Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Putri Duyung dan Penyihir Harapan


__ADS_3

Di kedalaman lautan yang luas, selalu terdapat entitas-entitas yang tidak pernah manusia lihat sebelumnya. Seperti saat ini, yang hendak ditemui Sang Penakluk Penguasa Lautan, Cynthia. Setelah bersepakat dengan kakak dan dua tamunya, Cynthia pergi bersama salah satu Penguasa Lautan, Qyu—Si Penyu Raksasa—ke suatu tempat di luasnya lautan tersebut.


“Siapa yang ingin Anda temui hingga seburu-buru ini, Yang Mulia?” tanya Qyu.


“Makhluk yang melintasi sejarah dari awal hingga saat ini, Aspidochelone.” Cynthia menyeringai.


“Ma-maksud Anda ... Kura-Kura Raksasa yang memiliki pulau di tempurungnya itu?! Dia bahkan sepuluh kali lipat lebih besar dariku!”


“Haha, tentu saja aku tahu itu, Qyu.” Cynthia menepuk-nepuk tempurung yang didudukinya itu.


“Sebenarnya ... siapa Aspidochelone itu? Hal yang kutahu tentangnya hanyalah ukurannya saja.”


“Jujur saja, ini pun pertama kalinya aku bertemu dengannya.”


“Hah...?” Qyu gagal paham. “Jadi kenapa... Anda seolah tahu dia akan membantu?”


“Tenang saja. Aku bukanlah Duyung yang secara gegabah ingin meninggalkan dua tamuku di dalam lautan. Terlebih, aku tahu di mana lokasi pasti Kura-Kura Raksasa itu berada sekarang.


“Di lautan ini, yang bisa mendengar Penguasa Lautan sepertimu, Dion, dan Sion saat ini, hanyalah aku dan dua tamuku itu saja. Tanpa izinku, mereka tak akan mendengar ucapan kalian. Kekuatan ini turun pada para Duyung secara acak dalam kurun waktu yang tidak menentu, tetapi ada satu kejelasan tentang alasan tersebut.


“Yaitu, untuk memertahankan keseimbangan lautan dikala dunia akan terguncang, baik itu oleh ancaman, zaman, atau karena perubahan besar lainnya.


“Orsfangr memiliki catatan tentang asal-usul kami para Duyung. Kami adalah turunan familiar-familiar—atau pelayan—dari Roh Kuno Air, Undine.


“Oleh karenanya, kekuatan ini diberikan oleh Roh Undine untuk menjaga lautan. Selain memiliki daya yang diluar nalar, kekuatan ini pun mampu memahami bahasa makhluk laut lain, mengerti kemampuan-kemampuan mereka bahkan sebelum melihat sosoknya, serta merasakan bahaya-bahaya yang ada di lautan.


“Tugasku adalah tetap menjaga keseimbangan di lautan ini. Meskipun begitu, bukan berarti aku sudah bisa menguasai semua kekuatan yang kumiliki. Jika sudah, aku takkan meminta bantuan orang daratan.


“Singkatnya Qyu, peranku ini mirip seperti seorang manusia di daratan sana, yang bernama Zeeta.”


Cynthia terdiam sejenak. Qyu juga tidak ingin mengganggu Sang Putri Ketiga ini. Dia terus fokus menggerakkan kaki siripnya untuk berenang ke mana arah yang diinginkan Putri.


“Tujuanku menemui Aspidochelone adalah untuk menghubungkanku dengan Zeeta. Ada sesuatu yang benar-benar harus kupastikan. Ini tidak hanya berkaitan dengan lautan atau dunia secara keseluruhan, tetapi penting untukku juga.”


Mendengarnya, Qyu tersenyum. “Serahkan pada saya, Yang Mulia. Kemana pun Anda hendak pergi, bilanglah saja. Penyu kuat ini siap mengantar Anda!


“Ngomong-ngomong, apa kita masih jauh?”


“Tidak. Sebentar lagi sampai.”


“Huh... kukira ini akan menjadi perjalanan lebih dari satu hari, ternyata hanya beberapa jam saja.”


......................


