
[Beberapa waktu sebelum Zeeta dan Serina berseteru, serta tepat setelah pertemuan Tellaura dan para Aurora....]
Tellaura baru saja keluar dari ruang takhta. Di dalam ruang itu, terdapat banyak sekutu Aurora dari ras lain. Kepergian leluhur Aurora yang menghadirkan kembali keberadaan sihir tersebut segera memantik "keributan". Diantara mereka, ada yang sibuk dengan pembicaraannya sendiri, seperti High Elf Bellaria, dan Raksasa Ozy.
Keributan ini bukanlah karena untuk membahas langkah lanjutan yang harus diambil untuk berhadapan dengan kekaisaran Seiryuu, tetapi ini karena ada sebuah mana yang mencuat drastis—yang bisa dirasakan oleh semua sekutu yang ada di dalam, yaitu Naga, Raksasa, Elf, dan Dwarf.
"Ma-mana ini?!"
Semuanya tahu siapa pemilik mana ini. Sebab, mana yang sama belum lama ini telah memporak-porandakan kerajaan dan memiliki identitas yang serupa dengan Tuan Putri mereka. Namun, ada satu hal yang gagal disadari oleh mereka, yaitu ekspresi wajah Serina. Kendati ada Mintia, saudari nomor duanya, ia terfokuskan oleh besaran mana sang Penguasa Kekelaman yang dikala itu baru saja menghanguskan sebuah kehidupan, tanpa disadari pula oleh mereka.
Serina bisa merasakan mana lain yang muncul beberapa saat setelah Penguasa Kekelaman. Ia terbelalak dan terlihat pucat. "Ini... mana-nya Titania...? Kenapa dia—" belum selesai memikirkan semua kemungkinannya, ia bisa menebak apa yang terjadi.
Saat ia hendak bersuara untuk meminta izin keluar pada Alicia, ia terhenti karena mendengar bisikan Aria pada Ozy.
"Mana ini muncul lagi," kata Aria, "sepertinya tidak ada yang menyadarinya, tapi kaupasti tahu sesuatu tentang ini, bukan?"
Serina terkesiap dan mengurungkan niatnya. Ia memilih untuk merahasiakan tentang dirinya yang bisa merasakan mana Titania ini dan memakai kesempatan yang diciptakan oleh Aria yang meminta izin pada Alicia untuk berbincang dengan Ozy.
"Ratu," panggil Aria kala ia menghampiri Alicia. Ia menjadi pusat perhatian. "Aku ingin bicara terlebih dahulu pada rekan sebangsaku. Aku juga ingin membawa Ozy, Mintia, dan Serina. Mereka adalah satu bagian dari asal tempatku."
Alicia melirik mata Aria dan Ozy, yang kemudian diikuti dengan sedikit mengernyit alisnya. "Baiklah. Tapi, aku ingin ingatkan padamu, bahwa sebentar lagi kami akan berangkat menuju Seiryuu. Kami butuh dukungan dari kalian."
Aria tersenyum. "Tentu saja. Terima kasih, Ratu."
......................
Setelah Ozy, Aria, Mintia, dan Serina keluar, Elf ketiga dari Volten Sisters tersebut segera mencengkeram bahu kiri kakaknya untuk membisik, "Aku harus pergi sekarang. Detailnya akan kuberikan saat kukembali nanti."
Mintia sangat sadar dengan kuatnya cengkeraman serta raut wajah adiknya yang berusaha untuk menahan emosi. Ia mengerutkan dahi, lalu menjawab, "Berhati-hatilah."
Serina agak kaget dengan respon kakaknya, namun ia tersenyum. "Terima kasih." Setelah itu, ia segera pergi mengumpat-umpat dari Aria dan Ozy.
.
.
.
__ADS_1
.
Saat Aria, Ozy, dan Mintia sampai di Grandtopia, kedua ras itu baru sadar tiadanya Serina bersama mereka, saat Reina menyambut ketiganya kemudian menanyakan keberadaannya. "Loh? Di mana kak Serina?"
"Hm?" Aria kebingungan. "Bukankah dia ikut bersama ki—" ia baru melihat hanya ada Mintia yang berwajah polos.
"Kita lanjutkan saja tanpa adikku. Sesuatu yang berkaitan dengan kepekaannya terhadap mana sedang menyibukkannya." Demikian kata Mintia, yang berjalan menghampiri Reina, kemudian menepuk-nepuk rambutnya.
Ozy, sementara itu, sedikit-sedikit membatin bahwa Serina juga tahu tentang Titania. Namun, ia tetap diam dahulu untuk bicara tentang ini.
Reina memandu ketiganya ke kediaman Hugo, dimana ia sudah menunggu. Setelah mereka duduk, Reina yang tetap berdiri, memanipulasi kayu di rumah itu dengan atribut sihirnya. Ia menciptakan lima cangkir dari kayu, lalu bersihir untuk mengisi cangkirnya dengan teh. Ia juga membuat gula potongan di dalam botol. Tentu saja ini bisa dilakukannya setelah belajar dari Zeeta.
Sementara Reina membuat minuman, Aria bercerita tentang mana yang dirasakan, namun tak bisa dirasakan oleh yang lain. Di situ, Mintia juga memperkuat ceritanya yang ikut bilang tak bisa merasakan.
