
Ini terjadi ketika Klutzie baru saja berpisah dengan Zeeta yang telah bersepakat untuk menyerahkan musuh padanya seorang. Dengan sapu terbangnya, sang pangeran terus menyusuri pulau bangsawan sambil membuka matanya lebar-lebar untuk menemukan sebuah pintu tersembunyi yang seharusnya tidak akan pernah ia ketahui, bahkan jika tidak ada insiden apapun di Nebula, jika bukan karena bantuan Zeeta yang sensitivitasnya terhadap mana menjadi sangat tinggi. Ia berhenti setelah menemukan sebuah manhole cover dan lantas memasukinya.
"Terowongan bawah tanah...?" gumam Klutzie. Ia berjalan sedikit ke depan, sebuah lampu yang terpasang ditembok menyala begitu saja. "Wah! Bikin kaget saja!" gerutunya.
"Sensor di tempat ini masih bagus," ujar Siren, "Aurora memang sesuatu, tapi Nebula tidak boleh kauanggap sebelah mata, Lutz."
"Ya, aku pun berpikir begitu," jawab Klutzie. Ia lalu mengambil sebuah peta yang diberikan Zeeta ketika mereka beristirahat sejenak sebelum memasuki Nebula di saku kiri celananya. Ia juga mengingat pesan yang diberikan Zeeta ketika dia memberinya peta tersebut.
"Ingat, ya, Pangeran! Tempat itu sangatlah bercabang, dan kita sedang bertaruh pada waktu. Jika kau memakai mana, ada berbagai makhluk penjaga yang akan menargetmu, kecuali ketika kau telah sampai di pintu tujuanmu itu!
"Aku tidak tahu apa yang menunggumu selain makhluk-makhluk itu sebab beberapa jalannya yang berliku memiliki sesuatu untuk mengganggu pembacaan mana seperti yang kulakukan saat ini. Hanya dengan fisiklah kaubisa mencapai goal itu!"
.
.
.
.
Klutzie melakukan pemanasan sebelum berlari. "Zeeta memang hebat, tapi aku pun tak bisa kalah darinya. Aku tak memperhitungkan jika tidak boleh memakai sihir di kerajaanku sendiri tapi ini bukan waktunya untuk mengeluh! Semuanya, tunggulah aku!" Klutzie pun mulai berlari secara bertahap.
Pelarian itu telah berlangsung selama lima belas menit, yang terkadang memaksa Klutzie untuk beberapa kali berhenti dan memeriksa kembali peta yang digambarkan Zeeta, sembari mengatur napasnya. Selama itu, Klutzie merasakan mana yang tidak henti-hentinya menunjukkan tanda turun dan naik secara drastis.
"Haah... haah... haah...." Klutzie terengah setelah berlari menuju suatu ruangan. "Hei ... kaukira apa yang ... sedang terjadi di sana?" tanyanya pada Siren.
"Sesuatu yang tidak bagus," jawab Siren, "aku merasa ada yang aneh sejak melihat pria berpakaian hitam itu ... tapi aku tak bisa menangkap apa yang menjadikannya aneh.
"Namun, mana yang terus naik dan turun ini pertanda bahwa kita tidak boleh buang-buang waktu!"
"Aku tahu! Tapi ... kaupikir ini dimana?! Ini terowongan bawah tanah yang mengakar ke banyak arah! Mengandalkan peta yang dibuat Zeeta dari sensitivitas mana-nya saja cukup sulit, ditambah ... tidak boleh menggunakan sihir sebelum sampai tujuan ... kaukira akan ... mudah, hah?"
"Te-tentu! Aku 'kan Roh!"
"Yang tidak mau keluar dari tumpangan sakuku, bukan...?"
"Ehehe. Aku juga harus menyimpan mana...."
Klutzie sempat berliku beberapa kali lagi sebelum akhirnya ia dihentikan oleh Siren. "Lutz! Di sana!" serunya, menunjuk sebuah jalan yang berujung pada gerbang ber-emblem Nebula di tengahnya
"Kapan dan bagaimana ... haah... kerajaan ini membuat ... hal semacam ini...h?" gumam Klutzie, yang masih lelah. Tanpa membuang waktu lagi, setelah mengatur napas, ia mendekati pintu itu. Lalu....
"Sudah lama kau kutunggu, Lutz." Sebuah suara datang dari belakang Klutzie.
