Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kejamnya Dunia pada Mereka


__ADS_3

Di kedalaman hutan, Sigurd dan tiga orang anak buahnya sedang berburu. Sementara Sigurd memakai pedang, para anak buahnya memakai panah, dan seorang lainnya membantu Sigurd di garis depan. Mereka tidak bekerja secara berkelompok, tetapi berpencar. Selumrahnya para pemburu, tentu saja mereka sudah memasang perangkap untuk mangsanya.


Sigurd, yang sekarang sendirian di kedalaman hutan ini, sudah memiliki pengalaman berburu sejak usianya sepuluh tahun. Kini, lelaki berbadan besar, berambut putih dan bermata merah kekuningan tersebut sudah berusia dua puluh empat tahun. Dia sedang membawa keranjang yang telah berisikan beberapa ekor kelinci, dan sekarang sedang memasang jebakan lain untuk ia ambil pekan depan. Para kelinci yang sudah ada di dalam keranjangnya tersebut pun sudah dikulitinya dengan pedang yang dia bawa. Kulit kelincinya tidak ia buang, tetapi ia simpan sebagai kebutuhan lainnya yang bisa ia jual ke pedagang dari ibu kota yang datang ke desa setiap dua minggu sekali.


Daging-daging yang telah mereka buru nantinya mereka jual tidak hanya ke para penengadah daging di desa sendiri, tetapi juga ke perbatasan antar desa. Jika buruan mereka melebihi hitungan jari, maka mereka siap menjualnya ke para penjaga gerbang dengan harga yang berkali-kali lipat lebih besar, sebab kondisi ekonomi yang sudah sangat berbeda drastis, tentu saja dengan kualitas daging yang tinggi.


Hari ini, adalah hari yang sangat menjadi mimpi buruk bagi Sigurd. Selain karena telah gagal mencelakai salah satu orang yang dibencinya—Clarissa—ia malah diceramahi oleh seseorang yang sama sekali tidak ia tahu ataupun kenal, yang lebih buruknya lagi orang itu dibawa oleh Tellaura.


Selagi dia mencelotehkan segala ketidakpuasan dan mengutuk perbuatan ketiga orang tersebut, meskipun tangannya tetap bekerja memasang jebakan, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara laki-laki dari berbicara dekatnya ... tetapi terasa jauh pula.


“Apa kaubenci mereka?


“Apa kauingin membalas perbuatan mereka?


“Tidakkah ini tidak adil bagimu?


“Kauingin mereka jatuh, bukan?”


“Si-siapa itu?!” jerit Sigurd, yang mulai panik karena suara itu terasa berdengung di dalam kepalanya.


“Jawablah. Apa kaubenci Tellaura dan Clarissa…?”


Sigurd menggertak giginya. “Tentu saja aku benci! Sejak mereka kembali dari kerajaan Flare sepuluh tahun yang lalu, aku sudah membenci mereka!


“Keluarlah dan tunjukkan siapa dirimu!” Sigurd mengacungkan pedangnya, sambil terus melihat sekitarnya.


“Kau takkan bisa melihatku, dasar Manusia rendahan!” maki suara misterius tersebut.


“A-apa...?!”


“Ah, maafkan aku. Anggap saja kau tidak mendengar itu, oke...?


“Yang lebih penting dari itu,  aku bisa membantu untuk mengabulkan keinginan jahat itu.


“Kautahu Tellaura bisa bersihir, bukan?


“Ada kalanya saat dia benar-benar tidak bisa bersihir dan saat itulah kaubisa membalasnya.


“Datanglah ke selatan hutan, yang berada di seberang desamu, malam lusa. Tentu saja, bila anak buahmu juga ingin melakukan hal yang sama denganmu, kaubisa ajak mereka.


“Ingat, jangan sampai hal ini tercium oleh Penyihir itu, kalau tidak, semua akan sia-sia.”


Sebuah seringai perlahan-lahan terjahit pada Sigurd....


......................


“Haaaahh~” Tellaura duduk menyelonjorkan kaki di kasurnya. Di depannya ada Hilma dan Leon yang duduk di kursi tamu, dimana di depannya ada sebuah meja yang sudah terhidangkan dua cangkir teh dan kukis buatan Clarissa. Tellaura sudah mengantarkan barang dan meninggalkan kuda serta keretanya pada Kepala Desa—karena itu memang miliknya.


“Tidak kusangka rumahmu kecil sekali ya, Laura,” ujar Hilma, tanpa bermaksud menyinggung. Dia lalu memakan sepotong kukisnya.


“Maaf saja kalau kecil! Aku selalu berdua dengan adikku!” balas Tellaura ketus.


