Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Gadis yang Kuat


__ADS_3

Disaat mereka yang sedang terhubung dengan “link” mendengarkan kisah dari Si Benih Yggdrasil yang berperan sebagai pelayan, Wadah-nya datang ke sana. Sama seperti mereka yang datang dengan tubuh yang bersinar, dirinya pun begitu. Hanya saja, wajahnya tidak menunjukkan rasa senang sama sekali. “Untuk apa kalian membuang-buang waktu hanya untuk mendengarkan ceritaku begini?” tanyanya, “aku pun baru tahu jika selama ini kau selalu mengamatiku, Xennaville.”


Xennaville terdiam. Tak ada di sana yang tahu apakah kebungkaman itu disengaja atau tidak.


“Katakan padaku,” sambung Hitomi, “untuk apa kalian melakukan ini?”


“Kami—tidak...,” jawab Zeeta, “aku ingin mengetahui apa tujuanmu melakukan ini. Maksudku, tentang Jötunnheim.”


“Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Meskipun saat itu aku dikendalikan oleh dirimu yang lain. Gadis itu benar-benar melihat semua isi kepalaku.”


“Mendatangkan Ragnarok?”


“Ya.”


Zeeta terlihat tidak dapat menerima jawabannya.


“Apa-apaan tatapanmu itu? Kauingin bilang aku berbohong?”


“Uhm. Kau memang berbohong. Aku tahu itu.”


Klutzie, Siren, Luna, dan Tellaura terkesiap. “Bagaimana kaubisa tahu?” tanya Klutzie.


Sambil melihat ke arah Klutzie, Zeeta menjawab. “Dia bergemetar.”


Hitomi-lah yang sekarang terkesiap. Ia lalu mencengkeram tangannya.


“Klutzie, aku tidak tahu apakah ini kebetulan atau bukan, tetapi kita bertiga dipilih oleh Roh Yggdrasil karena alasan kuat kita untuk mengubah dunia. Setidaknya, itulah yang kupikirkan.


“Hitomi, tujuanmu meratakan Galdurheim dengan mendatangkan Jötunnheim, bukanlah Ragnarok. Ragnarok hanyalah tujuan tambahannya, tetapi tujuan utamamu....


“Adalah untuk membinasakan kekaisaranmu sendiri, ‘kan?”


Hitomi terdiam.


“Aku memang baru mendengar sepotong cerita dari Roh Yggdrasil-mu, tetapi perasaan marah yang sedang kaurasakan sekarang, aku bisa merasakannya.


“Jika ucapanmu tentang bantuan dariku benar-benar nyata, aku AKAN membantumu. Aku sudah siap menjadi pusat kebencian dunia ini, tetapi aku tidak bisa menjalaninya sendirian.”


Hitomi menggigit bibirnya sebelum bertanya. “Kenapa kau mau membantuku? Kekaisaranku hendak menyerang kerajaanmu. Aku tidak tahu apakah ada korban jiwa di pihakmu atau tidak, tetapi Seiryuu selalu serius dalam misinya.”


Zeeta tersenyum. “Aku sudah muak dengan dunia sihir ini. Mungkin, bila dunia ini hanya memiliki kemampuan diluar nalar seperti Ki, dunia tidak akan sekacau sekarang.


“Hitomi. Aku butuh bantuanmu untuk menyelesaikan Ragnarok. Disaat Ragnarok terjadi, kita tidak tahu akan sebanyak apa korban jiwa berjatuhan. Manusia, Raksasa, dan Naga saling berseteru itu ... aku tidak ingin membuatnya terlalu lama terjadi.”


Hitomi menatap lurus Zeeta. “Katakan dulu pada kami seperti apa dunia yang ingin kauwujudkan dan bagaimana kami bisa percaya jika kau tidak akan berakhir seperti dirimu yang lain itu?”


......................


Beberapa menit berlalu, setengah lingkaran dari sihir Luna dilepasnya. Mereka yang sebelumnya ada di dalam setengah lingkaran tersebut, berkumpul dahulu sebelum berpisah.


