
Bola sihir raksasa yang bahkan lebih besar lima kali lipat dari meteor yang didatangkan Ozy sang Raksasa bertahun-tahun yang lalu diwujudkan oleh Azure, sang penyintas desa Lapis. Bola sihir itu mampu menutupi matahari yang dalam kondisi paling gagahnya menjadi gelap gulita seketika. Angin berderu kencang, menerkam segala sesuatu dan menghempasnya kemanapun arah yang diinginkannya. Burung-burung di kerajaan hingga ke hutan berterbangan kabur dari tempat, merasakan bahaya yang hendak mendarat. Meskipun rakyat tidak melihat ancaman yang akan menimpa mereka, empat bangsawan utama yang berjaga di pintu masuk labirin bahkan kesulitan melihat dan memaksa mereka untuk tak mampu melakukan banyak hal.
Bola sihir berwarna hitam pekat itu mengalirkan energi listrik ungu yang memungkinkannya menyambar bangunan dan meruntuhkannya begitu saja. Walau tidak bisa disebut beruntung, pulau-pulau bangsawan di sana setidaknya mampu "melindungi" wilayah rakyat, namun pulau-pulau layang itu pun terancam hancur sekejap jika tidak ada yang segera melakukan sesuatu.
Sang Raja dan Ratu pun kemudian datang melayang dengan gagahnya, maju terdepan mengatasi masalah ini, menggantikan peran bawahannya. Azure yang melihat keduanya, segera menyipitkan mata dan sempat bergetar, namun ia sudah tidak bisa membatalkan sihirnya lagi.
"Ada apa denganmu, Azure?" tanya Alicia lembut, "apa yang membuatmu melakukan ini?" ia sama sekali tidak terdengar takut dengan apa yang ada di hadapannya.
"...." Tak ada jawaban dari Azure. Ia justru menunduk.
"Azure, katakanlah!" pekik Alicia.
Azure menggertak gigi. "Ini tidak ada hubungannya denganmu!"
Mendengarnya membuat urat di pelipis Alicia timbul. "Apa maksudmu?! Kau sudah menjadi Putriku, apa kaulupa?!"
"Kapan hal itu terjadi?! Kau bahkan tidak memedulikanku yang terus bersama Lucy!"
"Hentikan ini dulu dan aku akan jelaskan semuanya, Azure!"
"Tidak, aku tidak akan melakukannya."
"Azure!"
"Alicia, biar aku yang menghentikan sihir ini," timpal Hazell, "kita tidak bisa membiarkan putri kita berbuat sesuatu seperti ini." Ia mengumpulkan kekuatannya.
"TIDAK!" seorang pria mencengkeram kuat bahu kanan Hazell. "Biar aku yang melakukannya kali ini!"
"A-Ayah?!" pasutri itu kaget.
"Hah? Siapa kau...?" tanya Azure yang mengerutkan keningnya.
"Oh ya oh ya? Meskipun baru sekali bertemu, kau melupakanku, oh, cucuku, Azure?" sang pemilik suara, Karim Levant, maju membelakangi Alicia dan Hazell.
"Hah...?"
"Dengarlah, orang tua rookie! Ketika anak merengek dan tidak mau mendengar ucapan orang tuanya, ada kalanya ketegasan diperlukan!
"Lihat dan camkanlah cara ini!"
"Ah! Hei Ayah, kau tidak hendak melakukan itu, bukan?! Hentikanlah! Dia bukan Leva—"
"Tentu saja perlu, dasar bodoh!" tukas Karim, "meskipun dia adalah anak adopsi, dia juga merupakan seorang Tuan Putri!
"KARENA ITULAH!
"Sebagai Levant, keluarga kerajaan, dan kakeknya, aku akan mendidiknya dengan ketegasan!"
"Kkkhh... Jangan remehkan aku! Aku sudah dilatih oleh Lucy dan tidak akan kalah oleh Tua Bangka sepertimu!" pekik Azure.
