Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Merelakan Yang Tersayang


__ADS_3

“Gawat....” Hilma menggigit kuku jempol kanannya. “Kerajaan Flare memiliki kisah turun temurun yang telah diketahui seluruh lapisan masyarakatnya, kalau Peri itu adalah musuh manusia!”


Tellaura segera merasa tidak nyaman tentangnya. “Apa maksudmu dengan musuh manusia? Peri itu telah membantuku mengubah hidupku!”


“Jangan terlibat dengan Peri lagi, Laura! Peri hanya akan mendatangkan kesengsaraan bagi manusia! Aku yakin mereka membantumu itu ... hanya sebagai kesenangan sesaat demi membawa kemelaratan yang abadi padamu!


“Pada cerita turun temurun kerajaan Flare, dahulu para penguasa kerajaan memiliki suatu kekuatan yang dipercaya tidak berasal dari dunia ini—yaitu teleportasi—seperti yang baru saja kaulakukan!


“Tidak ada di negeri itu yang bisa berteleportasi selain para penguasa kerajaan. Para penguasa tersebut telah membantu membangun negeri dengan kekuatannya, tetapi lambat laun, rakyat akhirnya mengetahui bahwa yang mengajari para penguasanya teleportasi adalah sebuah makhluk yang disebut sebagai Peri.


“Atas dasar rasa iri, dengki, dan takut ... rakyat yang telah mereka jadikan sebagai alasan untuk membangun negeri ... malah membunuh para penguasa tersebut.”


Tellaura terdiam. Dia juga mencengkeram erat kedua tangannya.


“Itu hanya salah satu dari cerita turun temurun kami yang melibatkan Peri,” sambung Hilma, “tetapi karena yang kaugunakan adalah sihir teleportasi, maka aku menceritakanmu yang ini.


“Laura. Aku turut bahagia karena hidupmu sekarang bisa berbeda, tetapi jika ke depannya aksimu malah membuatmu ditakuti banyak orang seperti pada cerita tersebut, maka....”


Tellaura tersenyum kecil. Dia lalu menepuk kedua bahu Hilma. “Terima kasih karena sudah memeringatiku, Hilma. Aku sangat menghargainya. Tapi, suatu perubahan harus dilandaskan oleh suatu kekuatan. Dan kini aku memilikinya. Jika risiko terburuknya adalah diriku yang mati, itu tidak mengapa. Aku tak keberatan.”


Hilma tidak senang mendengarnya. Dia menggertakkan giginya lalu mengerahkan semua ketidakpuasannya. “Khawatirkanlah dirimu sendiri! Pikirkan orang-orang yang kautinggalkan bila kau mati! Kau mungkin tidak peduli dengan pandangan orang lain, tetapi bagaimana dengan adikmu?!”


Hal itu segera membuat Tellaura goyah pada pendapatnya sendiri. Tapi disaat yang bersamaan, terdengar teriakan Leon dari sisi lain hutan. “Menjauhlah dari kereta!” sontak saja, suaranya segera mengubah fokus keduanya untuk kembali secepat mungkin.


......................


Tatkala keduanya sampai ke jalan sebelumnya, Tellaura segera berwajah gusar. “Sigurd...!”


“La-Laura? Cih... ternyata kau sudah kembali...!” Sigurd telah mengacungkan pedangnya pada Leon, begitu juga sebaliknya. Namun, Leon bukan mengacungkan pedang, melainkan pisau. Sigurd segera menyimpan lagi pedang yang digunakannya untuk berburu. “Ayo kalian semua! Percuma menghabiskan waktu dengan Penyihir sepertinya! Tampaknya dia membawa antek-antek baru. Jangan pernah berhubungan dengan mereka!” Sigurd yang membawa tiga orang anak buah lelaki, berjalan memasuki hutan. Tetapi....


‘DOR!’


Tanah di depan kaki Sigurd berlubang dengan meninggalkan asap. Tanahnya juga memerah saking panasnya sihir yang ditembakkan oleh Sang Penyihir yang sedang dicibir. “Kaupikir kaubisa pergi begitu saja tanpa meminta maaf padaku, Sigurd?” tanyanya.


