Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Rahasia Dibalik Senjata Suci


__ADS_3

“Haaaah.... Haaah.... Haaaaah....” Danny terengah-engah. Di sekujur tubuhnya, terdapat bermacam luka, baik goresan ataupun parah. Dengan kata lain, Danny bermandikan darah. Walaupun demikian, ia masih kokoh mencengkeram senjata suci berbentuk pisau kembarnya.


“Menjadi bodoh itu ada batasnya, Bocah!” pekik L’arc, “kau tidak memiliki kesempatan untuk menang dariku, apapun yang kaulakukan!”


Danny tersenyum, yang segera saja memantik emosi L’arc semakin menjadi-jadi. “APANYA YANG LUCU?!”


“Tidak bisa menang darimu? Tentu saja aku tahu itu, bahkan sejak sebelum kita bertarung tiga puluh menit yang lalu. Tapi ... aku cukup hebat karena bisa menahanmu selama ini, ‘kan?


“Kau juga berulang kali terpaksa menyembuhkan diri dengan bantuan Roh Yggdrasil. Jujurlah saja, tanpa tiga Roh itu, kau pun sebanding denganku!”


“Terserah apapun yang kau lolongkan, aku tetap akan membunuhmu di sini!” menggunakan tangan kiri yang jemarinya dirapatkan, L’arc mengubah setengah lengan—dimulai dari siku—seakan sebuah bilah tajam bercahaya putih. Ia hendak melukai Danny dengannya.


“Orang ini memang terlalu kuat untukku,” batin Danny, “tetapi aku juga tidak bisa mundur begitu saja, setelah janjiku yang kuikrarkan pada diriku sendiri, untuk terus melindungi Zeeta!


“Tubuhku yang masih utuh begini saja, sudah cukup menjadi keajaiban bagiku. Kurasa, berkat latihan keras Zeeta pada kami beberapa tahun ini, kemampuanku jauh lebih meningkat sejak melawan Phantasmal kala itu.... Namun....”


Genggaman Danny pada pisau kembarnya mulai bergemetar dan segera disambut bahagia oleh L’arc. “Haha! Sepertinya kau sudah diambang batasmu, kah?! Memang sudah sebaiknya kuakhiri ini!” ia lalu menebas dari bawah ke atas dengan tangan kirinya yang sudah berlapis sihir tersebut.


Dampaknya, lautan di bawah mereka segera terbelah menjadi dua dan menghempaskan tebasan putihnya tepat menuju Danny.


“Cih!” Danny menguatkan genggamannya sekali lagi. Dengan pisau kanannya, ia menambahkan panjang bilahnya menggunakan sihir atributnya, yakni api. Bilah tambahan berbentuk sihir api tersebut, digunakannya untuk membelah sekaligus membatalkan tebasan L’arc.


Namun....


“Ghhhkkk... ggggghhh...!” Danny berusaha sekuat tenaga untuk tidak terdominasi oleh kuatnya tebasan L’arc. Urat-urat tangannya juga tampak, ia juga menggertakkan giginya. Rambut merah yang sudah panjang juga ikut terhempas, diikuti dengan bagian lengan sebelah kanan seragam Crescent Void-nya yang tercerai-berai.


Melihat seberapa gigihnya Danny berusaha untuk melawan, hanya membuat L’arc tersenyum. Diapun memutuskan untuk menambah serangannya. Ia berteleportasi ke hadapan Danny dengan seringai yang terpampang jelas.


Sementara itu, Danny, dengan tangan pisau kirinya, mencoba mengantisipasi serangan L’arc. Ia melapisi bilahnya dengan sihir api juga, tetapi apinya berwarna biru. Posisi dirinya memegang pisau tersebut adalah bilahnya berada di bawah.


‘ZRANGG!’


Bilah antar bilah saling bertemu.


L’arc menciptakan pedang, hendak menebas lengan kiri Danny, yang berhasil ditahan oleh bilah api biru mangsanya sendiri. Tatkala kedua bilah itu saling melawan, api birunya seakan menyebar ke bawah, yang kemudian terhisap oleh bilah kanannya.


“Apa?!” L’arc kaget dengan metode pertahanan Danny. “Kau menjebakku?!”


Danny-lah yang kini menyeringai. “Terima kasih untuk Zeeta, aku bisa begini!” dengan tambahan kekuatan dari api biru, Danny berhasil menebas serangan yang ditahan tangan kanannya, kemudian tangan kanan itu bisa sekaligus menyerang L’arc.


‘ZRATT!’


Darah menciprat cukup banyak.


“Sialan!” L’arc terluka, tetapi tidak begitu fatal di perutnya, sebab ia berhasil berteleportasi mundur. Ia juga memegangi lukanya. “Segera sembuhkan aku!” perintahnya pada Roh Yggdrasil.


“Apa?! Apa maksud kalian tidak bisa?!”


Danny, yang masih dalam seringainya, mengomentari. “Tentu saja tidak bisa! Kau pun sebelumnya sudah mengetahui siapa yang menempa senjata ini, bukan? Tidakkah kaubisa menebak, apa sebenarnya ini?”