“Kalau begitu, aku akan ke desa dimana temanku, Gerda, berada. Aku harus segera menyelamatkannya,” ujar Zeeta.


“Aku ikut bersamamu,” timpal Luna.


“Uhm. Baiklah.”


“Aku akan kembali ke Aurora dan menjelaskan semuanya pada Ratu,” kata Tellaura.


“Bagaimana dengan kalian?” tanya Zeeta pada Hitomi.


“Hitomi, kau kembalilah duluan. Aku harus melakukan sesuatu di suatu lautan,” kata Xennaville.

__ADS_1


“Lautan? Untuk apa?”


“Mendapatkan rekan.”


“Baiklah.


“Zeeta. Aku yakin kau sadar tentang ini, tetapi begitu portalnya terlihat, maka apapun yang terjadi, kau harus ke Seiryuu.”


“Uhm. Aku mengerti,” balas Zeeta.


“Baiklah. Semoga beruntung!” dengan Tellaura yang mengakhiri diskusinya, kelimanya bubar secara serentak ke arah yang berbeda-beda.


.


.


.


.


.


“Apa kau takut, Zee?” tanya Luna dalam wujud rubah mininya, di atas kepala Zeeta yang sedang memakai Catastrophe Seal bentuk tongkat untuk terbang.


“Dengan diriku yang lain itu?”


“Ya. Memang ada yang lain?”


“Hahaha… kebalikannya, Luna.”


“Kebalikan?”


“Yap. Yang mengerti diriku sendiri, adalah diriku. Jadi, meskipun diriku yang lain itu melakukan sesuatu yang tidak kulakukan di sini, tetapi aku memahaminya.


“Begitu pun dengan Naga.


“Demikian pula pada Manusia.


“Sekarang, yang harus kuselesaikan adalah Gerda. Tanpanya, aku tak bisa memiliki teman.”


Luna tidak membalas jawaban Zeeta. Dia hanya tersenyum, merasakan kehangatan dari Wadah-nya meskipun dirinya sedang terhantam oleh banyak beban dari segala arah.


......................


[Sementara itu, di lautan….]


Cemerlang bulan dapat menyaksikan bagaimana birunya lautan berubah merah secara perlahan, setelah sebuah sinar turun dari langit tiba-tiba, melukai seekor makhluk yang sedang membantu seekor Putri Duyung.


“Aaaghh!” erang Sang Makhluk, Bon, tatkala sinar tersebut menghantamnya. Hal tersebut jadi memutus komunikasi Cynthia dengan Zeeta.


“A-apa yang terjadi, Bon?!” teriak Cynthia panik.


“Tuan Putri!” panggil Qyu, “sebuah sinar dari langit menghantam Bon! Itu sangat besar! A-aku tidak percaya apa yang baru saja kulihat!”


“Sinar?” Cynthia mencoba mengingat lagi apa yang sebelumnya terjadi. “O-orang itu…!”


“Si-sial…,” keluh Bon, “sudah sekian lama aku tidak terkena serangan seperti ini … rasanya … sungguh menyiksa….”


“Maaf, Bon…. Ini gara-gara aku yang meminta bantuanmu. Aku … aku bahkan belum benar-benar bisa mendapatkan jawaban lengkap dari Zeeta. Ka-katakan padaku, apa yang bisa kuperbuat untuk menyembuhkanmu? Setidaknya aku ingin bertanggung jawab!”


Bon tersenyum dibuatnya. “Ha ha ha…. Tidak mengapa, Putri Duyung. Ini bukanlah pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini, tetapi… zaman sudah semakin tua, demikian denganku. Tampaknya….”

__ADS_1


Cynthia dan Qyu menyaksikan bagaimana tubuh besar dari Bon bersinar dan meluapkan butiran-butiran mana. Serangan yang mendarat pada tempurungnya sangat berpengaruh padanya.


“Ti-tidak… jangan begini, kumohon!” Cynthia memelas. “Bukan ini yang ingin kulakukan padamu, Bon….” Ketika tetes air matanya jatuh dari pipinya, tiba-tiba….


