Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ketakutan


__ADS_3

“SIAL!” Suara Olav terdengar hingga ke luar ruang perawatan istana. “Siapa sebenarnya orang yang menyerang tanganku ini...?!” Dia memandangi punggung tangannya yang terbalut oleh perban yang memerah karena darahnya.


“Ara-ara....” Suara seorang wanita muncul dari luar ruang perawatan.


“Suara ini...? Adindaku Corynna?!”


“Ping pong! Tepat sekali!” seorang gadis bangsawan dengan gaun mewah berwarna hitam dan berpadu putih, berambut gaya ponytail, serta memegang kipas tangan di tangan kanannya muncul ke hadapan Olav.


“Khh!” Olav menggertak gigi melihat kedatangannya. “Mau apa kau ke sini?!”


Seringai jahat terukir pada gadis bernama Corynna tersebut. “Aku bisa memberitahumu siapa identitas pelakumu itu, tetapi ... bayarannya tidaklah murah, lho, Kakanda....”


“Cih... apa yang kauinginkan?!”


“Semua budakmu.”


“A-apa?!”


“Apakah telinga tua itu sudah tuli? Aku bilang, semua budakmu!”


Gertakan gigi semakin dikencangkan Olav. “JANGAN BERCANDA!”


Kipas tangan yang digenggam Corynna yang sebelumnya terbuka, ditutupnya. “Apa kauyakin, Kakanda? Sebentar lagi ayahanda akan mati tua dan takhta akan segera diwariskan pada kakanda Rudolph, sebagai Putra Mahkota.


“Kakanda Theoprix, ayunda Pyggrez, dan kakanda Sephiroth... adalah lawan yang tangguh bagimu, bukan?


“Sebelumnya, kau juga telah bersepakat denganku untuk melakukan apapun yang kupinta, agar kaubisa naik ke takhta, dan aku sudah membuktikannya dengan memberimu banyak dukungan... meskipun semuanya berubah menjadi buruk karena kelakuanmu sendiri.”


“Cih...!” Olav tidak bisa mengelak. Semua yang dikatakan adik bungsunya itu adalah fakta.


“Putuskanlah, Kakanda. Lepaskan budak-budak itu, atau informasi—“


“Pergilah! Aku bisa mencarinya sendiri.”


Corynna membuka lagi kipas tangannya, lalu menutup setengah wajahnya dengan itu. “Jadi begitu. Baiklah kalau itu keinginanmu.” Dia lalu beranjak dari sana, sambil menutup jumpa mereka dengan kata-katanya, “Jika kau selamat, kau akan belajar. Namun jika tidak, maka itu pun akan bagus untuk keuntunganku sendiri. Berjuanglah, Kakanda.”


“Apa...? Apa maksudnya itu...?!” gumam Olav dengan wajah marahnya.


“Jika para kakanda dan ayundaku mendapati kematian kakanda Olav, maka aku bisa memakai pembunuh itu juga untuk menghabisi mereka... kemudian takhta akan menjadi milikku.


“Ohohohoho...!”


......................


Tellaura dan Hilma yang bersamaan membawa Clarissa berhasil kembali ke kediaman sang pembunuh bayaran. Ibu Hilma yang tidak menyangka Hilma akan sejauh ini untuk menyelamatkan Tellaura, sempat ingin mengomeli anaknya, tetapi ia redamkan saat melihat kondisi Clarissa. Ia segera mengobati Clarissa dengan herbalnya.


Setelah selesai, Hilma, Ibu Hilma, dan Tellaura duduk bersama, dan bicara apa yang sebenarnya terjadi, juga bertanya langsung pada Hilma kenapa dia begitu terpaku dengan Tellaura.


“Hal lain selain membunuh..., kah...?” Ibu Hilma tersenyum kecil mendengarnya. “Sudah kukatakan, kau tidak perlu menjalani hidup yang sama dengan Ibu.”


“Tapi,” jawab Hilma, “dengan begini, aku jadi tahu dunia yang Ibu lihat.”


“Kautahu apa risikonya saat kau memutuskan untuk melakukan ini semua, ‘kan?”

__ADS_1


Tellaura melihat wajah Hilma yang mendadak murung. “Aku tahu.”


“Eh...?” Tellaura kebingungan. “A-apa aku boleh tahu apa maksudnya itu...?”


Ibu Hilma tersenyum. “Bukan apa-apa, hanya meninggalkan dunia ini selamanya saja.”


