Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ikatan yang Terbentuk dari Kesan


__ADS_3

Kediaman Alexandrita... bangunan yang seperti tower melebar ini, tidak hanya dari luar tampak unik, tetapi di dalamnya juga. Barang-barang yang terkesan antik terpajang di berbagai tempat. Barang-barang tersebut dilindungi oleh butiran sihir yang terus menerus memutari mereka, yang berguna untuk menahan mereka agar tidak jatuh atau berdebu. Selain itu, juga menjadi nilai tambah untuk mempercantik mereka.


Ruang hijau yang dipakai Ashley dan Zeeta berlatih, memiliki bangun ruang bulat tanpa atap yang sebenarnya cukup untuk diisi oleh enam belas orang berpesta barbeque. Ruang tersebut berisi rumput Swiss dan beberapa batang pohon besar yang telah diukir sebagai kursi untuk menyesuaikan tema ruangan.


Ruang itu dibangun terpisah dengan kediaman Ashley yang berbahan bebatuan seperti marmer dan lainnya. Dengan kayu jati sebagai bahan utamanya, ruang tersebut tampak mencolok, ia juga dihiasi oleh jendela kaca yang memutarinya sampai ke pintu kaca bergagang alumunium yang berada di tengah-tengah.


"Aku hanya akan memberimu satu tips," kata Ashley pada Zeeta, yang telah mundur ke ujung ruangan sambil menyilangkan tangan. "Jangan ragu bila kauingin menghabisi mereka."


Zeeta yang terus menghindari serangan laser Teddy dan rusa buatan Ashley dengan terus berlari dan berkali-kali melompat, sayangnya kini sudah kehabisan napasnya. Setidaknya, Zeeta masih bisa menyerap apa tips dari gurunya. Teddy dan rusa itu hanya memutar badannya sesuai kemana arah Zeeta pergi, tanpa meninggalkan tempatnya berdiri.


"Bicara, sih, mudah, tapi aku tak bisa fokus dengan apa yang harus kulakukan jika di dalam ruangan begini!" teriak Zeeta. "Hmm?! Dalam ruangan?" ia menyadari sesuatu.


"Oh? Dia sudah dapat jawabannya?" gumam Ashley. Ia tersenyum kecil.


Zeeta melihat sekelilingnya. Ia sempat terkesiap, sebelum akhirnya berlari menuju sebuah batang pohon, lalu menyentuhnya. Ia memejamkan matanya, kemudian muncullah sebuah perisai berbahan sama yang menjulang tinggi dari batang tersebut. "Aku tahu ini tidak akan menahan mereka terlalu lama... tapi...." Zeeta mengatur napasnya, lalu ia membuat empat buah bola putih—masing-masing dua di kedua tangannya. Bola-bola putih itu jika dilihat dengan mata telanjang akan seperti bola salju, tetapi jika dilihat lebih jelas, bola tersebut memiliki bintik-bintik super kecil—semacam molekul—yang terus memutari bolanya.


"Jangan terlalu lama bersembunyi! Itu hanya akan memperparah keadaanmu! Apa yang ingin kaulakukan?!" teriak Ashley.


"Aku tahu, bisakah Guru tidak menggangguku dulu? Ih!" balas Zeeta juga berteriak.


Disaat yang sama, Agatha, Edward dan Ella yang sedang digendong neneknya, serta Karim, ikut melihat latihan Zeeta. Tak lupa Arthur dan Lowèn juga.


"Seharusnya ini mudah bagi Tuan Putri.... Dia hanya tinggal melumpuhkan mata atau kaki dari mereka," batin Lowèn, "lalu kenapa ia tidak terpikirkan hal itu...?"


"Lihat, Ed!" seru Ella. Ia menunjuk ke Zeeta yang sedang ingin melakukan sesuatu dibalik perisai tinggi itu.


"Uhm.... Ayo kita lihat, seperti apa kekuatan Tuan Putri!" balas Edward. Mereka menyaksikannya dengan tatapan serius, seakan tak ingin meninggalkan satu detikpun dari gerakan yang akan diambil Zeeta.


......................


"Guru, sebelum aku mulai, aku ingin bertanya!" teriak Zeeta.


"Apa?" tanya Ashley.


"Apa semua makhluk sihir memiliki inti sihir?"


Ashley tersenyum kecut. "Heh. Cari tahu jawabannya sendiri!"


"Yah, itu sudah kuduga, sih!" kemudian Zeeta meniup empat bola putih di tangannya.