Karim menyeringai. "Kau masihlah bocah, ya, Nak...." Setelah berkuda-kuda, ia menarik kedua tangan ke belakang, bersikap seakan memegang sebuah bola kaki. Sebuah sihir berwarna merah matahari pun muncul di tangan itu, bersama dengan panas yang menyelimuti tubuh dan sihirnya.
"Menjauhlah, Alicia. Kalau kena serangan itu, sama sekali tidak lucu!" Hazell menarik tangan Alicia dan menjauh beberapa meter.
"Hei, Cucu!" panggil Karim dengan seringainya.
Azure masih saja menggertak gigi.
__ADS_1
"Aku tahu bersama Lucy kau telah mengungkap banyak misteri sihir, tetapi kau masihlah tidak tahu tentang akar dari Aurora."
"Apa untungnya aku mengetahuinya?!"
"Haha! Tentu saja ada banyak sekali!
"Salah satunya, kau bahkan bisa membuat Zeeta menghindarkannya melakukan hal itu! Kau pasti sudah tahu apa itu jika kau berkelana dengannya, bukan?"
"Hei, Ayah! Cepatlah atau kerajaannya hancur!" pekik Hazell.
"Ah, kau benar. Hampir saja lupa.
"Perhatikanlah, kekuatan Kakekmu ini!"
Cahaya merah semakin bersinar terang, membutakan sesaat mata yang memandangnya.
"HAAA!!"
Layaknya bintang yang menjulang, sihir Karim membelah bola sihir Azure menjadi dua dan melelehkannya.
"A-apa? Dia membelahnya dengan mudah?!
"Lagi pula, apa-apaan sihir ini? Panas sekali!"
.
.
.
.
"Ah, Grand Duchess... Anda sudah sadar?" tanya Gerda, sembari terus menyembuhkan luka Marcus. Ashley melihat Gerda dan langsung memahami situasinya.
"Ya, terima kasih...," jawab Ashley, yang kemudian mengatur napasnya. Sambil melihat sihir Karim, ia membatin, "Akhirnya kau melakukannya, ya, Karim.... Kau telah melanggar sumpah Levant...."
"Tak kusangka aku bisa jatuh karena Bocah itu.... Apa-apaan kekuatannya itu? Dia bukanlah bangsawan, 'kan?" Ashley sudah mampu berdiri dan ia meregangkan tubuhnya.
"Hei, Grand Duchess.... apa kakakku akan baik-baik saja...? Sejak dia ditinggalkan kak Azure, mana-nya terus menerus melemah...."
"Kaupikir aku tidak mengetahuinya?"
"Eh?"
"Fokuskanlah pikiranmu pada penyembuhan Si Kapten, aku akan mengurus kakakmu."
Gerda tersenyum. "Uhm, baiklah."
......................
Ketika sihir Karim telah mencapai puncak bola sihir Azure, bola sihirnya tidak lagi meleleh, tetapi itu meledak layaknya bencana angin kencang yang amat dahsyat. Matahari yang gagahpun kembali menyinari bumi.
Karim yang telah menduga ini, kemudian mengangkat kedua tangannya lalu menghempaskan angin berwarna kemerahan dari tangannya. Ia terus memunculkannya beberapa kali. Angin itu mendorong angin bola sihir Azure ke satu tempat, kemudian Karim membawanya ke telunjuk kirinya. Ia memutarnya layaknya bola basket. Karim lagi-lagi memamerkan senyum sombongnya.
"Cih!" Azure sama sekali merasa tidak senang.
Karim kemudian menjotoskan bola sihir itu ke tangan kanannya. Lalu, ia muncul ke hadapan Azure dan mencengkeram bahunya. "Apa kauyakin kau perlu diselamatkan oleh orang-orang Aurora, hmm, Azure?" tanyanya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kaukatakan?!"
"Janganlah berpura-pura bodoh! Kau tentu tahu apa yang kumaksud.