“Hah?! Apa maksudmu?”


“Jangan berlagak bodoh! Kauingin aku percaya jika aku tidak tahu kalau kau hendak menyerang adikku saat aku pergi ke ibu kota?! Lihatlah tangan dan kaki yang terperban itu!”


“Tsk. Ini hanyalah luka dari hewan buruan kami! Kau tidak—“


“KAU MASIH MENGANGGAP AKU BODOH? Hari ini barulah seminggu sejak kau terakhir berburu. Kau juga tidak pernah memasuki hutan kecuali sudah harinya berburu!”


“Berisik!” Sigurd memelototi Tellaura. “Aku takkan sudi meminta maaf pada monster sepertimu!”


Tiba-tiba saja....


‘ZRSHT!’


Bahu kanan Sigurd tertancap sebilah pisau.


“Bos!” seru para anak buahnya, tatkala melihat pisaunya menancap.


“Baru kali ini dalam seumur hidupku merasa semarah ini,” ujar Leon yang menundukkan kepalanya, “dari melihatmu saja aku sudah tahu kalau kau benar-benar hendak menyerang adik dari Laura! Perban yang membalut tanganmu itu bukanlah untuk menutupi luka cakaran hewan, tetapi itu untuk luka bakar! Jika luka yang kauterima MEMANG adalah luka cakaran, maka kedua tangan itu takkan bisa digunakan selama lebih dari satu bulan!


“Lepaskanlah harga diri bodoh itu dan minta maaflah bila kau berbuat salah!”


Hilma dan Tellaura tidak menyangka Leon bisa sejauh ini untuk mengeluarkan emosinya.


“Cih!” Sigurd yang berbadan besar tak memedulikan luka dari pisaunya dan ia mencabutnya begitu saja. “Aku tidak tahu siapa kau, tapi teruslah melolong hal yang takkan pernah kupedulikan seumur hidup! Ingat saja, takkan ada bagian untukmu, Laura!” setelahnya keempat rombongan pria itu benar-benar menghilang ke kedalaman hutan.


“Kauyakin?” tanya Hilma.


“Tentang apa?”


“Yah ... itu ... daging...?”


“Ah~


“Tenang saja. Itu sudah biasa. Lagi pula aku bisa mengatasinya sendiri.”


“Huummm.... Baiklah kalau begitu.”


‘BRAK!’


Tellaura memukul keras punggung Leon.


“Aduh!” erang Si Pangeran.


“Hebat juga kau, Leon! Aku salah menilaimu!” Tellaura memerlihatkan senyum lima jarinya. “Ternyata kau bukanlah Tuan bodoh yang tidak tahu apapun karena selalu hidup di dalam sangkar ya!”


“Apa itu sungguh memujiku?”tanya Leon yang tersenyum kecut. “Tapi... sebaiknya kita segera kunjungi adikmu, Laura.”


Senyumnya segera berubah serius. “Aku tahu.”


.


.


.


.


Sekembalinya Tellaura di depan kediamannya, mereka mendapati gadis berambut ungu panjang sedang menjemur pakaian di padang rumput, yang membutuhkan jarak cukup jauh dari jalan utama. “Ah, itu dia,” kata Tellaura, yang melirik adiknya.


“Gadis berambut panjang itukah adikmu?” tanya Hilma.


“Ya, itu benar. Adiiiik!”


Saat mendengar suara kakaknya, Clarissa segera menoleh dengan wajah sumringah. “Kakak!”


Pada detik itu, sebuah perasaan asing yang tidak pernah diketahui sebelumnya, menyerang hati Leon. Wajahnya merona, matanya tak bisa berpaling dari gadis berambut ungu tersebut. Matanya yang berwarna senada dengan rambutnya pun juga seakan-akan menyihirnya untuk tidak melepas matanya dari si gadis.


“Hilma, tolong jaga kudanya sebentar.”


“Ya, baiklah!”

