.”


Senyum kecil yang tertutup oleh poni terukir pada Hilma. “Terima kasih banyak, Rajaku, Ratuku. Aku akan terus bersumpah setia pada kalian.”


......................


Dikeheningan yang melanda ruang takhta saat ini, Amanda pergi menuju sisi jendela. “Apa pendapatmu tentang buah yang ditunjukkan Laura tadi, Gerard?”


Tak berubah dari posisi duduknya, Gerard menjawab, “Luar biasa.”


Amanda tersenyum kecut. “Sudah pasti.


“Siapa yang menyangka kalau buah yang sekilas mirip jeruk itu ternyata tercipta dari sihirnya? Apa namanya tadi...? Renjie...?”


“Itu benar. Renjie. Aku juga tidak menyangka kalau rasanya pun sangatlah ... lezat.”


“....


“Wiseman bilang padaku kalau dunia sedang dalam perubahannya.


“Maka, Laura dan adiknya adalah sumber dimana perubahan itu akan berputar. Sebagai sesama keturunan Bulan, aku tidak bisa membiarkan keluargaku dalam bahaya.”


“Mereka tidak hanya akan mendatangkan bahaya saja, Amanda. Mereka juga akan mendatangkan kebahagiaan, senyum, dan ketenangan.”


“Haha, kaukira aku tidak memikirkannya? Tentu saja aku tahu itu. Fakta bahwa mereka adalah keturunan yang sama denganku, itu tidak membawa masalah besar. Bahkan sejujurnya, aku tak memiliki masalah besar untuk menerima Laura.


“Tapi... yang membuatku berpikir dua kali adalah Peri dan Raksasa yang disebut dalam ceritanya itu.


“Tidak hanya pada keturunan Bulan, cerita tentang Peri, Raksasa, dan segala makhluk aneh yang ada di dunia ini, juga diceritakan pada keturunan Matahari.


“Kau takkan mengetahui sosok-sosok itu jika kau tidak menikahiku, ‘kan?”


“Kau benar....”


“Sekarang, kita tunggu saja laporan dari Hilma—pengkhianat dari Flare itu.”


.


.


.


.


Di pintu istana, terdapat Tellaura yang sedang menunggu teman barunya, Leon, di kursi kusirnya. Dia menunggu sambil berselonjor kaki. “Tiba-tiba melamarku, sungguh pria yang aneh...,” gumamnya.


“Hai! Maaf sudah membuatmu menunggu!”


“Gyah! Jangan datang tiba-tiba seperti itu!” Tellaura nyaris terjatuh. Diposisinya, dia melihat penampilan Leon yang sudah berubah. Dia memakai jubah kuning kulit untuk menutupi kepalanya, dengan pakaian biasa yang sering dipakai rakyat. “Hm? Ada apa dengan penampilanmu itu?”


“Oh, anggap saja berdandan sebelum kencan.”


“Ke-kencan?!”


“Ya. Kau masih memiliki beberapa kepentingan di ibu kota sebelum pulang, ‘kan? Dengan kekuatanku, aku bisa mengetahuinya dengan mudah.”


“Ci-cihh!


“Dengar saja, kau dan aku itu TE-MAN! Jadi ini bukanlah kencan!”


“Ahahaha~ tentu saja aku tahu. Aku hanya menggodamu.” Leon lalu naik ke kereta—tidak peduli jika itu bukanlah kereta untuk tumpangan, tetapi barang.


“Sialan! Kau menang satu poin dariku!


“Kita akan ke sebuah bar untuk alkohol. Kalau kau pemabuk, kuingatkan kau untuk tak menyentuhnya sebab itu untuk desaku.”


“Alkohol? Untuk apa? Apa kalian ingin membuat sesuatu dengannya?”


“Ya. Adikku.” Tellaura segera menjalankan kudanya.


“Adikmu?”


“Dia pandai memasak. Orang-orang menyukai masakannya. Selain untuk tambahan masakan, tentu saja ini untuk diminum juga.”


“Oooh....” Leon mengangguk-angguk. “Aku jadi penasaran terhadap adikmu. Apa aku boleh bertanya lebih tentang kalian?”


“Hm. Tidak. Tunggu saat adikku sudah percaya denganmu.”


“Eh? Kenapa dia?”


“Karena dia adalah alasanku hidup sejauh ini.”


“Begitu.... Baiklah. Kalau begitu, biarkan aku yang bercerita tentangku.”


“HAH? Tidak tidak tidak, tidak usah, dan aku tidak peduli.”


“Aku lahir pada malam bulan purnama tahun....”


“Hei!”


[Sementara itu di Lazuli....]


“SIALAN!”


Sigurd menghancurkan sebuah gentong berisi anggur. “Penyihir itu ... jika penyihir itu tidak ada, maka Risa sudah jadi santapanku!

__ADS_1


“Sial!”


Beberapa bagian tangan dan kaki Sigurd meninggalkan luka bakar karena sudah berniat untuk membuka paksa kediaman sang penyihir. Tanpa mengetahuinya, Clarissa tetap menjalankan apa yang menjadi kesehariannya di dalam rumah—menata rapi, memasak untuknya sendiri, dan menyiapkan perapian untuk sambutan malam. Semua itu dilakukannya dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya....


__ADS_2