Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Sampai Tetes Darah Terakhir


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Gerda menyerang Suzy, ketika jeritan para Banshee saat mereka baru saja didatangkan oleh Suzy yang didengar oleh Ashley dan membuatnya tak berdaya, juga terjadi pada Zacht.


"AaAAAAaaaa!!" jeritan para Banshee terdengar sampai dua ratus kilometer dari tempat mereka berkumpul. Begitu mendengarnya, Zacht kehilangan kesadaran sambil tetap pada posisi berlutut dengan pedang rapier sebagai penumpunya.


"Cih!" gerutu Maisie. Mau tak mau, ia menghiraukan Zacht. Kemudian, ia segera merapal untuk mendatangkan medan pelindung.


......................


Cahaya hijau menyilaukan pandangan Zacht yang segera membuka mata. "U-uwah! Silau!" batinnya. Begitu dia mulai bisa memfokuskan pandangannya, Zacht mendapati kepakan sayap berwarna cokelat dan berbintik-bintik hitam, mata besar hitam-jingga dengan tambahan bulu-bak-tanduk dari sekitar matanya, dan berparuh runcing. Ya, kini Maisie benar-benar "ter-debuff" menjadi burung hantu pada umumnya. Lebih spesifiknya, Maisie menjadi Eagle Owl. Zacht sadar bahwa ia pingsan selama satu menitan, dan selama itu, ada banyak yang terjadi di dua ratus kilometer di depan. Saat ini Gerda, satu-satunya mana yang masih bisa dirasakannya dengan jelas ... ada sendirian di sana. Kejadiannya begitu cepat sampai ia nyaris tak bisa mengikuti jalannya pertempuran ini.


Maisie mendarat di bahu kiri Zacht, lalu mengangkat sayap kirinya—memberi tanda bahwa ia harus segera kembali ke Aurora. "A-aku mengerti!" seru Zacht mengangguk. Disaat yang sama, mereka melihat tubuh Ashley yang tak sadarkan diri dibawa oleh sihir angin berwarna hijau dengan kecepatan tinggi. "G-Grand Duchess Ashley?! Kenapa beliau—oh tidak! Jika beliau menabrak pelindungnya—"


Maisie mengepakkan sayap kirinya untuk menepuk kepala Zacht. Tatapan tajam darinya memberi isyarat bahwa Ashley akan baik-baik saja. "Baiklah, aku akan sepenuhnya percaya padamu, oh Pengawas Hutan, Dryad!" memakai cara yang sama ketika ia datang ke sini, ia kembali ke Aurora dengan sihir teleportasi.


......................


Begitu Zacht dan Maisie sampai di istana, Alicia dan Hazell tak memiliki waktu untuk bertanya. Dikala yang sama, jendela kaca di ruang takhta itu pecah berkeping-keping bersama dengan kedatangan Ashley.


"Ashley?!" seru Alicia dan Hazell bersamaan. Mereka segera menghampiri Ashley dan memeriksa kondisi sang Grand Duchess. "Kondisi mentalnya seperti diserang sihir kegelapan...," kata Hazell, "bekas cengkeraman kuat di wajahnya ini menambah rasa sakit yang dirasakan kepalanya...."


"Apa kaubisa menyembuhkannya?" tanya Alicia, "sihirku saat ini—"


"Tenang saja. Aku akan mengatasinya." Hazell segera menggosok kedua tangannya. Kedua tangan itu bersinar merah, kemudian ia mendekatkan tangannya ke kepala Ashley. Proses penyembuhan pun berjalan.


"Haahh...." Alicia menghela napas panjang. "Apa yang terjadi sebenarnya?" ia menatap Zacht yang membawa seekor burung hantu di bahunya. Zacht segera bercerita apa yang terjadi secara singkat, padat, dan jelas.


.


.


.


.


