Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Tirai Penutup


__ADS_3

Gunung-gunung meletus, lautan mengamuk, langit pun meledak-ledak. Efek yang diberikan Vanadust terasa seperti sudah habis, layaknya sebuah obat pereda rasa nyeri. Segalanya tampak berubah total semenjak Zeeta Alter membangkitkan kekuatan dari tumpahan darah Jormungand.


Gadis Pembawa Kehancuran Dunia itu tergeletak di tanah dengan kristal besar yang melengkung dari pipinya. Mellynda menciptakan kubah untuk melindungi Zeeta yang tetap tidak bergerak. Gadis yang menyebut dirinya sebagai rival seorang Tuan Putri tersebut menusuk dada Alter dari balik tanah—memaksanya untuk bangun. "Kau tidak akan mati hanya dengan cara seperti ini. Lawanlah aku dengan serius, Zeeta! Pakailah Rune-mu, aku tak peduli!"


"Dasar bodoh!" jerit Azure, "apa yang kaukatakan, Melly?! Kau tak ada tandingannya dengan gadis itu!"


Mendengarnya, Alter pun menyeringai. "Bahkan rekanmu saja tak mempercayaimu."


"Jangan banyak omong, dasar cengeng. Apa? Kauingin bilang tak ingin menyakitiku, sebagai teman bangsawan pertamamu?"


Alter segera menggertak giginya, kemudian mencengkeram kristal dari pipi untuk menghancurkannya, dilanjutkan ke kristal di dadanya. Dia mengubah kristal yang sudah dihancurkan itu menjadi kepunyaannya, memperbanyak jumlah, lalu menembaknya.


Mellynda mengerutkan dahi. Ia mengangkat senapan di tangan kanannya, lalu menembaknya begitu saja.


Alter menyeringai, menganggap Mellynda memiliki aim yang sangat buruk.


"Oh ya?" Mellynda ikut menyeringai. "Kau lupa ini senjata suci, Zee?"


Alter terkesiap, dimana ia segera mendapati peluru-peluru yang baru saja ditembak Mellynda kembali lagi ke dalam selongsong senapannya.


"A-apa yang—?"


Gerda dan Danny yang sesama anggota Crescent Void, mengerti apa yang baru saja dilakukan Mellynda. "Itu bisa dilakukan juga kepada Alter...?" Danny menggumam walau tubuhnya lemas.


"Kau tidak tahu tentang ini, 'kan? Tentu saja. Bahkan dirimu yang sekarang ini takkan mampu lagi memanggil Catastrophe Seal lagi. Yang tersisa di sakumu hanyalah mana kegelapan, Rune, dan kekuatan Jormungand saja."


"Tsk." Alter mendecit. "Seakan kaupunya kesempatan menang dariku!"


"Tentu saja ada!" Mellynda mulai menembakkan senapannya secara bertubi-tubi sambil berlari menuju Alter. Sayang, tiada satupun peluru kristalnya yang dapat menggores lawannya. Gadis berambut hitam itu menghindarinya dengan mudah dengan gerakan-gerakan yang lincah dan gemulai.


"Terlalu mudah!" seru Alter.


Mellynda mengabaikannya. Ia menghilangkan senapan di tangan kanannya, menyisakan sebelahnya saja. Kemudian, sambil tetap berlari, dengan gerakan ayunan tangan kanannya ke atas, Mellynda berhasil mengejutkan Alter dan semua yang sedang menontonnya. Dia mewujudkan gelombang kristal yang cukup besar, bak ombak yang menerjang secara diagonal. Alter nyaris terluka parah oleh ketajamannya dengan melompat mundur di saat-saat terakhir. Namun, Mellynda sudah menduganya. Dengan adanya ruang di bawah sihirnya sendiri, ia berseluncur dengan punggungnya lalu menembak Alter dari jarak nol.


'DOR!!'


Empat peluru kristal menembus dada Alter, Mellynda melakukan gerakan roll belakang untuk segera berlari. Ia mengakhiri aksinya dengan mengibaskan rambutnya ke belakang. "Kau sama sekali tak pernah melawanku satu lawan satu. Tidak mungkin kautahu apa yang bisa kulakukan dengan sihirku sekarang."


"Kau hanya melubangiku dengan peluru kristalmu lagi. Sihir seperti ini mana mung—"


'DEG DEG!!'


