
[Di istana Aurora, ketika pertempuran sudah usai setelah berlangsung selama enam jam lamanya....]
Para bangsawan utama telah berkumpul kembali, dan Ashley sudah siuman. Apa yang pertama kali ia rasakan adalah rasa kesal dan malu pada dirinya sendiri. Bagaimana tidak, dirinya yang berjabat sebagai Grand Duchess justru tumbang lebih awal daripada anak-anak yang tangguh dan berani itu, bahkan ia hanya menjadi beban. Ia ingin segera memperbaiki kesalahan fatal ini sesegera mungkin, tetapi situasi sedang sangat tidak mendukung. Ia menetap lebih lama di istana untuk mendengar semua yang terjadi dan merencanakan langkah mereka bersama-sama.
Maisie yang masih dalam bentuk burung hantu juga merasa ancaman bagi hutan, Hutan Sihir Agung, dan Aurora telah hilang. Iapun menurunkan medan pelindungnya dan meminta Alicia untuk menunda kembalinya rakyat dari sihir dimensinya, mengingat mereka masih harus berunding, karena pasti Alicia akan terfokuskan untuk menangani berbagai macam masalah yang timbul setelahnya, seperti keraguan, kecemasan, dan rasa takut yang dirasakan rakyatnya tentang apa yang akan dilakukan istana setelah kemenangan "sementara" ini.
.
.
.
.
[Sementara itu, di perjalanan pulang Crescent Void, Klutzie, dan Siren....]
“Hei,” ujar Danny, “aku baru sadar setelah semuanya tenang kembali, tapi ... dimana Novalius? Bukankah dia ada bersama kalian?”
“Ah, kalau Novalius....” Marcus ragu untuk memberitahunya. Tatapan mata darinya, Colette, dan Mellynda yang tidak ingin melihat Danny ataupun Gerda, membuat keduanya curiga.
“Hah? Apa yang terjadi?” tanya Danny.
“Katakan saja, Marcus,” timpal Klutzie.
Marcus menghela napas panjang. “Sebenarnya….”
......................
Ketika Marcus, Colette, Mellynda, Klutzie, dan Novalius hendak diteleportasi dengan makhluk sihir kupu-kupu ciptaan Alicia, Klutzie mengucapkan sesuatu yang langsung memantik emosi Novalius.
“Tunggu dulu, Ratu Alicia. Izinkan aku bicara sebentar,” ucap Klutzie.
“Ada apa?” tanya Alicia, “segerakanlah, pertempurannya—“
“Aku tahu. Ini akan singkat.” Klutzie menatap Novalius. “Orang sepertimu yang terpaku pada perbedaan kekuatan dan segera melupakan tujuan utama dari semua perjuangan yang telah kaulakukan adalah orang yang akan paling cepat tumbang—tidak, kau hanya akan menjadi beban bagi rekanmu sendiri.”
Novalius mengerutkan dahi. “Hah? Apa maksudmu?”
“Kau tidak mengerti...? Haaah. Baiklah, akan kusingkat agar monyet sekalipun dapat mengerti.
"Tinggallah. Kau hanya akan jadi beban untuk kami.”
Ucapan Klutzie langsung membuat semua di sekitarnya terkejut, bahkan Alicia sendiri.
“Aku telah bergabung dengan Roh Yggdrasil, dan dimode ini, aku bisa merasakan pergerakan mana yang berbeda dari biasanya. Mana, sama saja dengan kehidupan. Dan kehidupan itu pasti terpengaruh oleh cara berpikir pemiliknya. Baik orangnya kuat atau lemah, bermana besar atau kecil, selalu ada perbedaan yang memungkinkan Roh Yggdrasil menilai orang seperti apa yang pantas untuk dibantu—contohnya adalah aku san Zeeta, yang merupakan Benih Yggdrasil.
“Bagaimana, apa kau mengerti sekarang? Aku takkan mengungkap apa yang sudah kaupikirkan sebelumnya, tetapi jika kausadar bahwa dirimu salah, maka tinggallah. Jika kau merasa keberatan dan ingin pembuktian, maka tunggulah sampai kami kembali. Aku akan meladenimu. Tenang saja. Danny dan Gerda adalah rakyat jelata yang jauh lebih pantas disebut sebagai bangsawan. Mereka pasti akan melindungi apa yang harus dilindungi.”