L’arc terdiam sesaat, tetapi tidak lama, dia melotot. “Senjata suci...?!”


“Itu benar!


“Kendati aku memang kalah kuat darimu, tetapi senjata ini jauh melebihimu!”


Danny mengingat masa-masa latihannya bersama Zeeta....


......................


Suatu sore, di halaman belakang kediaman Alexandrita yang seperti biasa dijadikan sebagai tempat latihan mereka, Zeeta sedang duduk bersama Crescent Void. Mereka juga sedang menyantap santap sore, yaitu roti isi, juga pesta teh ala-ala bangsawan—sebuah gagasan dari Mellynda. Di sana juga, ada kakak angkatnya Zeeta, Azure.


Setelah menyeruput teh, Zeeta berbicara. “Sekarang, sambil tetap nikmati semua ini, tapi dengarkanlah aku.


“Crescent Void, kalian semua memiliki senjata suci yang diberikan mana tidak hanya satu Roh Yggdrasil,


tetapi dua. Senjata itu juga ditempa dengan kekuatan keturunan Naga Penempa Schrutz, Myra.


“Apa kalian tahu apa maksudnya?”


Danny menjawab Zeeta, setelah menelan roti isinya. “Sebanding dengan Catastrophe Seal?”

__ADS_1


Rekan-rekan Crescent Void-nya, memandangnya dalam diam. Mereka menatap seakan berkata, “Sungguh? Sungguh kaupikir sebanding?”


“A-apa? Apa aku salah?”


Zeeta tersenyum. “Tidak sepenuhnya, Dan.”


“EH?!” mengecualikan Danny, semuanya terkejut. Tak menyangka kalau Danny nyaris benar.


“Kalian pernah bercerita bahwa senjata kalian seakan merespon saat aku memakai Catastrophe Seal untuk mengalahkan Marianna, ‘kan?”


Semua Crescent Void mengangguk.


“Dan, pinjamkan aku pisau kembarmu. Ah, salah satunya saja.”


Saat Zeeta menerimanya, ia bangun dan menjauh. Setelah itu ia menciptakan batu raksasa di hadapannya. Semua teman-temannya bertanda tanya, apa yang ingin dilakukannya?


“Ingat, aku tidak akan memberinya sihir!” jerit Zeeta. Dengan posisinya yang berada di samping kanan batunya, ia menyentuh sedikit saja batu itu dengan pisaunya—hanya pada bagian ujungnya.


‘BRUGGG!’


Batu raksasanya hancur lebur, seakan debu. Tentu saja reaksi semua teman-temannya, menganga.


“Kau sungguh-sungguh tidak memakai sihir, Zee?!” tanya Danny, yang bersemangat.


“Uhm. Tentu saja.”


“Bahaya sekali!” seru Mellynda, “bagaimana jika secara tidak sengaja senjata kita mengenai orang...?”


“Ka-kau terkadang mengatakan hal menyeramkan dengan santai ya, Mel...,” timpal Gerda.


“Tenang saja,” jawab Zeeta, “senjata suci pun bersinkron dengan orang yang menggenggamnya. Hanya kita saja, kecuali Kak Azure, yang bisa memakainya.”


“Dari mana kaubisa tahu itu?” tanya Danny.


“Eh? Tentu saja dari Luna, memangnya siapa lagi?”


“Yah, kukira lagi-lagi dari pengetahuan pribadimu.”


“Ahahahaha! Jangan begitu, Dan. Begini-begini, akupun masih belajar, sama seperti kalian. Hanya saja ... terkadang, pengetahuan yang terlalu mengejutkan bagiku, mendatangiku tanpa persetujuan....” Zeeta bicara tentang Rune Kaunaz-nya, yang memungkinkannya melihat segelintir masa depan.


“Eh...?”


“Kami selalu ada di belakangmu, untuk menemanimu, membantumu, juga menopangmu!" Danny tersenyum lima jari. "Bukankah kami semua yang ada di sini sudah berjanji padamu tentang itu, bertahun-tahun yang lalu?


“Entah apapun yang menghalangimu, atau apapun yang membuatmu merasa takut, kami, Crescent Void, juga kakakmu, Kak Azure, ada untukmu!


“Jadi janganlah khawatir!


“Iya, ‘kan, semuanya?!”


Danny menengok ke belakang, meminta suara mereka. Senyuman hangat segera terpampang jelas dari semuanya.


“Hmph! Meskipun kau Kakakku yang bodoh, ternyata kau pun bisa mengatakan hal yang manis, ya. Setidaknya kupuji kau tentang itu,” ujar Gerda.


“Itu benar, Tuan Putri!” seru Novalius, “kami, Crescent Void, akan selalu ada untuk Anda, apapun yang terjadi!”


“Aku dan Colette juga satu suara. Iya, ‘kan?” Marcus memandangi Colette. Colette pun mengangguk


bersama dengan senyumnya.


“Kau adalah rivalku, tetapi kita adalah teman, Zee!” pekik Mellynda, “tentu saja jika kau butuh bantuan, aku akan segera membantumu!”