“I-itu berarti...!” Tellaura terkesiap. Namun, dia merasa ada yang aneh. Ketika dia diselamatkan oleh Hilma tatkala dia akan ditembak panah oleh Olav, dia melihat tumpukan mayat dan darah yang menyungai. Satu-satunya orang yang bisa melakukannya adalah Hilma. “Tapi ... orang-orang kerajaan itu tidak begitu hebat, ‘kan? Lagi pula, dia bisa melukai Olav itu dengan mudahnya!”


“Melukai Olav?” Ibu Hilma terpikat oleh kata-kata itu. “Haaah~ apakah ajaranku padamu terlalu lembut, Hilma?”


“A-apa maksudmu...?” Hilma bertanya-tanya, “Ibu adalah Ibuku yang terbaik, jadi ini hanya sala—“


“Tidak. Kau tidak boleh menyesali perbuatanmu, namun kau harus bertanggung jawab. Aku, sebagai orang tuamu juga harus ikut bertanggung jawab. Untuk sementara adikmu itu aman di sini, kalian berdua ikutlah denganku.”


Ibu Hilma membuka pintu ruang bawah tanah yang terletak di bawah tumpukan kayu bakar. “Sejak kapan di sini ada pintu...?” tanya Hilma.


“Sejak sebelum kau lahir,” jawab Ibu Hilma singkat. Sebelum masuk, dirinya menyalakan lilin di atas piring kuningan terlebih dahulu.


Mereka memasuki pintu yang menghubungkan mereka ke sebuah lorong. Lorong tersebut hanya memiliki satu cabang, yaitu sebuah ruang yang harus diterangi dengan lilin yang terletak di dinding-dinding ruang.


Kedua anak-anak itu melihat tumpukan dan jejeran buku-buku tebal yang sudah berdebu dan berjaring laba-laba.


“Sudah sekian tahun tidak pernah kukunjungi tempat ini, jadi maklumi saja tempatnya yang kotor begini.” Ibu Hilma mengambil sebuah buku tebal bersampul hitam dan pinggiran kuning keemasan.


“Apa ini?” tanya Hilma.


“Legenda.”


“Legenda?”


“Alasanku selalu menghalangimu berurusan dengan para keluarga kerajaan adalah ... salah satu dari mereka pasti memiliki hubungan dengan salah satu dari makhluk-makhluk ini. Kita, yang bisanya hanya membunuh manusia, takkan bisa apa-apa di hadapan mereka.”


“Ayolah Bu, ini hanya legenda, tidak mungkin para bangsawan itu—“


“Kau sudah tahu tentang ayahmu, bukan? Orang itulah yang memberitahu ini padaku. Kaupikir, seorang mantan pelayan yang kini menjadi pembunuh bayaran, bisa memiliki banyak uang untuk membeli buku sebanyak ini?”


“Lantas... kenapa kau bunuh ayah? Jangan bilang alasanmu untuk kebaikan dunia lagi...!” Hilma mengepal tangannya.


“Memang untuk kebaikan dunia.


“Ayahmu adalah baron yang memiliki rasa ingin tahu yang tidak terbatas. Dia memiliki mimpi untuk menguak kebenaran dunia.


“Orang itu... Tuan Ferdinand ingin tahu kenapa istana berbentuk seperti itu. Tuan Ferdinand ingin tahu kenapa ada sungai dan lembah yang bila dipetakan menyerupai langkah kaki yang sangat besar?


“Dia juga ingin tahu ... kenapa ada bekas kehidupan manusia di kedalaman Hutan Terlarang Tir Na Nog yang berada tidak begitu jauh dari kerajaan ini?


“Dan semua buku ini ... adalah hasil pengetahuannya.”


“Lalu...? Kenapa...?”


Wajah Ibu Hilma yang sebelumnya tersenyum menceritakan semua itu, segera berubah garang. “Ini semua karena bangsawan kerajaan itu! Mereka tidak menyukai ada orang lain selain mereka yang mengetahui rahasia-rahasia itu!


“Tuan Ferdinand ingin aku menjaga semua hasil pengetahuannya ini, agar kelak semua jerih payahnya bisa terwariskan pada generasi selanjutnya. Dia yakin hal ini bisa membantu menyadarkan manusia, bahwa pada dasarnya, kita hanyalah makhluk tak berdaya yang arogan, sombong, dan penuh dengan kedengkian, yang bisa dilenyapkan kapan saja oleh mereka!

