
Di suatu tempat dimana bulan sedang memancarkan kemegahannya yang anggun pada Bumi, dua orang gadis sedang bermalam di dalam tenda tiruan dari barang persiapan mereka yang berbentuk permata. Seorang diantara mereka tidak bisa berhenti bergemetar karena suasana malamnya yang teramat sunyi dan dingin.
Diantara perlengkapan mereka, terdapat cadangan makanan berupa roti yang berjumlah enam potong untuk masing-masing orang. Roti tersebut diracik, dipanggang, juga "dibumbui" oleh seorang koki terkenal sekerajaan mereka, Arthur. Roti-roti itu tidak akan kadaluarsa ataupun berjamur, malahan roti-rotinya akan menambah energi, dan menahan rasa lapar mereka lebih lama. Itulah "bumbu" yang ditaburkan sang koki.
Selain roti, ada pula sebotol air, juga enam buah permata dari salah seorang bangsawan utama Aurora, Rey Emeria. Salah satu permata dipakai untuk membangun tenda, bantal, dan selimut yang sudah menjadi "satu paket". Kemudian mereka memakai lagi dua permata lain guna komunikasi.
Mereka juga membawa peta “canggih” yang sudah disalin dari pustakawan istana, yang baru saja menjadi kekuatan baru Aurora. Ia merupakan seorang mantan tuan putri pertama kerajaan Nebula, Suzy.
Tempat yang kedua gadis itu jadikan sebagai lokasi bermalam tidaklah jauh dari desa terbengkalai yang dipenuhi oleh lumut, ilalang, jamur, bangunan yang keropos, pepohonan cemara yang menjulang tinggi, juga nihilnya pencahayaan, kecuali dari sihir mereka di dalam tenda dan bulan.
Menurut peta yang mereka bawa, ini adalah tempat dimana Batu Jiwa berada, jauh di tenggara Aurora. Jika dengan sihir terbang saja memerlukan waktu sekitar tiga belas jam tanpa henti agar bisa sampai ke desa ini, tidak terbayangkan seperti apa lamanya jika orang-orang ke sini tanpa sihir atau hanya dengan kendaraan darat.
“Apa Batu Jiwa-nya benar-benar ada di sini, Kak Azure...?” tanya Mellynda, yang duduk meringkuk bersembunyi dalam selimutnya.
“Tiada yang salah dari peta ini. Titiknya pun tidak berubah. Esok, kita akan memeriksa dulu apa yang terjadi pada desa itu,” balas Azure.
“Eh...? Tidak bisakah kita langsung saja menuju titiknya?”
Azure melihat lurus mata Mellynda. “Aku merasa ada yang tidak beres. Kesunyian ini sangat menggangguku. Suara hewan pun bahkan tak ada.”
“Kan...." Mellynda tampak sangat-sangat enggan dengan situasi ini. "Kak Azure saja terganggu, apalagi aku....”
Azure sedang memandangi permata-permata bawaannya. Ia kemudian mengambil satu, lalu berdiri. “Aku tidak bisa diam saja selagi aku masih merasakan keanehan ini. Bila sesuatu memang ada di sana, lebih baik dipastikan daripada hanya membuatku penasaran!”
“Tu-tunggu! Itu nekat sekali! Kau bahkan tidak tahu apa yang menunggumu di sana!”
“Karena itulah akan kulakukan ini, dasar bodoh! Untuk apa mereka memberikan kita permata ini?” Azure kemudian mengalirkan mana-nya masuk ke dalam permata dengan menggenggamnya erat. Beberapa saat kemudian, permata itu bersinar, bergetar-getar sendiri, lalu melayang di udara.
Azure dan Mellynda memandangi dalam diam apa yang terjadi selanjutnya. Selama lima detik, tak terjadi apapun, membuat keduanya ragu apakah benda ini bekerja dengan baik atau tidak. Namun, untung saja mereka salah.
Permata yang melayang di udara itu kemudian memancarkan semacam hologram—yang juga memperlihatkan identitas dan suara si penerima sinyal.
“Akhirnya ada laporan masuk lain!
“Tuan Albert, ini dari tim Putri Azure dan Nona Mellynda!” sebuah suara prajurit lelaki terdengar—tanpa terlihatnya identitas.
“Benarkah?! Apa sudah tersambung?”
“Y-ya, sudah!”
Tidak lama kemudian Albert Alexandrita terpampang di hologramnya.
“Baiklah. Mari kita lakukan ini....
"Selamat malam, Putri Azure, Nona Mellynda,” sapa Albert.
“Ya, selamat malam,” balas keduanya.
“Apakah terjadi sesuatu?”
“Sebelum itu... memangnya siapa saja yang sudah berkomunikasi dengan kalian?" tanya Azure, "kalian tampak sangat was-was.
“Sejak tadi pagi, baru tim dari Tuan Novalius, Marcus, dan Mintia saja. Mereka menemukan wilayah bersalju yang aneh dan membutuhkan waktu untuk bisa membawa informasi lagi.”
“Wilayah yang aneh?
“Kami juga mengalaminya di sini. Akan kuperlihatkan padamu.”
Azure dan Mellynda pergi mendekat ke desa terbengkalainya dan menunjukkan suasana di sana. “Tidak ada satu pun orang atau satu pun suara hewan di sini.
“Jujur saja, Mellynda ... bahkan aku sendiri, ingin segera angkat kaki dari sini.”