Zeeta muncul dari persembunyiannya dan segera melempar empat bola putih itu. Dua diantaranya menuju tangan Teddy dan dua lainnya menuju mata rusa. Untuk sejenak, tembakan dari dua makhluk sihir itu berhenti.


"Sudah kuduga!" batin Lowèn dan Ashley—keduanya memiliki maksud yang berbeda.


"Tidak mungkin Tuan Putri tidak menyadari apa yang harus dilakukannya. Jika pergerakan dan serangan mereka lumpuh, itu kemenangan baginya. Begitulah seharusnya!" Lowèn tampak senang melihat apa yang dilakukan Zeeta.


"Tidak. Sihir Zeeta tidak melumpuhkan pergerakan atau serangan dari mereka," kata Arthur tiba-tiba.


"Apa katamu?!"


Sementara di dalam, Ashley tampak tidak senang. "Dasar bodoh! Aku menyuruhmu untuk melumpuhkan mereka secara total, bukan pada tempat spesifik seperti itu! Bahkan kalau kau berhasil melumpuhkan pergerakan mereka, bisa saja—" Ashley dipotong oleh Zeeta.


"Sudah, sudah, aku tahu apa yang ingin Guru katakan. Lihatlah, apa mereka benar-benar hanya lumpuh di bagian tertentu saja?" Zeeta tersenyum sombong sambil menaik-turunkan alisnya.


Ashley pun melihat makhluk buatannya dengan lebih saksama. "A-apa?! Sejak kapan kau...?"


"Guru sempat bilang, 'kau pasti sudah tahu tentang Erigona, bukan?' Kalau begitu, ini pasti ada hubungannya dengan dia! Makanya, sihir yang kulempar, ada sedikiiiit tambahan spesial di dalamnya!"


Lowèn melihat ke arah Arthur dan Zeeta berulang kali. "Bagaimana ... kaubisa...?"


"Aku membesarkan Zeeta seorang diri selama delapan tahun, dan aku yang mengajarinya bagaimana cara memakai sihir. Mau seperti apa kau menolakku sebagai ayah angkatnya, Zeeta tetaplah putriku!"


Agatha dan Karim yang mendengar Arthur hanya bisa terdiam. Untuk saat ini.


"Jadi... sebenarnya apa hebatnya dia?" tanya Edward. Ia tidak mengerti apa yang baru dilakukan Zeeta.


"Ed, lihat dua makhluk itu!" tukas Ella.


Dimulai dari tempat bola putih Zeeta mengenai dua makhluk sihir itu, mereka perlahan membeku... hingga akhirnya ke sekujur tubuh. Tak butuh waktu lama, Teddy dan rusa itu jatuh dan pecah berkeping-keping.


"Pfft... hahahaha!" Ashley tertawa terbahak.


"A-apanya yang lucu, Guru?!" Zeeta merasa diremehkan.


"Tidak, tidak. Aku hanya tersadar saja, bahwa kau benar-benar keturunan dari Scarlet dan Alicia!"


"Eh? Apa maksudmu?"


"Tanpa kalian sadari, kalian adalah orang yang jenius!"


"Je-jenius? Aku hanya melakukan apa yang terpikirkan olehku. Kenapa Guru bilang aku jenius?"


"Dengar, Nak. Bagaimana bisa anak kecil sepertimu tahu cara melumpuhkan makhluk sihir yang memiliki konsep sama dengan Erigona, disaat kau tidak tahu seperti apa Erigona dalam kenyataannya, bila kau bukan jenius?"


"Oh....


"Ehe... ehehehehe...."


Zeeta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merona merah.


"Tapi jangan senang dulu!" raut wajah Ashley mendadak bad mood. "Ini hanyalah sebuah kerikil untuk tantanganmu di waktu yang akan datang. Teruslah berlatih dan jangan pernah malas!"


"Ba-baik!"


......................


Waktu makan siang, semua yang hadir dari pihak Levant, Zeeta, Arthur, dan Ashley, berkumpul di meja yang sama. Sambil menunggu para pelayan menyajikan santapan, mereka membahas tentang Zeeta sedikit lebih jauh.


"Jadi... Paman Lowèn adalah... adik dari ayahku?" tanya Zeeta.

__ADS_1


Lowèn pun menjawab, "Anda benar. Seharusnya, yang berada di istana adalah aku. Karena saat itu, Ratu Alicia ingin bantuan untuk menyelidiki sesuatu, yang berkaitan dengan ramalan Ratu Feline, tapi....