Alter terbelalak. Ia merasakan sesuatu dari lubang tempat bersarangnya kristal Mellynda. "GAAAAAHHHH!!!!" ia tiba-tiba menjerit kesakitan. "Apa?! Apa yang kautanamkan dalam sihirmu, Bajingan?!"


Mellynda menyeringai. "Kau tidak ingat? Sihirmu sendiri."


"Waktu itu...?!" Alter mengingatnya, saat Mellynda menyerap sihir yang sudah direbut darinya.


"Kau sendiri— tidak, Zeeta di sinilah yang bilang pada kami, untuk selalu ingat guna senjata suci ini dan dari apa mereka ditempa."


Alter terlihat seperti tersadar akan sesuatu.


"Ya, itu benar. Roh Yggdrasil. Senjata suci ini dapat menyerap kekuatan lawan dan membalikkannya menjadi dua kali atau bahkan delapan kali lebih kuat.


"Kekuatan mereka adalah yang paling buruk bagimu saat ini. Sungguh ironis sekali."


"Brengsek...!" mata Alter memerah, keningnya pun berurat.


"Tidak tidak. Mari kita bicara dulu dengan tenang." Mellynda melelehkan bekas ombak kristal sebelumnya, dan menjerat kaki Alter dengannya. Tentu saja, Alter semakin berteriak kesakitan.


.


.


.


.


"Hebat...!" Azure menggumam.


"Ya, dia benar-benar hebat," sahut Gerda. "Menyerap dan membalikkan serangan lawan sama sekali tidak mudah. Mirip seperti ketika kau harus tetap menjaga keseimbangan saat melakukan*highlining. Kaubisa mati kapan saja."


"Itu benar." Danny menanggapi. "Kami Crescent Void memutuskan untuk tak benar-benar memakainya bila musuh tidak begitu mengancam. Tingkat kesulitannya pun beragam tergantung seberapa besar mana yang dituangkan lawan pada sihirnya."


"...." Azure tertegun. Dia tidak tahu latihan Crescent Void seberbahaya itu. "Lalu, apa kalian tahu dia bisa mengendalikan kristalnya sehebat itu?"


Danny dan Gerda saling tatap. "Tidak."


"Eh? Lalu dengan siapa dia berlatih selama ini hingga bisa sehebat itu?"


"Jujur saja kami tak tahu," Danny menjawabnya. "Begitu-begitu, harga diri Mellynda sebagai bangsawan sangatlah tinggi. Kapanpun latih tanding, kami tahu dia sedang mencoba melakukan banyak hal dengan sihirnya, tetapi dia tidak pernah serius. Dia hanya ingin serius saat tiba waktunya melawan Zeeta. Mungkin saja ia berlatih dengan ayahnya."

__ADS_1


"Mellynda...." Azure memandangi cemas si pemilik nama yang sedang berjalan perlahan menghampiri Alter.


......................


[Sementara itu, di bekas labirin Cremlyn di Aurora....]


Berbagai macam makhluk sihir dan ras berada di sana. Mereka semua saling memegang bahu, disaat yang paling depan memegang sebuah kristal yang menjadi inti sihir penghalang andalan mereka. Tidak hanya dari Raksasa dan Naga saja, tetapi Half Elf, Slime, Minos, Dwarf, makhluk sihir ciptaan Alicia, tentu juga dari Elf, semuanya hadir di sana.


"Hei, Ratu Peri! Apa yang sebenarnya akan terjadi sampai kau mengumpulkan semua yang ada di kerajaan ini menyumbangkan mananya pada kristal itu?!" Axel, yang sama-sama ada di sana.


"Kalian akan mengerti sendiri nanti! Jangan banyak ragu dan bertanya, lakukanlah saja sebelum terlambat!" jerit Nadéja.


Alicia yang berdiri di paling depan, sebagai sesama Aurora, merasakan apa yang terjadi di luar. Apa yang terjadi dengan alam. "Aku serahkan putriku pada kalian, Crescent Void...." Ia membatin.


"Reina! Apa yang di sana sudah siap?!" Nadéja tak memakai telepatinya.


.


.


.


.


Reina berada di Grandtopia bersama hewan-hewan sihir yang tinggal di sana. "Ya! Mereka sudah siap!"


Gadis Elf itu duduk di tengah hewan-hewan yang berbaris membentuk lingkaran. Mereka semua duduk sepertinya, seakan benar-benar paham apa yang akan dilakukan Nadéja.


