Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Layaknya Kotak Pandora


__ADS_3

Zeeta yang baru saja dibawa pergi oleh Aria ke Hutan Sihir Agung untuk menjalankan latihannya selama tujuh tahun, disambut oleh wajah seorang pria Elf yang cukup berotot dengan rambut hitam panjang diikat satu. “Minggir, Aria. Dia harus berduel denganku,” katanya.


“Apa kau bercanda, Lloyd? Dia baru saja datang,” balas Aria, tetap mencoba melindungi Zeeta.


Elf bernama Lloyd itu mencengkeram bahu Aria lalu melepasnya begitu saja. Sementara Zeeta kebingungan apa yang dilakukan dia, Aria bersiaga untuk benturan dengan membuat sihir berbentuk kapas. Aria melayang ke udara, lalu terpental ke kanan.


“A-apa yang terjadi?!” batin Zeeta.


Aria segera keluar dari sihir kapas yang berhasil melindunginya. “Berhati-hatilah, Zeeta! Dia adalah Elf terkuat setelah Tetua Hugo!” pekiknya.


“E-ehh?!” Zeeta mengambil jarak dari Lloyd.


Lloyd tersenyum. “Mengambil jarak setelah mengetahui perbedaan kekuatan. Bagus, kau memiliki pengetahuan dasar tentang pertarungan. Tetapi … sudah kukatakan, ini adalah duel. Kalau kau tidak mendekatiku, bagaimana kaubisa melukaiku?” ia mengatakannya dengan penuh percaya diri.


“Tidak tidak tidak. Meskipun kaubilang begitu, apa alasanku harus berduel denganmu?” tanya Zeeta.


Lloyd dan Elf lain yang menyaksikannya bertanda tanya.


“Apa kau bodoh? Pertanyaan itu takkan ada gunanya jika kujawab. Pikirkan itu sendiri selagi kau fokus padaku!” Lloyd menghentakkan kaki. Akar-akar pohon di sekitar Zeeta mulai bergerak dan menyerangnya secara brutal dari segala arah dengan menajamkan bagian ujungnya. Zeeta melirik dari mana saja arah-arah akar tajam itu, dan dia masih mampu menghindarinya dengan gaya zig-zag dan kecepatan yang ditambah oleh sihirnya.


Lloyd tersenyum. “Begitulah seharusnya. Jangan mengecewakanku, karena kau memegang Catastrophe Seal, bukan?”


“Hei!” pekik Zeeta, “apa yang harus kulakukan agar aku bisa memenangkan duel ini?”


“Tentu saja mengalahkanku. Itu pun jika kaubisa!”


“Kalau begitu ....” Zeeta berkuda-kuda dan mengatur napasnya. “Aku mulai!” ia menarik kaki kirinya ke belakang dan menekuk kaki kanannya—beraba-aba untuk melontarkan diri.


“Kapanpun, aku si—“ Lloyd terbelalak ketika Zeeta tiba-tiba muncul di bawah perutnya sesaat setelah ia berkedip. Dengan tangan kanan Zeeta yang dikepalkan erat-erat, perut Lloyd ditinju dan tubuhnya terputar tiga puluh derajat ke kiri. Imbas dari pukulan itu membuatnya memuntahkan darah dan terpelanting seketika di tanah.


“Pusatkan sihir di telapak kakiku, hal itu membuatku dapat bergerak cepat. Pukulanku juga berkonsep latihan yang sama. Ini sudah diajari oleh guruku Ashley, hanya saja ... baru kali ini aku benar-benar mempraktikannya... hehehe....” Zeeta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Apa kau baik saja? Apa perlu kusembuhkan lukamu?”


Lloyd masih kehabisan kata-kata dengan bocah perempuan ini. Ia kemudian menghapus darah di mulut dengan tangannya dan berdiri kembali. “Tetua! Aku tidak bisa menahan kekuatanku jika seperti ini. Dia serius, aku juga harus serius!” pekiknya sambil melihat ke kanan.


“Eh? Ada Paman Hugo di kerumunan ini?”


Sosok Hugo keluar dari balik kerumunan, berwajah sok polos dengan senyum palsunya. Kala itu, Hugo seketika berwajah serius. “Jangan ragu atau kau akan mati!”


Mendengar ucapan ini Zeeta segera menjauh dari Lloyd. Tidak lama kemudian, langit Hutan Sihir Agung berubah menjadi langit malam yang dipenuhi jutaan bintang. Zeeta juga mendapati jika ukuran mana Lloyd terus menerus meningkat dan belum ada tanda itu akan berhenti.


Sebelum Lloyd beraksi, ia mengatakan, “Elf adalah ras yang terkucilkan, baik dari Manusia atau dari sesama makhluk sihir. Oleh karena itu....”