Tidak lama setelah mengatakannya, Albert didorong oleh seseorang. “YA, ITU BENAR! Sebaiknya kalian pergi dari sana! Tempat itu bukanlah tempat yang harus diinjak oleh makhluk hidup!” ia terdengar amat serius.
__ADS_1
“Nyo-Nyonya Scarlet?! Apa yang—“
.
.
.
.
Azure dan Mellynda menyaksikannya.
Mata-mata merah menyala mendadak menatap keduanya dari segala penjuru arah. Mata-mata itu seperti berasal dari sesuatu yang berukuran besar dan mereka kewalahan oleh tatapan yang muncul dadakan tersebut.
“Dengar!" lanjut Scarlet, "sebelum kalian ditatap oleh banyak mata, jangan lihat mereka, atau kalian—“
Mendadak, dari sisi Albert dan Scarlet, mereka mendengar suara menyeramkan yang melengking. Teramat melengking bahkan sampai memecahkan kaca dan gelas di sekitar mereka. Tidak hanya memecahkan kaca dan gelas, beberapa orang prajurit yang membantu di balik layar sana juga mendadak pingsan—menyisakan Albert dan Scarlet saja.
“Azure?!
“Mellynda?!
“Nak, jawablah aku!”
Scarlet tampak sangat panik. “Astaga.... Ini sangat gawat!
"Astaga....
"Kenapa Batu Jiwa bisa ada di situ dari semua tempat di dunia ini...?!
“Lagi pula, kenapa tempat itu ada di sebuah desa?!”
Scarlet yang berbicara sendiri dengan paniknya itu ikut menyeret Albert dalam kepanikan juga. “Se-sebenarnya apa yang terjadi, Nyonya? Kenapa Anda sangat panik begini?”
dipenuhi oleh kesunyian yang mendalam.
“Tempat itu adalah....
“Tanah Kematian.
“Tidak ada satu pun makhluk hidup yang diizinkan menginjakkan kaki di sana!”
“Ja-jadi....” Albert yang mengerti maksudnya, menduga-duga. Ia melotot.
Scarlet diam. Tidak ingin mengatakan apa yang terlintas di kepalanya.
.
.
.
.
“Heeeeeh….”
Tiba-tiba keduanya mendengar suara seorang gadis.
“Jadi kau ya, satu-satunya Manusia yang bisa hidup setelah belasan tahun berada di Tanah Kematian?”
Scarlet terkejut mendengarnya. “Siapa di sana?!” serunya. Ia menanti terlihatnya sosok suara itu.
“Kalau kautahu Tanah Kematian, untuk apa bertanya sesuatu yang sudah jelas? Hihihihihi.” Tawa gadis ini membuat Scarlet dan Albert sedikit bergidik.
__ADS_1
Permata komunikasi diambil oleh si pemilik suara, yang ikut menunjukkan wajahnya. Albert dan
Scarlet kaget—lebih ke tidak menyangka apa yang ditangkap mata mereka.
Bukanlah wajahnya yang dipasangi senyum creepy lebar—menunjukkan gigi-giginya yang runcing, seakan bisa mengoyak daging beruang yang alot sekalipun. Giginya hitam melebar hingga ke bibirnya.
Bukanlah juga rambut perak dan mata merah darahnya, ataupun kulit pucatnya yang seakan-akan ia adalah seorang mayat hidup.
Adalah kalung.
Kalung yang sangat mereka kenali bentuk dan tandanya itulah yang tidak disangka Albert, apalagi Scarlet. Ia terdiam mematung, memandanginya dalam terbelalak.
“Kau—kalung itu—bagaimana bisa...?!” tanya Albert, melantangkan suaranya.
“Hal itu tidak penting saat ini, bukan?" balas Si Gadis, "mereka atau aku?
“Aku? Atau mereka?
“HIHIHI!
“Aku yakin kalian pasti memilihku....
“Ah, tidak. Lupakan itu.
“Mereka ini ... pastinya penting untuk kalian, bukan?
“Tanah Kematian adalah wilayahku. Aku pasti akaaan menyayangi jiwa mereka seperti keluarga sendiri. Hihihi....
“Di tanah sunyi tanpa apapun itu... aku akan membuat mereka berdansa, atau melakukan apapun untukku.... Ah... membayangkannya saja sudah menyenangkan!
"Oh...?
"Mungkin akan lebih seru bila kubuat mereka jadi pionku untuk menyerang kalian? Hihihihi....
Si Gadis berambut perak itu melempar begitu saja batu permatanya ke tanah.
“TUNGGU! Apa sebenarnya tujuanmu?! Dimana kausembunyikan Batu Jiwa-nya?!” tanya Albert.
“Oh ... iiiya! Hihihi!
“Aku hampir lupa!
“Untung saja kau menanyakannya, hihihi.
“Tubuh kaku gadis-gadis menawan dan cantik ini akan kutinggal di sini. Masalah Batu Jiwanya ... hmmmmm....
“Hmmmmm....”
“Kkkhhh...!” Albert merasa terhina dan diremehkan dengan tingkah Si Gadis.
“Ah!
“Tenang saja!
“Tidak akan ada yang bisa mengambilnya dari Tanah Kematian, jadi tenang saja, hihihi!
“Begini-begini, aku pun memiliki darah itu, lo. Aku juga paham dunia akan jadi seperti apa kalau Batu Jiwa ini direbut.
“Dadaaah!” Gadis itu kemudian hilang begitu saja seakan asap yang terhempas angin.
“SIAL!”
‘BAAMM!’
__ADS_1
Albert membanting meja di hadapannya. “Apa yang terjadi sebenarnya di sini...?!”