“Risa!” panggil Hilma yang matanya berbinar setelah memakan kukisnya. “Ini benar-benar lezat! Kau membuatnya dengan apa?” ia menghampiri Clarissa yang ada di pojokan ruangan—dapur—yang masih satu ruang dengan kasur dan kursi tamu.


“Ah, ini aku memakai kelapa,” balas Clarissa sambil tersenyum.


“Kelapa? Hebat!” puji Hilma, “bisa ajari aku?”


“Uhm. Tentu saja!”


Selagi keduanya asyik, Leon menatap Tellaura. “Apa kauingin aku dan Hilma tidur di lapangan sana?”


“Uggh~” usai menghembuskan napas beratnya, Tellaura bangun. “Kenapa kau begitu tidak nyaman, Leon? Mana mungkin aku melakukan hal sekurang ajar itu, ‘kan?


“Kemarilah. Aku akan membuatkan kalian berdua ruangan sendiri dan kau yang akan mendesainnya!” Tellaura pergi keluar.


“O-ohh... baiklah.” Leon menyusulnya.


Sementara dua orang itu sedang membuat sesuatu dengan sihir Tellaura, di momen sepi begini, Hilma jadi memiliki kesempatan untuk bertanya pada gadis jelita nan manis di sebelahnya ini. “Apa ... Kepala Desa itu selalu seperti itu, Risa?”


Saat Clarissa yang ingin memasak olahan daging untuk kedua tamunya dengan bumbu bawang putih yang sedang ia iris saat ini, begitu mendengarnya, dia terhenti. “Apa dia ... melakukan sesuatu yang tidak senonoh padamu?”


“Uhm.” Hilma menjawabnya cepat.


“Maaf....”


“Ke-kenapa kau yang minta maaf?!”


“E-eh...? Karena aku bagian dari warganya…?”


“Haaah~” Hilma menghela napas panjang. “Bukan itu maksudku.

__ADS_1


“Tapi....


“Aku ingin kaudengarkan aku, oke?


“Saat itu aku yang sedang membantu Laura membantu menurunkan barang-barang, didatangi pria tua itu, dan....


“Dan dadaku tiba-tiba saja dipegangnya....


“Tentu saja aku melawannya, bahkan wajahnya itu terluka, giginya pun lepas.”


Mendengar itu Clarissa jadi berkeringat dingin.


“Lalu kakakmu yang mendengar jeritannya, bukan menolongnya, tapi malah memberinya uang…?


“A-aku tidak mengerti apa yang baru saja terjadi! Kakakmu bahkan tidak berniat ingin memberitahuku!”


“Ah....” Clarissa seperti memahami alasan kakaknya. Ia lalu melanjut mengiris bawang putih. “Dia hanya takut desa ini akan kenapa-kenapa ketika kalian kembali ke istana nanti. Tentu saja kalian akan melaporkan apa yang terjadi, ‘kan?


“Pangeran Leon sudah memberitahuku apa tujuannya ke sini. Tapi jujur saja, kupikir kakakku salah... karena sudah membawa Pangeran baik hati dan polos sepertinya ke tempat penuh iblis dan kami berdua yang ... monster ini....”


Hilma jadi murung mendengarnya. Ia tak tahu harus merespon seperti apa, tetapi ia mengerti perasaannya.


“Kepala Desa itu ... juga banyak warga lainnya, sudah terbutakan oleh uang. Setelah kakakku menciptakan dan memperbaiki beberapa pekerjaan utama kami, seperti lebih menghidupkan perkebunan, ladang, dia juga membuat banyak hal lain yang bisa menjadi lahan pekerjaan desa.


“Dengan begitu, dia berharap desa ini akan jadi lebih makmur.


“Dan memang seperti harapannya, desa ini makmur, tetapi tidak pada masyarakatnya. Agak sedikit melenceng jika disebut kesenjangan, tetapi desa ini sangatlah buruk hingga ke akar-akarnya.


“Desa ini benar-benar berubah menjadi tempat iblis bersemayam sejak kami berdua pulang dari kerajaan Flare.


“Banyak sekali pekerjaan kotor yang memaksa kami berdua, juga rakyat lainnya, demi memenuhi kebutuhan uang Kepala Desa dan antek-anteknya.


“Suatu ketika... kakakku pernah benar-benar ingin membunuhnya karena aku....” Clarissa mengepal kuat tangannya. “Karena aku....” Air mata jatuh perlahan. Hilma lekas memeluknya erat. “Kakakku ingin membunuhnya karena aku dan dia dijebak oleh putranya yang bernama Sigurd untuk menjual diri....


“Kami saat itu benar-benar butuh uang untuk menghidupi diri kami sendiri, sehingga kami berdua memutuskan untuk bilang pada Kepala Desa.