__ADS_1


Tellaura turun dan segera berpelukan dengan Clarissa. “Adik! Segera beritahu aku! Apa ada yang sakit di tubuhmu? Bagaimana dengan gigimu? Apa kau sudah bersikat gigi dengan baik?”


Sambil tetap dalam pelukannya, Clarissa menjawab. “Moh~ harus kukatakan berapa kali lagi kalau aku sudah bukan anak kecil!


“Bagaimana dengan pertemuanmu dengan Ratu?”


“Ah, soal itu....” Tellaura melirik pada Hilma dan Leon.


“Hmm?” Clarissa memiringkan kepalanya. “Siapa mereka?”


“Hilma, Leon!” jerit Tellaura, “ke sinilah sebentar dan sapalah Adikku!”


“Bagaimana dengan kudanya?!” jerit Hilma.


“Biarkan saja, tidak apa!”


“Baiklah!”


Tellaura dan Clarissa dapat melihat dari kejauhan bagaimana Hilma tampak seperti memaksa Leon untuk turun dari kursi kusir.


“Moh! Ada apa denganmu, Tuan?! Ini bukan pertama kalinya kau bertemu gadis!” emosi Hilma bisa terdengar hingga ke telinga Tellaura.


“Hmmm...!?!?!?”


“Ada apa, Ka... KAK?!” Clarissa kaget saat melihat pandangan mata kakaknya melotot mengerikan pada kedua orang asing baginya itu.


“Setelah berani-beraninya dia mengatakan banyak hal itu padaku... lelaki itu ternyata....”


“Kakak....?”


“Leon! Kalau kau tidak ke sini dalam hitungan ketiga, pertemanan kita akan kubatalkan!”


“Agghh!” jerit Leon, “baiklah, baik! Aku akan segera ke sana!”


.


.


.


.


“Baiklah, Adikku,” ucap Tellaura, yang berdiri berhadapan dengan Hilma dan Leon. Clarissa bersembunyi di balik punggung kakaknya. “Mereka adalah kenalanku sejak berada di ibu kota.


“Gadis ini adalah Hilma dan lelaki pirang penakut, bodoh, tidak beradab, serta tidak peka ini adalah Leon.”


“Ke-kenapa kau menyebutku semua itu?!” keluh Leon.


“Karena itu adalah fakta.


“Ngomong-ngomong lelaki tak becus ini adalah Pangeran, lho,” bisik Tellaura.


“E-eeeehh...?!” karena kakaknya berbisik, secara reflek Clarissa pun ikut berbisik kendati terkejut.


Leon segera mengubah sikapnya. “Salam kenal dan selamat siang, Nona... uhm, bolehkah kutahu siapa namamu?”


“Nona Clarissa, nama yang indah ya.


“Namaku adalah Leon Aurora IX, putra tunggal dari Ratu Amanda Aurora VIII dan Raja Gerard Aurora VIII.” Leon berhormat ala bangsawan.


“Adik, kaubisa tenang di sebelahnya. Aku akan ke rumah Kepala Desa dulu untuk memberikan dan melaporkan semua belanjaan itu padanya.”


“U-uhm, aku mengerti....”


“Hilma, kau juga ikut denganku.”


“Eh? Aku? Kenapa?” Hilma menunjuk dirinya sendiri.


“Ada sesuatu yang harus kubicarakan padamu.


“Risa, ajak lelaki itu masuk ke rumah dan seduhkan teh kesukaanmu ya.”


“Ba-baiklah....”


Dalam rasa kecanggungan yang tak bisa dibendung, keduanya ditinggalkan sendirian di tengah-tengah padang rumput. Keduanya juga menonton bagaimana aksi Hilma dan Tellaura saat ingin memutar arah kereta kudanya.


“Apa yang akan kaulakukan dengannya?” tanya Hilma, “memutar arah dengan kuda, juga dengan kereta barang seperti ini susah, lho.”


