Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Tujuan Tiga Dunia yang Berbeda


__ADS_3

[Jötunnheim, beberapa waktu sebelum gerbang menuju Galdurheim terbuka....]


Æsir adalah satu-satunya pemimpin para Raksasa yang tidak menginginkan balas dendam terhadap Manusia. Kehidupan mereka di dunianya sendiri justru terasa lebih damai dibanding sebelumnya. Tidak hanya harus berurusan dengan Manusia, mereka pun harus melawan bila Naga menyerang. Situasi yang seperti ini sudah menjadi keseharian para Raksasa sejak Manusia bisa memakai sihir. Jötunnheim merupakan konsekuensi sekaligus pengampunan Yggdrasil pada Raksasa—menurut Æsir. Tidak hanya gagal melindungi apa yang harus dilindunginya, Raksasa malah melenceng jauh dari tugasnya melindungi Pohon Kehidupan, dan hendak meratakan Manusia dengan kaki dan sihirnya yang besar.


Æsir sedang berdiri di hadapan puluhan Raksasa pengikutnya yang memegang bermacam senjata.


"Setelah ribuan tahun," ungkap Æsir, "akhirnya komunikasiku dengan Ozy bisa terhubung kembali. Namun, aku gagal menghubungi Jeanne, dan Ozy bilang dia sudah mati."


"Jeanne sudah mati? Raksasa hebat sepertinya?" Raksasa lain tak percaya tentangnya.


"Aku tidak tahu detailnya bagaimana, namun Vanadust—bukti bersatunya para makhluk di Bumi pada kala itu—sudah diaktifkan oleh keturunan Jeanne.


"Yang berarti, tujuan kita melangkahkan kaki ke Galdurheim hanyalah satu; mengalahkan Jormungand."


Para Raksasa menajamkan pandangan mata masing-masing, satu suara dengan sang pemimpin.


"Manusia tidak akan menyangka seberapa menakutkannya Raksasa bila mereka serius dengan sihirnya, oleh sebab itu, aku takkan memaksa kalian untuk mengikuti keputusanku ini.


"Aku ingin Yggdrasil kembali dan hidup tanpa adanya peperangan sihir lagi. Ozy telah melatih Benih Yggdrasil yang menjadi pusat semua hal ini terjadi, dan dia yakin Benih Yggdrasil ini akan menciptakan dunia yang diinginkan oleh banyak ras.


"Aku akan memercayai kata-katanya dan bergerak terpisah dari Surtr, Snjór, dan Fenrir."


Para Raksasa tersenyum bangga. "Ozy sudah berjuang sendirian selama ribuan tahun seorang diri dan itulah yang dikatakannya, maka kami pun akan mengikuti Anda, Nyonya Æsir!" seru salah satu Raksasa.


"Namun, sukar dipercaya bila Jeanne sudah mati...," tanggap Raksasa lain.


"Kita akan mengetahui semuanya sesaat lagi," jawab Æsir, "mari fokuskan satu tujuan itu dahulu."


Kemudian, tiba-tiba saja tanpa adanya peringatan, gerbang menuju Galdurheim terbuka seakan seseorang telah membukanya paksa. Hal tersebut mengejutkan semua Raksasa yang ada di dalamnya. Pemandangan Galdurheim yang telah dipercantik dan diperkuat oleh Vanadust pun membinarkan mata semuanya, termasuk Æsir sendiri.


Namun sayang, ditengah-tengah terpananya para Raksasa, seekor Raksasa yang ukurannya jauh—sangat jauh lebih besar dari rata-rata, bergerak melata bergelombang. Pergerakannya begitu cepat, bak reptil yang sudah menunggu terlalu lama terlepas dari sangkarnya. Sebab tubuhnya yang sangat besar itu, Raksasa tersebut mampu menghancurkan dengan mudah tebing yang menghalangi jalan tubuhnya. Meski tertimpa, reruntuhannya sama sekali tidak memperlambat laju geraknya. Tubuh itu bersisik hitam mengkilap dengan tanduk menyerupai duri di sepanjang tubuhnya yang kira-kira lebih dari sepuluh kilometer. Di ujung tanduk-tanduk tersebut memiliki warna merah. Mata Raksasa itu runcing dengan warna ungu.


"Gawat!" seru Æsir, "Jormungand sudah bergerak! Ayo susul dia!"


Tidak hanya Æsir yang berpikir demikian sayangnya, pemimpin Raksasa lain seperti Surtr, Snjór, dan Fenrir sudah mendahuluinya. Pergerakan mereka sangat cepat namun tak mampu menyusul gerak Jormungand.


"Semuanya!" jerit Æsir, "seperti yang kalian sadari, gerbangnya terbuka karena paksaan seseorang. Namun, ini tetaplah berarti bahwa Ragnarok sudah dimulai!


"Mungkin, ada dari kita, bahkan aku sendiri, yang tidak selamat di pertempuran kali ini, tetapi selalu ingatlah satu hal ini saja! Baik aku, Ozy, Jeanne, dan kalian ... tujuan kita turun ke Galdurheim bukan untuk Ragnarok, namun Yggdrasil!"