"Kakakku Hazell yang sudah menjadi kepala bangsawan Levant saat itu, berkewajiban untuk tetap berada di luar istana meskipun dia adalah raja. Ia mengabaikan kewajibannya demi menggantikanku dan akhirnya...."


"Eh? Kenapa raja tidak boleh ada di dalam istana...?" Zeeta memiringkan alisnya.


"Levant merupakan bangsawan khusus, terpisah dari bangsawan utama. Kami memiliki peran penting lain untuk kerajaan. Untuk perannya seperti apa, aku masih tidak bisa bilang kepada Anda."


"Oh, baiklah.... Lalu, apa yang membuat ayah harus mengabaikan kewajibannya? Apakah sepenting itu permintaan ibu?"


"Soal itu...." Lowèn melirik ke Karim.


Karim diam sejenak, kemudian memberi usul, "Begini, Nak. Bagaimana kalau setelah makan siang, kamu ikut kami? Dengan begitu, kamu akan lebih cepat memahami daripada mendengar cerita kami sambil membayangkan. Tentu saja, jika Grand Duchess mengizinkan."


Zeeta melirik ke Ashley.


"Apa kalian semua yakin? Zeeta baru saja mengalami masalah dengan Rowing, lho. Tidakkah kalian pikir itu semua terlalu cepat untuknya?" tanya Ashley.


"Nyonya Ashley benar. Sebaiknya kita tunda saja dulu," balas Agatha setuju.


"Hmmm. Kalian benar." Karim dan Lowèn sudah memikirkannya dua kali.


Lalu tak lama, Edward dan Ella membanting meja.


"Bukankah Papa bilang kalau mama bisa disembuhkan oleh Tuan Putri? Jika dia tidak diajak ke rumah, kapan lagi?!" jerit Edward.


"Aku... sangat rindu mama...." Ella menggumam.


"Edward, Ella! Bahas itu nanti saja!" Lowèn balik memarahi anaknya.


Titik air mata keluar dari si kembar.


"Papa pembohong!" Edward dan Ella berlari meninggalkan ruang makan.


"He-hei, Ed, Ell! Mau kemana kalian?!"


"Dasar...." Agatha memegang keningnya. "Kau tak perlu membentak mereka seperti itu, bukan? Inilah yang membedakan kau dengan Arthur itu."


Lowèn memelototi tajam Arthur.


"Hei hei, beri aku istirahat, dong, ya ampun. Sebegitu bencikah dia padaku?" batin Arthur.


"Haaahhh...." Lowèn menghela napasnya. "Biarkan saja si kembar itu. Nanti mereka kembali ke sini jika sudah lapar," sambungnya.


Zeeta merasa tidak senang atas ucapan itu. "Aku akan bicara dengan mereka!" Lalu, ia berlari mengejar Edward dan Ella.


"Tu-Tuan Putri? Apa Anda yakin? Sebentar lagi sudah jamnya makan siang!" seru Lowèn.


Karim yang sudah tak mampu menahan emosinya akhirnya berdiri, mendekati Lowèn, kemudian....


'DBUUGGG!'


"Aku tak pernah ingat mendidik putraku tak berperasaan seperti itu, lho, Lowèn. Jika aku mendengarmu sekali lagi memperlakukan Ed dan Ell seperti itu, akan kupastikan kau tidak bisa kembali lagi ke—" amarah Karim diputus Agatha.


"Sayang! Ini kediaman Grand Duchess!" tukas Agatha.


"Ma-maafkan aku, Grand Duchess...." Karim menyesali perbuatan tak sopannya.


......................


Zeeta menyisiri lorong demi lorong, ruangan demi ruangan, untuk mencari si kembar berada. Menyerah dengan betapa luasnya kediaman Ashley, akhirnya Zeeta memutuskan untuk memakai sihir.


Ia memejamkan matanya, kemudian membuka telapak tangannya untuk mengumpulkan butiran-butiran sihir.


"Beritahu aku dimana mereka berada." batin Zeeta, yang menaruh "perintah" di dalam sihirnya. Tak lama kemudian, butiran sihir itu membentuk diri menjadi seperti tanda panah, lalu memandu Zeeta kemana Edward dan Ella berada.