"Begitu, ya. Jadi, burung hantu ini adalah Maisie, dan akar di luar sana adalah pelindung yang melindungi dentuman sihir kuat mereka dan jeritan yang mampu membuat Ashley seperti ini. Diluar dugaanku, ini lebih mengancam.... Kalau begitu, aku akan memberikan sedikit bantuanku pada anak-anak di sana, untuk segera membantu Gerda," ujar Alicia.


"A-apa maksud Anda?" tanya Zacht.


"Ini adalah waktu yang tepat bagi makhluk sihirku beraksi!"


......................


Rumah abad pertengahan dan keberadaan Myra tak tampak saat ini. Para Half-Elf, Dwarf, dan Minotaurus juga seperti itu. Yang ada di sana, hanyalah sisa anggota Crescent Void dan seseorang. "Gila!" seru Marcus melihat seseorang di hadapannya yang bersinar biru. "Sepertinya kita berempat hanya akan jadi penonton lagi...."


"Cih...!" Marcus mencengkeram tangannya. Ia menggerutu dirinya tahu dia akan tak berguna di medan petempuran, tapi....


"Jangan bercanda, Marcus!" seru orang di hadapan Marcus, yaitu Klutzie. "Tentu saja aku tidak bisa melakukan ini sendirian. Targetku hanyalah satu, dan aku masih belum yakin seratus persen bahwa diriku benar-benar bisa mengalahkannya.


"Selain itu ... Grand Duchess Ashley terlalu lama. Apa yang terjadi di sana...?"


Baru usai mengatakannya, para kupu-kupu bergerak menghampiri keempatnya. Kerumunan kupu-kupu itu mengelilingi masing-masing, dan mereka dapat mendengar suara Alicia.


"Anak-anak, dengarkan ini dan tenanglah. Siapapun dari kalian yang sudah memiliki senjata suci, kalian akan kupindahkan ke medan pertempuran dan segera membantu Gerda yang tengah melawan musuh sendirian. Ashley ada di sini bersama Zacht."


Kelima orang yang ada di sini sempat terkejut tetapi mereka tetap siaga. Meskipun Novalius bisa bernapas lega bahwa ayahnya saat ini ada di istana, ia mengerti bahwa Ashley yang juga di tempat sama, mengalami sesuatu yang mengerikan hingga harus mundur.


Ada jeda waktu untuk Alicia merasakan siapa saja yang sudah membawa senjata yang disebut. "Ma-mana ini...? Tidak, ini bukan waktunya untuk kagum. Anak-anak, kembalilah hidup-hidup!" Para kupu-kupu itu bersinar terang, menyilaukan mata mereka.


......................


'KRANK!'


Bola es raksasa yang sebelumnya menghimpit Suzy, hancur berkeping-keping, memerlihatkan kondisinya yang baik-baik saja. Namun, tanpa memberi waktu Suzy untuk melakukan apapun, Gerda segera meluncur ke arahnya dengan bantuan sihir angin. Dengan tongkat sihirnya, ia membuat pedang hijau transparan. Pedang itu menyatu dengan tongkat— bagian transparan memerlihatkan tongkatnya.


Ia hendak menebas Suzy dengan ayunan ke bawah, dengan menambahkan sihir lainnya pada pedang.


"Bocah sialan ini...!" batin Suzy, yang melihat Gerda sudah ada di depan matanya.


'ZZRRKK!'


Gerda berhasil menebas Suzy, tetapi hanya beberapa senti dari bahunya. "A-apa?!"


Dengan darah yang mengucur dari bahunya, Suzy menyeringai. Ia mencengkeram lengan kanan Gerda yang digunakan untuk memegang tongkatnya dan berkata, "Entah jika ini adalah senjata yang mampu membinasakan kami, aku tidak akan membiarkanmu mengalahkanku begitu saja!


"Aku telah hidup di dunia ini selama ratusan tahun, melihat tragedi demi tragedi yang tidak pernah berhenti! Apa kautahu untuk apa aku hidup selama itu...?


Suzy menguatkan cengkeramannya hingga membuat Gerda mengerang kesakitan.


"Aku harus menuntaskan keinginan yang menginginkan si Penguasa Kekelaman itu mati!"