“Saat itu, ada Sigurd yang mendengarkan semua cerita kami, dan disaat itu juga dia menawarkan kami pekerjaan bagus yang katanya hanya bisa kami lakukan. Dia bilang dia akan membawa kami ke ibu kota. Bodohnya kami, kami tidak mencurigai apapun tentang hal itu, dan hanya murni percaya kalau kami bisa dapat uang selepas pekerjaan itu selesai kami lakukan.


“Ketika dalam perjalanan, hari mulai gelap. Sigurd yang mengendarai kereta kuda mengajak kami beristirahat ke sebuah hilir sungai. Kami melihat tembok perbatasan sudah semakin dekat, tentu saja kami senang—dan benar-benar percaya kalau Sigurd memang ingin membantu kami.


“Dia menyuruh kami untuk melepas penat dan bebersih diri di sungai tersebut, tapi itulah saat dimana semuanya terjadi....


“Sepuluh orang mengepung kami, termasuk Sigurd, dan dua orang penjaga gerbang perbatasan.


“Sejak saat itu kakakku benar-benar benci Sigurd. Sangat membencinya. Aku juga ... benci orang itu....”


Api amarah segera terbakar dari dalam diri Hilma. Dia benar-benar masih ingat kalau orang yang bernama Sigurd itu pernah berpapasan dengannya.


“Hilma, kami ini bukanlah orang-orang yang pantas berhadapan dengan kalian—orang-orang istana.


“Selama ini aku dan kakakku ... meskipun hidup kami selalu sengsara dan tidak pernah diterima di desa ini, setidaknya kami bisa saling membantu dan bertahan.


“Jika kakakku tidak ada, mungkin aku sudah menghabisi hidupku sendiri....


“Kenapa....


“Kenapa semuanya harus jadi begini...? Aku... aku bahkan masih tidak tahu alasan ayah dan ibuku dibunuh oleh orang-orang kerajaan Flare, bahkan menyebut mereka seperti monster!


“Ayah dan ibuku.... Aku merindukan mereka....”


......................


Di sisi lain kediaman Clarissa, Tellaura dan Leon baru memulai pembangunan sedikit pondasi. Keduanya terdiam dan mendengarkan semua omongan Clarissa dan Hilma.


Tellaura bisa melihat dengan jelas amarah dari Leon setelah mendengar bahwa teman dan adiknya itu mengalami hal mengerikan seperti yang sudah diceritakan.


“Aku akan pergi menemui Sigurd itu!” ujar Leon, yang nadanya sangat tinggi.


“Setelah itu, apa yang ingin kaulakukan? Menceramahinya seperti yang kaulakukan tadi?”


“Aku akan membawanya ke ibu kota dan menjebloskannya ke penjara!”


“JANGAN NAIF, LEON!” suara Tellaura ******* suara lawan bicaranya. “Jangan pikir karena kau adalah bangsawan, kaubisa melakukan segalanya dengan sempurna! Orang itu juga manusia, yang bisa berpikir, dan menyiapkan rencana!


“Kalau kau benar-benar ingin menolong kami, maka....” Tellaura membisiki sesuatu pada Leon.


“Ta-tapi...!” Leon terbelalak. “Bagaimana denganmu?”


“Aku memiliki cara sendiri untuk mengakhiri semuanya. Tapi untuk hal itu, apa kau bisa berjanji padaku, sebagai teman pertamaku?” Tellaura menyodorkan tangan kanannya.


Leon berwajah serius. “Tanpa membawa gelar dan status, tetapi demi harga diri serta pertemanan kita ini, aku berjanji!”

__ADS_1


.


.


.


.


Tellaura dan Leon sudah menyelesaikan ruang terpisah yang nantinya ditinggali Hilma dan Leon. Mereka membuatnya seperti kamar bersekat tembok. Ukurannya juga tidak besar-besar sekali, tetapi memang lebih besar daripada kediamannya Clarissa dan Tellaura.


Saat ini mereka tengah beristirahat di ruang Hilma yang baru saja didekor dengan kekuatan sihirnya Tellaura. Mereka duduk berdampingan sambil menatap padang rumput di luar dari jendela yang sudah berkaca.


“Aku tidak menghentikan adikku bercerita dan memang sengaja membiarkanmu ke desa ini, sebagaimana permintaanmu ingin mengenal kerajaan ini, Leon,” ujar Tellaura, yang membuka pembicaraan. “Selain itu, aku juga ingin mengetesmu, apakah kebaikanmu itu benar-benar bukanlah suatu topeng untuk menutupi kebusukanmu?