Setelah memakan waktu sekitar empat menit, Zeeta akhirnya menemukan si kembar yang sedang tersedu-sedu sambil memeluk satu sama lain. Mereka berada di gudang penyimpanan zirah pasukan Alexandrita. Tampaknya, si kembar takut akan gelapnya ruangan serta benda-benda tajam lengkap dengan zirahnya. Zirah-zirah tersebut, dilindungi oleh suatu sihir semacam tembok transparan, yang tanpa dibuka dengan sesuatu, tak bisa diganggu gugat.


"Hei!" panggil Zeeta sambil sedikit berbisik.


Si kembar menolehkan kepalanya. Mata mereka-- meskipun tak terlihat oleh Zeeta, berbinar setelah melihat kedatangan kakak sepupunya.


"Tuan Putriii!" keduanya berlari kemudian melompat ke arah Zeeta sampai membuat mereka terjatuh bersamaan. "Kami takuut!" pekik keduanya sambil membanjiri pipi mereka.


Baru pertama kali mengalami hal seperti ini, entah kenapa ia jadi ingat bagaimana cara Arthur menenangkannya ketika ia takut. Ia mengelus kepala dua adik sepupunya dengan lembut, kemudian berbisik, "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Aku ada di sini bersama kalian."


Perlahan-lahan, tangis si kembar itu mulai mereda. Jemari mereka terlihat mencubit baju Zeeta, seakan sudah tak ingin melepasnya lagi.


"Sudah tenang?" tanya Zeeta.


"Uhm." Keduanya mengangguk.


"Bagus. Ayo kita kembali." Zeeta mencoba berdiri, namun ditahan si kembar.


"Papa...," ujar Ella.


"Pembohong," sambung Edward.


Zeeta buntu setelah mendengarnya. "E-eh? Mereka... tidak mau kembali? Eh?! A-aku harus a—" ketika Zeeta panik dengan inner self-nya, ia mendengar bunyi perut yang telah menadahkan tangan untuk diberi makan. Sumbernya dari Edward dan Ella. Bisa dilihat dengan jelas oleh Zeeta, si kembar merona merah. Merahnya yang seperti tomat, begitu kontras dengan rambut pirang mereka.


"Ahahaha.... Kalau begitu, ayo kita makan! Aku akan memasak untuk kalian!" Zeeta menarik si kembar untuk membantu mereka berdiri.


"Eh?" Ella memiringkan kepalanya.


"Tuan Putri bisa memasak?" sambung Edward.


"Ya, tentu saja! Sudah lama rasanya aku tak memasak, aku jadi semangat!" tampak sebuah api di dalam mata Zeeta.


"Waaahh!" selain mata si kembar yang berkelip, hati mereka juga sudah kembali bersinar. "Uhm! Kami mau!" tukas keduanya bersamaan.

__ADS_1


"Kalau begitu.... Tunggu sebentar, ya." Zeeta tampak memejamkan matanya.


"Meskipun aku bilang begitu... tapi aku belum pernah melihat dan tahu di mana dapur rumahnya guru Ashley! Aaaa! Apa yang harus kulakukan? Hmm?! Tunggu. Sepertinya aku melupakan seseorang yang penting untukku ketika aku berlatih memasak...."


Zeeta berusaha mencari jawaban dari masalah sepelenya dengan sekuat tenaga.


"Ah! Gerda!" Zeeta tiba-tiba melotot, kemudian memejamkan matanya kembali. "Sip, aku tinggal bicara dengannya lewat telepati!"


......................


Sementara itu, Gerda yang tengah membantu pegawai Neko's Inn memasak dengan memotong bahan-bahan yang diperlukan....


"Gerda!"


"Kyaaaa!" suara Zeeta yang tiba-tiba terdengar di dalam kepalanya, membuatnya berteriak sampai menjatuhkan pisau—nyaris melukai kakinya.


"Si-siapa itu?!" Gerda yang tampak geger, memicu berbagai mata terfokus kepadanya.


"Ini aku, Zeeta!"


"Zeeta?!" refleks menjerit, Gerda lantas menutup mulutnya.


"Gerda? Ada apa dengan Tuan Putri?" tanya pegawai wanita di belakangnya.


"A-ah... ti-tidak apa, tidak apa!"


"Kauyakin?"


"Uhm!" Gerda berusaha semampunya untuk menahan apapun yang ada di benaknya agar tidak keluar. Baik itu untuk emosi kepada Zeeta, atau membeberkan bahwa Zeeta tengah bicara kepadanya... lewat telepati.


