Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Keheningan Sebelum Badai


__ADS_3

Hari menjelang sore, kala L'arc dan kutukan Keenai benar-benar ditaklukan oleh persatuan ras di Bumi. Tidak sedikit jumlah korban yang tak sadarkan diri ataupun korban jiwa. Para Levant; Lowén, Edward, dan Ella, yang terhalangi oleh Diablo, napasnya sedang tersengal yang dilanjuti oleh hembusan lega usai terlepas dari kuatnya kutukan Keenai dan horor-nya Diablo. Mereka kesal terhadap diri sendiri karena tidak berguna ataupun dapat membantu yang terlibat. Ayah dan anak itu memutuskan untuk menghampiri Klutzie dan Danny yang tergeletak. Dengan mana yang masih dimiliki, merekapun menyembuhkan keduanya.


Raksasa dan Naga yang ada di dekat mereka, tak bergeming untuk sesaat. Mereka bercermin lagi tentang apa yang baru saja terjadi—dua orang Manusia dengan gagah beraninya mengerahkan segala yang mereka miliki untuk bisa melepaskan Galdurheim dari ancaman sebelumnya. Yang mereka tahu dan selama ini percaya, Manusia hanyalah ras rendahan yang lemah dan sama sekali tidak berhak untuk hidup bersama dengan Yggdrasil.


Beberapa dari Raksasa dan Naga itu sadar, bahwa dua Manusia yang sedang terkapar itu dibantu oleh bermacam ras. Itu saja sudah menjadi bukti yang cukup kalau mereka harus mengubah cara pandang terhadap Manusia. Ras-ras yang membantu keduanya dapat dikenali berkat mana mereka, seperti Jeanne yang sudah berada di Tanah Kematian, Roh Yggdrasil, Naga, Duyung, Roh Kuno, juga Ratu Peri. Bila sudah sebanyak itu yang membantu keduanya dan mereka tetap tak mau mengubah cara pandangnya, mereka pasti sudah gila dan gelap mata.


Kedatangan tiga Levant yang segera menyembuhkan keduanya pun disambut. Yang paling pertama adalah Æsir. Ia mengecilkan ukuran tubuhnya dan membantu penyembuhan kedua Manusia tersebut. Mengikuti langkah Æsir, pengikutnya yang masih hidup melakukan hal yang sama.


"Kalian...." Edward tertegun.


Fenrir yang berada jauh dari TKP tersebut, tentu tahu apa yang terjadi, sebab Manusia yang menjadi lawannya itu bahkan tidak bersembunyi-sembunyi ketika membahas apa yang hendak dilakukannya bersama Ratu Peri Nadéja. "Bagaimana?" tanya Manusia itu, Marianna, "apakah kau masih berpikir kalau tragedi yang menimpa kelompokmu kala itu disebabkan Manusia?"


Fenrir menatap cukup lama Marianna, sebelum akhirnya hidungnya mengendus sesuatu dan segera pergi begitu saja dengan after-effect angin kencang akibat langkah besarnya. "Hah." Marianna bertolak pinggang. "Kurasa peranku di sini sudah berakhir. Orang mati ini berharap kaubisa beristirahat pula, Zeeta." Perlahan, tubuhnya bercahaya seakan terselimuti oleh api biru transparan, yang tak lama setelahnya lenyap begitu saja.


Sementara itu, di Aurora, orang-orang mati yang hidup kembali, adalah Jewel. Saat ini, ia sedang berbicara dengan mantan wadahnya, Suzy, sambil menunggu waktunya tiba untuk kembali ke Tanah Kematian.


"Jadi," tutur Suzy, "di Tanah Kematian pun situasinya tidak jauh lebih baik dari sini?"


"Ya. Faksi-faksi Naga dan Raksasa terdahulu yang menentang Manusia, musuh-musuh Elf, dan banyak lagi jiwa buruk yang belum tereinkarnasi oleh Lembah Kematian bangkit lagi gara-gara Keenai."


"Bagaimana caranya dia bisa melakukan itu?"


"Dia adalah orang yang memiliki sihir yang serupa dengan leluhur Matahari pertama dan Benih Yggdrasil ketiga. Sihir bintang.