“Kalau begitu, selamatkanlah Bon. Kau memiliki kekuatan untuk menyembuhkannya. Lagi pula, kau adalah Penakluk Penguasa Lautan, bukan?”


Cynthia mendengar suara seorang wanita yang sama sekali belum pernah didengarnya mendengung di dalam kepalanya. Menyusul darinya, mata Cynthia bersinar putih secara keseluruhan. Ia seperti bukan dirinya saja. Disaat yang sama, pusaran air terbentuk di bawah Bon—yang disebabkan oleh Cynthia yang sedang mengendalikan air dengan memutar-mutar tangannya. Tidak hanya itu saja, langit pun bergemuruh dan mendatangkan petir yang saling sahut-menyahut.


Qyu yang menyaksikannya hanya bisa melongok. “Apa yang terjadi dengan Tuan Putri?” batinnya.


Pusaran air yang dibentuk Cynthia tidak menyerapnya, melainkan mendorongnya ke atas. Cynthia juga ikut melakukan hal yang serupa pada dirinya sendiri, kemudian menyelimuti Bon dengan air dari pusaran di bawahnya. Usai menyelimutinya di dalam air, Cynthia meregangkan tangan kirinya.


.


.


.


.


[Disaat yang sama, di istana Orsfangr….]


Di sebelah kanan kursi takhta Raja, terdapat trisula besar yang tertancap. Trisula tersebut seakan merespon “panggilan” Cynthia, sebab itu bergetar seakan meminta untuk dilepas.


Bunyi gaduh dari trisulanya memanggil mereka yang ada di dalam. Danny, Jourgan, dan Putri Kedua Orsfangr, Sugar. Ketiganya menyaksikan bagaimana trisula tersebut bergerak-gerak sendiri.


“Ap-apa yang sedang terjadi?” tanya Danny.


Sugar tersenyum. “Ini pasti adikku! Akhirnya Undine menjawabnya, kah?!” senyumnya semakin melebar.


“Undine?” tanya Danny lagi, “maksudmu, Roh Kuno Air?”


“Ya! Itu benar! Trisula itu adalah barang mistik yang terbentuk karena kekuatan Undine sendiri, dan hanya mereka yang mewarisi kekuatannya saja yang bisa memakainya. Dengan kata lain, hanya adikku saja yang bisa memakai trisula tersebut!”


“Ini aneh,” sanggah Jourgan. Ucapannya memantik perhatian dari keduanya. “Putri Cynthia pergi untuk bertanya kepada Zeeta, bukan? Kenapa dia justru hendak memakai trisula—senjata yang hebat seperti ini…?”


‘ZWINGG!’


Trisulanya akhirnya tercabut dan pergi memenuhi panggilan Cynthia.


“Haruskah kita ikut pergi juga?” tanya Jourgan, melirik pada Danny.


“Tidak. Kita hanya akan menjadi beban. Terlebih, di lautan luas seperti ini, tanpa adanya pemandu yang mengerti arah, semua akan jadi sia-sia.


“Aku tidak membicarakan Anda, Putri Kedua. Aku tak ingin Putri Cynthia menyalahkan kami karena telah ‘memaksa’ Anda untuk pergi.”


Sugar langsung cemberut mendengar ucapan Danny itu.


“Aku tidak suka ini,” timpal Jourgan, “disaat kita tak bisa kemana-mana di dalam lautan ini, di daratan terjadi banyak hal. Kuyakin Zeeta juga ikut terlibat.”


“Sejujurnya, aku pun merasakan hal yang sama. Dari tadi, aku merasa adikku sedang dalam bahaya dan perasaanku selalu tidak enak.”


.


.


.


.


‘SHWOP!’

__ADS_1


Cynthia mencengkeram trisulanya. “Bon, aku takkan membiarkanmu mati begitu saja. Lautan masih membutuhkan dirimu untuk kehidupan yang akan segera berubah,” ujar Cynthia, dengan suara yang menggema.


__ADS_2