__ADS_1


'BWASSH!'


Suzy menghempaskan Gerda dengan bola sihir berwarna merah-hitam. Begitu Gerda terkapar di tanah, para Banshee segera menjerit untuk memperburuk kondisinya.


Namun....


"Diamlah!" seru Suzy, "ini sudah menjadi masalahku dengannya! Jika kalian menjerit sekali lagi, aku benar-benar akan menghapus inti kalian dari dunia!"


Suzy kemudian turun ke darat. "Aku tak menyangka, meskipun kalian bukanlah Benih Yggdrasil, kekuatan kalian bisa seperti ini, tidak peduli jika Roh Yggdrasil yang melatih.


"Manusia hanyalah makhluk yang hidup demi kepentingannya sendiri. Demi menuntaskan keinginan itu, bahkan jika mereka harus membunuh banyak orang, mereka mau melakukannya!


"Lalu kenapa, Roh Ygg ... kenapa Yggdrasil justru memihak pada kalian?!"


Berusaha bangun meski bergemetar, Gerda menjawabnya. "Memihak ...? Kau salah besar...."


"Apa?"


"Luna ... tidak pernah sekalipun berkata ... ia memihak pada Manusia ..., tetapi dia hanya akan ... mengabulkan keinginan Zeeta.


"Pembangunan kembali Aurora ... melatih kami ... dan memberi sedikit lebih jauh tentang Zeeta untuk kami....


"Kalau ... Luna memang memihak ... kami.... Lantas mengapa dia ... tidak menunjukkan dirinya sejak Zeeta lahir ke dunia ini...?


"Makhluk seperti kalian—apalagi kami ... yang hanya manusia, tidak akan mampu ... menandingi Roh Yggdrasil... iya, 'kan?"


Gerda sudah berdiri meski ia terengah-engah. Ia masih memegang erat tongkatnya. "Serangan sihir darinya tadi ... sebenarnya apa...? Tenagaku seperti habis seketika...," batinnya.


"Mengabulkan keinginan Zeeta ... katamu? Kenapa...?"


Gerda bingung dengan pertanyaannya. Dia justru ingin balik bertanya pada Suzy, kenapa dia tidak mengerti? Gerda pun tersenyum, menarik napas, lalu menjawabnya. "Meskipun kau telah hidup ratusan tahun ... tampaknya kau masih tidak mengerti satu hal penting dalam kehidupan, dan itu disebut kepercayaan.


"Zeeta awalnya tidak memercayai kami untuk bisa ada di dekatnya, karena ia takut kami akan mati di hadapannya. Namun, aku, Kakak, kak Azure, dan Mellynda berhasil membuatnya percaya pada kami.


"Jika dia memang takut akan kehilangan kami, maka biarkan kami ada di sisinya untuk bertarung bersamanya. Dengan begitu, kami bisa saling melindungi!


"Zeeta ... adalah temanku yang paling berharga, paling cengeng, dan paling penakut. Aku sayang padanya. Sungguh!


"Mungkin Luna sudah menyadari hal ini jadi dia memutuskan untuk ikut percaya juga pada kami....


"Karena itulah ... untuk membuatnya yakin—tidak, untuk memberinya kekuatan agar menjadi orang yang melindungi dan menghidupi dunia, membalikkan arus waktu dirinya yang menjadi Penguasa Kekelaman seperti yang kausebut, kami hadir di sini, untuk membuktikan kami bisa melindunginya!" Gerda melemparkan senyum lebarnya.


Suzy mengepalkan tangannya. Ia terkejut dengan senyuman itu. Bukan hanya karena dengan situasi seperti ini Gerda bisa tersenyum, Suzy juga terkejut karena senyuman ini membuatnya teringat akan seseorang jauh di masa lampaunya. Ia tidak bisa mengingat dengan jelas siapa, tetapi senyum lebar itu jelas membuatnya teringat. Namun, ia tidak suka mengingat ingatan ini dan ia menggertakkan gigi.


Gerda yang melihat tonggak runcing itu akan menembus matanya, ia menutup mata.