"Bila Bulan dipandu oleh Seele meskipun tidak selalu, bintang justru sebaliknya. Yah, lebih detailnya kautanyakan saja pada pewaris Matahari yang tersisa. Aku dan ibu mewakili leluhur Zeeta yang lain, sementara mereka membereskan masalah di sana.


"Sialan. Kau takkan percaya bagaimana kuatnya mereka!"


"Fufu. Ya, aku tak bisa membayangkannya." Suzy tertawa kecil.


Jewel menatap Suzy, setelah itu tersenyum sambil menepuk kepalanya, dimana tinggi Suzy lebih pendek darinya. "Aku bersyukur bisa berbicara empat mata denganmu begini, Suzy."


"Aku juga. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku, Jewel." Suzy menitikkan air mata.


Tak lama setelah itu, serupa dengan yang dialami Marianna, tubuh Jewel berselimutkan api biru transparan. "Tampaknya waktuku sudah tiba. Sampaikan salamku pada junior-juniorku, ya!" sembari mengangkat tangan kanan sebagai salam perpisahannya, Jewel tersenyum lebar.


"Ya! Tentu saja!!!" Suzy benar-benar bersyukur dari dalam hatinya. Ia sangat tahu seperti apa penderitaan yang sudah dialami Jewel, dan kini, Elf itu bisa memberinya salam perpisahan dengan senyum yang sangat lebar! Semua ini tentu berkat bantuan dan pengorbanan Zeeta.


[Di lain sisi, di Nebula....]


Hugo terkapar di lantai dengan Lloyd yang menahan kepala dan leher Tetua-nya dengan lengan kiri. Elf yang lain yang ikut berjuang bersama mereka ikut mengelilingi keduanya. Tak luput Manusia-Manusia dari Nebula yang ikut menangisi maut yang hendak menjemput Hugo. Semuanya tersedu-sedu, kecuali Lloyd yang berusaha tegar.

__ADS_1


"Ah...." Hugo membolakan mata, melihat orang-orang yang melingkarinya. Tubuhnya tak memiliki tenaga, wujud "abadi"-nya pun perlahan luntur, mengubah semuanya jadi tua—kulit, tulang, dan rambut. "Selama ratusan tahun, tak pernah terbayang aku bisa sebahagia ini....


"Bertarung bersama rasku ... tiada lagi kebencian antar Manusia dan Elf ... bahkan kubisa bertarung bersama lagi dengan ibu dan kak Jewel....


"Lloyd...."


Hugo berusaha meraih pipi Lloyd. Dengan tangis yang terus ia coba tahan, Lloyd meraih tangannya segera. "Iya, Tetua?" dia bertanya dengan suaranya yang bergemetar.


"Jagalah Reina untukku...." Dari pandangan Hugo, ia melihat seekor Flakka hang menghampirinya dari udara. Ia tersenyum dan memejamkan mata.


Kemudian, Elf lain semakin mengeraskan suara tangis mereka saat tubuh Hugo benar-benar lemas dan lenyap bak butiran sihir.


"Syu... syukurlah...!" seru salah satu Elf, "Tetua bisa segera dibawa jiwanya tanpa harus mengandalkan upacara perpisahan...! Syukurlah...!"


Merasakan kepergiannya Hugo, Elf lain yang tak ada di tempat sama, juga segera berkabung. Termasuk Aria, Jourgan, Mintia, dan Reina yang berada di Aurora, serta Serina yang berada di Hutan Elf.


"Reina...." Aria mencoba menenangkan Reina yang sedang sesenggukan. "Tidak apa .... Ini bukan saatnya untuk terus bersedih. Segera kumpulkan penyintas Ragnarok ke Aurora, sekarang juga!"


Aria mengerutkan dahi. Jourgan dan Mintia yang sama-sama mendengarnya menanggapinya serupa, sehingga ketiganya segera mengeluarkan diri dari Töfrahnöttur untuk melakukannya. Belum begitu jauh dari Töfrahnöttur, mereka dikejutkan oleh alam.