......................
“Uwah, meskipun kau pangeran, tapi lidahmu tajam juga!” tanggap Danny pada cerita Marcus. “Kenapa kaubisa bersikap seperti itu padahal Novalius yang lebih tua darimu?”
Pertanyaan Danny mengundang tawa Klutzie. “Hahahah, apa kau bercanda?”
__ADS_1
“Hmm?”
“Justru karena aku adalah Pangeran, tua atau muda, harus kusikapi dengan adil. Aku justru memandang Zeeta sebagai Putri yang aneh. Dia sama sekali tidak memancarkan auranya sebagai Putri. Dia tidak begitu anggun untuk disebut Putri, tetapi dia tetap berharga sebagai Putri kerajaan. Kau pun merasa begitu, ‘kan ... Danny yang jatuh cinta pada Zeeta?” Klutzie menggoda Danny di akhir kalimatnya yang ia bisiki.
Danny segera merona merah begitu mendengarnya. "A-a-a-apa maksudmu? Ja-jangan bercanda! Meskipun kau pangeran ternyata humormu cukup bagus, ya, ha ha ha ha!"
“Aku tak tahu apa yang kaubisiki padanya, tapi...,” timpal Gerda, “kami seperti ini berkat kak Azure dan Melly. Mereka mengajarkan kami pentingnya sosok teman yang harus dihargai keberadaannya, sebelum dia merasa dia ditinggalkan. Zeeta kan... orangnya mudah kesepian, penakut, dan cengeng. Kami tidak bisa meninggalkannya sendiri. Karena itulah....
“Aku sangat bersyukur karena keinginanku diwujudkan, aku bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama Zeeta!” senyum tulus darinya membuat semua yang ada di sana ikut tersenyum.
.
.
.
.
“Heeeehhh ….” Danny menghela napasnya. “Ngomong-ngomong, kita sudah berjalan selama lima belas menit, tapi rasanya sudah satu jam! Tak ada seorang pun yang bisa memakai sihir teleportasi, kah?”
“Berisik, tahu! Kalau ada, pasti sudah dilakukan dari awal!” seru Gerda.
“Tenanglah, aku hanya bertanya! Bagaimana denganmu, Siren?”
“Tidak untuk saat ini,” jawab Siren, “gara-gara SESEORANG yang tidak bisa mengendalikan emosinya, mana-ku jadi terkuras. Aku bahkan menghindari memakai sihir itu sejak sebelum berangkat agar mana-ku tersimpan cukup untuk melawan Suzy, tapi anak ini justru....”
“Ahahahah....” Klutzie menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Maaf, semuanya....”
“Apa Suzy … benar-benar sudah kalah, Siren?” tanya Mellynda.
“HAH?!” Colette yang paling terkejut diantara mereka. “Bahkan setelah menerima sihirku yang seperti itu?!”
“Ya. Tapi, dia pasti menerima luka yang fatal. Baik aku dan Klutzie, kami cukup puas dengan hasil ini karena telah membalas perbuatannya pada kami beberapa waktu yang lalu.”
“Oh ... baiklah, jika itu yang kaukatakan….” Colette tenang kembali.
Marcus melirik Klutzie, dia memiliki sesuatu di pikirannya tetapi tidak ia ungkapkan. Kemudian, tidak lama setelah itu, Zacht muncul di hadapan mereka atas utusan Alicia untuk menjemput.
......................
Zeeta yang sedang berlatih bersama Ozy sedang memperlihatkan hasil latihannya sejauh ini . Dengan musuhnya adalah makhluk bayangan yang sebelumnya tertunda untuk dilawan, Zeeta melawannya dengan sebatang kayu pungutan Ozy. Katanya, sebatang kayu itu saja cukup untuk menjadi perantara pewujud dua Rune yang telah Zeeta pelajari, yakni Thurisaz dan Raidho, hanya jika Zeeta mampu mengatur jumlah aliran mana alam dan mengubahnya ke Rune dengan tepat. Tanpa membocorkan sedikitpun kemampuan makhluk buatannya, Ozy hanya memperhatikan bagaimana Zeeta akan mengatasi situasi ini.
