
Suatu ruang yang secara keseluruhan terbuat dari kayu hingga dekorasinya, terdapat sejumlah wanita yang sedang merias seseorang, dibawah pijaran-pijaran lampu. Ia berambut hitam panjang dan bermata biru. Mereka meriasnya dengan sebuah gaun bodycon hitam dengan corak kelopak merah dan menguncir rambutnya dengan kuncir cokelat. Tidak hanya mereka saja, di sana pun ada seorang pelayan yang berjaga di sisi pintu.
Beberapa saat setelahnya, seseorang muncul begitu saja, tanpa disadari wanita-wanita yang sedang merias, bahkan juga sang pelayan. Orang yang sedang dirias itu tersenyum, kemudian memerintahkan periasnya untuk pergi.
“Berani sekali kau muncul di hadapanku tanpa mengetuk pintu,” ujarnya. Ujaran sang majikan, membuat si pelayan kaget dan langsung beraba-aba untuk menyerang. Namun, satu tangan yang diangkat oleh sang majikan membuatnya mengurungkan niat.
“Sudah berapa Batu Jiwa yang telah kaukumpulkan?” tanya orang itu. Ia berambut hitam panjang—sama seperti lawan bicaranya—dan bergaun mewah.
“Apa hubungannya denganmu? Dasar tidak tahu diri.”
Merasa tak puas dengan jawaban itu, seseorang yang baru saja muncul tersebut membuat lampu pecah dan lantai serta dinding bergetar layaknya dihantam gempa terpusat.
“Tidak ada gunanya kau mengancamku.” Dengan percaya dirinya, bahkan orang bergaun itu tak menoleh pada siapa ia bicara.
“Jawab atau Arata takkan selamat.”
Ucapan itu berhasil memancingnya menoleh. “Ka-kau?!" katanya usai menoleh, "ba-bagaimana bisa?!”
Tidak hanya Sang Majikan, Si Pelayan ikut mengernyit.
“Hitomi Reiko ... tidak, haruskah kupanggil Penyihir Bintang, Asteria? Aku tahu segalanya tentangmu.
“Turutilah aku dan akan kubiarkan kalian selamat.”
Sosok yang dipanggil Asteria itu langsung menggertakkan gigi. “Cih... bagaimana ini bisa terjadi...?
“Ti-tidak, mana ini ... kau...?!”
Asteria waspada dan segera menjaga jarak dengan “tamu”-nya “Siapa kau sebenarnya?!”
“Tindakanmu sudah benar. Sesuai julukanmu, bintang sudah bicara padamu, bukan...?
“Penyihir Bintang, jika kemampuanmu itu memang bukan isapan jempol belaka, sebutlah aku Sang Penghakim.
"Paham?
“Baiklah. Kuulangi lagi ucapanku. Turutilah aku dan kalian akan selamat.”
“....” Tak ada balasan dari Asteria untuk sesaat. “Apa ... yang harus kulakukan?”
Sang Penghakim menyeringai. Seringainya membuat Asteria tampak amat ketakutan.
“Selama tiga tahun ini ... tampaknya kau hanya memiliki tiga dari sembilan Batu Jiwa. Aku tahu dimana letak sisanya, tetapi bayarannya haruslah sepadan.
“Kau dan Arata harus membunuh Zeeta.”
......................
Bunyi decitan dan gesekan antar senjata yang saling beradu, menggema di ruang terbuka luas nan hijau. Tidak hanya bunyi itu, dentuman dan beberapa kali getaran juga terjadi. Ruang terbukanya terdapat air terjun serta beberapa gua berlubang.
Di suatu sisi, ada sekelompok orang yang berdiri dan duduk, seperti memerhatikan bagaimana decitan, gesekan, dentuman, atau getaran itu berlangsung—padahal tidak ada wujud yang bisa dilihat.