Langit mendadak gelap gulita lagi. Mereka memunculkan pusaran angin yang jumlahnya tak terhitung jari. Pusaran tersebut amatlah besar dan segera menghisap segala yang ada di dekatnya. Mereka yang masih ada di tanah, seperti Raksasa, Naga, dan Manusia, segera melakukan semua yang mereka bisa untuk keluar dari situasi tersebut.


"Apa-apaan itu?!" pekik Jourgan, sambil melindungi dirinya dengan membentuk tangannya serupa huruf "X".


Tak lama setelah mengucapkannya, semua melihat ada garis cahaya emas yang jumlahnya sama dengan pusaran tersebut. Garis cahaya itu melenyapkan mereka dengan membesarkan ukurannya. Pilar-pilar cahaya emas mulai mengganti takut dan kaget menjadi harapan dengan segera.


Merasa tahu apa yang sedang terjadi, ketiga Elf tersebut tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka segera membantu semua yang kesulitan bergerak untuk masuk ke Töfrahnöttur. Disaat yang sama, ukuran pelindung tersebut semakin membesar.


.


.


.


.


Di tempat yang sebelumnya adalah Labirin Cremlyn, menjadi sebuah tempat penyimpanan mana yang sangat besar. Di sana, ada Scarlet, Alicia, Ashley, dan Ratu Peri Nadéja.


"Aku baru saja memindahkan mana yang tersisa dari Hutan Peri ke sini. Sekarang, kuyakin Töfrahnöttur semakin tebal dan besar. Namun, aku tidak yakin ini bisa bertahan lama, sebelum Raksasa dan Naga yang lain membantu."


"Cih." Scarlet bertolak pinggang. "Kenapa Ratu Peri sepertimu tidak hadir jauh lebih awal daripada Feline, sih?"

__ADS_1


"Dunia yang melahirkanku, Scarlet."


"Aku tahu!"


"Apa yang akan terjadi dengan putriku, Ratu Peri...?" tanya Alicia, "kautahu tentangnya, 'kan?"


"Ya. Tapi aku takkan memberitahunya. Dia akan mengatakannya sendiri."


"Hah...?"


"Yang harus kalian pikirkan adalah keselamatan diri kalian sendiri dan menyambut Zeeta dengan senyuman. Itu saja."


"Ratu Peri ini benar, Alicia," timpal Ashley, "Zeeta telah melakukan banyak hal dan mengorbankan segalanya. Kita harus menyambutnya dengan hangat dan senyuman!"


"Uhm...." Alicia merasa sedikit tenang. "Terima kasih, kalian berdua...."


......................


"Jormungand takkan berpengaruh lagi terhadapku, Alter!" seru Zeeta. "Kuakui kekuatannya amat destruktif, tapi ia tidak akan mampu menghadapi Rhongomyniad!"


"Bangsat bangsat bangsat! Percayakan padaku, katanya?! Ujung-ujungnya aku yang harus melakukan semuanya sendiri!"


"Akhirilah ini, Alter. Kau takkan menang!" Zeeta mengaba-abakan tombaknya.


"Dan kaupikir aku akan menyetujuinya?!" Alter menciptakan empat lingkaran sihir, yang dengan cepat membentuk Skeleton Dragon.


"Tsk!" dengan sekali tebasan Rhongomyniad, keempat Naga tersebut hancur lebur, tetapi mereka bersatu kembali dengan cepat. Sementara itu, Alter....


"Kau harus menuntaskan tujuan hidupmu denganku, Jormungand. Yggdrasil yang tidak adil kepadamu, harus dihancurkan!"


Mata Jormungand semakin memerah. Alter memasang Rune kepada Raksasa tersebut, dan....


.


.


.


.


"APA KAU SUDAH GILA?!" jerit Zeeta tak habis pikir sambil menganga.

__ADS_1


Alter menyatukan dirinya dengan Jormungand. Setengah tubuh bawahnya menyatu dengan kepala Raksasa tersebut. Beberapa bagian tubuhnya berurat besar layaknya akan meledak, sementara matanya ikut memerah. "Kaunaz milikmu tak melihat ini, bukan...? Gyahahaha!"


__ADS_2