Lloyd tiba-tiba menghilang begitu saja menjadi asap, yang tentu membuat Zeeta terkejut dan lebih memerhatikan sekitar dengan segenap kekuatannya. Kanan, kiri, sudut bawah atau atas, ia berusaha mencari dan menebak di mana Lloyd akan muncul.


“Zeeta, jangan gunakan matamu!” teriak Aria.


“Eh...?”


‘Fssshhhh’


Asap menyembur ke matanya dan membuat Zeeta menjerit seketika. Meski begitu, ia tak membiarkan dirinya jatuh ke tanah, tetapi justru mengobati mata dan sekitar matanya yang berubah ungu itu dengan sihir dari tangan kirinya.


“Begitu, ya.... Elf bisa merubah bentuknya ke apapun yang mereka inginkan, tetapi aku sama sekali tak menduga jika kalian bisa berubah menjadi asap...,” ujar Zeeta. Ia mencoba mengetahui di mana keberadaan Lloyd dengan memancingnya bicara, tetapi hasilnya nihil. Ia justru menerima serangan lanjutan dengan merasakan ikatan di pergelangan kaki dan tangannya lalu dilanjuti beberapa pukulan keras dari kepalan tangan di dada, perut, serta mengakhiri serangan dengan menyiku paha kiri Zeeta.


“Ggghhkk!” erang Zeeta mencoba menahan sakitnya. Lloyd pun muncul kembali setelahnya.


“Dia sengaja mengincar satu titik vitalku agar menghalangiku melakukan serangan dadakan, kah…? Sepertinya dia memang benar-benar hanya mencoba untuk mengetesku ... tidak, mungkin latihannya sendiri sudah dimulai…?


“Tidak ada gunanya memikirkan itu semua. Aku juga harus membalas serangan ini dan membuktikan apa


yang bisa kulakukan!”


Zeeta mengingat sesuatu yang pernah ia tanyakan pada ibunya beberapa waktu yang lalu.


......................


“Hei, Bu..., Catastrophe Seal itu memakai sihir, ‘kan?” tanya Zeeta, dikala ia dan ibunya sedang berdua di pemandian air panas pribadi. Suasana tenang di sana, serta bunyi aliran air, ditambah panas air yang merilekskan tubuh, adalah waktu yang tepat untuk menanyakan ini. Mereka duduk berdampingan, menunjukkan ikatan ibu dan anak itu sudah erat.


“Sejauh yang kutahu, sih, iya,” jawab Alicia. Tubuhnya yang sudah rileks membuat wajahnya tersenyum.


“Ibu sudah tahu, jika anting ini punya kekuatan misterius yang membiarkan kita melihat masa lalu ... 'kan?”

__ADS_1


Alicia mengangguk.


“Apakah aneh jika kukatakan aku tidak melihat masa lalu, tetapi leluhurku sendiri?”


Alicia segera terbelalak dan menoleh ke putrinya. “A-apa katamu?!”


“Uhh.... Kuyakin nama mereka adalah Clarissa, lalu aku juga bertemu Velvet….”


Alicia segera mencengkeram bahu putrinya seketika setelah mendengar dua nama itu. “Apa yang mereka katakan padamu?!”


“I-itu tentang jangan menyerah dan mereka memanduku memakai Catastrophe Seal!”


Alicia memegangi dagunya sambil berpikir.  “Apa mereka juga bisa memakai senjata suci itu?”


“Tidak, mereka bilang senjata ini hanya bisa dipakai olehku.”


“Kenapa?”


“Hmm.... Aku adalah Benih Yggdrasil dan aku adalah aku!” Zeeta tersenyum.


Alicia mencoba mencerna baik-baik apa maksud anaknya ini. “Oh,” batinnya memahami, “begitu ya. Kamu sudah tumbuh, ya....” Ia pun ikut tersenyum.


“Tapi ... yang membuatku jadi ragu, kenapa aku hanya merasakan efek samping dari penggunaanya sekali saja? Luna bilang, jika Manusia selain aku yang menggunakannya, setelah memakainya, dia berubah jadi abu. Tetapi aku, hanya merasakan sakit di sekujur tubuh, dan itu karena aku sudah jadi Benih Yggdrasil saat itu.


“Selain itu, saat aku berhadapan dengan Peri, efek yang dikeluarkannya luar biasa, tetapi itu tidak membuatku kelelahan atau apapun. Aku jadi ingin tahu, apa sebenarnya Catastrophe Seal itu…?”


Alicia hening sejenak, mencoba untuk memberi jawaban yang ia mampu berikan pada putri tercintanya.