“Tenang saja,” jawab Tellaura tersenyum percaya diri. “Apa kaulupa siapa aku?” dia lalu menyihir keseluruhan kereta kudanya, lalu mengangkatnya ke udara dengan gerakan punggung tangan. Ia juga memutar arah kendaraan itu dengan jemarinya dan berakhir dengan perlahan didaratkan ke tanah.


“Astaga. Dengan sihir semuanya bisa mudah, ya....” Hilma berjalan meninggalkan Tellaura.


“Apa kau sudah mulai merasa iri padaku?” Tellaura menyusul Hilma.


“Iya. Itu benar.”


“Hmm, bagus kalau begitu.”


Clarissa memandangi kakaknya yang perlahan-lahan mengecil karena menjauh dengan kereta kudanya. “Apa mereka adalah teman lama...? Mereka tampak sangat dekat sekali...,” gumamnya.


“Tidak, mereka baru bertemu dua hari yang lalu,” jawab Leon.


“A-ah! Maaf! Aku tadi mengucapkannya keras-keras...?” tampak sedikit rona merah di pipi Clarissa.


“I-imut!” batin lelaki pirang yang lebih tinggi dari si gadis itu. “Y-ya, tidak apa.


“Um, apa aku boleh bertanya?”


“Uhm. Silakan, Yang Mulia.”


“Kenapa hanya rumahmu dan kakakmu saja yang letaknya begitu jauh dan terasa seperti ... tersingkirkan…?”


Clarissa tersenyum kecut, sambil memandangi langit. “Seperti itulah kami, Yang Mulia. Aku takkan heran bila Anda ingin melakukan langkah yang sama seperti mereka.”


“Tapi ... kakakmu sudah melakukan banyak hal pada desa ini bukan? Katanya dia sudah membangun desa ini menjadi lebih baik, orang-orang pun sudah mulai menerima kalian.”

__ADS_1


“Ya, itu benar sekali. Orang-orang sudah mulai menerima kami, tapi ... tetap saja mereka akan takut pada apa yang tidak mereka ketahui atau waspadai.


“Begitulah kita, begitulah manusia.”


Leon terdiam memandangi Clarissa setelah mendengar jawabannya. Merasakan pandangan Sang Pangeran yang tidak kunjung lepas darinya, segera membuat Clarissa merasa ada yang janggal. “A-anu... Pangeran...? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku…?”


“Ah, maaf. Maaf atas ketidaksopananku.” Leon memandangi kediaman dua rakyat jelata yang tidak begitu besar dan tidak begitu kecil itu. “Saat aku pertama bertukar kata dengan kakakmu, aku merasa iri dengannya.”


“Eh? Iri?”


“Ya.


“Sikapnya yang bebas dan tidak terkekang oleh hal-hal di sekitarnya, membuatnya tampak kuat di mataku. Selama ini kupikir sudah cukup kubertindak seperti diriku apa adanya, tetapi setelah berteman dengannya, aku merasa aku jauh lebih lemah darinya.


“Namun aku sadar, kalau aku terus menjadi diriku apa adanya, aku tidak bisa membawa negeri ini menjadi lebih baik. Kalau ingin ada perubahan, maka harus dimulai dari diri sendiri. Gadis bernama Tellaura itulah yang membuatku sadar.”


“Fufu....” Clarissa tertawa kecil. “Syukurlah....”


“Hmm? Ada apa?”


“Selama ini kami tidak pernah mendengar terima kasih dari orang lain. Bahkan baru-baru ini saja kami mendengarnya, tetapi itu hanyalah dari anak kecil yang sebelumnya ikut membenci kami karena pengaruh orang tuanya.


“Mendengar rasa terima kasih dan fakta bahwa kakakku bisa membawa pengaruh baik kepada seorang bangsawan ... aku sangat senang!”


Senyum yang terpampang di wajah gadis di sebelah lelaki pirang ini berhasil membuatnya lagi-lagi merona merah dan berdegup kencang. “Kau ... sangat berbeda dengan kakakmu ya?”


“Benarkah? Kukira kami ini mirip lho.”


“Mirip? Kau jauh lebih tenang, manis, dan menawan daripadanya....”