Tidak begitu sulit bagi Qyu dan Cynthia untuk menemukan Aspidochelone sebab ukurannya yang begitu besar. Kura-Kura Raksasa tersebut tidak bergerak dan sedang “beristirahat” di tepi sebuah pulau. Keempat kakinya terlihat jelas bagi keduanya, sehingga mereka segera menjulang ke hadapan kepalanya.

__ADS_1


“Astaga!” seru Qyu sambil melotot, “aku membayangkan seberapa besar Aspidochelone itu, tapi ini jauh lebih besar dari yang kuduga!


“Aku hanya sebesar ujung kukunya saja!”


“Sssh!” Cynthia mendiamkan Qyu. “Tunjukkanlah sopan santunmu! Kura-kura ini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu! Bagaimana kalau dia marah hanya karena kita tidak menunjukkan sopan santun?!”


“O-ouh... oke... maafkan saya....”


Begitu keduanya sampai, seakan diberikan jump scare, mata Aspidochelone terbuka lebar begitu saja, memerlihatkan mata yang berkilau kuning. “Seekor penyu dan Duyung.... Sudah lama sekali sejak aku melihat ada yang berani menghampiriku sedekat ini.” Mulutnya tidak bergerak, tetapi mereka mendengarnya secara jelas. Suaranya begitu dalam dan berat—layaknya pria yang sangat tua.


“Suatu kehormatan bagi kami untuk bisa bicara denganmu, Tuan Aspidochelone,” ujar Cynthia, bersopan santun.


“Suatu kehormatan bagiku juga karena bisa bicara dengan seorang Penakluk Penguasa Lautan yang keseratus lima puluh. Tolong, panggil saja aku dengan ‘Bon’.”


“Bo-Bon...?!”


Kura-Kura Raksasa itu tersenyum. “Ya. Itu adalah nama yang diberikan Undine Yang Agung padaku.”


Cynthia segera merasakan betapa bahagianya makhluk besar di depannya ini. Diapun ikut tersenyum. “Baiklah!” ia mengangguk keras. “Aku akan memanggilmu Bon.”


“Terima kasih. Jadi, apa yang kauinginkan dari kura-kura tua sepertiku? Kearifan? Pengetahuan? Atau mungkin ... kekuatan?”


“A-apa kura-kura ini sedang mengetesku…?” batin Cynthia. “Ti-tidak, Bon. Jika aku diizinkan, aku ingin bantuanmu untuk memertemukanku dengan seseorang di daratan sana, Zeeta Aurora.”


“E-eh? Ke-kenapa? Aku tidak memiliki banyak waktu jika harus ke daratan terlebih dahulu, Bon! Kumohon! Ini masalah penting untuk lautan ini!”


“Hanya karena satu keping Batu Jiwa, itu tidak akan mengubah tatanan laut, Duyung Muda.”


“Di-dia tahu apa yang sedang terjadi...?”


“Tapi, aku mengerti alasanmu panik. Kau tidak pernah mengalami masalah seperti ini sebelumnya, dengan kata lain, kau masih setengah matang... berbeda denganku yang sudah menyaksikan banyak sekali masalah-masalah dan pertikaian besar.


“Namun, karena kau adalah seorang Penakluk Penguasa Lautan, aku akan memberimu pengecualian. Kuberi kau batas lima menit untuk bicara dengan gadis bernama Zeeta itu.”


“Te-terima kasih banyak, Bon!”


Bon kemudian menyentuh kening Cynthia dengan cakar pipihnya. Bagian yang disentuhnya bercahaya hijau, lalu menyebar ke seluruh tubuh Cynthia dan melapisi Qyu seutuhnya.


......................


Cynthia dan Zeeta sekarang saling berhadapan. Dengan meminjam kekuatan dari Bon, Putri Duyung Ketiga dari tiga bersaudara tersebut saat ini berada di daratan—meski tidak sepenuhnya demikian.


Bon hanya “mentransferkan” kesadaran Cynthia dan mengubahnya menjadi sesuatu yang mirip seperti roh, kemudian mengirimkannya ke sebuah sumber air yang berada di dekat Zeeta. Melalui sumber air tersebut, Bon dapat mewujudkan Cynthia dan memungkinkan Sang Putri Duyung berbicara dengan Sang Penyihir Harapan.


