Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kekuatan Tersembunyi Azure


__ADS_3

Situasi di dalam istana Aurora menjadi semakin panas sejak Scarlet memberitahu alasan mengapa ia menatap Raja Eizen Gustav serius. Zacht yang kebetulan sudah kembali ke ruang singgasana, merasakan secara langsung bagaimana mana Alicia meningkat drastis begitu mendengar apa yang dilontarkan mulut ibunya.


“Tenanglah, Alicia,” ujar Scarlet, sambil mengelus bahu Alicia. “Aku paham apa yang kaurasakan, tetapi saat ini bukanlah waktunya membahas itu,” sambungnya.


“AKU TAHU!” bentak Alicia, yang mengagetkan Scarlet. “Tentu saja soal itu aku tahu, Ibu!” ia mengepalkan tangannya erat-erat, sampai menimbulkan urat di tangan dan kepalanya. “Pria sebaik hati, lembut, dan murah senyum seperti ayah, telah dibunuh oleh pria yang datang begitu saja di depan mataku ... dan aku ... baru mengetahuinya sekarang—puluhan tahun setelah ayah meninggal....


“Aku mencoba, Bu.”


Scarlet dan Eizen terdiam seribu bahasa. Masing-masing dari keduanya memiliki alasan mengapa mereka melakukan apa yang telah dilakukannya.


Lalu, beberapa saat kemudian, ditengah-tengah situasi tersebut, mereka sadar bahwa mentari pagi yang terhalangi oleh gorden, malah meredup perlahan hingga benar-benar menjadi gelap. Zacht pun segera menyingkapnya sambil bertanya, “Apa lagi yang terjadi sekarang?”


'SREEEKK'


Ketika telah disingkap, baik itu Eizen, Scarlet, Alicia, ataupun Zacht, mereka kaget melihat langit gelap dengan petir menggelegar berwarna merah dengan kilat putih. Dari kegelapan langit itu, masih ada yang terjadi—yang tak bisa ditangkap oleh mata telanjang.


“Apa itu...?” tanya Scarlet menyipitkan mata. Ia menambahkan sihir yang berlapis kegunaan seperti zoom dan slow motion pada kedua matanya. “Seorang gadis berambut hitam dan...?”


“Gadis berambut hitam?!” Eizen kaget mendengarnya. “Apa dia sedang melawan seorang wanita bertangan monster?!”


Scarlet melepas sihir matanya. “Ya, kautahu?”


“Di-dia....” Eizen menceritakan apa yang terjadi sebelum mereka ke sini.


.


.


.


.


"Jadi begitu." Scarlet duduk kemudian menutup matanya. "Tapi, mengapa bukan Zeeta yang menghadapinya? Bukankah gadis itu hanyalah teman yang tidak seharusnya ikut campur masalah ini?"


Aria kemudian datang dari dimensi penyembuhan. "Tentu saja dia ada hubungannya," katanya begitu masuk ke ruangan.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Gadis berambut hitam itu adalah murid dari Marianna."


"Murid..., kah...."


"Dia juga telah kuangkat sebagai putriku," timpal Alicia, "dia seorang penyintas dari desa Lapis yang telah hancur oleh seorang mantan bangsawan utama."


"Apa?!" suara Scarlet begitu menggelegar hingga menggetarkan meja. "HANCUR OLEH BANGSAWAN UTAMA?!" ia mengepalkan tangannya erat-erat.


......................


Ini terjadi beberapa saat yang lalu, ketika Azure baru saja mementalkan Marianna dengan sihir berbentuk palu godam hingga menimbulkan keretakan pada tulang Marianna.


Azure menghampiri Marianna yang posisi tubuhnya tidak beraturan akibat sihirnya. Ia menyipitkan mata ketika melihat bagaimana dengan mudahnya sosok yang disebutnya sebagai guru tersebut beregenerasi sampai ke tulang-tulangnya.


"Apa benar kalau hanya kami yang benar-benar bisa melawan orang seperti dia, Zee...?" Azure ragu akan kemampuan mereka, dirinya dan Crescent Void, setelah melihatnya.


Azure bersiaga ketika Marianna telah mendapatkan pijakannya lagi. Ia diam di tempat beberapa saat, membuat Azure waspada akan apa yang hendak dilakukannya.


Kemudian, Marianna mulai melancarkan serangannya sekali lagi. Dengan kecepatannya yang tinggi, membuatnya terlihat seperti berteleportasi. Azure yang tak bisa mengikuti kecepatannya dengan mata, segera menyilangkan tangan sekaligus memunculkan tameng.


Marianna muncul di atasnya, hendak menyerang dengan tangan kanannya. Bereaksi secepat yang ia mampu, Azure melompat mundur, tetapi ia melihat beberapa bayangan runcing di tanah.


Azure terpaksa membuka silang tangannya untuk membagi dua tamengnya. Ia pun menguatkan kekuatan kakinya dengan tambahan sihir.


Sebuah batang pohon runcing siap menusuk di sebelah kiri, sementara ada Marianna yang hendak menyerang di sebelah kanan.


Tapi, saat Azure siap akan impact pada sekitar lengannya, Marianna justru menyeringai. Ia berteleportasi ke depan Azure yang tidak terlindungi sama sekali lalu ia menggerakkan kepalan kanan layaknya akan mencakar. Tangan itu segera ia cakarkan pada tanah, membuat sihir berbeda dari sebelumnya.