'ZRSTTT!'


Darah menetes ke tanah. Perlahan-lahan, Gerda membuka matanya. "E-eh? Mataku tidak apa-apa...?" begitu ia melihat darah di tanah, ia melihat siluet seseorang yang melindunginya.


"Kepercayaan darinya dan Zeeta-lah yang juga memberi kami kekuatan!" tonggak runcing yang menembus sela-sela jari kirinya, dipotong dengan tangan kanan yang membuat sihir pedang.


Suzy terkejut dengan kedatangannya, ia melotot. "Kau?!"


Gerda terkejut ketika ia sadar siapa identitas siluet itu. "Kau...?!"


"Akhirnya kau memanggilku dengan sebutan Kakak, ya, wahai Adikku yang keras kepala!" Danny menoleh ke belakang, menunjukkan senyum lebarnya, meskipun ia masih dalam kondisi bobrok.


"Bodoh! Apa yang kaulakukan?! Kondisimu sudah berantakan begitu, kenapa kau—"


"Karena Kakak harus melindungi Adik. Bukankah itu yang selalu diajarkan ayah dan ibu? Sampai tetes darahku yang terakhir, aku akan melindungimu, juga Zeeta!" ia Danny masih tersenyum.


Gerda menggigit bibirnya dan hampir menjatuhkan air mata ketika mendengarnya.


"Tunggulah, kita berdua pasti bisa keluar dari situasi ini!" ujar Danny. Ia kemudian menggerakkan kaki kanannya membentuk lingkaran. Bersamaan dengannya, lingkaran api merah pekat menghalangi Suzy. Tidak berhenti, Danny kemudian menarik kaki kirinya ke belakang, menarik masing-masing tangan yang memegang pisau kembar ke sisi tubuh, dan melapisinya dengan api hitam. "LENYAPLAH DARI DUNIA!" jeritnya. Ia melempar kedua pisau ke arah yang berlawanan—kanan dan kiri—dimana dua arah itu dibanjiri oleh Banshee. Masing-masing bilah pisau yang telah berlapis api hitam jadi membesar, yang memungkinkannya untuk menghanguskan para Banshee yang masih terdiam atas perintah Suzy dalam satu serangan saja.


"Sialan ... dia keren sekali...," batin Gerda, "Kakakku memang hebat!" ia tersenyum lembut.


Namun...


"Ya... kau juga!"


Danny dan Gerda terbelalak. Suzy muncul tepat di depan Danny dan menempelkan telapak kirinya pada dada kiri Danny.


'ZRRAATT!'


Darah terciprat ke wajah Gerda. Ia terbelalak sekaligus kehabisan kata-kata. Suzy menembus jantung Danny dengan serangan yang sama yang baru saja digagalkan.


Seketika kehilangan kesadarannya, Danny terkapar di tanah, bersebelahan dengan Gerda yang masih melototi kakaknya yang bersimbah darah. "Kakak...? Hei, bukalah matamu! Hei!" panggilnya. "Bangunlah! Bukankah kau sudah berjanji akan melindungi Zeeta?!"

__ADS_1


"Hentikanlah!" seru Suzy, "dia sudah mati! Jantungnya sudah kuhancurkan! Tenang saja, aku akan membuatmu menyusulnya dan membiarkannya menuntaskan janji awannya, yang ingin melindungimu!"


'ZRAT!'


.


.


.


.


.


Tangis jatuh dari mata Gerda.


"Kakak ....


"Kakakku yang paling kusayangi....


"Maafkan aku karena sudah kasar terhadapmu....


"Aku... sebenarnya hanya ingin berlagak dan bermain-main saja. Sejujurnya aku tidak ingin semua ini terjadi tapi nyatanya....


"Kau dan Zeeta selalu ada di depanku. Selalu saja seperti itu... aku ingin segera menyusul kalian, aku ingin cepat berdiri sejajar dengan kalian, aku tidak ingin untuk terus ... menjadi seseorang yang tak melakukan apapun yang berarti untuk kalian....