“Ma-manis…?!” mendengar dirinya dipuji begitu tidak biasa baginya. Dia merona. “Eh-ehem. Asal Pangeran tahu, begitu-begitu kakakku cukup menawan lho!


“Dia kuat,


“Sangat kuat,


“Tidak kenal ampun,


“Juga penyayang!”


Clarissa lagi-lagi tersenyum manis yang memburukkan jantung Leon. “I-itulah yang kumaksud!”


“A-apa?! Apa...?”


“Senyum itu! Berhentilah....”


Clarissa segera murung—mengira itu adalah hardik dari Sang Pangeran.


“Ti-tidak, kutarik kembali. Aku ingin terus melihat senyum itu—ta-tapi jangan terlalu sering juga, itu akan buruk bagi jantungku....”


.


.


.


.


“Fufu….” Clarissa menyingkap rambut sebelah kanannya ke belakang telinganya. Dia juga menekuk setengah badannya dan menarik tangan kiri ke belakang pinggang. “Anda sungguh Pangeran yang aneh ya!”


Melihat pemandangan gadis yang menyingkap rambutnya seperti itu, terlebih itu dari Clarissa yang sejak pertama kali melihatnya sudah membuatnya berdebar tak karuan, sukses membuat wajah Leon merona semerah tomat.


......................


[Sementara itu di kereta kuda, beberapa saat setelah Tellaura dan Hilma jalan pelan....]


“Haaaah~ siapa yang menyangka aku bisa dipermainkan oleh perasaan begini,” keluh Tellaura. “Laki-laki itu dengan mudahnya melamarku, tetapi dia sangat jelas jatuh cinta pandang pertama pada adikku.”


“Lalu ... kenapa kau tidak mencoba untuk mempertahankannya?” tanya Hilma, dengan nada rendah—sama seperti gadis di sampingnya. “Tu-tunggu! Orang itu melamarmu?!”


“O-oh, kau tidak tahu?”


“Sialan ... dasar lelaki hidung belaaangg!” Hilma mencengkeram erat tangannya.


“Ja-jangan-jangan!” Tellaura berwajah panik. “Dia sudah melakukan ‘apa-apa’ padamu?!”


“TIDAK!


“Tidak mungkin Pangeran itu tertarik padaku!”


“....” Tellaura menyeringai. “Huhuuummm... ternyata....”


“A-apa?! Masalah untukmu bila aku PUN suka dengannya?! Maaf saja, tapi aku ini sudah bersamanya sejak dia masih sepuluh tahun, dan aku ini pelayan pribadinya!


“Tapi, atas pekerjaanku itu aku jadi....”


Hilma yang menaikkan nada bicaranya mendadak merasa stres.... Dia juga segera meringkuk.


“Moh~ jangan marah dan mengeluh saat akhirnya kau malah merasa sakit sendiri, dasar bodoh!”


“Uggghh... kau benar Tellaura.... Pangeran itu benar-benar tidak peka....


“Padahal aku yang sudah lama sekali berada di sisinya....”


“Kalau begitu, kenapa tidak kau rebut saja ciuman pertamanya? Dengan begitu kau bisa merelakannya, ‘kan?”


“Eh?”


“Eh?”


“Ehh...?”


“A-apa? Aku benar, ‘kan? Aku adalah orang yang mengutamakan adik lebih dari siapapun. Tentu saja, bahkan jika itu masalah laki-laki. Namun dalam masalahku, aku tidak memiliki perasaan terlalu dalam padanya. Sementara kau, aku sulit membayangkan kau tidak memiliki kenangan khusus, tetapi kau pasti terhalang oleh statusmu sebagai pelayan itu, bukan?”


Hilma berpikir lagi secara baik-baik. “Ta-tapi ... pekerjaanku bisa dicopot dan aku tak bisa lagi berada di sisinya...!”

__ADS_1


Tellaura merangkul Hilma. “Buat saja dia mabuk!”


Mendengarnya, Hilma menelan liurnya sendiri....


__ADS_2