“Baiklah!” seru seseorang, “cukup sampai di situ!” ia maju beberapa langkah. Dia adalah gadis berambut perak panjang dan bermata biru langit.
Sejurus kemudian, dua orang menapaki kaki di tanah.
__ADS_1
“Penggunaan senjata suci kalian sudah membaik, tapi kontrol mana kalian masih kacau. Perbaiki lagi!” seru Si Gadis.
“Siap, Guru!” balas keduanya bersamaan.
“Jika baru sepuluh menit saja sudah bermandikan keringat begini, kalian hanya akan kalah tanpa perlawanan berarti. Setelah ini kelilingilah istana lima ratus kali untuk membangun stamina!”
“Li-lima ratus kali?!” keduanya kaget.
“Meski itu permintaanmu, Guru….” Seorang berambut merah panjang dan bermata hijau memprotes.
“Tidak ada penolakan. Aku tidak peduli lima ratus kali itu kaulakukan tanpa atau dengan mana, pokoknya lakukanlah! Atau ... kau lebih memilih mati, Danny?”
Tenggorokan pria bernama Danny itu naik, kemudian turun. “Ba-baik, Guru... Tapi, izinkan aku berbenah diri dulu....”
“Umu. Kuizinkan.”
“Te-terima kasih....” Danny langsung telentang di atas tanah.
“Novalius?” tanya Sang Guru, “ada apa?” Tatapan pria di hadapannya begitu serius.
“Tunjukkanlah aku kekuatanmu yang sekarang, Putri.”
Sang Guru, Zeeta, mengernyit. “Aku tidak akan melakukannya jika itu hanya membuatmu berkecil hati, Tuan Nova."
“Lalu untuk apa kau melatih kami sekeras ini selama tiga tahun tanpa menjelaskan SATU PUN hal pada kami?”
“Sudah berapa kali kukatakan? Untuk persiapan, Tuan Nova.”
“Jika tidak ada kejelasan darimu untuk apa semua latihan ini, aku tidak memiliki alasan lagi untuk menjadi Crescent Void, Putri. Tidak ada Hollow, Phantasmal, atau bahkan Peri yang bertetangga dengan kita, yang mengancam selama tiga tahun ini.
“Jika kau menganggap kami sederajat, maka janganlah sembunyikan apapun dari kami!”
“Hentikan, Nova!” jerit seorang pria berambut cokelat yang dikuncir kuda. Ia berjalan menghampiri keduanya. “Kau sudah lancang pada—“
“Kau yang tidak lebih kuat dariku, diamlah saja, Marcus!” tukas Novalius.
“Marcus,” ucap Zeeta, yang mengangkat tangan kirinya. “Tidak ada satu pun kelancangan dari Tuan
Novalius. Dia hanya mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya. Mundurlah.”
“Ba-baik, Yang Mulia," jawab Marcus, yang melangkah mundur.
Danny yang telentang di sebelah Novalius merasa canggung. Tidak tahan dengan situasi, ia bangun dan ikut bergabung bersama Marcus. “Hei, apa ini benar tidak apa-apa?” bisik Danny pada Marcus.
“Entahlah...," jawab Marcus, yang juga berbisik, "sejak tiga tahun lalu, Putri Zeeta semakin bijak dalam bersikap. Aku jadi sulit menebaknya."
Zeeta menarik napas, menahannya sesaat, lalu menghembusnya. “Tuan Novalius," kata Zeeta, "aku tidak pernah menyembunyikan satu pun hal dari kalian. Aku sudah membuka semua rahasia yang ada dari istana, garis keturunanku, bahkan hingga penggunaan senjata suci sudah kuajarkan.
“Jika....
“Jika Tuan Putrimu mengatakan untuk bersiap, adakah hal yang harus kauragukan?"
Tatapan mata Zeeta ketika mengucapkannya menggetarkan Novalius.
“Jika kau merasa demikian, tidak usah menunggu izinku untuk keluar dari Crescent Void, Tuan. Itu berarti sumpahmu pada Ratu hanyalah bualan belaka.”