"Maafkan aku karena tidak bisa menjadi orang yang melindungimu ... atau bahkan hidup karena dilindungimu....


"Ayah, ibu ... maaf.... Kami harus pergi lebih awal dari kalian....


"Zeeta ... maaf... maaf karena aku tak bisa memenuhi janji—"


.


.


.


.


"Apa kautahu?" Gerda mengingat pembicaraannya dengan Zeeta. "Aku bisa mengembalikan kekuatanku seperti semula, karena rumput yang ada di sana menyembuhkanku! Dunia ini aneh, 'kan?!"


.


.


.


.


"Jika ... jika dengan kekuatan Roh Yggdrasil, Naga, dan Dwarf yang telah menempa tongkat ini bisa merasakan apa yang kurasakan....


"Tolonglah...."


Suzy melihat Gerda membisikkan sesuatu. Rerumputan hijau kemudian tumbuh mengitari keduanya dan menyerap darah yang mengalir dari tubuh kakak-beradik itu.


"Hahahahaha! Hanya hiasan untuk mempercantik kematian kalian, kah?! Hahahaha, Manusia memang bodoh sekali!"


Tak lama kemudian, hujan turun dengan deras, memadamkan api hitam dari Danny dan segera mengubah suasana menjadi benar-benar sunyi. Tak ada yang bisa didengar selain suara jatuhnya hujan di tanah dan bunyi guntur seakan-akan alam marah. Akar-akar dari sihir Gerda yang tertinggal di tanah, merespon air hujan itu, lalu menumbuhkan dedaunan dan ranting. Melihatnya, tentu saja mengejutkan Suzy.


Ia mengalihkan pandangannya lagi ke arah Gerda dan Danny yang sudah tak bergerak dengan mata yang tetap terbuka itu. Pandangan Suzy kosong. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa setelah ini. Ia merasa tak menuntaskan apapun. Hanya kehampaan yang dirasakannya. Dia lalu melihat tangannya yang masih meninggalkan darah milik Danny.


"Apa ... yang sebenarnya ... kulakukan...?


"Apa aku ... sudah gila...?" ia menatap langit dengan pandangan yang tidak berubah.


Ketika empat sisa anggota Crescent Void, Marcus, Colette, Novalius, dan Mellynda tiba di sana, mereka mendapati pandangan pahit ini. "Gerda! Danny!" Mellynda berlari menghampiri keduanya, sementara tiga anggota lain menganga. "Ini ... bohongan, 'kan...?" kata Marcus.


"Hei!" panggil seseorang yang sangat dikenal Suzy. Ketika Suzy menoleh, pandangan "mati"-nya, hidup kembali. "Kau ... Klutzie...?!"


Tanpa berbasa basi, Klutzie memukul pipi Suzy dengan kepalan tangan kanannya. Tubuh Suzy berputar di tempat sebelum terpental jauh ke belakang. Dentuman pukulannya itu bahkan menimbulkan tanah tergerus panjang hingga ratusan kilometer.


"Aku tahu kau marah, tetapi kendalikanlah kekuatanmu, Lutz! Mereka yang mati, bisa terkena imbasnya!" seru Siren.


"Tidak ... tidak! Jangan lakukan ini, Gerda, Danny!" isak tangis mulai bercucuran dari Mellynda. "Kalian adalah teman Zeeta sejak lama, 'kan? Kalau begitu, jangan tinggalkan Zeeta sendirian! Jangan ... jangan begini jangan lakukan ini... jangan... jangannn...."


Sementara itu....


'PRANG!'

__ADS_1


Grilda yang sedang membuatkan kopi untuk Recko, memecahlan cangkir dan menumpahkan kopi ke lantai. Keduanya berfirasat yang buruk.


Disaat yang sama, Zeeta memegangi liontin yang berisi foto dirinya dan warga desa Lazuli. Titik air matanya tak kunjung berhenti membasahi foto itu. "Danny ... Gerda... maafkan aku... aku minta maaf...."


__ADS_2