"Su-Suzy...?!" Klutzie lantas memutar tubuhnya. Siren juga keluar dari saku kemeja dan bersiaga di sebelahnya. Mereka tampak serius.
"Tampaknya tidak ada begitu banyak perubahan selain penampilanmu sejak terakhir kita bertemu."
"Kau juga," jawab Klutzie. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Suzy. "Di mana jaket laboratorium yang selalu kaupakai dan banggakan itu?"
"Ah ... itu? Sudah kubuang. Tidak berguna."
"....
"Apa ... kaubilang?"
"'Kan kukatakan sebanyak yang kaumau. Jaket itu sudah tak berguna lagi."
Klutzie pun terpancing mengingat ingatan lampaunya....
"Kautahu, Lutz...? Jaket ini adalah tanda kejeniusanku, tanda bahwa kerja kerasku untuk rakyat selalu kuutamakan, dan sekaligus pengingat bahwa aku dikagumi olehmu!" seru Suzy kecil, dengan senyum sumringahnya.
"He-hentikan itu, Kak Suzy.... Itu membuatku malu...," balas Klutzie kecil, yang merona merah.
"Kenapa? Itu membuatku senang dan bahaaagia! Mungkin kau tidak mengerti, tapi bagi seorang kakak, dikagumi oleh adik adalah hal yang sangat istimewa!
"Kapanpun aku merasa letih dengan hal yang sedang kukerjakan, kapanpun kulihat jaket ini dan mengingat wajah bahagiamu, sebuah semangat yang membara langsung mengobatiku!"
"Benarkah..?"
"Uhm! Apakah Kakak pernah berbohong padamu?"
__ADS_1
"Hehehe... tidak!"
.
.
.
.
"SIAPAPUN MAKHLUK YANG ADA DI DALAM SANA, KELUARLAH DARI TUBUH KAKAKKU SEKARANG JUGA!" jerit Klutzie. Tatapannya saat ini benar-benar menakutkan. "Siren! Spirit Warble!" tidak menunggu banyak basa-basi, Klutzie langsung ke mode full power-nya.
"Oke!"
Tidak terkejut seperti ketika dia melihatnya pertama kali, Suzy justru menyeringai dan berseru, "Sudah kutunggu wujud itu!" ia kemudian diselimuti oleh aura merah. Warna kulitnya berubah cokelat, telinganya menjadi runcing, rambut bergelombang keemasannya menjadi perak, mata kiri bersinar merah, mata kanan bersinar biru.
"Itukah wujud aslimu ... Phantasmal?" tanya Klutzie.
"Kau benar. Inilah wujudku yang sebenarnya. Jujur saja, akhirnya aku bisa terbebas setelah keinginan Wadah ini lenyap total dari raganya. Dia cukup keras kepala entah kapanpun kematian mengotori tangannya." Dia mengatakannya sambil tersenyum, sengaja memancing emosi Klutzie.
"Apa katamu...?" Klutzie menundukkan kepala, mencengkeram kedua tangannya begitu erat, berusaha menahan emosinya.
"Ada banyak waktu dimana dia nyaris menaklukanku dan menguasai seluruh kekuatanku menjadi miliknya sendiri, tetapi dia tidak menyadarinya sama sekali, bahkan sejak sepuluh tahun yang lalu!
"Dia selalu berpikir bahwa darah yang berlumur di tangannya itu benar-benar perbuatannya.
"Terakhir kali dia terbangun disaat yang salah adalah ketika aku membunuh dua bocah enam setengah tahun yang lalu.
"Tampang putus asanya, perasaan kacaunya ketika adiknya sendiri memukul wajahnya, semuanya terasa nikmat...."
.
.
.
.
"Selama ini kau hanya memperalat kakakku...?
"BAJINGAAAAANN!"
Klutzie melesat ke Suzy, namun ia berhenti mendadak karena ucapan Phantasmal yang menguasai tubuh kakaknya itu.
"Kauyakin? Ini adalah tubuh kakakmu yang berharga. Bahkan jika kau berhasil membunuhku, tidak akan ada artinya bagimu jika kau pun membunuh kakakmu sendiri." Phantasmal ini begitu menikmati situasi ini.
"Dasar makhluk rendahan.... Untuk apa kau merebut tubuh kakakku?!"