“Namaku adalah Cynthia Arseld Orsfangr. Aku bukanlah rekanmu, juga bukanlah musuhmu. Tujuanku bertemu denganmu seperti ini hanyalah satu, dan kuingin aku menjawabnya sejujur-jujurnya.”

__ADS_1


“Luna...?” bisik Zeeta, “Apa dia benar-benar Duyung dan aku tidak salah lihat hanya karena sirkuit sihirku mati?”


“Tidak, kau tidak salah lihat.


“Orsfangr adalah kerajaan bawah laut. Dark Elf dan Danny sedang ada di istananya.”


“Ah... begitu... ” Zeeta kemudian menata lagi pakaiannya, memastikan tak ada kotoran di sana. Ia lalu berhormat ala bangsawan. “Maaf terlambat mengenalkan diri, Putri Cynthia, mungkin Anda sudah tahu siapa aku, tetapi namaku Zeeta Aurora. Senang bertemu denganmu.”


“Umu.


“Aku akan terus terang saja, aku ingin tahu alasanmu membiarkan musuh memiliki Batu Jiwa. Seharusnya kautahu jika musuh memiliki semua enam Batu Jiwa-nya, maka itu akan membuka portal yang memungkinkan Jormungand turun ke Galdurheim.”


“Portal itu tidak terbuka karena Batu Jiwa-nya saja, Putri.”


Cynthia mengernyit. “Apa maksudnya? Dari semua informasi yang kumiliki dan ketahui, syarat untuk membuka portal itu adalah Batu Jiwa-nya!”


“Informasi itu tidak salah. Tetapi, siapa sebenarnya yang benar-benar bisa membuka portal itu? Apakah hanya dengan mengumpulkannya saja portalnya akan terbuka? Pasti itu butuh suatu pemicu untuk mengaktifkannya.”


Cynthia mencerna baik-baik jawaban Zeeta. “Ja-jangan-jangan ... kau...?”


“Ya. Aku. Akulah yang harus dan akan membuka portal itu.”


“Ta-tapi ... jika benar begitu, maka itu berbanding terbalik dengan tujuanmu selama ini!”


Zeeta tersenyum kecut. “Jadi Anda sudah tahu sejauh itu, ya...?


“Itu benar. Jika aku membukanya, hal itu berbanding dengan semua perjuanganku sampai ke titik ini....


“Namun, bila aku tidak siap menghadapi Jormungand, Ragnarok pun tak bisa kuhadapi.


“Aku tahu aku membuat banyak rekan-rekanku marah karena keputusan sepihakku tanpa memberitahu mereka terlebih dahulu, tapi, tolong sampaikan ini pada Dark Elf yang ada di istanamu.


“'Aku sudah berjanji pada Marianna untuk menuntaskan semuanya. Aku sudah berjanji untuk menghilangkan semua rantai kebenciannya dan inilah langkahnya. Jalan ini sulit bagiku, tetapi bila mentari cerah dan hangat bisa merata untuk semua yang ada di muka Bumi, aku tetap akan berjalan menghadapinya.


“Karena ... aku memiliki kalian di sisiku, bukan?'”


Cynthia merasa tergerak oleh ucapannya. Sebagai sesama yang memiliki beban besar yang ditanggung di punggungnya, ia mengerti betapa kuat Zeeta, tetapi disaat yang sama, dirinya benar-benarlah rapuh.


Oleh karena itu ... Cynthia kurang senang dengan jawaban Zeeta. Lantas, ia bertanya, “Apa tidak ada jalan lain selain ini, Putri Zeeta?


“Apa satu-satunya jalan hanyalah membuka portalnya?! Aku tahu aku baru saja melihatmu, tapi... tapi ... aku tidak ingin orang yang mirip denganku bernasib seperti ini....”


Zeeta berjalan menghampiri Cynthia. Dia tersenyum padanya. “Terima kasih, Putri Negeri Asing. Aku sangat menghargainya, tapi ... dunia ada di tanganku dan aku tidak bisa mengutamakan keegoisanku.


“Aku adalah keturunan bulan dan memiliki takdir untuk MENGAKHIRI dunia sihir ini!”

__ADS_1


__ADS_2