“Katakan padaku. Apa kau merasa sangat bergantung dengan senjata itu?”


Zeeta mengerutkan dahi. “Tidak ... itu kulakukan hanya jika aku terdesak dan nyawa banyak orang dipertaruhkan. Tapi, waktu berhadapan dengan Lucy, aku sempat mengeluarkannya tapi dia bisa dengan mudah menghentikannya.”


“Kalau begitu yang harus kaulakukan sederhana. Entah siapa yang kauhadapi, bagaimana situasimu saat pertarungan, ingatlah satu hal ini; percayalah jika dirimu mampu melakukannya. Karena sedikit saja keraguan pada dirimu sendiri, akan membuat sihirmu tidak bisa mengeluarkan potensi penuhnya.”


......................


Zeeta tersenyum, yang justru membuat Lloyd was-was. Tetapi seperti dipermainkan, rasa was-was itu berubah jadi bingung dikala ia melihat Zeeta mengunyah, yang bahkan tak ada apapun di mulutnya.


Mengacuhkannya, Zeeta meniup. Seperti ketika Ashley akan mengaktifkan sihir pengeras suara dari depan mulutnya, Zeeta membuat lingkaran sihir di depan mulutnya. Hasil tiupan yang melewati lingkaran sihir itu membuat beberapa buah balon permen karet berwarna biru muda.


“A-apa ini? Apa yang kaubuat, Zeeta?!” pekik Lloyd.


“Hehehe....” Zeeta melukiskan senyum smug-nya. “Meskipun kau adalah yang terkuat setelah Paman Hugo, kalau kau tidak tahu apa ini, aku pun bisa membalasmu, bahkan dengan mata tertutup.”


“A-apa katamu?!! Kau meremehkanku?”


“Oh? Kalau begitu, kenapa tidak coba kau hancurkan saja sihir-sihir ini?”


“Cih....” Lloyd merasa ragu.


“Bagaimana … mendebarkan, ya? Sesuatu yang tidak kauketahui menghantui di depan matamu. Apakah itu akan meledak? Hancur berkeping-keping? Atau mungkin sesuatu yang lain?


“Tidak mungkin kaubisa mengetahuinya kalau kau tidak melihatnya terlebih dulu. Seperti kotak Pandora saja, iya, 'kan? Hehehehe....”


Aria yang melihat kelakuan Zeeta hanya bisa tertawa kecil. “Dasar... bisa-bisanya....”


Tetapi semua itu tak bertahan lama ketika Hugo memerintahkan Lloyd. “Apa yang kau ragukan, Lloyd? Sudah kukatakan, kalau kau ragu, kau akan mati!”


Zeeta menyadari ucapan Hugo barusan mencurigakan, tetapi ia membiarkannya. Ia juga tak merespon ketika Lloyd akan menebas semua sihir balonnya. “Booom,” katanya pelan.


‘SPLART’


Karet-karet lengket mengikat dengan erat bahkan hingga tak mampu menggerakkan satu jari pun ke selurh Elf yang ada di sana, kecuali Zeeta.


Merespon apa yang dilakukan lawannya, Lloyd mencoba melakukan sesuatu bersama harga dirinya yang tinggi. “Heh. Sihir anak-anak seperti ini tidak akan bisa mengalahkan Elf sepertiku. Aku tinggal meleleh—“


“’Aku tinggal melelehkan atau membekukan sihir ini. Dengan begitu, sihir ini pasti mudah rusak’.


"Fufufu, ingatlah, untuk apa aku membuat lingkaran sihir?”


Zeeta menertawakan Lloyd. Disaat yang sama Zeeta terlepas dari ikatan akar yang memberi bekas merah.

__ADS_1


“Kenapa?! Kenapa sihirku tak bekerja?! Apa ... kenapa ... tidak, aku harus membuat diriku bernapas dulu, kalau tidak—“


Zeeta memutar-mutar jari telunjuk kanannya sambil berjalan mendekati Lloyd yang terikat di tanah dengan sempoyongan. Jari telunjuk itu menarik lagi karet-karet yang menghalangi pernapasan para Elf.


“Agh! Kukira aku akan mati!” ujar Elf A.


“Tiba-tiba sekali, aku sampai terkejut!” sambung Elf B.


“Zeeta sialan… apa dia lupa aku ada di sini, hah?!” batin Aria.


Tak lama setelah itu mereka hening seketika ketika melihat Zeeta yang sempoyongan mendekati Lloyd. Zeeta memberi lubang di hidung Lloyd yang tertutupi karet.


“Daripada menghentikan sementara gerakan lawan dan memberinya waktu untuk berpikir, membuatnya panik seketika adalah langkah yang membuatmu unggul seketika.