__ADS_1


"YAAAA!!"


................


[Sementara itu di Drékaheim....]


"Pergerakan mana Naga di Galdurheim sangat aneh," ujar seekor Naga yang hinggap di tebing curam nan tertinggi di sebuah ngarai. Ngarai ini dipenuh-sesaki oleh ratusan Naga. Tidak hanya di ngarai-nya saja, di tebing yang mengapitnya pun demikian.


"Begitu banyak Naga di Galdurheim yang sudah mati. Fafnir, Garm, dan Carlou sudah mati. Kini, Naga yang sudah hidup sejak tiga ribu tahun silam hanya tinggal aku dan kau, Volsung." Seekor Naga betina bersisik putih, cantik, dan bermata runcing berwarna biru menghampiri Naga yang ada di tebing.


"Maafkan aku."


"Sudah menjadi kekuatanku, tidak usah meminta maaf. Kau dan aku sudah tua dan tidak perlu mengikuti pertarungan yang sudah jelas hasilnya ini."


"Namun, tidak sedikit dari mereka yang akan mati di sana, Oboro. Mereka adalah anak-anakmu."


"Anak-anakmu juga, Volsung. Mereka terhubung dengan kita dan mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka punya keinginannya sendiri. Rasa keadilan di dalam diri mereka sangatlah tinggi, dengan bermacam bentuk dan arti bagi masing-masing. Mereka sudah tahu apa akibat dari tindakannya."


"Tetap saja, mereka...."


Oboro memandangi Volsung sesaat. "Kau tak menduganya, bukan? Seorang Naga Kekacauan yang menjadi salah satu dalang kematian teman-temanku, Schrutz dan Orsted, juga rekan-rekanku yang lain justru berubah menjadi Naga penyayang seperti ini."


Oboro mengedipkan matanya beberapa kali, juga mematung sesaat. "Ingatlah usiamu, dasar Tua Bangka."


"Aku takkan menarik ucapanku.


"Lagi pula, aku tahu mereka kuat—mereka adalah anak-anak kita—namun, pergerakan mana ini...."


"Jormungand?"


'KRANKK!'


Gerbangnya terbuka, para Naga mulai berhamburan keluar bagaikan koloni.


"Sesuatu yang lebih jahat darinya ingin mendatangkan kemalangan tidak untuk Manusia saja."


Oboro mengerutkan matanya. "Seburuk itu?"


"Ya. Aku tahu kau sudah yakin siapa pemenangnya, namun situasi ini tidak bisa ditinggal begitu saja."

__ADS_1


"Haah...." Oboro menghela napasnya. "Baiklah."


.


.


.


.


Dengan demikian, baik para Raksasa dan Naga, memiliki agendanya masing-masing di Ragnarok ini, berbeda dengan Manusia yang memiliki satu tujuan pasti—bertahan hidup.


................


Begitu gerbang dua dunia yang berbeda telah terbuka, kerajaan Aurora dilanda kepanikan, berbeda dengan Crescent Void yang langsung berkumpul di halaman kediaman Alexandrita. Mereka melingkar dan saling merangkul satu sama lain.


"Waktunya sudah tiba! Apa persiapan kalian sudah selesai?" tanya Marcus.


"Pertahanan Aurora serahkan padaku!" seru Gerda. "Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi walau lawanku adalah Raksasa dan Naga!"


"Aku ikut dengan Gerda," timpal Mellynda. "Seorang diri saja takkan bertahan lama walau sebanyak apa dan sesiap apa dirinya. Aku akan membantunya dengan serangan balasan."


"Kalau begitu aku turun ke depan," ucap Danny, "bagaimana denganmu, Nova?" ia menyuguhkan kepalan kirinya.


"Waktunya menunjukkan keseriusan kita!" Nova membalas kepalan Danny dengan kepalan kanannya.


"Kalau begitu, aku minta kaulindungi Hutan Peri, Colette," pinta Marcus.


"Hutan Peri?" tanya Colette, "mengapa? Mereka sudah punya Ratu Peri yang baru!"


"Karena Peri merupakan target, sama seperti kita. Bukan dari pihak Raksasa atau Naga, namun....


"Kau pasti mengerti maksudku."


Colette teryakinkan. "Baiklah. Bagaimana denganmu?"


"Aku akan pergi ke Hutan Elf. Aku merasa Putri Zeeta meninggalkan sesuatu yang sangat penting di sana dan harus dilindungi.


"Aku mungkin akan bertemu dengan Elf lain yang sepemikiran denganku, jadi tak usah pikirkan aku. Dengan kekuatan yang kita miliki, Aurora mungkin masih bisa selamat. Waspadalah terhadap Rune dan sihir Naga. Ayo lakukan ini dan kembali hidup-hidup, semuanya!"

__ADS_1


"YAAA!"


__ADS_2