“Jika Ozy menyuruhku memakai Rune, berarti makhluk di depanku bukanlah lawan yang bisa diatasi hanya dengan sihir biasa. Tidak… belum tentu seperti itu….” Selagi Zeeta tenggelam dalam pikirannya, tiga makhluk bayangan itu memanjangkan tangan-tangannya untuk mengikat kaki Zeeta dan menariknya hingga membuatnya terbanting ke tanah dan berhasil melukai dagu dan menyebabkan pusing sesaat.
“Sial! Seharusnya aku bisa menghindarinya dengan Raidho!” batin Zeeta, “jadi beginikah maksud Ozy aku butuh perantara untuk menulis Rune?” Ketika ia hendak menggunakan batang kayunya untuk menulis Rune, kedua pergelangan tangannya juga diikat dengan lengan tambahan yang muncul seperti cabang tambahan. Merespon ini, Zeeta melirik pada Ozy, dan ia mendapati seringai darinya. Sontak, Zeeta merasa diremehkan.
Zeeta menatap batang kayu yang terjebak diantara telunjuk dan jempol kanannya. Tak lama kemudian, batangnya bercahaya biru, lalu terbang dengan sendirinya. “Raidho!” batin Zeeta, yang menjadi perintah bagi batangnya dan segera menulis ‘Raidho’.
Begitu tertulis, Zeeta mengarahkan batangnya untuk menyentuh huruf itu. Selanjutnya, dengan membayangkan Thurisaz di kepalanya, batang itu segera menuliskannya pada tubuh Zeeta dengan kecepatan yang telah ditambah dengan Raido. Semua terjadi begitu cepat dan menimbulkan senyum kecil untuk Ozy.
__ADS_1
Setelah merasakan efeknya, Zeeta mengepalkan tangannya lalu membentangkannya. Ia juga melakukan hal yang sama pada kakinya, dan membuat ketiga makhluk bayangan itu pecah seperti jeli dan tersebar ke seluruh arah, termasuk Zeeta sendiri.
“Iiieeewww, apa inii?” Zeeta merasa sangat tidak nyaman begitu pecahan jeli itu menyentuh tubuhnya. “Ini lengket, berlendir, dan … ugh … bau!”
Saat Zeeta ingin melenyapkan pecahan itu dengan sihirnya, tiba-tiba….
‘GUBRAK!’
“Eh...? Tubuhku tiba-tiba....” Pandangan Zeeta berkunang-kunang.
“Kau gagal,” ujar Ozy dari kejauhan, “kau tidak memakai mana alam, tetapi mana-mu sendiri, apalagi kau menuangkannya dalam jumlah yang besar. Jika kau bukanlah kau, kau pasti sudah mati! Zeeta, kau masih harus banyak berlatih!”
Latihan Zeeta masihlah panjang untuk dinikmati hasilnya....
Lalu, setelah Zeeta mulai mendapatkan kembali mana-nya, Zeeta teringat sesuatu yang ia benar-benar lupakan betapa pentingnya hal tersebut. Dengan wajahnya yang masih terlihat sedikit pucat, ia menanyakannya. “Ozy ... kaubilang tempat ini terisolasi dari dunia luar, ‘kan? Tapi … kenapa aku bisa tahu apa yang terjadi di medan pertempuran sebelumnya?”
Ozy melihat mata Zeeta, lalu menjawabnya. “Ya, jika siapa yang ada di dalam ini adalah makhluk seperti Aria, atau teman-temanmu.”
“Hah? Apa maksudnya?”
“Kau adalah pemilik kekuatan bulan, merasakan apa yang terjadi pada teman-teman atau keanehan pada alam di jarak tertentu, bukanlah hal mustahil. Aku pun tidak mengerti bagaimana kalian bisa melakukannya, sementara aku, aku adalah Raksasa. Bumi memberitahuku apa yang terjadi.”