"Chronos sama sekali tak menunjukkan waskitanya tentang ini....


"Tentang bagaimana Nadéja tiba-tiba menyuruhku ke Grandtopia untuk menyampaikan pada hewan-hewan ini untuk 'melakukan persiapan'.


"Namun, aku bisa menebaknya dari apa yang kulihat sebelumnya, saat Ragnarok belum terjadi. Saat Aria dan Ozy memarahi Zeeta yang datang sendirian ke sini, gadis itu seperti berbicara mengenai sesuatu yang penting....


"Sesuatu yang tak bisa kami pahami, namun dapat kami tebak apa maksudnya.


"....


"Dunia akan mengalami perubahannya. Perubahan yang sangat besar— kehancuran. Supaya benar-benar bisa bertahan darinya, sebelum dunia yang diinginkan Zeeta hadir, hal ini diperlukan.


"Dunia yang dapat ditinggali makhluk sihir tanpa harus mengandalkan mana alam... hanyalah mimpi ditengah lautan. Mustahil. Namun, bila Yggdrasil mampu mewujudkannya hingga semua ini harus dilakukan, maka...."


......................


"Kau ini sungguh gadis yang bodoh!


"Kau melakukan semua ini hanya karena tak bisa memaafkan dirimu sendiri yang gagal menepati janjimu kepada teman-teman dan orang yang berharga bagimu!


"Apa? Kauingin bilang kau telah dikhianati?


"Karena kau adalah gadis bodoh, maka aku akan mewakili diriku yang gagal mengatakan ini dengan tegas padamu!


"Kami tak ingin terus membawamu ke dalam jurang keputusasaan! Kami semua juga salah karena tak mampu berdiri berdampingan bersamamu! Kami tak berusaha untuk mengerti apa yang kaurasakan!


"Tapi!


"Tapi aku yakin kalau aku, Gerda, Danny, Novalius, Colette, dan Marcus... Kak Azure, ayah, dan ibumu....


"Dan yang paling penting Luna!


"Kami semua tahu tentang penderitaanmu!"


Meski tubuhnya bobrok, Alter masih dapat mendengar dengan jelas teriakan yang memaksanya untuk terus memandangi mata yang mengucurkan deras air mata.


"Tegaskanlah padaku saat ini juga, Zeeta!


"Saat kami di duniamu mengacungkan sihirnya padamu, apakah mereka mengatakan sepatah katapun yang menyalahkan dirimu?!


"Mereka yang menyalahkanmu adalah tembok yang gagal kita semua lewati dan itu telah menindih kita semua!"


Alter mengingat-ingat lagi. Hanya serpihan-serpihan saja yang dapat ia ingat, namun itu adalah....


"Maaf...! Maafkan kami... Zee...!"


.


.


.


.

__ADS_1


"Gaaaaarrgghhh!" Alter menghempaskan Mellynda dengan gelombang ungu dari tubuhnya. "APA ARTI MAAF ITU SAAT KALIAN TAK BISA MENYELAMATKANKU?!


"APA ARTI MAAF SAAT KALIAN SUDAH MEMAKSAKU TENGGELAM DALAM KEPUTUSASAAN KARENA BANYAK YANG GAGAL KULINDUNGI?!


"GERDA...!


"KAK AZURE...!


"SEPUPU-SEPUPUKU...!


"AYAH DAN IBU PUN MATI KARENA DIRIKU!


"JANGAN BERCANDA, MELLY! KAU TAK TAHU APAPUN TENTANGKU!"


Mellynda sempat terkejut dengan yang dilantangkan Alter. Karena hempasan sebelumnya, hidung dan bibirnya berdarah. Ia segera mengusapnya lalu menggertak gigi. Seraya ia berjalan, ia melihat tubuh Alter perlahan beregenerasi.


"Aku adalah rivalmu! Aku berjuang untuk bisa berada di sisimu dengan bangga! Aku terus mengejar punggung yang sama sekali tak membalikkannya padaku, namun aku percaya dia pasti akan bergantung padaku ... pada teman-temannya!


"Kenapa kau tak melakukan itu?!"


Mereka saling beradu sihir dari pukulan masing-masing. Sebuah dampak yang begitu menghancurkan menghempas kelima penonton yang tak bisa bergerak itu. Tanah berubah bak sebuah mangkuk retak parah.