Aria mengatakan, mana itu bukanlah mana biasa. Mana-nya terasa besar, tetapi seperti tak terkendali. Bila harus diumpamakan, layaknya benang kusut. Entah kenapa juga, mana ini mengingatkannya pada Ozy. Demikianlah Aria bisa menebak-nebak jika Ozy mungkin tahu sesuatu.
Setelah Aria bercerita, Reina menyelesaikan side-quest-nya. Ia meletakkan tiap cangkir di depan masing-masing penikmatnya.
"Ho ho, terima kasih Reina." Hugo tersenyum.
"Sama-sama." Reina lalu ikut duduk. Usai Reina duduk, Aria tak membuang waktu lagi untuk segera bertanya. "Jadi, sebenarnya mana apa yang kurasakan itu, Ozy?"
"Mungkin? Apa maksudnya itu?"
"Aku sudah lama sekali tidak mendengar apapun darinya. Aku bahkan mengira temanku ini memutuskan untuk ikut ke Jötunnheim—tidak sepertiku."
"Lalu...," Reina menimbrung, "bagaimana caramu bisa yakin kalau mana itu dari temanmu?"
"Saat Zeeta berhadapan dengan Marianna, ketika dirinya hendak melepaskan Catastrophe Seal, aku juga sempat merasakan mana temanku ini. Jika dugaanku tidak melenceng, mungkin dia sudah tewas."
"Te-tewas...?" Reina terbelalak.
"Oleh Seiryuu." Aria menukas.
"Mungkin," sahut Ozy cepat.
"Sluuuurp.... Ahh...." Seakan tak peduli dengan yang mereka bicarakan, Hugo terlihat sangat santai.
__ADS_1
"Tetua?" panggil Aria, "haruskah kuingatkan padamu kalau ini bisa saja berkaitan dengan Ragnarok? Kenapa Anda begitu menikmati teh itu dengan wajah damai?"
"Hahaha. Apa salahnya aku menikmati minuman dari anakku sendiri?
"Lagi pula, mana yang kalian waspadai itu takkan menjadi ancaman untuk kita. Justru sebaliknya, dia pasti akan menjadi bantuan untuk kita."
"Hah...?" Aria bingung.
Ozy mengernyit, juga sedikit melotot pada Hugo. "Kautahu tentang Jeanne?"
"Oh, tentu saja!
"Dialah yang membawa Tellaura ke Hutan Sihir Agung. Chronos yang memerlihatkannya padaku."
Ozy memijat pelipisnya. "Apa lagi yang kautahu?"
Hugo lalu bercerita tentang Jeanne dan keikutsertaannya dalam hidup Tellaura, termasuk Clarissa—yang merupakan temannya yang memengaruhi Ozy bisa berbeda dari Raksasa lain.
Informasi tentang Jeanne yang memiliki anak dengan seorang Manusia, memang mengejutkan Ozy untuk beberapa alasan, namun yang utama, mengapa Hugo tetap tenang?
"Jika kautahu sesuatu darinya, segera katakan. Ada yang kausembunyikan dari kami, bukan?" tanya Ozy.
"Aku tak wajib menjawab itu. Carilah jawaban itu sendiri. Aku tak harus mengatakannya secara eksplisit, 'kan?"
"Cih...."
"Anu...." Suara Reina memantik perhatian dari keempatnya. "Kalau aku boleh tahu, seperti apa 'hubungan teman' antara dirimu dan Jeanne, Ozy?"
"Bluuurrfff!!" Aria menyemburkan teh yang ia seruput. "Re-Reina! Tidak sopan!"
"Ehh...? Kenapa memangnya...?" Reina bersikap sok polos, hendak mengusili.
"Jeanne adalah temanku sejak kecil. Kami memiliki kesamaan—mempertanyakan alasan mengapa Manusia selalu jadi bahan usik ras lain? Disaat yang sama pula, kami heran mengapa Manusia tak pernah sudi untuk menyerah. Mereka juga tak segan untuk melakukan sesuatu diluar batasan mereka untuk bertahan hidup, meski diantaranya ada yang jahat.
"Jeanne adalah Raksasa yang lebih kuat dariku. Dia mengelilingi dunia ini, seperti janjinya yang pernah diberikan padaku.
"'Hei, tidakkah kau penasaran, Ozy? Dunia ini lebih luas daripada pandangan Raksasa ataupun Naga! Mereka terlalu sempit untuk terus menitik-beratkan tujuan mereka untuk membinasakan Manusia, sehingga melupakan tentang KEINDAHAN dunia.
__ADS_1
"Dari Manusia aku belajar tentang banyak hal. Aku pun ingin Raksasa lain tahu bahwa kita tak perlu untuk terus-terusan saling membenci dan aku akan membuktikannya jika kubisa melakukannya dengan mengelilingi dunia!'
"Aku tak menyangka ucapan yang kuanggap hanyalah omong kosong, ternyata terbukti. Meski di Galdurhèim, mungkin hanya ada aku dan dia sebagai Raksasa yang tersisa usai Yggdrasil memecah diri. Kematiannya pun bukanlah sesuatu yang harus kutangisi."