“Danny benar, Zee. Kami sudah berjanji tentang ini sejak lama. Kami akan sedih kalau kau melupakannya,” sahut Azure.


Air menggenangi mata Zeeta. “Terima kasih semuanya! Aku bersyukur karena kalian di sisiku....”


.


.


.

__ADS_1


.


Beberapa menit setelah Zeeta bisa menenangkan diri, dirinya sekali lagi bicara. Ia pun masih menggenggam pisau Danny.


“Sekarang, aku akan memerlihatkan kalian bagaimana caraku selama ini memakai senjata suci. Mungkin akan ada kesulitan, tetapi kuharap kalian bisa menemukan cara kalian sendiri untuk mempraktikkannya.”


“Ka-kau tetap ingin menggunakan pisauku?” tanya Danny.


“Ya. Tentu saja.”


“Memangnya ... kaubisa menggunakan pisau?”


“Hah? Kau meremehkanku? Tentu saja aku bisa!”


“Ta-tapi, yang aku tahu kau hanya pernah memakai pisau dapur!”


“Tidak usah mementingkan itu, kau hanya perlu lihat saja, dasar Danny bodoh!”


“Ma-maaf!” Danny mundur, kembali ke rombongan Crescent Void.


.


.


.


.


“Aku menyadarinya saat latihanku untuk menguasai tiga bentuk Catastrophe Seal. Ini adalah tentang senjata suci yang bisa menyerap mana lawanmu sebagai tambahan kekuatan kita.


“Melly, bantulah aku.”


Mellynda menanggapi Zeeta serius. “Baik!” ia lalu memosisikan dirinya di hadapan Zeeta, dengan jarak beberapa meter.


Mellynda kemudian mengacungkan senjata sucinya—yang berbentuk dua senapan, yang tercipta dari kalung yang digelangkannya di masing-masing pergelangan tangan. Ia merapatkan kaki.


“Serang aku dengan sihir apapun, tapi tekanlah kekuatanmu!” perintah Zeeta.


“Oke!” jawab Mellynda. Ia menatap lurus Zeeta. Kemudian, dari sekitar kakinya, rerumputan mulai tertiup, lalu perlahan muncul aura berwarna putih. Lingkaran sihir juga menyusul pada masing-masing lubang keluarnya peluru senapan.


‘DOR! DOR!’


Dua kali suara tembakan terdengar, namun yang tertembak, lebih dari dua peluru, melainkan delapan. Dari masing-masing peluru tersebut, telah berisikan bukan bubuk mesiu, melainkan sihir kristal Mellynda sendiri.


Zeeta yang telah berkuda-kuda sebelumnya, menangkis ke delapan peluru tersebut dengan mudahnya, dengan gerakan secepat angin, namun setiap dia menangkis dan membelah pelurunya, apa yang tertanam, tampak keluar dan terhisap oleh pisau.


Dari delapan peluru, masing-masing berisi kristal bersuhu sangat tinggi, bersuhu sangat rendah, kristal yang mengandung racun, dan lain-lainnya. Dan semua itu, benar-benar terhisap.


“Bagaimana bisa...?” Mellynda tak percaya.


“Lihatlah ini.” Zeeta kemudian mengubah bilahnya menjadi merah, seperti baru saja diangkat dari bara api. “Ini adalah bukti kalau pisau ini telah meresap dan mengeluarkan apa yang dia terima.


“Seperti yang dikatakan Axel, senjata suci kalian itu hidup dan tumbuh kuat bersama kalian. Tapi, khusus untuk ini.” Zeeta mengayun-ayunkan pisaunya. “Jika yang menangkis itu semua adalah Danny, efek yang ditimbulkan pasti jadi lebih besar.


“Berhati-hatilah saja saat kalian ingin membalikkan serangan lawan.”


“BAIK, Guru!” balas teman-temannya bersamaan.


......................


“Kenapa aku tidak kalian beri senjata suci juga?!” keluh L’arc. “Hah?! Apa maksudmu aku tidak pantas?!” ia seperti bicara sendiri di mata Danny.


Mendengar L’arc mengeluh begitu, menimbulkan pertanyaan bagi Danny. Yaitu, apa dia tidak tahu tentang Catastrophe Seal?


Tetapi, kala ia ingin mengatakannya, mereka berdua dikejutkan oleh pandangan masing-masing yang terjadi pada bulan.


Bulan yang sebelumnya bercahaya dengan gagahnya dengan warna kuning keemasan, mendadak berubah merah. Tidak lama kemudian, Reina memberi telepati pada Danny, tentang yang terjadi saat ini di kerajaan Aurora.


Beberapa saat kemudian....


‘BWHUAAAMMM!!’

__ADS_1


Ledakan aura dari Danny, mengejutkan L’arc. Ia terbelalak.


“Aku tidak punya waktu untuk terus berlama-lama denganmu, Kakek Bangsat!” rambut merah Danny yang lebat itu, melawan gravitasi, iris matanya pun seakan menghilang. Ia juga berkuda-kuda—bersiap untuk menerjang L’arc, dengan berselimutkan aura merah yang menyerupai api membara.


__ADS_2