"Kau adalah gadis yang kuat, kau telah mengetahui seberapa busuknya manusia bisa berkelakuan, oleh karena itu, mengetahui hal-hal gelap lain bersamanya tidak akan begitu memengaruhimu.
"Kalaupun itu memengaruhimu, kau tidak akan ragu untuk melukai rekanmu, atau keluargamu sendiri.
"Ada alasan mengapa pulau bangsawan melayang di langit. Salah satunya agar kami bisa mengawasi rakyat kami dalam bahaya apapun, dan karena itulah aku bisa melihat aksimu di pintu gerbang timur. Kau berusaha memperpanjang dialogmu dengan salah seorang bocah Crescent Void untuk melampiaskan amarahnya padamu. Sihirmu yang telah kaulepas memang melukai banyak orang termasuk Grand Duchess sendiri, tetapi orang itu tidak akan mati begitu saja.
"Sama halnya dengan orang-orang itu. Kau telah memperhitungkan sihirmu agar tidak membunuh mereka. Luka yang diderita mereka pasti bisa disembuhkan, karena kau berpikir kerajaan ini memiliki Zeeta dan Alicia yang kemampuan sihirnya diluar nalar.
"Tidak hanya mereka, kerajaan ini pun memiliki sekutu makhluk sihir lain. Oleh karenanya mereka tak akan mati begitu saja.
"Jika kau keberatan dengan ucapanku ini maka lakukanlah sesuatu. Kau tidaklah lemah, kau bukanlah seorang jelata dengan kapasitas mana yang kecil.
"Aku tahu kaubisa meracuni tangan ini, Azure. Kalau kau memang masih berpikir kau perlu diselamatkan, kalau kau berpikir kau terpengaruh oleh Lucy, maka lakukanlah sekarang juga!"
.
.
.
.
Karim mendapati air mata dari pipi Azure. Ia kaget.
"Hiks... mana bisa aku melakukannya!" seru Azure, yang bergemetar. "Kenapa kaubisa mengetahui semuanya? Aku sayang dengan teman-temanku, juga kerajaan ini. Entah seperti apa Lucy, aku tetap tidak bisa membohongi perasaanku sendiri...."
Karim tersenyum lebar. "Begitu, ya! Nah, kalau begitu, datanglah pada orang tuamu!"
Azure melihat Alicia dan Hazell masih ada di belakang Karim.
"Huwaaaa!" Azure langsung menghampiri Alicia lalu mendekapnya erat. "Aku rinduuu! Aku rindu padamu!"
"Hehe." Alicia mengelus rambut putrinya yang tingginya sudah sebahunya. "Aku senang kau baik-baik saja, Azure!"
"Uhm. Aku juga minta maaf karena telah mengucapkan hal kasar padamu."
"Sudah, itu tak perlu lagi kaukhawatirkan." Alicia terus mengelus rambutnya. "Bermanjalah sebanyak yang kauinginkan. Putri tertua tidak berarti tidak boleh dimanja, fufu."
"Aah... sudah lama aku tidak merasakan elusan seperti ini....
"Ah! Ini bukan waktunya bersantai! Aku harus bertanggung jawab pada orang-orang yang telah kulukai!" Azure melepas pelukannya. Ia kemudian terbang menukik ke tempat Danny terlebih dahulu.
"Tunggu, Azure, Ibu ikut!" Alicia pun mengejarnya, meninggalkan dua Levant berdiri membelakangi matahari.
"Kauyakin melakukan ini, Ayah?" tanya Hazell.
"Sumpah Levant? Haha, sumpah itu sudah tidak cocok untuk zaman ini."
"Apa yang terjadi selanjutnya?"
"Hanya kehilangan kekuatan sihirku saja. Bukanlah hal besar." Karim mulai kehilangan kesadaran. Hazell telah menduga ini akan terjadi, ia membopongnya. "Jika ini demi cucu-cucuku, ini tidaklah seberapa!" Karim kemudian benar-benar hilang kesadaran.
"Dasar... kau memang orang tua yang patut dicontoh!"
__ADS_1