Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Menerima Apa Adanya dan Mencintainya


__ADS_3

Hitomi Reiko sedang berada di kerajaan Orsfangr kala Arata sedang disibukkan oleh perkara kekaisaran dan hubungan privasinya. "Tsk, gadis sialan itu...!" umpat Hitomi, yang sedang bersilang tangan. Dia memakai sihir jarak jauh untuk berbicara dengan Riruko. Dirinya juga sedang berada di halaman istana, menunggu kehadiran seseorang yang penting.


"Jika sekhawatir itu dengan kakakmu...." Xennaville menghampiri. "Mengapa kaupergi meninggalkannya sendirian? Kau adalah Tuan Putri yang lebih condong untuk langsung beraksi daripada mengendap-endap seperti ini, Hitomi."


"Dan kau pun tahu kalau aku sudah membencinya sejak dia membicarakan hal buruk tentang kakak dibelakangnya. Bahkan saat itu dia masih kecil! Mulutnya benar-benar tidak bisa dijaga, kendati dia salah satu anak orang penting di kekaisaran!


"Yah, meskipun keluarganya sudah binasa karena kejadian kemarin, sih."


Xennaville melirik dalam diam mata Hitomi.


"Apa? Kau punya masalah dengan cara berpikir atau ucapanku?"


"Tidak. Aku hanya berpikir kalau kau benar-benar menyayangi kakakmu, ya, Hitomi."


Hitomi mengerutkan dahi dan menatap lurus Roh Yggdrasil-nya. "Kau sudah memantau dan menerimaku sebagai Wadahmu cukup lama, Xennaville. Tentu saja aku menyayanginya. Aku tidak akan membiarkan kakak tersakiti oleh siapapun lagi."


"Haaah...." Xennaville menghela napas panjang. "Padahal belum lama ini kau sengaja memusuhi dunia demi ambisimu, tetapi sekarang kau menjadi lunak. Apakah ini karena bintang telah menunjukkan dirimu sesuatu?"


Hitomi mengalihkan badannya, kemudian memejamkan mata. "Apa yang kulakukan hanyalah permainan anak-anak dibandingkan gadis itu, Xennaville. Entah bagaimana pun caranya, Ragnarok harus dimenangkan Zeeta.


"Kuharap Orsfangr dan Undine mau membantu kita."


"Tentu saja kami akan membantu, Tuan Putri Hitomi Reiko." Sebuah suara datang dari belakang keduanya. Dia adalah Putri Pertama Kerajaan Bawah Laut Orsfangr, Sugar Vazquez Orsfangr.


"Putri Sugar!" Hitomi menyambut kedatangan Sugar dengan menghampirinya. "Maafkan kedatangan kami yang tiba-tiba dan membuat kekacauan di lautan. Tampaknya para monster laut tidak bisa menerima mana-ku yang terasa jahat."


"Apa boleh buat. Sebab dirimulah yang merencanakan untuk merebut Batu Jiwa, bukan?"


"Uhm. Apa boleh buat, apa lagi rencanaku malah diketahui oleh Naga Carlou dan ayahku."


"Kalau begitu, maklumi saja keengganan ayah dan kakakku untuk bertatap mata denganmu, ya, Putri Hitomi." Mereka berjabat tangan, namun Sugar sengaja mencengkeramnya semakin keras.


Hitomi memasang senyum terpaksa, mengerti bahwa keluarga bangsawan ini dendam terhadapnya.


Tiba-tiba....


'ZRANGG!!'


Lautan bergemuruh, mengguncang isinya. Sugar dan Hitomi juga kehilangan keseimbangannya.


"Aku mengerti perasaanmu, tapi kita tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal semacam dendam, Sugar Vazquez Orsfangr."


Mendengar suara itu, Sugar segera bergidik ngeri. Ia lantas membalik badan ke sumber suara dan segera bersujud. "Ma... maafkan kelancanganku, Roh Kuno Undine!"

__ADS_1


Hitomi juga ikut membungkukkan setengah badannya.


Undine mengangkat trisula yang dipakainya untuk menegur dua makhluk yang nyaris bertengkar tersebut. "Umu. Kalau begitu, mari tinggalkan saja Juggernaut dan Marshall. Selagi kita menunggu Cynthia yang sedang menyatukan suara para monster laut, katakanlah, Penyihir Bintang, apa yang telah kaulihat dengan kekuatan ramalanmu itu hingga menyebut perbuatanmu selama ini, yang merenggut banyak jiwa tidak hanya di daratan, tetapi juga lautan, hanyalah 'permainan anak-anak'?"


Sugar mengernyit mendengarnya. Lantas, tanpa menyembunyikan apapun, Hitomi menceritakan apa yang dilihatnya.


......................


[Sementara itu, disaat yang sama....]


"Akhirnya kita berdua saja, ya, Riruko."


Riruko mengacuhkan Arata. Ia tidak ingin lelaki yang sudah disakitinya ini melihat seberapa jatuh dan menyesal dirinya. Wajahnya tidak karuan, bukan hanya karena tangis yang menyebabkan sembab, tetapi juga air hidung yang tidak bisa ia hentikan.