Zeeta mengingat pernah merasakan hal yang sama ketika Hollow yang pertama kali menyerang Aurora datang. Apa yang dirasakan alam, juga dirasakan olehnya. Namun, hal itu justru menimbulkan tanda tanya lagi baginya, kenapa hanya waktu-waktu tertentu ia mampu merasakannya? Ozy bahkan buntu mengenainya.
“Gunakanlah waktu ini untukmu beristirahat, dan jangan pikirkan hal berlebihan, lalu segera kembalilah berlatih!” pungkas Ozy.
......................
Setelah kepulangan Crescent Void disambut oleh sang Ratu dan Raja, juga para bangsawan utama, Klutzie dan Siren segera angkat kaki untuk memenuhi janjinya pada Novalius. Alicia yang mengetahuinya hanya bisa tersenyum dan membatin, “Masa muda, eh?”
Maisie telah kembali ke bentuk semulanya dan Luna juga hadir di ruang yang sama. Mereka siap berunding. “Sebelum kita memulai, biarkan aku berkata satu hal,” ujar Ashley, yang mengundang pertanyaan. “Aku merasa malu sebagai Grand Duchess yang hanya menjadi beban bagi kalian. Seharusnya aku bisa melakukan lebih banyak, tetapi nyatanya selalu seperti ini. Tidak hanya kali ini, saat kejadian Rowing, dan Hell Hydra aku hanyalah beban untuk kalian. Aku....
“Merasa lebih baik untuk meninggalkan jabatan ini.”
Semua orang terbelalak dan yang pertama kali berusaha mengurungkan niat Ashley adalah Luna, yang tentu tidak diduga oleh siapapun di sana. “Urungkan niatmu, Manusia.” Ia mengubah wujudnya menjadi gadis setengah-rubah. “Crescent Void bisa sejauh ini karena upayamu juga. Meski kau menilainya tidak berarti, denganmu yang telah menteleportasi Danny ke garis depan membuat segala situasinya berubah.
“Suatu tindakan kecil, selalu bisa mengubah situasi medan pertempuran, bahkan jika itu diungkapkan sebagai ‘kehadiran batu di jalan, dapat menumbangkan bahkan seorang raksasa.’
“Aksimu bukanlah segalanya sebagai seorang jenderal, tetapi pikiranmu juga termasuk didalamnya. Rencanamu yang ingin membiarkan Klutzie turun ke medan pertempuran setelah berlatih di ruang dimensi bawah tanah Axel, adalah salah satu dari jasamu.
“Selain itu, jika kau turun dari jabatanmu, kau yang akan kerepotan untuk menghadapi Zeeta. Tanpamu, dia tidak akan menemukan fakta ibunya, arti menjadi seorang tuan putri, dan kehidupannya saat ini.”
“Itu benar!” Hellenia menimbrung, “tanpa Nyonya Ashley, kita tidak bisa sejauh ini!”
“Aku setuju,” timpal Rey, “berkat Nyonya-lah, aku bisa hadir di sini sebagai bangsawan utama.”
“Meskipun terkadang Ibu keras, tapi keras itu adalah salah satu bentuk ketegasanmu sebagai Grand Duchess,” imbuh Albert.
“Aku masih baru menjabat sebagai bangsawan utama, tetapi aku pun merasakan betapa pentingnya kehadiranmu di kerajaan ini, Nyonya Ashley,” tambah Zacht.
“Aku tak begitu paham, tapi kau adalah guru sihirnya Zeeta, ‘kan?” Danny tanpa beban mengatakannya, “kalau begitu, dia yang cengeng pasti masih ingin belajar lebih banyak darimu!”
“Da-Danny, cara bicaramu…!” Marcus kewalahan dengan Danny.
__ADS_1
“Semuanya….” Terlalu emosional dengan situasi, Ashley menitikkan air mata. “Terima kasih!
“Baiklah, kalau begitu, tidak perlu kita tunda lagi, mari kita bahas bagaimana rencana kita ke depannya!”