__ADS_1
Novalius langsung terdesak oleh ucapan Zeeta.
“Namun...,” Zeeta masih melanjutkan kata-katanya, “bila keraguan itu bisa dihilangkan dengan aku yang menunjukkan kekuatanku, maka aku bersedia melakukannya.
“Tetapi sayang, aku meragukannya, mengingat keraguan itu bukan berasal dari hati, namun dari kepalamu, Tuan Novalius.
“Kau terlalu sering mengandalkan kepala untuk memutuskan sesuatu, sehingga hal kecil bermakna besar di sekitarmu tak kausadari.” Zeeta membalik posisi berdirinya. “Aku mengandalkan kalian untuk menjadi teman, rekan seperjuangan, juga telah kuanggap seperti keluarga. Bertahun-tahun kita menghabiskan waktu bersama, bercanda, menangis, dan hal lainnya.
“Aku tidak ingin kalian mati saat kalian berjuang bersama seseorang yang berbahaya sepertiku, oleh karena itu aku melatih kalian.
“Apakah ini yang ingin kau dengar sendiri dari Tuan Putrimu, Tuan?”
Zeeta kemudian mengangkat kaki dari hadapan Novalius. “Bubar! Batalkan semua rencana hari ini. Kuizinkan kalian kosong hari ini, Crescent Void.” Sebelum keluar dari sana—ruang dimensi Alicia di bawah Bengkel Axel—itulah kata-kata akhirnya.
“Zee—Zeeta!” seorang gadis berambut pirang dan bermata hijau mengejar Zeeta. Ia adalah Gerda.
Novalius mencengkeram tangannya erat-erat. “Apa yang telah kulakukan...?” pikirnya sambil menunduk.
Sepasang kaki menyambut pandangannya. Tak lama kemudian....
‘POOOWWWW!’
Novalius dipukul hingga masuk kedalam tanah.
“AKU KECEWA PADAMU!” jeritnya.
“Melly!” seru Colette, yang kemudian menghampiri Mellynda, lalu mengunci bahunya. “Apa yang kaulakukan?!”
“'Bertekad layaknya kupu-kupu', pantatku!
“Dimana letak kepala dan dimana hatimu itu, dasar Otak Udang!?
“Rivalku tidak ingin membuat kita terbebani oleh apa yang sedang kita hadapi, tapi kau justru membuatnya sedih!
“Tidakkah kauingat seberapa keras usahanya agar kita bisa sampai di titik ini? Kita bisa berjalan bersama, hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk sihir seperti Half Elf, Elf, Dwarf, Minotaur, Raksasa, bahkan hingga Naga!
“Sementara ia berjuang keras, apa yang ia dapat dari rekan sesama manusia dan sesama bangsawannya?
“Keraguan tak berarti?
“Aku salah menilaimu, Nova.”
Mellynda menepis kunci bahu Colette kemudian ikut keluar.
Mengikuti apa yang dilakukan Mellynda, Marcus juga mengingatkan Novalius setelah membantunya keluar dari dalam lubang. “Kita sangat bernilai untuknya, Nova.”
Sementara itu, di dalam ruang bawah tanah istana....
“Ketemu! Ini dia!” ujar seseorang dengan kacamata bulat dan berambut yang acak-acak. Ia memegang selembar kertas kulit yang menggambarkan peta. Setelah itu, ia segera mencari sesuatu di meja di dekatnya dengan mengobrak-abrik semua yang ada diatasnya sampai ia menemukan sebuah anting.
Ia langsung memakainya kemudian berkata, “Zeeta, aku sudah menemukan lokasi Batu Jiwa-nya!
"Oh?"
“Seperti yang kita duga, Raksasa sendirilah yang memecah Batu Jiwa menjadi sembilan pecahan dan menyebarnya ke seluruh dunia!”
__ADS_1