Meski begitu, Arata tidak memedulikannya. Ia memaksa wajah Riruko untuk membalas tatapannya. Ia mengusap tangis di pipi dengan kedua jempol. Melihat wajah Arata hanya beberapa senti dengannya dan merasakan langsung tangan pria itu di pipi, memaksa Riruko merona hingga ke telinga. Kala itu, bukannya merasa jijik atau apapun dengan keadaan gadis di hadapannya ini, Arata justru tersenyum seraya mengatakan, "Sejak kecil, aku selalu mencintaimu, Riruko!"


Rona merah Riruko menyebar ke seluruh wajahnya.


"Aku selalu melihatmu dari kejauhan. Aku tahu kau selalu membicarakan hal buruk tentangku dan bukannya aku merasa tidak sakit jika melihat dan mendengar bahwa orang yang kucintai berkata demikian.


"Aku selalu berpikir, 'apa salahku padamu hingga kau seperti ini padaku?'


"Aku tidak memiliki teman selama ini, aku jadi tidak bisa mengetahui apa sebenarnya yang kuinginkan. Aku tersakiti olehmu, tetapi aku tidak ingin melepasmu begitu saja. Aku memiliki janji padamu dan aku ingin mewujudkannya sebelum orang lain mendahuluiku."


Mata Riruko yang berwarna biru gelap itu berbinar.


"Aku tahu kau selalu berjuang demi keluargamu. Untuk mewujudkan harapan ayahmu, yang ingin terus berada di sisi kaisar. Apapun caranya kaulakukan, bahkan jika itu membuatmu dibenci banyak orang. Apa lagi ... aku pernah melihatmu, sendirian di bawah pohon sakura, sambil mengatakan...."


Arata duduk di samping Riruko.


"'Apa yang salah denganku? Sejak kapan aku jadi orang yang sejahat ini? Apa ini karena keinginan ayah, sehingga membuatku sering tidak bisa menjaga ucapan?


"Tapi ... dengan begini... dengan aku yang mewujudkan keinginan ayah untuk menjadi geisha, bisa membuatku berada di dekat Arata.'"


Riruko menatap ke tanah. Ia malu. "Ka... kalau ada di dekatku, kenapa kau tidak menyapaku...?"


"'Gr! Tetap saja, kenapa monster itu masih hidup, sih? Padahal yang ini sudah menjadi percobaan yang ke tiga puluh lima! Ih, jijik sekali!'


"Mana mungkin aku menghampirimu setelah mengatakan itu, bukan?"


Riruko segera meringkukkan badan. "Tolong hukumlah aku, Arata."


Arata menatapi Riruko yang berwajah lesu. Tangisnya sudah berhenti dan ia sudah menyeka air hidungnya.

__ADS_1


"Aku sangat sangat senang dengan semua pengakuanmu barusan, tetapi aku juga jadi sadar aku tidak berhak menerima lagi itu semua. Aku telah menyakiti dirimu, selama bertahun-tahun ini."


Arata terdiam. Ia mengingat jika adiknya menyebut sesuatu tentang mengapa Riruko selalu melakukan ini. Kemudian, ia segera menyimpulkan seringai di wajahnya.


Arata menarik dagu Riruko secara paksa, kemudian mengecup bibir lawan bicaranya. Tentu saja, hal itu memantik darah naik di gadis tersebut, juga memaksanya melotot.


"Jadilah permaisuriku dan cintailah aku sepenuh hati tanpa menjelek-jelekkan diriku lagi, Riruko! Itulah hukumanku kepadamu!"


"Pe-pe-pe-pe-permaisuri...?!" Riruko memastikan telinganya tidak salah dengar. "Ke... kenapa tiba-tiba... a-aku sudah bilang kalau aku—"


"Apa kau tidak mencintaiku?"


Riruko mengepalkan tangannya. "Te... tentu saja, dasar bodoh!"


"Eh?" Arata mematung kala tiba-tiba Riruko berdiri.


"Aku selalu saja berpikir kau pergi dari kehidupanku selamanya dan pasti telah melupakan semua tentang hubungan kita, apalagi janji itu!


"Aku mengatakan hal buruk di belakangmu agar kau marah padaku dan bisa berkata sesuatu padaku! Aku ingin memastikan apakah kau benar-benar melupakanku atau tidak, tapi dalam prosesnya, aku sudah terlalu banyak mengatakan hal buruk tentangmu!


"Aku sungguh tidak pantas memilikimu lagi, Arata Akihiro!


"Tapi!


"Tapi dengarkan aku!


"Walau aku yang seperti ini, aku pun mencintaimu, Arata!


"Bisakah kaubayangkan betapa bahagianya aku sekarang?!


"Untuk menjadi wanita idamanmu, aku pastikan bisa mengubah semua perlakuanku dan bisa pantas berdiri di sebelahmu!


"Namun, asal kautahu, Arata!"


"I-iya...?" Arata tersenyum lebar.


'CUP!'


Riruko segera mencium bibir Arata, bahkan jauh lebih lama.


"Aku takkan melepaskanmu!" meski dengan wajah yang semerah tomat, Riruko membajakan dirinya untuk mengatakan itu.


Arata kemudian memegang lembut pipi Riruko. "Aku mencintaimu, Riruko." Ia tersenyum sembari mengelus pipinya dengan jempol.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Arata!!" Riruko mendekap erat lelaki berambut putih dan bermata merah itu. "Sangat sangat mencintaimu! Terima kasih karena sudah menerima diriku yang tidak sempurna ini!"


Arata membalas dekapan Riruko, seraya menjawab, "Terima kasih juga karena sudah menerima monster sepertiku, Riruko...."


__ADS_2