Bila cakaran ke atas membuat bilah-bilah sayatan tajam, sebaliknya, cakaran ke bawah ini membuat targetnya jatuh pada gravitasi yang lebih diberatkan padanya seorang.


"Sialan!" seru Azure saat ia dipaksa jatuh ke tanah. "Tubuhku tak bisa ... digerakkan!"


Marianna tidak berhenti. Selagi gravitasi masih memberatkan Azure, batang pohon runcingnya ia bagi menjadi lima potong. Ia langsung menancapkannya di kedua kepalan tangan, perut, dan pahanya.


Erangan sakit tentu saja dikeluarkan Azure, tapi menyambutnya seperti sebuah perayaan, Marianna tertawa. "Fufufuhahaha...."


Azure melihat mata merah kecokelatan Marianna bersinar. Tubuhnya yang menutupi sedikit sinar mentari sejak langit berubah gelap karenanya, menambah kesan betapa ia bukanlah lagi Marianna. Ia hanyalah sosok yang menyukai pertumpahan darah dan suka menebar teror. Azure sadar akan hal itu.

__ADS_1


"Tidak ada pilihan lain...." Azure memunculkan Buku Sihirnya. "Zeeta! Kalau kau melihat ini, biarkan aku melakukannya!


"Aku sudah paham apa yang ingin kaulakukan padanya, jadi biarkan aku juga mengeluarkan sepenuhnya yang kubisa!


"Aku tak akan mendengar kata 'tidak' darimu!"


Buku Sihir itu akhirnya terbuka, menuju sebuah halaman spesifik.


"Ini kupelajari dan kubuat setelah melihatmu bagaimana bersihir baik ketika kesadaranmu ada atau tidak, Marianna. Aku pun tak tahu apa yang terjadi jika aku memakai sihir ini terlalu lama, tapi....


"Aku telah membunuh beberapa orang di Aurora karena kupikir mereka akan menghalangimu dan Zeeta....


"Sudah kuduga... aku memang tidak bisa dan tetap takut untuk membunuh. Cukup sekali aku menikmati rasa puas dari pembalasan dendamku.


"Kalian yang terbunuh dengan tangan ini tanpa tahu apapun....


"Bila aku menyusul kalian, hukumlah aku."


Aura hitam keunguan meledak dari Azure, mementalkan Marianna dan mencabut potongan-potongan kayu dari tubuhnya dengan paksa. Luka-luka lubang di tubuhnya dengan cepat tertutup, lalu urat-urat timbul di banyak bagian tubuhnya. Lengan, sekitar mata, dan kaki. Tubuhnya berasap, iris matanya tak tampak.


Bersamaan dengan hal itu, langit yang menggelap semakin meluas, seiring dengan pertarungan Azure dan Marianna berlanjut.


Azure memaksa Marianna melayang ke langit dengan pukulan yang mendarat di dagu dan berlapiskan mana ungu kehitaman. Ia kemudian melancarkan serangan beruntun yang mendarat di mata, dagu, perut, dan pipi dengan kecepatan yang gila, hingga menimbulkan dampak angin di belakangnya.


Pukulan beruntun itu memanggil guntur untuk menyambar. Dengan secepat kilat, arus pertarungan berubah begitu saja dengan Azure yang mendominasi.


Emosi, Marianna tidak akan membiarkan dirinya terus dibabak-beluri oleh gadis di depannya. Ia mengubah bentuk tubuhnya menjadi asap, mengitari Azure, kemudian menutup pernapasannya dengan merealisasikan sebagian tubuhnya pada sekitar bagian pernapssannya. Sehingga kini, Azure seperti dipeluk dan dibekap oleh suatu asap di langit.


Tidak kehilangan akal, Azure membalas. Tangannya yang masih bebas—dengan telunjuk kanan—ia memutar-mutarnya. Sebuah angin puyuh datang dari langit, memaksa Marianna terhempas—yang keberhasilannya nihil, sayangnya.


Mulai kehabisan napas, Azure segera mengganti angin puyuh itu dengan angin badai salju. Dengan cepat, asapnya membeku dan ia berhasil memecah bagian pernapasannya yang ditutup. Ia juga berhasil mengeluarkan diri dari genggaman asap itu dan memberi jarak.


"Terimalah ini!"


Azure memusatkan mana pada kaki kanannya. Merasakan bahaya, Marianna yang terjebak dalam beku, berusaha kabur dengan meretakkan diri.


"Sudah terlambat!"

__ADS_1


Azure menendang Marianna dengan kakinya. Meski berbentuk asap, bukan berarti tidak bisa terluka. Setelah menerima tendangannya secara telak, Marianna kembali ke wujud semula dimana wajahnya hancur dengan bekas sepatu yang terpampang jelas.


Marianna sekali lagi terpental oleh serangan Azure dan arah kemana ia terpental adalah Aurora. Meski mengetahuinya, Azure tetap bertarung tidak hanya untuk menahan agar Zeeta bisa mendapat waktu lebih untuk persiapannya, tetapi ia juga melakukannya secara all-out.


__ADS_2