"Kalau tidak enak badan, segeralah istirahat!" Pegawai wanita itu mengambil pisau dan meneruskan tugas Gerda.


"A-aku akan melakukannya...." Gerda pergi meninggalkan dapur.


Setelah Gerda keluar dari dapur dan masuk kamar, ia segera meluapkan emosinya, membalas Zeeta dengan suara lantang, mengabaikan Danny yang ada di sana. "Apa yang kamu inginkan, dasar tidak tahu diri!?"


"Apa-apaan kau ini, tiba-tiba memakiku seperti itu?!" Danny tidak terima.


"Marahnya nanti saja, beritahu aku seperti apa tempatmu berdiri sekarang, ini darurat!"


"Darurat?!" mendengarnya seakan terpojok itu, membuat Gerda tidak memikirkan apapun selain menjelaskan seperti apa wajah kamar di mana ia berdiri sekarang.


Zeeta, yang telah mengetahui posisi temannya itu, kemudian mengenggam tangan si kembar. "Hei, apa kalian pernah berteleportasi?" tanya Zeeta dengan senyum.


Dua kali gelengan menjawab Zeeta.


"Hehe, kalau begitu berpeganglah yang erat!"


Si kembar mengikuti permintaan kakak sepupunya sambil menutup mata. Tak perlu waktu lebih dari tiga detik, mereka tiba-tiba mendengar teriakan lantang dari seseorang.


"Eeeehh?! Zee... Zee... Zeeta?!" Danny yang sedang dalam posisi nyaman di atas kasurnya, mendadak duduk rapi.


"Wah, hebat.... Padahal tadi kita di tempat gelap!" tukas Edward.


"Uhm. Tuan Putri memang hebat, ya!" Ella semakin mengeratkan genggamannya.


"Nah, Zeeta." Dengan ancaman mematikannya, Gerda berjalan mendekati Zeeta. "Jelaskan padaku, SAAT! INI! JUGA!


"Apa kau tidak tahu gara-gara sihirmu itu, aku nyaris melubangi kakiku dengan pisau?!"


Gerda tampak sangat mengerikan di mata Edward dan Ella.


"Eh? Benarkah?" Zeeta memiringkan kepalanya.


"Ya!"


"Maaf, ya, Gerda. Soal darurat itu, aku tidak bohong, kok."


Gerda mematikan api amarahnya, lalu melihat dua anak identik yang tingginya seperut Zeeta. "Siapa?" tanyanya sambil menunjuk si kembar.


"Nanti kuceritakan, ya. Nah, kalian ingin ikut bersamaku melihat aksiku memasak, atau menunggu di sini dengan dua kakak ini?" Zeeta berlutut.


"Tentu saja kami ikut!" mereka menjawabnya bersamaan.


"Bagus!" ia bangun lalu menggandeng kedua adiknya ke luar. "Dengar ya, ini adalah hari bersejarah untuk kita agar semakin mengeratkan hubungan di masa depan!" Zeeta membawa Edward dan Ella masuk ke dapur penginapan dengan santainya.


Dari kamar, Gerda dan Danny dapat mendengar dengan jelas... betapa hebohnya penginapan tatkala ketiganya turun.


"Duh... apa-apaan Zeeta itu? Sejak kapan dia jadi seceria ini?" Gerda duduk di sebelah kakaknya.


"Uh-huh, aku merasa Zeeta... seperti bukan Zeeta, tapi entah kenapa aku juga merasa dia tetaplah Zeeta," balas Danny.


"HAH?" Gerda melirik jijik kakaknya. "Nggak jelas banget!"


"Hei hei hei! Aku ini Kakakmu, apa-apaan tatapan jijikmu itu?!"


"Pikirkan sendiri dengan otak udang itu! Aku akan melihat apa yang dilakukan Zeeta!" Gerda meninggalkan kamar.


"Yang nggak jelas itu kau, tahu, dasar adik bodoh...," gumam Danny.


"Aku bisa dengar, lho!" teriak Gerda, membuat Danny bergidik ngeri.


......................


Mendengar kehebohan dari Neko's Inn atas kabar Tuan Putri yang berada di sana, tentu saja dengan mudahnya sampai ke telinga Ashley dan siapapun yang ada di ruang makan. Seorang prajurit melaporkannya di saat mereka tengah nikmat menyantap makanan.


Ashley menjatuhkan sendoknya. Ia tak percaya apa yang baru saja didengarnya.


"APA KATAMU?!"

__ADS_1


__ADS_2