
Seorang wanita berambut pirang dan berjubah hingga menutupi kepalanya, sedang menggenggam segelas alkohol, di dalam bar yang telah dipenuhi oleh orang-orang mabuk. Mengabaikan para pemabuk itu, wanita berambut pirang tersebut segera membayar sejumlah uang koin pada bartender. Ia kemudian bertanya, “Informasi apapun tentang Olav.”
Si Bartender menerima terlebih dahulu sejumlah koin tersebut, menatap sesaat Si Wanita, kemudian menjawab, “Dia menculik dua orang anak kecil.”
“Anak kecil?”
“Hanya itu.”
“Cih....” Si Wanita segera meneguk habis alkoholnya, lalu angkat kaki. Begitu dia keluar, dirinya disambut oleh angin malam kencang, di bawah sinar perkasanya rembulan hampir penuh.
“Lagi...,” batinnya, “dunia akan berubah sekali lagi oleh manusia....” Dia menatap rembulan dengan mata yang menyipit.
......................
Sementara itu, di dalam penjara pribadinya Olav, Clarissa sedang terlelap, sementara sang kakak sedang berusaha mencari cara untuk keluar dari sel. Anak perempuan berusia sembilan tahun itu melihat sekelilingnya. Ada lubang kecil yang terletak di tembok belakang sudut atasnya, tetapi itu hanya bisa dilewati oleh tikus. Mereka juga terlalu besar jika harus memiringkan badan dan keluar dari sela-sela selnya.
“Kalau begini caranya, aku harus memakai kekuatanku,” ucap Tellaura. Kemudian dirinya meregangkan punggung tangan, dilanjutkan pada leher, kedua bahunya, dan terakhir pada tubuh bagian atasnya. Ia lalu menghirup napas panjang, menggertak gigi, lalu mencengkeram kuat dua buah selnya. Bersamaan dengan hembusan napasnya, ia menarik sel tersebut sekuat tenaganya. Beruntungnya, karena sel keduanya berada di paling ujung, tidak ada orang yang bisa menyaksikan seperti apa aksi overpower anak kecil itu.
Setelah dirasa cukup lebar untuk mereka berdua lewati, Tellaura segera menggendong-punggung adiknya. Dia memastikan kalau adiknya tidak menerima guncangan yang begitu besar, karena lukanya cukup memprihatinkan.
“Bertahanlah, Adik!” Tellaura menarik napas dalam-dalam lagi, lalu bersama dengan hembusan napasnya perlahan-lahan, dia mulai berlari.
.
.
.
.
Disaat yang sama, ada seseorang yang berpakaian serba hitam, bahkan hingga kepalanya. Kain dengan warna yang sama juga menutup sebagian wajah—dari dagu hingga bawah matanya. Ia sedang memantau sekitar kediaman Olav—yang tentu saja berada di istana yang menyerupai tower berbentuk tongkat sihir—di balik bayangan sebuah bangunan yang terletak jauh dari istana.
Lantai paling atas adalah tempat dimana singgasana Raja dan Ratunya bertakhta, sementara lantai-lantai di bawahnya, hanyalah orang-orang bangsawan saja yang diizinkan masuk, bahkan mereka pun harus dilakukan pengecekan terlebih dahulu oleh para penjaga istana. Para bangsawan memiliki identitas pengenal—yaitu sebuah batu hiasan berwarna merah kirmizi. Tidak hanya bangsawan dewasa saja, mereka yang masih anak-anak pun juga memakainya.
“Hei, sedang apa kau malam-malam begini?”
Orang yang memakai pakaian serba hitam itu amat terkejut dengan suara tersebut dan segera melakukan perlawanan dengan menendang-putar tiga ratus enam puluh derajat dengan tumit kirinya, dimana sepatunya sudah dilengkapi oleh pisau yang beracun.
__ADS_1
Namun, identitas suara tersebut—wanita berambut pirang yang sebelumnya dari bar—menangkap tumit orang itu dengan mudahnya.
“Begitu ya,” ujar Si Wanita, “Kau adalah orang yang menolong salah satu dari mereka. Kalau begitu, kukatakan ini padamu, Manusia. Aku bukanlah musuhmu.”
Orang itu mengernyit.
“Beberapa saat lagi akan ada dua anak kecil yang keluar. Kau akan terkejut, membantu mereka, dan sebuah tragedi terjadi. Sampai saat itu tiba, janganlah ragu untuk menolongnya.”
Orang itu sangat kaget saat wanita berambut pirang yang menangkap tumitnya dengan sangat mudah menghilang begitu saja. Namun, ia sadar bahwa ini bukan saatnya teralihkan oleh hal lain. Dia terus mengawasi istana.
......................
Tellaura terhenti dan bersembunyi di balik pilar-pilar besar dimana satu dengan lainnya berjarak sangat jauh. Dia bahkan sempat terkagum oleh bahan lantai dan pilar yang ia injak saat ini. Belum pernah dirinya melihat lantai semewah dan semengkilap itu sebelumnya. Bahkan warnanya sangat cantik, bersih, hingga memantulkan bayangannya.
Tellaura sadar ia harus segera kembali serius. Ia melihat banyak penjaga istana yang berlalu lalang. Bahkan dirinya yang masih berusia sembilan tahun saja tahu, bila dia dengan gegabahnya maju, dia hanya akan kembali ke sel yang sama, setelah melumpuhkan banyak penjaga di dalamnya.
Satu-satunya cara agar ia bisa melewati rintangan ini adalah dengan membuat pengalihan perhatian. Dia melihat sekeliling, sambil bertanya-tanya, adakah hal yang bisa dijadikannya sebagai bahan untuk rencananya itu?