"Haruskah aku mengatakannya dengan lantang?" tanya Phantasmal itu, "dengan wujudmu saat ini, kaubisa mengetahui apa aku sebenarnya, bukan?"
Klutzie menganga. "Ti-tidak mungkin.... Bagaimana...?"
"Ini adalah keinginan dunia! Dunia menginginkan aku membalas kejadian itu!"
"Tapi ... kenapa harus kakakku?! Kakakku tidak ada hubungannya dengan kalian!"
"Tidak, tentu saja tidak. Tapi, aku sudah memutuskan. Manusia memang makhluk yang sangat menjengkelkan. Manusia haruslah lenyap dari dunia!"
"Takkan kubiarkan begitu saja!
"Seenaknya merebut kakakku, seenaknya merenggut kebebasan rakyatku, seenaknya membunuh orang lain dengan tangan kakakku... apa bedamu dengan Manusia yang sangat kaubenci itu?!"
Ucapan Klutzie memancing emosi si Phantasmal dengan mudahnya. "Jangan samakan aku dengan kalian!"
'BWAKK!'
Phantasmal itu menendang pelipis kiri Klutzie dengan kecepatan tinggi hingga membuatnya jatuh ke tanah dan menimbulkan asap tebal.
"Manusia hanyalah makhluk kotor yang tidak peduli dengan makhluk hidup lain dan selalu saja menginjak-injak mereka!
"Bayangkanlah betapa indahnya dunia sihir ini tanpa adanya kalian!"
__ADS_1
Perlahan-lahan dari kakinya, aura merah menyelimuti tubuhnya. Dari situ, Siren menyadari sesuatu. "Lutz, aku ingat mana yang selalu membuatku penasaran itu...," katanya, "ketika ibumu baru saja meninggal, aku merasakan mana miliknya berada di sekitar ibumu!"
"Apa ... katamu ...?"
Klutzie ingat ketika dirinya saat kecil melihat sosok ibunya—Ratu Nebula—terkapar tak bernyawa dengan bekas cengkeraman dan cakaran di berbagai tempat di tubuhnya, seperti lengan, kaki, perut, wajah, dan masih banyak lagi, di sebelah Suzy yang untungnya baik-baik saja.
"Kenapa kau tak mengatakan itu padaku sejak dulu?! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?!"
"Mana bisa aku mengatakannya pada bocah berusia empat tahun!"
"Cih...."
"Ah... kukira kalian hanya bertengkar dengan alasan bodoh, tapi... kalian bicara tentang Maaya, 'kah...." Klutzie tersentak Phantasmal itu mengetahui nama ibunya.
"Berbahagialah, Klutzie!" Phantasmal itu mengangkat kedua tangannya. "Ibumu, Maayaford Southern Flare XXVII, telah tewas karena kebodohannya yang sok mengajariku!
"Tubuhnya yang lemah dan sakit-sakitan itu sudah kuberi keringanan agar tidak perlu bergerak lagi dengan tubuh bernama Suzy Nebula ini....
"SELAMANYA!"
.
.
.
.
'DEG DEG!!!'
.
.
.
.
"Ibuuu... jangan tinggalkan aku, Bu!
"Kenapa tubuhmu sangat dingin...? Kenapa tubuhmu penuh luka...? Ibu... bukalah matamu...!"
"Pa-Pangeran Klutzie... he-hentikanlah... i-ibu Anda... Yang Mulia Ratu sudah...."
"Tidaaaak! Aku tidak mauu! Ibuuu, kembalilah! Aku berjanji akan menjadi anak baik dan tidak lagi kabur dari istana! Aku akan belajar sebaik mungkin jadi...
"Kembalilah...."
.
.
.
.
"KLUTZIE!"
"Ayah...."
"Hentikanlah tangismu yang tidak berguna itu!"
"Ta-tapi...."
"Ingatlah apa yang kukatakan padamu! Kau adalah Pangeran! Bertekadlah yang kuat dan perkuatlah dirimu sendiri! Ketika tiba waktunya, kau akan tahu apa yang menjadi tanggung jawabmu sebagai Pangeran!"
Air mata mengalir, urat kepala dan tangan muncul. Emosinya tak bisa lagi dibendung Klutzie.
"SIALAN KAU, JEWEL! TAKKAN KUMAAFKAN KAAUU!"
Ledakan mana yang membentuk sebuah pilar pun terjadi.
__ADS_1