"Ini juga hasil latihanku dengan guruku. Bedanya, waktu itu adalah makhluk sihir buatan, jadi aku harus berpikir dua kali untuk tingkat keberhasilan ini.” Ia kemudian membuka bagian mulut Lloyd.


“Berisik! Aku belum mengeluarkan kemampuanku! Aku bisa menggunakan semua elemen dan bisa memenangkan duel ini dengan mudah! Aku menuntutmu untuk tanding ulang!”


“Uhm. Boleh saja, tapi ….” Zeeta membuka seluruh ikatan karetnya dan melenyapkan bola permen itu begitu saja. “Kali ini satu-kosong. Aku yang menang!” Zeeta melemparkan senyum manisnya.


Lloyd terkejut apa yang ia lihat pertama kali bukanlah wajah yang bangga dan sombong atas kemenangannya, tetapi senyum yang lega dan hangat. Ia juga kaget melihat kaki lawannya belum disembuhkan oleh sihirnya sendiri, padahal itu adalah hal yang mudah.


“Cih. Pahit sekali.” Lloyd bangun dan membersihkan noda di pakaiannya. “Aku pergi, Tetua.”


“Terima kasih, Lloyd,” balas Hugo tersenyum.


......................


Setelah duel itu berakhir, Hugo mengajak Zeeta dan penduduknya pulang ke kediaman mereka. “Bagaimana bentuk kediaman Elf?”, adalah pertanyaan yang terbesit ketika Hugo memimpin jalan memasuki Hutan Sihir Agung lebih dalam lagi. Ya, dia pernah ke sini satu kali, tetapi itu hanya sesaat, jadi dia cukup berdegup dengan harapan yang tinggi. Tentu saja, perjalanan ini dilakukan setelah Zeeta mengobati lukanya sendiri.


Pohon raksasa demi pohon raksasa dilewati. Rerumputan biru juga terus mereka lintasi, tetapi belum ada tanda keberadaan papan desa para Elf. Zeeta yang mulai lelah akhirnya bertanya. “Hei, Paman Hugo, belumkah sampai…?”


“Apa maksudmu?” Hugo balik bertanya.


“Eh…? Aku bertanya, kapan kita sampai ke kediaman kalian?”


“Sudah kukatakan, apa maksudmu? Lihatlah sekitar!”


Zeeta kebingungan. Mau tak mau ia melihat. “E-eeeehh…? Sejak kapan?!”


Air terjun yang meluncurkan air merah muda, pelangi yang menjadi pita di air terjunnya, rumah sederhana yang terbuat dari pohon sekitar yang memiliki pagar, hewan-hewan unik seperti rusa bertanduk api, beruang berbulu emas, dan beberapa ekor burung api yang bertengger di batang, membuat pemandangan pertama Zeeta menjadi berkilauan dan melebihi harapannya.


“Selamat datang, di negeri para Elf, Grandtopia!” seru Hugo.


Mata Zeeta tidak berhenti bersinar, pun dengan bibirnya. Para Elf yang melihat reaksi Zeeta juga jadi ikut tersenyum.


......................


Di suatu rumah dengan keunikan khusus di pagar serta jendela dengan terukirnya pola unik di sana, terdapat Zeeta dan Hugo berbicara empat mata dengan penerangan lampion biru di sudut langit-langit. Ini masalah serius jadi Zeeta harus mendengarkannya saksama.


“Sejujurnya aku tidak menduga tentang apa yang terjadi pada kerajaanmu baru-baru ini. Aku turut berduka cita,” ujar Hugo, membuka pembicaraan.


“Sebagai Tuan Putri Kedua Puluh Satu, kuucapkan terima kasih atas rasa belasungkawa-mu, Tetua Elf Hugo,” balas Zeeta dengan formalitas. Hugo tersenyum.


“Mari kita bahas topik utamanya. Kau memang akan berlatih di sini, tetapi ada beberapa hal yang harus kita luruskan.”


“Apa itu?”


“Wanita bernama Lucy itu memberi tenggat waktu tujuh tahun, tetapi kau tidak akan berlatih selama itu di sini.”


“Eh...? Kenapa?”


“Ingatlah, aliran waktu di sini lebih lambat beberapa jam daripada dunia luar. Ini adalah salah satu perwujudan sihir dari seseorang yang kami, para Elf, anggap seperti ibu.”


“Oke.... Lalu...?”


“Lebih tepatnya, kau akan ada di sini selama enam tahun sebelas bulan. Dan dalam jangka waktu itu, ada target yang harus kaucapai.”


Zeeta mengangguk-angguk, siap mendengar ucapan selanjutnya.


“Menguasai Catastrophe Seal secara mutlak!”

__ADS_1


__ADS_2