__ADS_1


“Pengetahuan ini akan berguna bagi manusia untuk bertahan hidup dari ancaman-ancaman makhluk-makhluk itu.


“Dan demi kebaikan dunia ... Tuan Ferdinand ingin aku membunuhnya.


“Dia tidak sudi nyawanya harus direnggut oleh orang lain yang bahkan tidak memikirkan rakyatnya sendiri....”


“Tapi... kenapa solusinya harus membunuh? Tak adakah jalan lain selain membunuh, dan terus saja membunuh?!”


“Kalau kami bisa, kami tidak akan melakukan ini, Hilma-ku sayang. Situasi dan kondisi orang dewasa, selalu lebih sulit dan tidak adil. Lawan Tuan Ferdinand adalah bangsawan kerajaan. Tidak mungkin.”


“Ibu bilang yang mengajarkanmu cara membunuh dan pengobatan adalah ayahku, ‘kan? Kenapa ... kenapa kalian berdua tidak bersama-sama saling membantu untuk hidup bersama?!”


Tellaura bisa melihat betapa bergemetarnya Hilma sekarang. Dia menundukkan mata, untuk menutupi tangisnya. Begitulah yang dia pikir.


Ibu Hilma mengelus lembut kepala anak sematawayangnya itu. “Kelak kau akan mengerti betapa rapuhnya manusia kala ia akhirnya mengerti apa itu cinta.


“Apapun yang kaurasakan pada Ibumu ini sekarang, baik itu benci, marah, tidak terima, aku takkan keberatan. Namun, berjanjilah padaku, Hilma. Meskipun kau nantinya akan melupakan janji ini, tapi berjanjilah pada Ibu.


“Berjanjilah untuk tidak hidup pada satu tumpu saja, tetapi hiduplah dengan banyak tumpuan yang bisa menyanggamu kapanpun kau akan runtuh. Dengan begitu, kau tidak akan berakhir layaknya Ibu ataupun ayahmu.”


Baru saja Hilma ingin mencerna baik-baik apa maksud dari perkataan ibunya tersebut, Ibu Hilma langsung berwajah serius—yang segera menegangkan suasana. “Mereka sudah datang. Cepat sekali...!”


“Siapa? Siapa yang datang?” tanya Tellaura.


“Ayo, lekas kembali. Adikmu sedang dalam bahaya!” Ibu Hilma segera berlari cepat-cepat naik, dibuntuti oleh Tellaura dan Hilma.


“Ibu memang hebat. Dari jarak sejauh ini, dia bisa mendengar langkah kaki mereka…!” batin Hilma.


......................


Saat mereka sampai di atas, Tellaura segera berdiri menghampiri adiknya, sementara Ibu Hilma dan Hilma beriringan melindunginya.


Kemudian, pintu dibuka dengan mudahnya. Tanpa dijebol, tanpa dirusak, atau tanpa diketuk.


Seorang pria tinggi berjubah mantel hitam dengan rambut hitam panjang menjuntai hingga kakinya datang. Ibu Hilma terbelalak, wajahnya perlahan menjadi ketakutan. Melihatnya, tentu saja membuat Hilma bingung.


“I-Ibu... apa yang terjadi...?”


“Selamat malam, Matilda,” sapa pria itu. Tatapan mata merahnya seakan serigala yang lapar akan mangsa yang dapat diterkamnya dengan mudah.


“Tu... Tuan Sephiroth...?!” Ibu Hilma bergemetar.


“Kulihat ada dua anak kecil di belakangmu itu. Kebetulan sekali.


“Kau tahu? Adikku Olav berisik sekali sejak kemarin. Saking berisiknya, kerajaan menjadi gempar karena berita tentang dirinya menculik seorang anak kecil, lalu istana mengalami serangan yang menewaskan puluhan penjaga istana.


“Kau tahu, ‘kan, apa yang paling tidak kusukai di dunia ini?”


Ibu Hilma tidak berhenti bergemetar. Bahkan napasnya menjadi kacau. Karenanya, ia jadi tak mampu menjawab pertanyaan orang bernama Sephiroth itu.


“Matilda? Apa kaudengar aku? Aku bertanya padamu.”


“A-aku tahu apa yang paling Anda tidak sukai ... Tu-Tuan Sephiroth.

__ADS_1


“I-itu adalah kebisingan dan... orang yang ikut campur....”


Sephiroth menyeringai, mata merahnya seakan bersinar. “Itu benar....”


__ADS_2