"Mana bisa kulakukan itu saat pikiranku hanya memikirkan keselamatan dunia! Aku ingin kalian yang berharga bagiku tersenyum walau nyawaku adalah taruhannya!"


'BWHAKKK!'


Alter mendaratkan pukulan pada pipi kiri lawannya.


"Dan itulah yang kubenci darimu sejak dulu!"


'DHUWAGG!!'


Mellynda yang kehilangan keseimbangannya bertumpu di tanah dengan tanah lalu menendang kepala Alter. Ia berdiri lagi dan Alter kembali di tanah. "Kau tak peduli pada kami yang menyayangimu dan menganggap nyawamu adalah harga yang pantas untuk menebus kewajibanmu!


"Zeeta!"


Mellynda menengadah kepala.


"Aku tahu kaubisa dengar ini, tapi kalau setelah ini kau mati, aku takkan pernah memaafkanmu! Tidak akan! Kau masih berhutang latih tanding denganku! Aku ini rivalmu!"


Alter tak melakukan apapun. Ia tenggelam dalam pikirannya. Tak lama setelah itu, ia berdiri.


"Tidak akan ada happy ending untuk kalian."


Mellynda menyaksikan sendiri seperti apa creepy-nya senyuman Alter. Ia langsung merasakan firasat yang buruk.


"Segera lari dari sana! Kembalilah ke Aurora! Cepat!"


Mellynda mendengar telepati dari Nadéja. Tanpa ragu sedikitpun, ia membalik tubuh tiga ratus enam puluh derajat. Bersamaan dengan hentakan kaki agar dirinya terpental jauh oleh sihir kristal, hal tersebut juga berlaku pada Gerda dan yang lain.


"RAAAAAHHHHHH!!" Alter menjerit kencang. Alam semakin mengamuk. Tidak ada lagi tempat aman di Bumi. Banyak diantaranya sudah tertelan oleh lava, jurang bawah laut, dan lain sebagainya.


"Apa...?! Apa yang akan dilakukan Alter...?! Apa Zeeta akan baik-baik saja?!" saat Mellynda membatinnya, sekelebat ia merasa melihat empat bayangan yang melawan arah dengannya. "Jangan-jangan mereka...?"


......................


Zeeta keluar dari kubah kristal. Rambutnya tidak lagi berwarna perak. Bersamaan dengan keluarnya dia, perlahan bulan berubah merah darah. Ia berjalan menuju Alter berada dengan santai. Saat melihat ke dalam lubang tanahnya, dia melihat Alter sedang terkapar dengan napas begitu terengah.


"Sepertinya rivalmu berhasil mengalahkanmu, ya." Zeeta berkata.


"Dia juga rivalmu. Jangan bicara lagi. Ini sakitnya luar biasa. Segera selesaikan. Kuakui kekalahanku."


Zeeta tersenyum. "Kita memang benar-benar orang yang sama, ya." Saat Zeeta menyentuh Alter, tubuhnya perlahan hilang layaknya debu hitam.


Beberapa saat kemudian, dua Benih Yggdrasil datang bersama dengan Roh-nya. Saat sampai, tanpa bicara apapun, Hitomi segera menampar Zeeta.


Namun....


Betapa terkejutnya Hitomi kala tangannya mendarat di pipi Zeeta, itu justru tembus. Tubuh Zeeta bagaikan kertas bercahaya yang dapat menyatu dengan sendirinya.


"A-a-a-apa yang terjadi padamu?!"


Zeeta tersenyum kecut. "Maaf. Memang sudah seharusnya seperti ini." Dia melirik pada dua Roh Yggdrasil yang mengapitnya.


Kedua Wadah itu memelototi mereka, dimana dua Roh tersebut hanya bisa memalingkan pandangan.


"Tidak ada waktu lagi." Suara Zeeta segera mencairkan emosi keduanya. "Kuserahkan sisanya pada kalian, ya!"


Melihat senyuman tulus seorang Zeeta disaat-saat terakhirnya, memaksa kedua Benih Yggdrasil itu mengucurkan air mata.


"Sial!" gerutu Klutzie. Dia tak peduli kalau air matanya jatuh begitu deras.

__ADS_1


Hitomi sendiri menggigit bibirnya dan berusaha untuk tak meneteskan lebih banyak air mata.


"Ah, sebelum itu...." Zeeta memandangi Xennaville dan Siren. "Aku punya permintaan terakhir."


__ADS_2