Dia melihat chandelier besar yang berada di tempat yang tepat untuk menyelesaikan semuanya sekaligus. Yang kurang adalah apa yang bisa membuatnya terjatuh. Dia menemukannya dari tubuh adiknya.
Tellaura mendudukkan sebentar adiknya. Meskipun tangannya sudah berlumuran darah dan dia menahan sakit yang amat sangat karena habis beradu pukulan keras dengan para penjaga sebelumnya, dia tetap berusaha tenang, meskipun wajahnya pucat dan napasnya tersengal-sengal. “Nanti akan kubelikan sepatu yang lebih bagus dari ini, ya, Risa. Aku berjanji. Tapi sekarang, aku butuh ini supaya kita bisa selamat,” ujarnya pelan, sambil melepas sepatu kulit yang dipakai adiknya.
Begitu sudah tepat, Tellaura langsung melempar dua bola sepatu kulit itu disaat yang hampir bersamaan. Rambut panjang merahnya bahkan sampai terhempas oleh angin yang tercipta oleh lemparan tangannya sendiri itu. “Jangan remehkan akurasi keseharianku yang selalu membantu ayahnya melempar barang-barang ke dalam kereta!” batinnya. Ia segera kembali bersembunyi di balik pilar dan langsung menggendong adiknya lagi.
‘KRAK!’
‘PRANGGG!’
Dua bola yang dilempar Tellaura mengenai bagian gantungan rantai chandelier-nya. Bola pertama hanya bisa melepas setengahnya, dan lemparan kedua berhasil menjatuhkannya hingga mengejutkan para penjaga istana secara serentak. Tidak ada yang menyadari adanya dua bola yang tersangkut di sudut atas istana setelah kehilangan banyak dampak pendorongnya.
Selagi para penjaga istana itu mengepung chandelier besarnya, Tellaura lagi-lagi berlari kencang dengan kekuatan besarnya. Namun sayang, begitu dia berhasil menuju apa yang diyakininya pintu keluar, sebuah tangga yang menanjak ke atas....
“Hei! Itu tawanan Pangeran Olav!”
Salah satu penjaga mendapati bayangan Tellaura yang sedang gigih berlari sekencang mungkin.
“Cih, sialan!”
__ADS_1
“Kejar! Kejar mereka! Urus lampu ini nanti saja!”
Perkiraan Tellaura yang bisa keluar dengan mudah, salah total. Ketika dia berhasil menanjak tangganya, itu hanyalah ruangan lain yang terbentang luas seperti lorong raksasa. “Apa-apaan tempat ini sebenarnya?!” dia mengeluh sambil terus berlari.
Sayangnya lagi, entah bagaimana caranya, puluhan penjaga istana datang dari arah tujuan Tellaura. Ia berhasil dikepung dengan mudah. Hal tersebut membuatnya terhenti sesaat.
“Percuma kauingin keluar dari sini!” jerit salah satu penjaga.
Tapi, Tellaura tidak menyerah. Dia menggertakkan giginya. “Jika kau kesakitan, maafkanlah aku, Risa!” Tellaura kembali berlari. Dirinya yang sejak tadi tidak memakai alas kaki, ketika ia menghentakkan kakinya, dampaknya membuat lantai mewah istana sedikit rusak seperti telah terhantam.
Sejak ia berlari itu, setiap langkah kakinya menimbulkan dampak yang sama pada lantai. Tentu saja hal itu membuat para penjaga yang menyaksikannya terheran-heran. Namun, mereka adalah penjaga istana. Bila mereka tidak mengemban tugas sebagaimana mestinya, maka merekalah yang akan habis.
“Hraaaahhh!” baik Tellaura dan para penjaga istana berteriak untuk membarakan keberanian.
Para penjaga tidak ragu untuk menggunakan senjata mereka seperti tombak, panah, dan pedang. Namun, para pemegang panah kesulitan karena kecepatan langkah Tellaura. Yang bisa diharapkan adalah mereka yang membawa tombak dan pedang.
“Berhentilah, dasar kau Kecoak!” salah seorang penjaga menghunuskan tombaknya tepat ke arahnya, namun Tellaura berhasil melompat tinggi—melontarkan dirinya ke arah pilar. Dengan kekuatan yang sama pula, Tellaura berhasil melontarkan dirinya lagi ke pilar lain dan berhasil melangkahi semua prajurit yang sebelumnya berhasil mengepung.
“Haha!” hal itu tentu membuat Tellaura senang. “Tidak kusangka aku benar-benar berhasil!”
Namun....
‘ZRSHT!’
Tellaura terjatuh. Adiknya juga sama. Ia melihat kakinya berdarah dari paha. Seseorang berhasil memanahnya.
“Kaupikir kaubisa lolos dariku, Pangeran Kelima Southern Flare, Monster?” tatapan jijik diberikan Olav. “Inilah yang kubenci dari kalian. Kalian itu aneh! Kalian tidak waras! Kalian menentang alam!
“Manusia macam apa yang memiliki kekuatan seperti itu kalau kau bukan Monster?!”
Tidak menghiraukan Olav, Tellaura mencabut paksa panahnya, lalu merangkak menuju adiknya.
Kesal karena dihiraukan, ia tembakkan lagi tiga panah ke dekat kepala Tellaura. “Sekali lagi kauhiraukan aku, takkan selamat nyawa kalian!”
Tellaura terpancing akan kata-kata itu. “Kau hanya akan membunuh kami pada akhirnya, kalau memang ingin seperti itu, segera lakukan saja!”
Olav mengernyit. Dia bersiap untuk menembakkan dua anak panah. “Akan kubuktikan kemampuanku. Dunia akan berterima kasih padaku karena telah membunuh kalian!”
__ADS_1
‘PEWW!!’