“Aku sudah terbukti salah. Kau berbeda dengan semua orang yang pernah kami temui, Leon.


“Kuharap ke depannya, kau menjaga adikku sampai maut memisahkan kalian.”


Leon terdiam, pandangannya terfokus pada sebuah bunga yang mekar sendirian di padang rumput. “Ikutlah bersama kami, Laura. Dengan begitu, kurasa kau takkan lagi menerima perbuatan-perbuatan keji dari mereka.”


Tellaura tersenyum. “Kuhargai ajakanmu itu, tapi aku tidak bisa.”


“Kenapa?”


“Bila aku melakukannya, rakyat akan menuduh keluargamu berpihak pada rakyat jelata yang kotor, bau, dan rendah seperti ka—“


“Kalian tidaklah seperti itu!” tukas Leon, yang juga menggebrak meja di hadapannya.


Menanggapi tindakannya, Tellaura mengelus kepala Leon. “Pandangan mereka pada kami takkan berubah hanya karena istana memihak kami.


“Malahan, itu akan jadi bumerang. Tidak hanya pada istana, tetapi juga untuk rakyat jelata yang ada di sekerajaan ini.


“Kautahu, Leon?


“Sebenarnya aku benci ibumu. Sangat membencinya, dari dalam lubuk hatiku.”


“E-eh...?”


“Karena itu wajar saja kurasakan!” Tellaura mengatakannya tanpa nada marah. Berbeda sekali dengan ucapannya. “Kenapa orang nomor satu sekerajaan itu tidak pernah peduli pada kami... pada desa yang terletak di pelosok kerajaan ini?


“Kenapa hanya bagian dalam kerajaan saja yang dipedulikan orang itu?


“Kenapa orang itu meninggikan pajak yang harus dibayarkan desa, hingga membuat kami semua sengsara seperti ini?


“Itu selalu kupikirkan sampai akhirnya aku berkesempatan bertemu langsung dengan ibumu.”


.


.


.


.


“Menjadi Ratu itu ... sama sekali tidak mudah. Beban di bahunya berat. Aku sebagai rakyat jelata tidak mungkin bisa melakukan apa yang sedang ditanggungnya.


“Kerajaan ini berpegang kukuh pada satu orang itu. Orang itu memiliki wibawa, kharisma, juga aura Ratu yang sangat menyilaukan.


“Aku akhirnya paham. Aku benci pada orang yang salah. Aku seharusnya benci pada diriku sendiri yang berpikir ini semua salah Ratu.


“Dunia ini tidak sekadar hitam dan putih saja, Leon. Dunia ini terlalu rumit untuk kau—yang baru saja keluar dari sarang burung—mengerti seutuhnya.


“Terkadang, untuk membuat orang-orang bersatu layaknya harmoni lagu yang indah, mereka harus digerakkan oleh sesuatu yang membuat mereka terpojok.


“Leon, hanya kaulah yang bisa kupercaya untuk masalah ini, dan karenanya, kutitipkan adikku padamu....”


Leon murung. Dia memandangi kedua tangannya. Dia merasa benar-benar tak berguna.


Seakan memahami apa pikiran Leon, Tellaura menambahkan, “Peran bangsawanmu itu akan berguna setelahnya. Kau mungkin tidak bisa melindungiku, tetapi pastikan kau melindungi adikku!”


Ucapannya segera membuat Leon menatap mata Tellaura dan menganggukkan kepala.


“Hei hei,” ujar sebuah suara yang kemudian menunjukkan identitasnya dari jendela. Dia adalah Hilma. “Jangan seenaknya memutuskan itu tanpa melibatkanku, Laura. Begini-begini aku ini pandai membunuh orang.”


“Tidak. Kau tidak akan kuikut sertakan.” Tellaura menyilangkan tangannya.


“A-apa?! Kenapa?! Apa ini karena aku bukan temanmu?!”


“Tidak, itu karena kau adalah orang yang berharga bagiku. Bagaimana kubisa kehilanganmu setelah kehilangan Matilda...?” Tellaura tersenyum tipis.


“Tsk...” Hilma mencengkeram tangannya. “Kenapa kau selalu ingin mengemban semuanya sendirian...?” gumamnya.

__ADS_1


Tellaurapun menjawab, “Karena aku menyayangi kalian!”


Keduanya sadar. Senyuman Tellaura berbeda dari biasanya. Senyumannya kali ini tampak lebih mirip seperti Clarissa, dimana senyumnya terasa hangat dan manis, yang bisa membuat semua yang melihatnya merasa luluh. Bahkan Hilma sendiri, sedikit merona karena senyumnya itu. Dia jadi tidak bisa mengelak kata-kata gadis berambut merah tersebut.


__ADS_2